Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 28

Vol 2 - [Dungeon]: Iblis Mangkuk Toilet

Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” TL by Light Novelku

***

―[Abnormal Condition: Sindrom dunia lain disembuhkan. Kembali normal]

Pengumuman itu terdengar di kepalaku.

“Dunia lain … Sindrom?”

dukung klik iklan

Aku melihat statusku.

 

**********

Hidaka Masamune

Lv: 2009

Job: Healer

Race: Human

HP          : 190,855 (60➡95)

MP         : 170,765 (50➡85)

Attack   : 42,189 (10➡21)

Defense: 36,162 (10➡18)

Magic Attack: 50,225 (10➡25)

Magic Defense  : 48,216 (10➡24)

Physical strength: 40,180 (10➡20)

Agility: 36,162 (10➡18)

Intelligence: 46,207 (10➡23)

▽ [Status]: Normal

▽ [Equipment]

[Saint’s Wrath] ➡ [Belphegor’s Staff]

[Executor’s Axe]

 

▽ [Unique skill]

[Goddess’s Blessing]

[Revenge God’s Mischief]

[Reversal Mischief <Pole>]

[God Speed] ➡ [False who is sick]

 

▽ [Skill]

[King’s Ark] ・ [Mimic Life] ・ [True Evil Eye]

[Heat sensing] [Purification] / [Searching enemy] / [Appraisal] / [Polishing]

[Washing] / [Cooking] / [Formulation] [Life detection] / [Underwater breathing]

[Strike resistance], [Slash resistance], [Tear resistance], [Sewing]

[Drop resistance], [Poison resistance], [Paralysis resistance], [Pain resistance]

[Hunger resistance], [Fatigue resistance], [Intimidation resistance], [Dismantling]

[Aquaculture], [Hunting], [Architecture], [Granting craftsman]

[Writing], [Pharmacy], [Secret], [Rapid fire], [Rigid fire]

[Intimidation] ・ [Scam] ・ [Pickpocket] ・ [Trap craftsman]

[Mind’s eye] ・ [Critical] ・ [Discontinuation] ・ [Blacksmith] ・ [Patience]

[Physical strengthening], [Psychokinesis], [Attractiveness], [Speed reading], [Language understanding], [Lightening]

[Gluttony] ・ [Hearing hypersensitivity] ・ [Smell hypersensitivity] ・ [Bite force quotient increase]

[Leading power]

 

▽ [Title]: [Reincarnated] ・ [Friend of Revenge God] ・ [Friend of Serpent King God] ・ [Master]

 

▽ [Magic]

[Healing Heal] ➡ [Erosion Wave Disparase Aura]

[Healing Wave Heel Aura]

[Abnormal condition healing effect heel]

[Attribute grant enchantment] ➡ [Soul break of technique destruction]

[Odium Aura for strengthening offense and defense]

[Goddess’s Blood Tears] ➡ [Goddess’s Blood Tears Dies Bradley]

[Curse Spear Cars Javelin] ➡ [Blessed Spear Benedict Javelin]

[Swordsman’s Defensive Protemista]

[Explosion fist bakuretsukin]

[Transition network expansion transformer field]

[Magic Magura] ➡ [Grief Pain Phantom Pain]

[Flame Fire]

[Water hammer aqua]

[Magic Shield Ciel]

[Magic Sword Sika]

[Magic Blade Magura Enchantment]

[Paralized Ichiya Paralyze Arrow]

[Poison Ichiya Poison Arrow]

[Magic Barrier Magseed]

[Restricted bind] ➡ [Birth of regret Parture pygma]

[Magic Slash Magura Slash] ➡ [Unreasonable robbery Riddick Lost]

[Lightning Lightning]

[Cold air injection freeze]

[Flying Fly] ➡ [Binder Dies Obligadio]

[Ice Spear Ice Javelin]

[Darkness]

[Necromance of the Necromancer]

[Rage of the Earth Earth Wave]

[Penetrating hard claw piercing claw]

[Infected Pandemin]

[Dream Eating Somnikubas]

 

▽ [Summon magic]

[Giant of the Earth (Earth Golem)]

*Before reversal ➡ After reversal

**********

 

“Eh?”

Kondisi abnormalku telah sembuh total. Selain itu, statistik dasarku juga meningkat…….?

Apa maksudnya ini?

“Ada apa, Nito?” tanya Toa padaku.

[Tl/note: Eaa author mulai lelah, Toa biasa manggil Mune, skrg Nito?]

“Tidak … Bukan apa-apa.”

Kenapa bisa sembuh total? Aku tidak tahu alasannya. Tapi ada sesuatu yang berubah. Sesuatu di dalam diriku.

Kemudian, pemandangan di sekitar kami tiba-tiba mulai terganggu lagi. Dan semua pemandangan menghilang pada saat bersamaan, seperti daya yang dimatikan.

“Di sana!”

Lalu Toa berkata begitu dan menunjuk ke arah tertentu.

“…Apa itu?”

Ini dunia putih keperakan 360 derajat. Tapi hanya ada kabut yang menggantung dalam satu arah.

“…Aku bisa melihat sesuatu!” kata Nem sambil menyipitkan matanya.

Kemudian kabut menghilang dan sebuah rumah muncul di sana. Agak jauh dari sini, kira-kira beberapa sepelemparan batu.

“Apa itu? Kelihatannya seperti gedung.”

Sufilia pun bertanya-tanya. Tapi bagiku, tidak salah lagi.

“…Itu rumahku.”

Itu rumahku saat aku berada di Jepang. Yang berikutnya adalah rumahku? Tentu saja, itu adalah tempat favoritku. Maksudku, aku sudah tinggal di sana untuk waktu yang lama.

“Ayo―” kataku pada semuanya. “Mungkin ini tahap selanjutnya.”

Aku melangkah lebih jauh.

Inilah saatnya―

Area tersebut tiba-tiba berubah menjadi area pemukiman. Angin hangat, suara burung gagak, dan sinar matahari terbenam yang aku benci. Saat kulihat ke belakang, ketiganya terkejut saat mereka memandangi bangunan dan pemandangan di sekitarnya dengan mata mereka. Tapi bagiku, ini pemandangan yang akrab, tidak berubah, dan membosankan.

“Ini Jepang… Inilah dunia tempatku tinggal.”

Mereka bertiga memandang rumah-rumah itu, yang tampak tidak biasa.

“Entah bagaimana, tempat ini kelihatan suram.”

“Hmm… Iyakah?”

Namun, Toa memandangi sekolah dan terlihat tak begitu tertarik di sini.

“Ayo kita ke sana.”

Tidak ada tempat lagi yang bisa dilihat. Aku berkata begitu pada mereka bertiga.

Tempat yang kami tuju adalah rumahku yang berada di ujung. Aku merasakan sesuatu, sebuah pertanda dari sana. Dan, entah bagaimana, aku merasakan sesuatu yang aneh tentang tanda itu.

“Hei, apa kalian merasakan sesuatu dari rumah itu? Entah hanya gelombang atau sekadar tanda.”

Aku memastikannya pada mereka bertiga untuk berjaga-jaga.

“Tidak, aku tidak merasakan apa-apa,” kata Toa dengan ringannya.

“Kalau Nem?”

Nem memiringkan kepalanya. “…Nem tidak tahu.”

Mereka tidak tahu apa itu.

“Nah, bagaimana denganmu, Sufilia?”

Setelah menatap rumah itu sebentar, Sufilia__

“Aku tidak merasakan apa-apa.”

“Berarti cuma aku, dong…”

Sufilia bahkan juga tidak tahu.

Namun, itu berbeda dengan gelombang kekuatan magis. Aku merasakan hawa dingin.

Aku pun memimpin ketiganya dan pergi ke rumahku untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Sesampainya di depan gerbang rumah, aku menekan interkomnya untuk berjaga-jaga.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Toa yang merasa aneh.

Saat aku memberitahunya tentang interkom, dia hanya menjawab “Hmm” dengan halus.

“Apa ini bekerja dengan sihir?”

“Sihir? Bukan, bukan sihir. Ini didukung oleh listrik.”

“Listrik? Apa itu sihir beratribut petir?”

“Yaah … iya kali.”

Aku tidak tahu harus berkata apa, jadi aku berusaha meyakinkannya, tapi sepertinya dia percaya.

“Tidak ada jawaban, ya…?”

Suara interkom itu samar, tapi aku pasti bisa mendengarnya. Tapi tidak ada suara yang keluar. Namun, ada tanda-tanda sesuatu, tapi tidak ada reaksi.

“Apa maksudmu?”

Aku membuka gerbangnya. “Ayo kita masuk dulu. Yah, lagian ini juga rumahku, sih.”

“Oke kalau menurutmu begitu,” mereka bertiga mengikutiku melewati gerbang.

Kemudian aku menyentuh pintu depan dan menariknya perlahan.

……Pintunya tak terkunci.

“Pintunya terbuka…”

Dengan lembut aku membuka pintu dan melihat ke dalam melalui celah. Pintu masuk tanpa sepasang sepatu, tangga, dan koridor menuju ruang tamu. Dan aku bisa mendengar sesuatu seperti “Bzztt”.

“Oke, mau masuk?” bisikku pada mereka bertiga di belakangku.

Aku pun bertanya-tanya, kenapa aku harus begitu berhati-hati hanya untuk memasuki rumahku?

Aku  melepas sepatuku di pintu depan, mungkin karena aku sudah terbiasa melakukannya. Lalu, mereka bertiga yang melihatku juga meniruku dan melepas sepatu mereka. Tanpa sadar, aku menatap mereka bertiga yang melepas sepatu mereka, namun mereka tidak mengatakan apa-apa, jadi aku juga tidak mengatakan apa-apa.

“Di sana.”

Aku menempelkan jari telunjukku di depan bibir untuk memberitahu mereka supaya tetap tenang, lalu menunjuk ke arah yang aku tuju.

Ya, ini ruang tamu.

Aku merasakan tanda itu dari sini. Rupanya, mereka bertiga masih belum memahami tanda ini. Tanda ini, yang aku rasakan dari luar rumah, menjadi semakin kuat saat aku memasuki rumah. Sekarang bahkan terasa lebih kuat dan aku tidak tahu lagi dari mana asalnya.

Mengandalkan intuisiku, aku pergi ke lorong menuju ruang tamu lalu membuka kembali pintunya dengan hati-hati. Hal pertama yang menarik perhatianku adalah TV yang dibiarkan menyala. Ternyata ini asal dari bunyi “Bzztt” tadi. Ada gelombang di layarnya.

Aku masuk ke kamar dan melihat-lihat, tapi tidak ada orang di sana. Tapi apa itu? Aku merasa ada sesuatu yang aneh. Sejumlah bir berjejer di atas meja. Bungkus camilan kosong. Ada tanda kehidupan. Apa ada orang lain di sini?

Ini seperti rumahku, tapi juga dungeon. Jika ya, apakah itu monster? Iblis? Namun, mereka bertiga mengatakan mereka tidak merasakan tanda apa pun…

“Sepertinya tidak ada di sini, ya?”

“Hei? Kau cari apa sejak tadi?”

Toa memintaku untuk waspada.

“Ah, aku sudah merasakan tanda sejak beberapa saat yang lalu. Maksudku… aku cuma mau memeriksa sesuatu.”

“Memeriksa sesuatu?”

“Yah, kenapa nggak kita periksa saja?”

Tapi baik Sufilia maupun Nem juga tidak mendengar hal yang sama seperti yang kudengar sebelumnya.

“Jadi itu sebabnya kau bertanya bertanya pada kita tadi.”

“Ya, aku merasakan sesuatu di sini. Dan aku juga terganggu karena cuma aku saja yang bisa merasakannya. Mungkin ada monster yang lebih berbahaya daripada Doppeller yang aku sebutkan sebelumnya. Kalian bertiga jangan jauh-jauh dariku, oke?”

“Baiklah.”

“Aku mengerti.”

“Aku akan terus bersamamu untuk saat ini.”

Kami meninggalkan ruang tamu dan keluar ke koridor lagi.

“…Kamar kecil?”

Sepertinya ada tanda dari seluruh rumah ini, dan aku tidak tahu di mana subjeknya. Aku membuka pintu kamar kecil untuk saat ini dan mengintip ke dalam.

“…Apa ada orang?”

Tapi tidak ada seorang pun. Dan aku pikir ada tanda kehidupan juga di sini. Handuk mandi dan sejenisnya dibuang sembarangan ke dalam keranjang.

Aku meninggalkan tempat itu dan mencoba naik ke atas. Setelah itu, mereka bertiga mengikutiku di belakang.

“Ngomong-ngomong, aku belum memeriksa toiletnya.”

Aku melewati toilet karena mengira tidak akan ada orang di sana. Aku berbelok sedikit ke samping, berjalan di antara ketiganya dan melewati dinding, dan kembali sedikit ke lorong yang sempit. Lalu, aku menyentuh pintu toiletnya. Dan tanpa niat apapun, aku membuka pintunya dengan satu tangan.

“…Ha?”

Aku kehilangan kata-kata.

“……Eeh?”  “Kami” semua membuat suara bodoh satu sama lain.

Toilet bergaya barat. Di sana, dengan dua tanduk yang dipelintir di kepalanya, dia duduk di mangkuk toilet yang sempit.

―Ada makhluk seperti inkarnasi iblis besar di sana.

“…”

Jenggot yang tertata dengan baik. Tanduk bengkok dan telinga yang runcing. Selain itu, dia terlihat seperti manusia, tapi jelas terlihat berbeda. Dan yang terpenting, dia besar meskipun dia masih dalam keadaan duduk!

“Uwaaahh!!” Aku terlambat terkejut.

“Gyaaaaaahhhh!!”

Kemudian iblis mangkuk toilet itu pun terkejut dan berteriak menanggapi suaraku. Aku pun ikut terkejut dengan suara besar itu dan berteriak lagi.

“Gyaaahhh! …… Gyaaaaaaaaaa!!”

Lalu dia terkejut lagi dengan suaraku, dan iblis itu berteriak lagi.

[tl/note: yare yare… aku bayanginnya aja kok lucu ya, apa selera humorku aja yg rendahan? wkkk]

“Berisik, oii!!”

Aku berteriak pada iblis yang membuat raungan aneh dan mulai berteriak dengan sengaja kali ini. Aku ketakutan begini… dia malah bercanda.

“Ahhhhh!! Ahhhh …… Ah? ……. Um, Master?”

Anehnya, dia yang terkejut perlahan-lahan menjadi tenang, dan iblis itu berkata demikian padaku.

“Huh?”

Master…….?

Itulah kata pertama yang keluar dari mulut iblis di dalam toilet.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset