Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 27

Vol 2 - [Dungeon]: Sihir Nito

Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” TL by Light Novelku

***

Aku memperluas gelombang merah kehitaman di sekitarku.

Kemudian naga itu menggumamkan sesuatu yang aneh, “Erosion Wave… asal-usul Hidaka Masamune dan simbol abyss.”

“Simbol abyss?”

dukung klik iklan

“Kau tidak tahu? Ini abyss pertama yang mewakili dirimu. Dalam hal ini, kau sudah tahu jawabannya.”

“Jawaban? Apa Erosion Wave ini jawabannya?”

“Benar, tapi jangan pikirkan itu lagi. Berpikirlah dengan cerdas, jangan khawatirkan apa pun lagi.”

“Hmm… aku tak menduga sama sekali kalau kata-kata cerdas bisa keluar dari mulut seekor naga.”

Aku tersenyum tanpa sadar. Ini bukanlah senyuman atas kemauanku, tapi senyuman yang muncul saat aku terjebak.

“Tak masalah. Tertawalah! Dan jangan khawatir lagi! Tentu saja orang pasti akan berubah, kau telah berubah melalui perjalanan dan petualangan. Tapi bagaimana? Apa kau melupakan hari-hari itu? Hmm? Sebaliknya, amarahmu jadi lebih kuat, kan? Tak peduli seberapa besar kau menikmatinya, apa kau merasa marah atas serangan yang tiba-tiba itu? Bukankah begitu? Dengan kata lain, seperti itulah dirimu!”

“Seperti itulah… aku…?”

Tentu saja benar. Itu tidak bisa dipungkiri. Hari-hari itu selalu membuatku kesepian. Setiap kali aku ingin membunuh mereka. Aku ingat perasaan itu.

“Itu benar … Jadi jangan malu karenanya. Jangan pikirkan tentang benar dan salah, benar dan salah adalah sikap yang sengaja dibuat oleh orang yang kau benci. Oleh karena itu, kau tertipu. Hal yang sama juga berlaku untuk moralitas dan etika. Kau mengunci hatimu dengan sikap konyolmu itu, itu sebabnya setiap kali kau bertentangan dan tidak setuju akan sesuatu, kau meragukan dirimu sendiri! “Apa aku salah?” Itulah masalahnya! Kau cuma membuang-buang waktumu. Dunia ini lebih egois dari yang kau kira. Kau tahu itu, tapi kenapa kau selalu menolak di menit terakhir? Abyss adalah dirimu sendiri, kan? Setidaknya, jika kau tidak mencintai dirimu sendiri, siapa yang akan mencintaimu? Hanya kau yang bisa memahami dirimu sendiri! Jangan abaikan dirimu!”

Ucapan naga itu berbelit-belit.

Ini masalahku, karena itulah aku tak membicarakannya dengan Toa. Aku pikir ini adalah sesuatu yang harus kuatasi sendiri. Menurutku itu tidaklah salah, terkadang ada jawaban yang tidak perlu langsung aku cari.

“Aku tidak mengabaikannya. Itulah kenapa aku membenci mereka.”

“Begitu…?”

Aku melirik naga itu. Matanya yang melotot menatapku. Namun, aku tak merasakan niat jahat di sana.

“Aku selalu berpikir, aku cuma ingin semua orang mati … Jadi aku bersumpah saat itu, untuk menyingkirkan sampah-sampah yang mengganggu di sekitarku.”

“Yah, itu sudah cukup.”

“Tapi … itu tidak ada hubungannya denganmu. Aku akan melakukan apa yang ingin kulakukan. Aku tidak akan tertipu olehmu.”

Saat itu, dengusan naga itu menghantamku dengan keras.

“Tidak apa-apa.”

“Ini sihirku. Aku tidak akan ragu lagi. Hentikan permainan kata-katamu yang merepotkan itu.”

“Hmm … merepotkan, ya? Sama sepertimu.”

Waktu membuka Erosion, aku bertanya bagaimana naga itu muncul, tapi malah aku yang ditanya-tanya. Naga ini dengan cerdik mencoba membuatku sadar akan sesuatu. Jadi, secara ekstrim, mahkluk ini tak berniat membunuhku. Aku mungkin telah menyadarinya.

“Jadi, haruskah aku membunuhmu?”

“Lihat? Kau ragu,” kata naga itu tanpa ekspresi.

“Aku tidak tahu apa yang kau ketahui tentang abyss, tapi apa yang ingin kau lakukan denganku?”

“Hmm? Abyss? Aku tidak tahu soal abyss. Aku cuma mengatakan apa yang kupikirkan karena semangatmu yang tidak stabil.”

Apa selama ini sifat naga itu memang suram?

“Lalu kenapa kau bisa tahu setiap kata dari suara hatiku? Kalau dipikir-pikir itu aneh, kan? Apa kau adalah … Bel? Atau yang lain semacamnya…”

Seperti biasa, tidak ada reaksi terhadap tongkat Bel yang terbalik. Dan di depanku adalah naga yang mengatakan hal yang sama seperti Bel. Aku tidak yakin, tapi…

“Tidak ada gunanya mengulur waktu, kan?”

“Apa? Mengulur waktu? Aku cuma mengatakan apa yang kupikirkan, kan?”

“…Masa?”

Kemudian naga itu berhenti sejenak, lalu bergumam. Dan sepertinya dia tertawa kecil.

Apa? Apa salahnya? Aku tak berniat mengulur waktu. Karena sejenak Bel terlintas dalam pikiranku, jadi aku menanyakannya.

Kemudian naga itu menghela napas dan mendesah.

“Ini yang terakhir. Tapi bagaimana? Kalau kau membuat kesalahan yang sama berulang-ulang, itu akan sama saja, tak peduli berapa kali kau mencoba memperbaikinya. Itulah sebabnya aku menceramahimu.”

“……Apa yang kau bicarakan?”

Kemudian naga itu melebarkan sayapnya dan mengancam. Dan dia tidak mengatakan apa-apa dan menembakkan dua api secara beruntun.

“Jawab pertanyaanku!”

Aku menggunakan [God Speed] untuk menghindari api. Namun, tidak mungkin untuk terus menghindarinya dengan mudah karena ada tiga orang di belakangku.

Selain itu, naga itu terus menyerangku, menggunakan tangan kanannya untuk memukulku ke tempat dimana aku bergerak. Aku menghindari tangannya dan memperluas Erosion Wave. Jangan sampai sihir ini mengenai mereka bertiga.

Dan__

“[Bloody Tears of the Goddess]!”

Lingkaran sihir muncul di kaki naga. Saat berikutnya, hujan darah yang tak terhitung jumlahnya mengguyur tubuhnya melalui langit-langit.

“[Blessed Spear (Benedict Javelin)]!”

Aku mengeluarkan tombak cahaya dan menikamnya di dadaku. Ini akan mencegah kehabisan mana.

Lalu sebuah “gelas kimia” muncul mengelilingi naga dan mengisinya dengan darah. Dan pada saat yang sama saat sang Dewi menghilang, “gelas kimia” itu pecah dan darah mulai tumpah sekaligus.

“Ugh!”

Kemudian, keadaan tubuh naga itu menjadi jelas.

“……Nggak bagus, nih.”

Naga itu tidak terluka. Dia hanya basah dengan darah.

“Kenapa? Kenapa nggak berhasil?”

Apa karena perbedaan level? Aku melihat status naga itu dengan [True Evil Eye].

“Apa?!”

Namun, status itu ditampilkan sebagai [―Unknown―]. Dan saat aku memiliki celah, naga itu kembali menembakkan api.

“Sial!”

Tapi ini tidak bisa dihindari. Jika aku menghindari napas api sebesar ini, apinya akan mengenai tiga orang di belakangku.

Aku memperluas Erosion lebih jauh lagi. Aku memperlebar area sebanyak mungkin sehingga api itu tidak akan mencapai tiga orang di belakangku. Tapi, naga itu mulai mengayunkan kepalanya dari sisi ke sisi lain, lalu menyemburkan apinya. Api disemburkan tanpa pandang bulu.

Aku melihat ke samping untuk memeriksa di belakangku. Nem sedang menunggu, seperti yang kuperintahkan, tanpa mencoba menyusulku. Namun, ekspresinya menunjukkan kekhawatiran. Toa dan Sufilia juga, mereka hanya menatapku tanpa mengatakan apa pun.

……

Kalau begini, aku tidak bisa melindungi mereka bertiga…

Pada saat itu, naga memberiku momentum api. Dia mengalihkan semua napas apinya padaku.

Aku memasukkan sihirku ke dalam Erosion dan mencegah napasnya. Namun, secara bertahap, aku bisa melihat bahwa api naga itu membakar Erosion. Ada apa dengan Erosion-nya? Dia tak menyerang api naga itu dengan baik.

“Kenapa… kau tak mau tanya kenapa?”

Aku tahu jawabannya.

―”Karena aku meragukannya”

Kupikir Erosion akan melukai semua orang. Tanpa kusadari, aku merasa khawatir … ketakutan. Lalu apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku memperluas gelombang ini sampai ke batasnya tanpa ragu-ragu? Tapi kalau…….!

…….

Bahkan sebelumnya aku tidak ragu. Aku tak meragukan sihir dan diriku sendiri meski hanya satu milimeter.

Naga itu masih menyemburkan api, menyipitkan matanya dan tersenyum, seolah dia melihat konflik batinku.

―”Jangan ragukan abyss”

Itulah yang dikatakan Bel padaku waktu itu.

―”Jika anda meragukan diri sendiri, anda akan ditelan oleh abyss.”

Itu dia……. Aku pasti tertelan oleh abyss, karena itulah tangan Ichijo diserang.

Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tak berpikir dia akan membunuhku, tapi sekarang aku bisa merasakan hawa membunuh dari makhluk ini. Dia serius ingin membunuhku. Jika aku mati seperti ini, mereka bertiga juga akan dibunuh oleh naga ini. Kalau begitu apa aku harus melepaskan Erosion?

―Cuma ada dua pilihan ini.

Namun salah satu di antaranya, aku lebih baik dimakan sampai mati oleh naga itu…

“Ayo kita selesaikan ini…”

Kemudian naga itu berhenti menyemburkan napasnya.

“…”

Naga itu tidak berkata apa-apa.

“Aku tidak meragukan diriku lagi. Tidak … Aku tidak akan meragukannya. Aku cuma memiliki sihir ini. Jika aku kehilangan abyss ini, yang tersisa hanyalah si bodoh.” (Fool of the Abyss)

Lalu naga itu membuka mulutnya.

“Segalanya memiliki arti. Tidak semua orang bisa mencapai dungeon, dan tidak semua orang bisa mengerti artinya.”

Kemudian naga itu meletakkan tangannya di tanah untuk menopang tubuhnya.

“Abyss tidak hanya diberikan kepada mereka yang mencarinya. Semuanya selaras. Tapi bukankah kau menganggap dirimu istimewa? Itu juga disebabkan oleh kebetulan yang tak masuk akal.”

“Aku nggak peduli lagi dengan kata-katamu. Aku ya aku. Aku akan tetap berpegang pada sihir yang aku percayai!”

Pada saat itu, naga itu mengeluarkan napas api lebih dari sebelumnya.

“―[Erosion Wave (Disparase Aura)]!”

Aku menuangkan seluruh kekuatan sihir yang kumiliki dan melepaskan Erosion sekaligus. Tidak ada keraguan atau kecemasan semilimeter pun. Aku tak ingat berapa banyak yang telah kupelajari tentang hal itu. Aku telah memperluas Erosion ke titik di mana ia mencapai mereka bertiga. Pada saat itu, napas api dan Erosion bercampur, dan suara disonan terdengar seolah mereka saling mengikis.

―”Apa aku meragukan abyss?”

“Tidak ada keraguan sama sekali!”

Aku memperluas Erosion lebih lanjut, dan itu akan mencapai mereka bertiga juga. Tapi aku tidak akan berbalik. Aku tidak akan menyesal lagi. Aku tidak akan menyakiti mereka bertiga. Jadi jangan khawatir. Erosion ini mematuhiku. Dia tidak akan menyakiti teman-temanku. Seharusnya begitu, karena ini adalah sihirku. Ini cheat yang diberikan padaku!

“Seraaanngggg!” teriakku memperlihatkan emosiku untuk melenyapkan naga di depanku yang begitu kuat.

Pada saat itu, entah kenapa naga itu berhenti menyemburkan napas.

Dan―

“Fufu … benar begitu, itu baru rajaku.”

Pada saat itu, Erosion langsung menyerbu naga. Itu adalah momen dimana dalam sekejap, naga itu menghilang, hanya menyisakan partikelnya. Dan bahkan partikelnya pun menghilang.

 

―[Doppeller <Lv: 1262>, telah dikalahkan. Skill [Goddess’s Blessing] diaktifkan, tetapi tidak ada jarahan.]”

―[Anda telah naik level dari Lv: 1262 ke Lv: 2009 dengan mendapatkan poin EXP]

 

Apa itu dungeon…? Aku merasa seperti aku telah mengetahuinya. Aku berpikir itulah kebenarannya.

Aku menyesuaikan napas kasarku dan perlahan berbalik.

“Ini sudah berakhir…”

Toa tersenyum.

“Kau berhasil!”

Nem tertawa seolah merasa lega.

“Nito-sama … aku percaya itu.”

“Yah, maaf membuat kalian khawatir.”

Erosion tidak melukai mereka bertiga. Maksudku, aku percaya pada diriku sendiri. Aku mengakui diriku dari lubuk hatiku. Dan aku tidak bisa mundur lagi. Aku akan menaklukkan dungeon dan memenuhi sumpahku hari itu. Itulah caraku percaya.

“Jadi…? Apa ini akhir dari mengalahkan naga itu? Semuanya sudah selesai, kan?”

“Apa ini akhirnya…? Um … aku sudah melakukan yang terbaik, kan? Meski sempat kesulitan juga, sih.”

Meskipun aku telah melakukan yang terbaik, Toa tampak masih khawatir tentang yang selanjutnya.

“Yah … bagus sekali! Masamune!”

Toa memberiku tanda semangat dan berkata padaku dengan senyum lebar. Aku merasa lega. Itu sudah cukup…

“Hmm … yah. Oh iya, itu bukan naga. Itu Doppeller. Karena itulah dia bisa mengubah penampilannya dengan bebas.”

Tapi aku tidak tahu kenapa dia berubah menjadi Saeki atau naga yang aku lihat sebelumnya.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset