Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 30

Calon dan Setengah Tubuh

Nito no Taidana Isekai Shoukougun

***

“Mata kiriku bersinar merah. Apa kau tahu? Kau tahu sesuatu yang tak kuketahui?”

“Ya, aku tahu. Itu bukti bahwa anda telah terbiasa dengan abyss!”

Entah kenapa, Bel tampak senang saat mengatakannya.

dukung klik iklan

“Terbiasa? Apa maksudmu?”

“Yah, saat abyss mendiami tuan rumahnya, sepertinya ada ketidaksesuaian. Tapi semakin anda menggunakannya, abyss akan semakin banyak memahami tuannya dan tuannya juga memahami abyss. Dan ketika pemahaman itu diperdalam sampai ke batas tertentu, itu akan muncul di mata. Dengan kata lain, mata itu akan berubah menjadi merah, dan akhirnya muncul di kedua mata. Itulah bukti bahwa abyss juga telah terbiasa dengan tuannya.”

“Dengan kata lain, salah satu mataku terbiasa dengan abyss?”

“Ya, begitulah. Jika anda meluapkan emosi, emosi yang tinggi akan mulai terlihat di mata anda, dan saat itu terjadi, secara langsung anda terbiasa dengan abyss.”

Sudah kuduga, apa ini yang menjadi masalahku selama ini…?

Dengan kata lain, Oliver Joe mengalami abyss yang sama denganku … Calon Raja…

“Apa maksud calon raja yang kau sebutkan tadi? Aku bahkan belum dengar arti dari setengah tubuh.”

Ngomong-ngomong, Doppeller juga bilang begitu. Raja-raja atau apalah itu…

“Aku juga tidak tahu.”

“Apa?  …Kau nggak tahu?”

Bel bilang tidak tahu artinya, tapi dia bisa menyebutkan kata “calon raja”.

Apa dia tidak ingin memberitahuku? Apa-apaan itu?

“Kenapa begitu? Apa maksudnya kau bilang nggak tahu?”

“Ya mau bagaimana lagi? Aku memang nggak tahu. Intinya, bisa kukatakan kalau informasi seperti itu tidak ada dalam ingatanku.”

“Tidak ada informasinya? …… Tapi kau bisa tahu dan menyebutkan kata raja atau calon?”

“Begitulah.”

“Kok lucu banget?”

“Meski anda menganggapnya lucu, tapi itulah kenyataannya. Aku juga punya beberapa informasi tentang calon sebelumnya. Dia bukan masterku, meskipun aku berusaha mengingat-ngingat, aku tak bisa menemukan informasi lebih lanjut.”

“Calon sebelumnya?”

Bel menjawab pertanyaanku satu per satu, tapi ini bukanlah akhir dari pertanyaanku.

“Dia calon raja yang pernah mengalami abyss sebelumnya dan telah melakukan kontak dengan setengah tubuhnya seperti Master. Nah, bukan informasi yang bagus, kan? Entah dia itu seorang wanita ksatria di suatu kerajaan, pria dari desa kecil, atau semacamnya.”

Apa itu? Sejujurnya, aku tak tertarik.

“Kalau tahu begini, harusnya aku tanya saja pada Doppeller itu.”

“Tidak, itu tidak perlu. Mungkin anda tak harus selalu tahu.

“…Kenapa begitu?”

“Dungeon ini milik Master, tapi Tuannya adalah aku. Tak ada seorang pun kecuali aku yang tahu apa yang tidak aku ketahui.”

“Tuan … apa maksudnya?”

Selain pemilik, juga ada Tuan.. Sumpah aku tak mengerti cara kerjanya.

“Nah, pikirkan saja yang paling mudah.  Semua pemilik adalah tuan. Semuanya tetap menjadi kehendak tuannya.”

“Oh, begitu? Dan apa itu setengah tubuh?”

“Sebelum aku menjelaskannya, aku ingin mengatakan sesuatu.”

Lalu, entah kenapa Bel berubah.

“Pertama, abyss itu tak tanggung-tanggung. Keberadaannya terlalu kuat untuk menerima semua sihir sekaligus. Itulah kenapa abyss dibagi menjadi dua, yaitu Master dan aku.  Sampai sini paham?”

“Jadi setengahnya adalah aku dan setengahnya lagi adalah Bel?”

“Yah, itu benar. Dan secara bertahap aku mengirimkannya pada Master, yang perlahan-lahan akan menjadi terbiasa.”

“Lalu apa yang terjadi pada Bel setelah semuanya dikirimkan padaku?”

“Apa yang terjadi? Tak terjadi apa-apa. Master hanya tinggal selangkah mendekati raja.”

“Mendekati raja”—

Aku tidak tahu apa itu raja sejak awal. Karena aku tidak mengerti, mungkin dia sengaja menggunakan kata “mendekati” …

“Hmm … Raja…”

Apa sebenarnya raja itu?

“Master, yang jelas temukan sendiri jawabannya. Aku memang tahu beberapa hal, tapi aku tak memahami semuanya. Aku tak bisa mengingat saat aku lahir, aku cuma mengunyah dan bicara saja.”

“Hei? Apa yang kalian bicarakan sejak tadi? Kalian mengatakan sesuatu tentang abyss?”

Dengan wajah bosan, Toa pun bergabung ke dalam pembicaraan kami.

“Hm? Oh, itu sihirku. Rupanya, Bel sepertinya adalah setengah tubuhku.”

“Setengah tubuh? Apa maksudmu? Dan… siapa Bel ini?”

Ngomong-ngomong, aku hanya memberi tahu mereka kalau aku mengenal Bel. Baiklah. Mari perkenalkan pria ini pada mereka bertiga.

Tapi, di situ Bel—

“Halo, nona-nona muda. Setengah tubuh malas, Belphegor. Salam kenal.”

Bel membungkuk layaknya seorang bangsawan.

“Apa maksudnya setengah tubuh malas?” tanya Toa.

“Artinya? Tidak ada artinya, kok. Kalau setengah diri Master itu malas, yang setengahya lagi juga malas. Gampang, kan.”

“Kenapa menyebut Nito malas? Dia telah banyak berusaha keras, kok.”

Jarang-jarang Toa memujiku. Ada angin apa ini? Tapi aku ingin dia memujiku lebih dari biasanya, sih.

“Yah, aku juga tidak tahu. Bukankah kemalasan itu memang ada di bagian diri yang paling dalam? Kira-kira, setengah tubuh akan menuruni sifat dan watak inangnya. Seperti sihir abyss.”

Lagi-lagi, Bel mengatakan sesuatu yang menggangguku.

“Tunggu dulu, apa maksudmu dengan “seperti sihir abyss”?”

Rupanya, ada sesuatu yang belum Bel ceritakan padaku.

“Hm? Oh, aku lupa mengatakannya.”

Kemudian Bel membuka birnya lagi. Ini sudah kaleng yang ketiga. Bagaimanapun, aku tak ingin orang ini menyebutku pemalas.

“Dengan kata lain, sihir abyss lahir sebagai respons terhadap psikologi mendalam dari tuannya.”

“Psikologi mendalam?”

Lalu Bel tampak berpikir, menyentuh janggutnya.

“Misalnya, [Erosion Wave] Master yang kedelapan belas.”

Itu bukan yang kedelapan belas, tapi…

“Sederhananya, apakah ada sesuatu di dalam diri Master yang ingin menyerang dan mengikis sesuatu? Itulah sebabnya sihir itu lahir.”

Lalu Sufilia pun bertanya seolah tampak mengingat sesuatu. “Kalau begitu … Contohnya waktu itu, apa sihir yang Nito gunakan waktu itu juga mewakili kedalaman psikologi Nito?”

“Waktu itu?”

Aku tak mengerti dengan “waktu itu” yang Sufilia maksudkan.

“Itu … yang Ichijo-sama kehilangan tangannya.”

Oh, sihir yang itu?

―Itu lebih seperti “Lahirnya Penyesalan”.

Aku juga tak mengerti benar tentang sihir itu. Saat teknik sihir itu aktif, sihir itu menembus tubuh lima penjaga dan bersuara menciptakan sesuatu. Aku tidak bisa menjelaskan apa pun. Di antara sihir yang aku miliki, itu adalah jenis sihir yang paling berbeda.

“Bagaimanapun, tak salah lagi kalau itu adalah keinginan Master. Abyss tak bisa mewujudkan apa yang tidak anda inginkan.”

Dengan kata lain, apakah abyss itu mewujudkan keinginan tuan rumahnya? Apa hasilnya adalah berupa seorang dewi yang menyerang atau menumpahkan darah dari langit itu?

“Master?”

“Hm?”

Kemudian Bel menatapku. “Jangan khawatir, oke? Dan jangan ragu. Abyss ada di pihak Master. Jika anda tidak ingin menghancurkan, maka jangan hancurkan. Jika anda tidak ingin menyerang, maka jangan serang.”

Bel juga pernah mengatakan hal yang sama sebelumnya.

“Ya… Aku tahu.”

“Tidak ada sihir yang seserbaguna dan seaman abyss. Penyihir konyol itu cuma menyebarkan interpretasi (pendapat, pandangan terhadap sesuatu) yang salah. Raja bukanlah orang bodoh (Fool).”

Penjelasan Bel, yang dia katakan hanya pada saat dia mengingatnya, membuatku bingung.

Apa itu dikarenakan oleh apa yang disebut “kemalasan”-ku? Jika pria ini sendiri adalah ekspresi dari psikologiku…

……

Jadi begitu … setengah tubuh, ya?

“Kalau bisa, aku ingin kau memberitahuku sedikit demi sedikit secara berurutan, tapi apa kau masih punya waktu untuk bicara denganku? Masalah sepele apa pun tak masalah. Karena ini menyangkut tentangku, aku ingin tahu sebanyak mungkin.”

Lalu Bel tampak khawatir.

Mereka bertiga juga sepertinya bosan, mungkin karena mereka begitu familiar dengan “rumahku” ini. Nem sendiri sedang berbaring di sofa dan mengepakkan kakinya.

“Hei, Bel? Apa tidak ada jus sebagai pengganti bir? Dan manisan?”

“Hm? … Oh, ada! Tunggu sebentar.”

Kemudian Bel pergi ke dapur dan kembali dengan membawa permen dan jus. Lalu, dia menaruhnya di atas meja di depan sofa agar bisa menyuguhkannya.

“Nah, silakan diminum,” kata Bel.

Aku mengambil 4 cangkir dari lemari dan menaruhnya di depan mereka bertiga. Kemudian, kami berempat menyembuhkan kelelahan kami di dungeon sambil mengambil permen.

▽▽▽

Aku berada di kamarku.

Aku memeriksa bagian dalam ruangan dan mulai mencari kesalahan di ruangan ini, yang setiap detailnya direproduksi (hasil ulang). Tapi aku tak bisa menemukan perbedaan apa pun.

Rak buku yang penuh dengan manga dan konsol game, paket perangkat lunak game yang terletak di atas meja, semuanya masih tetap sama.

Aku membuka jendela. Tidak ada perubahan pemandangan yang terlihat di luar sana. Namun, bagian dalam bangunan yang bisa dilihat dari sini mungkin belum direproduksi. Karena aku tak mengingatnya.

“Bagaimana … menurutmu? Apa anda rindu rumah?”

Aku seharusnya berada di rumahku, tapi untuk sesaat aku merindukan kamarku.

“Master?”

Ada sosok Bel di luar kamar.

“Hm?”

“Aku lupa bilang kalau aku tidak bisa keluar dari dungeon ini. Saat aku keluar, wujudku harus dalam keadaan tongkat. Lihat.”

Lalu, Puff!

Bersama asap, Bel berubah menjadi sebuah tongkat.

“Hmm … tongkat yang bisa bicara…”

Kemudian Bel kembali ke bentuk aslinya.

“Jadi? Apa ini artinya kita telah menangkap dungeon?”

“…Bukankah ini berbeda dari penangkapan? Aku baru saja bertemu dengan Master. Dan, seperti yang kubilang, itulah alasan kenapa dungeon itu ada.”

“Oh, salah ya…?”

Orang-orang mengatakan bahwa dungeon adalah kuburan bagi para petualang pemimpi. Orang-orang secara mandiri berkumpul dari seluruh benua dan menantang labirin.

Tapi, itu bukan labirin. Itu hanyalah … rumahku.

Dengan kata lain, para penantang yang mempertaruhkan nyawanya di sini sudah mati.

Tapi—

“Hmm … tak masalah juga buatku…”

“Master?”

Bel menatapku yang tersenyum sendiri dengan tatapan misteriusnya.

“Bukan apa-apa,” kataku sambil meninggalkan kamar.

“Apa yang akan terjadi dengan dungeon setelah ini?”

Aku berhenti di depan kamar dan bertanya pada Bel.

“Akan berakhir setelah Master dan aku bertemu. Dungeon akan meninggalkan dunia dan kembali ke dunia bawah.”

“Begitu ya … Hm? Dunia bawah? Apa ini dunia bawah?”

Lalu, Bel terlihat kesal.

“Tidak … itu juga ada di dalam diriku.”

“……”

Maksudnya ingatan Bel, ya? Sepertinya ingatannya itu terpisah-pisah dan tidak kohesif. Dengan kata lain, meskipun dia tahu sebuah kata, tapi dia belum tentu tahu apa artinya.

“Yah, tidak apa-apa. Beri tahu aku kalau kau sudah ingat lagi.”

“Iya, maaf ya.”

Apa ini?

Saat aku kecewa, Bel juga terlihat kecewa. Saat aku merasa bahagia, Bel minum lebih banyak alkohol.

Apa itu yang dimaksud dengan setengah tubuh?

Apa itu adalah hal yang “seperti itu”?

Setengah dari kemalasan berarti aku, dan yang setengah lainnya juga malas. Tapi mungkin itu tak masalah.

Aku merasa frustrasi saat aku memiliki lebih banyak pertanyaan. Aku datang karena aku tahu yang sebenarnya saat aku datang ke dungeon. Namun, pertanyaannya malah semakin bertambah. Semakin banyak aku menyelesaikannya, semakin banyak pertanyaan yang kumiliki.

Tapi meskipun aku tidak sabaran, Bel juga tidak akan memberitahuku. Aku tidak tahu jawabannya sejak awal. Kalau begitu, mungkin aku yang memang malas.

Jangan memikirkan hal-hal yang sulit, pahamilah bahwa ini juga bagian dari perjalanan dan petualanganmu, dan bersabarlah. Singkirkan hal-hal yang merepotkan nantinya.

Kemalasan.

—Itulah diriku.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset