Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 29.2

Vol 2 - [Dungeon]: Kebohongan dan Kebenaran

“Pertanyaannya nanti saja. Ulurkan tanganmu sekarang.”

“Ulurkan tanganku?”

“Ya.”

Dia memotong pertanyaanku, dan untuk saat ini, apa boleh buat, aku mengulurkan tanganku ke depan. Kemudian Bel mencoba meletakkan tangannya di telapak tanganku.

“Ngomong-ngomong, Bel? Sudah cuci tangan?”

dukung klik iklan

“Belum, belum aku cuci.”

Kemudian Bel berdiri dengan tenang dan berjalan menuju dapur.

“Dasar … Master itu kebiasaan bersih-bersih, ya?”

Sambil berkata meledek, Bel mencuci tangannya dengan patuh.

“Dia pria kotor…,” kata Nem lagi.

“Gadis kucing? Aku tidak kotor. Katakan itu pada manusia, begitulah caraku membasuh kotoran manusia di tanganku setiap hari. Benar, kan?”

“Ngg, apa itu contoh dari beberapa hal?”

“Yah…”

Kemudian Bel menutup keran dan kembali ke sini. Setelah dia duduk, aku kembali mengulurkan tanganku di depannya, dan Bel pun meletakkan tangannya di atasnya.

“Jadi? Apa yang akan kau lakukan?”

“Master tak perlu melakukan apa pun. Ini adalah sesuatu yang hanya bisa aku lakukan.”

Kemudian, untuk sesaat, aku merasakan “sesuatu” dalam diriku yang tak bisa aku jelaskan dengan kata-kata.

“Ini akan baik-baik saja.”

Kemudian Bel melepaskan tangannya. Aku juga menarik tanganku.

“Tapi jangan ragu lagi, oke? Aku bisa mengembalikan zat Master dengan cara ini berulang kali. Tapi jika tertelan, semuanya akan berakhir. Jika anda benar-benar tertelan, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi.”

“…Apa maksudnya ditelan? Kau juga bilang begitu sebelumnya, kan? “Jika kau meragukan dirimu sendiri, kau akan ditelan oleh abyss”? Dan, aku juga dengar kata-kata seperti, “Mereka yang tertelan oleh abyss akan kehilangan cintanya”……”

“Kehilangan cintanya? Siapa yang bilang begitu…? Tidak, manusia.”

Kemudian Bel tampak seperti meyakinkan dirinya sendiri dan bicara padaku.

“Baiklah, Master? Apa artinya jika anda ditelan oleh abyss? …Orang itu akan kehilangan kepribadiannya.”

“Kehilangan… kepribadiannya…?”

“Ya, itu benar. Abyss tidak bisa membedakan antara musuh dan sekutu. Abyss secara tak sengaja menyerang orang lain dan bahkan tidak menyadarinya. Mereka yang telah kehilangan wadah raja —Kami yang setengah tubuh menyebutnya “Fool of the Abyss”.”

“Hmm? Fool of the Abyss? Tunggu sebentar, bukannya si bodoh itu adalah penyihir yang berurusan dengan abyss?”

“Apa? Apa yang anda bicarakan? Si Bodoh ya si Bodoh. Aku bicara tentang seseorang yang ditelan oleh abyss, bukan penyihir.”

Segera setelah mengatakan itu, Bel menyeringai lagi seolah dia yakin.

“Oh … lagi-lagi manusia, ya … Apa lagi yang disalahpahami oleh para manusia, apa mereka yang mengatakan itu?”

Itu adalah kisah yang aku dengar dari Black Dragon Carpent Ze Bach.

“Aku mendengarnya dari naga hitam, bersama dengan legenda yang ditinggalkan oleh penyihir bernama Adams Rad Polifia.”

“Hmm, legenda … Lalu? Legenda seperti apa itu?”

“Yang pertama, “Mereka yang ditelan dalam abyss akan kehilangan umurnya.” Yang kedua, “Mereka yang ditelan oleh abyss akan kehilangan cintanya.” Dan yang terakhir, “Mereka yang jatuh ke dalam abyss akan kehilangan kebebasannya.” Sepertinya itulah yang menjadi legenda Adams. Naga hitam menyebut ini kalimat peringatan. Dan ketika mereka mengabaikannya, orang yang menyentuh abyss disebut Fool, begitu katanya.”

Kemudian Bel memikirkan sesuatu sambil menyentuh janggutnya.

“Kehilangan cintanya, ya… mungkin juga. Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin anda salah. Jika anda kehilangan orang yang anda cintai, anda sendiri bahkan tidak tahu apakah anda sebenarnya mencintainya atau tidak, kan?”

“Yah … benar juga katamu. Lalu? Bagaimana dengan dua legenda yang lainnya?”

“Itu legenda yang ditinggalkan Adams, kan? Jika anda bertanya padaku aku tidak tahu jawabannya, tapi kupikir dia sedang mencari tujuan dari abyss?”

“Tujuan?”

“Ya, antara dia ditelan oleh abyss, atau dia melihat seseorang yang ditelan oleh abyss. Hanya itu yang bisa kupikirkan. Dan anda takut abyss, kan? Yah, itulah sesuatu yang dipikirkan oleh orang-orang duniawi. Aku juga masih tak mengerti.”

Rupanya dia tidak tahu tentang dua legenda yang lainnya.

“Begitu, ya…”

Kemudian Bel berdiri dan pergi ke dapur.

“Maaf, Master? Aku belum menyuguhkan apa-apa sejak anda datang ke sini. Anda mau minum sesuatu?”

Bel membuka lemari es dan berkata padaku.

“Minum? Memangnya kau punya minuman?”

Kalau dipikir-pikir, di sini juga ada kantong permen dan kaleng bir kosong yang berserakan.

“Tentu saja, kan? Ini rumah Master seperti yang ada di dalam ingatan Master, kan?”

“Apa? … Apa ini rumahku? Memang jelas terlihat seperti rumahku, sih…”

“Yah, bisa kukatakan kalau dungeon itu sendiri adalah rumah Master. Sejak awal, dungeon itu sama sepertiku, yang lahir pada saat yang sama dengan abyss yang bersarang di dalam diri tuannya. Dan itu hanya muncul sekali di dunia agar tuan dan separuh tubuhnya bisa bertemu. Itulah dungeon.”

“Eh? …Ngg?”

“Kenapa? Nggak mengerti, ya?”

Aku sedang mencerna kata-kata Bel. Apa dungeon itu rumahku? Berbicara tentang dungeon, kami memang sudah tak asing lagi. Tapi itu kan labirin, yang penuh dengan monster dan peti harta karun, yang membara keingintahuan para petualang.

Apa itu rumahku?

“Master? Aku setengah tubuh Master. Jadi aku bisa mengerti apa yang Master pikirkan. Sebaiknya jauhi stereotip yang seperti itu. “Dungeon” yang Master pikirkan, pada dasarnya ditentukan oleh orang-orang sekuler (yang bersifat duniawi) oleh imajinasi mereka sendiri. Sejak awal, dungeon adalah tempat dimana calon raja akan tinggal, dan itu jembatan bagi calon untuk bertemu dengan setengah dari dirinya sendiri.”

Bel mengatakannya seolah-olah itu adalah hal yang wajar dan dapat diterima begitu saja. Dungeon adalah rumahku. Itulah kebenarannya.

“Kalau begitu, aku ada pertanyaan untukmu. Seperti halnya rumah ini, kenapa sekolahku ada di dungeon? Dan kenapa kau terus saja membuatku banyak bertanya-tanya?”

“Itu karena anda ditelan oleh abyss, kan? Dungeon itu sendiri yang melakukannya, kurasa itu bukan sesuatu yang buruk?”

“Dungeon sendiri yang melakukannya? … Kau bicara seolah dungeon itu memiliki kemauan?”

“Apa maksudmu? Itu memang sudah pasti, kan? Setengah tubuh dan dungeon, keduanya adalah bagian dari Master, dan sama seperti anda yang memiliki keinginan, maka dungeon juga memiliki keinginan.”

Sambil berkata begitu, Bel mengeluarkan bir sebanyak yang bisa dia pegang dari dalam lemari es.

Sejujurnya, aku bingung dan tak mengerti. Ini dungeon? Atau rumah?

“Jangan berpikir terlalu keras. Sudah kubilang kan sebelumnya? Itulah kebiasaan buruk Master. Terima saja semuanya sebagai “fantasi” favoritmu! Karena ini “fantasi”, jadi tak masalah, kan?”

Sambil berkata begitu, Bel membuka bir dan Gahaha! Sambil tertawa, dia meneguk minuman dan membasahi tenggorokannya.

“Hmm … Memangnya kau bilang begitu sebelumnya? Kau benar-benar tahu segalanya, ya?”

“Aku menontonnya di TV. Yah meskipun aku tak butuh informasi yang mereka bagikan, sih.”

Aku teringat kata-kata, “Sudah kubilang sebelumnya.” Saat itulah pertama kali Doppeller muncul sebagai Saeki.

“Ngomong-ngomong, sebelum aku datang ke sini, sepertinya kau tahu banyak hal, ya?”

“Yah … aku telah melihat banyak hal…”

Bel kembali bersikap seperti orang lain sambil mengatakan setengah tubuh.

“Saat itu, mata kiriku bersinar merah. Apa kau tahu itu? Kau tahu sesuatu yang tidak aku ketahui?”

Lalu Toa juga ikut mendengarkan.

“Ya, aku tahu. Itu bukti bahwa anda terbiasa dengan abyss!”

Entah kenapa, Bel tampak senang saat mengatakannya.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset