Spy Kyoushitsu (Spy Room) Novel Bahasa Indonesia Chapter 1.2

Chapter 1.2: Ancaman

Rupanya, Istana Kagerou adalah nama untuk bangunan ini. Dari atas tangga, pria itu melanjutkan penjelasannya.

“Aku menyambutmu. Bersama kalian bertujuh, kita adalah Light. Kita akan menantang Misi yang Tidak Dapat Dilewati.”

merry christmas

“Eh?” Lily tak bisa mempercayai telinganya.

“Misi akan berlangsung dalam satu bulan. Rencananya adalah untuk melatih kalian semua dengan baik sampai saat itu, tapi … untuk hari ini, kalian pasti lelah dari perjalanan panjang, bukan? Kita akan mulai pelajarannya besok, jadi bersabarlah sampai saat itu tiba.” Klaus berbalik, menghilang ke bagian dalam bangunan.

Lily bingung. Apa yang baru saja dikatakan pria itu? Anggota [Light] terdiri dari dia, dan tujuh gadis, termasuk dia? Hanya satu bulan sebelum Misi yang Tidak Dapat Dilewati itu berlangsung?

“Apa yang orang itu rencanakan?”

Gadis berambut putih yang sok memerintah sebelumnya berbicara.

“Mengumpulkan kita anak-anak yang bermasalah di sini, menantang Misi yang Tidak Dapat Dilewati…”

Mendengar informasi yang baru yang diberikan, mata Lily membelalak menatap anggukan gadis itu.

“Tepat. Kita bertujuh di sini telah putus sekolah dari institusi pendidikan masing-masing.”

Lily bingung sampai tidak bisa mengeluarkan suara. Enam gadis lain yang kira-kira seusia dengannya dan pria misterius itu, mereka akan mencoba untuk menantang misi mustahil, dengan tingkat kematian 90%.

* * *

Karena Klaus menghilang begitu saja tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, gadis-gadis itu memutuskan sendiri untuk melihat-lihat gedung. Seperti yang terlihat dari luar dan pintu masuk, Istana Kagerou tampak megah dan mewah. Karpet merah membara di sepanjang lantai, dengan sofa berlapis kulit yang berjejer di ruang tunggu. Rak-rak di dapur dipenuhi peralatan makan yang tampak mahal dan kelas atas, dan kompor jenis baru yang terpasang. Dalam perjalanan, mereka juga menemukan kamar mandi besar dan ruang bermain.

Akhirnya, mereka berhasil sampai ke ruang terbuka yang terakhir, sebuah pesan menyapa mereka. Di dinding, sebuah papan tulis besar tergantung dan ada kata-kata tertulis di atasnya. Tampaknya itu ditulis oleh seorang wanita, karena itu tulisan tangan yang indah, sesuatu yang tidak akan kau bayangkan dari Klaus.

‘Istana Kagerou: Aturan untuk hidup bersama’

“Eh, apa tidak apa-apa kita tinggal di sini mulai hari ini?” Lily bersuara penuh kekaguman sambil mengikuti gadis-gadis lain.

Tulisan yang ada di papan tulis depan mereka adalah aturan dan cara lain untuk menghabiskan hidup mereka dengan damai di kamar atau tempat tinggal mereka secara keseluruhan. Lily bergerak melewati papan aturan, dan tak menemukan adanya keanehan. Kecuali dua yang terakhir. Lily memiringkan kepalanya, sedikit bingung. Selain itu, aturan itu ditulis dengan tulisan tangan yang berbeda.

[Aturan 26 – Anda bertujuh harus bekerja bersama dan tinggal di sini]

[Aturan 27 – Selalu serius ketika keluar]

Tanda tanya muncul di kepala para gadis. Yang pertama tampak tidak ada yang aneh, sementara yang terakhir lebih tidak jelas daripada apa pun. Semua gadis bingung tentang aturan ini, tapi tidak ada yang punya jawaban masing-masing. Namun, gadis berambut putih itu dengan cepat melihat sebuah amplop di meja di samping mereka.

“Oh, ada uang di dalamnya. Ayo kita kumpulkan dan membukanya.”

Yang ditemukan di amplop itu adalah biaya hidup yang cukup untuk semua orang. Dan, karena mereka semua bersama, mereka memutuskan untuk memulai persiapan untuk makan malam. Mereka pergi membeli bahan sebagai kelompok, dan meminta semua orang mengerjakan salah satu bagian. Semua peralatan memasak adalah kelas tinggi, dan bukan hanya terbaru.

Dengan semua gadis yang dibesarkan sebagai mata-mata, mereka relatif terampil dalam pekerjaan rumah tangga. Makanya, persiapan makan malam dilakukan dalam hitungan menit. Mereka bersulang dengan makanan sederhana dan jus apel, bertukar pembicaraan iseng, yang dengan cepat berubah ke topik lain. Salah satu dari gadis-gadis itu mulai berbicara tentang betapa kejamnya institusi pendidikannya, dan seorang gadis menepuk pundaknya menunjukkan rasa simpati. Ketika percakapan semakin memanas, seorang gadis lain mengatakan bahwa lebih sulit di institusinya sendiri, saat dia tertawa, itu seolah seperti merusak dirinya sendiri dengan mengingatnya. Pembicaraan terus berlanjut, menciptakan pembicaraan yang semakin bervariasi.

—Mungkin karena semua orang pada dasarnya gagal, pikir Lily dalam hati saat dia mendengarkan.

Ada banyak orang di tengah-tengah mereka, tidak ingin mengakui nilai buruk mereka, tapi mereka semua sama-sama mengalami kesulitan dan masalah yang sama. Meskipun tempat asal mereka, lembaga pendidikan mereka, usia, semuanya berbeda, mereka secara alami bisa akur. Itu adalah pertemuan pertama yang cukup penting dan dramatis, tapi mereka bertemu satu sama lain di rumah mewah bergaya barat ini. Selain itu, lembaga pendidikan mereka penuh dengan aturan dan peraturan, tak memungkinkan bagi mereka untuk menikmati makan malam santai seperti ini. Makanan itu sendiri tidak ada yang istimewa, hanya salad dengan daging.

“Aku tak benar-benar bisa kembali ke institusi,” Lily berbicara sambil menyesap jus. “Tapi mata-mata hidup mewah seperti ini, ya. Sangat berbeda dari yang aku bayangkan.”

“Benar! Kita seperti ada di Surga,” kata gadis berambut putih itu dengan santai.

Sebagai tambahan, gadis itu berusia tujuh belas tahun, sama seperti Lily. Kedua gadis itu bertos-ria. Pada saat yang sama, gadis lain dengan tenang memperhatikan mereka.

“Ini terasa agak aneh.”

Gadis itu memiliki rambut cokelat dan keriting. Mukanya tampak malu-malu, usianya lima belas tahun, masih cukup muda. Dengan ekspresinya yang dilemparkan ke bawah, dia memiliki alis melengkung, ujung jari-jarinya bergesekan satu sama lain saat dia gugup, hampir seperti binatang kecil, takut akan predator. Dengan mata yang basah, dia tampak nyaris menangis.

“Pasti ada yang tinggal di sini sebelum kita.”

“Hm, bagaimana menurutmu? Tidak terlalu kumuh jika tempat ini punya sejarah sendiri, kan?”

“Dan ke mana tepatnya bekas penduduk itu pergi? Ada yang salah dengan tim ini. Mengirim semua pasukan seperti kita dan melakukan Misi yang tidak bisa dilewati? Tidak mungkin.”

“Hmmm…? Yah, aku juga bertanya-tanya tentang itu, tapi pria itu akan memberi tahu kita besok, kan?”

Gadis berambut putih itu mengunyah ayam, menyatakan bahwa percakapannya sudah selesai. Yang tadi berbicara, gadis berambut coklat itu belum puas, karena dia mengarahkan matanya ke bawah lagi.

“Memang benar sedikit berbeda dari yang aku bayangkan.” Lily berusaha memberikan tindak lanjut. “Tapi, ini juga termasuk hebat, kok.”

Para gadis mengarahkan pandangan mereka ke arahnya. Menatap pada lampu gantung yang tergantung dari langit-langit, saat dia melanjutkan perkataannya dengan nada manis.

“Pikirkan seperti ini. Kita bisa tinggal di rumah besar ini, dapat makanan hangat tiga kali sehari dan khusus perempuan saja, berlatih dan melakukan misi, mandi, makan, bermain permainan papan, keluar di malam hari untuk menikmati diri kita sendiri, dan mencapai hasil yang luar biasa sebagai mata-mata — Bukankah itu yang terbaik?”

“Tapi kau menyebutkan makan empat kali,” balas gadis berambut putih itu.

“Lebih banyak lebih baik.”

“Yah, aku tidak bisa tidak setuju dengan keinginanmu itu.”

Tidak ada protes pada pendapatnya. Mungkin mereka semua juga merasakan hal yang sama tanpa menyebutkannya.

“Dan hanya ada satu cara untuk mengabulkan keinginan ini bagi diri kita sendiri.” Seorang gadis lain berbicara.

Dia memiliki rambut hitam panjang, menjadi yang tertua dalam kelompok dengan usia delapan belas tahun. Dia memiliki proporsi yang cukup besar untuk menarik dan memikat mata orang lain, dengan wajah yang sangat cantik. Seolah ingin menekankan kecantikannya saat ini, dia memiliki senyum yang sama cantik dan ramahnya.

“Sukses menjalankan misi dengan semua orang di sini!” Katanya, hampir terdengar seperti presiden sebuah komite.

Pada saat yang sama, ucapannya berubah sebagai sinyal untuk bubar. Memutuskan siapa yang bertanggung jawab untuk pembersihan meja makan dengan gunting kertas batu, gadis-gadis itu menuju ke kamar yang ditunjukkan untuk mereka. Karena Istana Kagerou ini memiliki lebih dari cukup kamar, mereka masing-masing mendapatkan kamar sendiri.

Lily puas pada kesan pertama dengan rekan-rekan barunya, dan menuju ke kamarnya sendiri. Dalam perjalanan ke sana, seorang gadis terlihat dalam pandangannya. Dia adalah gadis yang lemah, ekspresinya masih dipenuhi kecemasan.

“…Apa kau masih khawatir?” tanya Lily. Gadis itu mengangguk.

“Agak menyedihkan, tapi … yah …” Dia menjawab dengan suara samar, ekspresi wajahnya kaku. “Um, Lily-san, pernahkah kau berpikir untuk melarikan diri?”

“Melarikan diri?”

“Sebelum kita menantang Misi yang Tidak Dapat Dilewati, maksudku.”

“Hmm … aku tidak punya saudara atau keluarga atau siapa pun.”

“Oh… dan sekolah sudah tahu bahwa kita hanya berpura-pura lulus … Kita terpojok dari segala arah…”

Dari suaranya, gadis itu tidak punya orang tua. Dengan mata-mata di lembaga pendidikan, kebanyakan dari mereka kehilangan orang tua mereka karena kecelakaan atau ketidakberuntungan lainnya. Jika bukan karena itu, mungkin akan ada mata-mata yang jauh lebih sedikit.

“Aku pikir kau terlalu mengkhawatirkannya.” Lily berusaha menghibur gadis itu, dan memaksakan senyum cerah. “Juga, Klaus-san tidak akan mengumpulkan anak-anak putus sekolah yang tidak berharga dengan sia-sia. Jika bawahannya tidak memenuhi tugas itu, dia sendiri akan berada dalam bahaya, bukankah kau tahu itu? Kita akan menerima kelas yang sempurna besok, untuk menjadikan kita rekan yang berharga baginya.”

“M-memangnya kita bisa menuntaskan Misi yang Tidak Dapat Dilewati…?”

“Tentu saja! Orang itu akan memberi kita beberapa kelas yang bagus untuk mendorong bakat rahasia kita, percayalah padaku.”

Lily tak mengatakan ini tanpa dasar fundamental. Pria yang mereka temui hari ini memiliki perasaan intimidasi yang berbeda dan lebih luas daripada staf pelatihan lainnya. Dia kemungkinan besar adalah seorang jenius dalam mengolah orang lain. Selain itu, ia memiliki kepercayaan diri untuk mengumpulkan anak-anak putus sekolah seperti mereka, dan meminta mereka menantang misi ini bersamanya.

“…Kurasa itu masuk akal.” Ekspresi wajah gadis berambut coklat itu melembut. “Terima kasih banyak. Aku merasa sedikit lebih tenang sekarang. Semoga aku bisa tidur seperti ini.”

“Tak masalah. Kita ada pelatihan mulai besok, jadi mari kita tidur lebih awal!” Lily dengan lembut melambaikan tangannya.

Tentu saja, dia juga cemas. Gadis-gadis seperti mereka sekarang tidak memiliki harapan untuk menyelesaikan Misi yang tidak dapat dilewati ini. Rincian misi masih belum jelas, tapi tingkat kematian 90% adalah tembok sempurna bagi anak perempuan yang hampir gagal dalam kurikulum. Itulah sebabnya mereka berharap stimulasi positif dari Klaus — atau lebih tepatnya, tidak punya harapan lain selain itu.

Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: E~to, onii-sama, jangan di-copy ya !!

Options

not work with dark mode
Reset