Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 26

Vol 2 - [Dungeon]: Keraguan dan Erosion

Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku Tl by Light Novelku

***

merry christmas

Saeki menunjukkan sifat aslinya. Tidak, sejak awal aku memang tak berpikir bahwa dia adalah Saeki. Saeki, yang mulai membungkuk dan membengkak seperti moluska, berubah menjadi naga merah. Benar. Minotaur, slime, zombie, lalu naga. Dan Saeki juga muncul…

Kalau dipikir-pikir, sejak aku datang ke sini, aku selalu merasakan sesuatu yang tak bisa kupahami. Kemunculan Shirakawa tampaknya bertujuan untuk membangkitkan trauma. Dia menggodaku dengan kata-kata yang tidak akan pernah dia ucapkan. Aku tak tertipu oleh godaannya karena aku menjaga jarak dengannya.

Dia tidak akan pernah mengatakan itu pada orang sepertiku karena Shirakawa lebih menyukai pria yang populer. Jika seseorang itu adalah pria favoritnya, dia akan membuka selangkangannya tanpa pandang bulu, dan sepertinya rumor itu telah diketahui oleh teman sekelas.

Maksudku, bukan hanya aku yang tahu tentang itu. Kemudian citraku tentangnya berubah total. Hanya meninggalkan kenangan palsu tentang “Shirakawa yang sopan.”

Lagipula, aku hanya menyukai orang yang kuinginkan, aku tidak benar-benar menyukainya. Setelah itu, aku mengalami konflik yang mengerikan. Aku salah dalam memahami ‘kesalahpahaman’, aku berubah pikiran dengan mengatakan yang sebenarnya, dan berpikir apa aku telah membuat kesalahan. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Akhirnya aku memutuskan untuk mengakui diriku sendiri, “Inilah aku.”

Dan begitu juga dengan Saeki. Dia yang asli tidak akan menunjukkan ketertarikannya padaku. Dia hanya ingin merendahkanku dan bersenang-senang. Meski begitu, dia telah mengguncang hatiku dengan menanyakan pertanyaan, “Kenapa kau ingin membunuh semua orang?”

Pertanyaan itu menyoroti keraguan yang ada di dalam diriku, dan yang juga hanya akan menimbulkan pertanyaan yang aku tanyakan pada diriku sendiri akhir-akhir ini.

“Jadi yang berikutnya adalah Saeki yang berupa naga, ya … Hei? Kau ini apa? Apa itu dungeon?”

“Temukan sendiri jawabannya.”

Naga itu mengubah nada bicaranya dengan suara pelan yang terasa kurang cocok untuknya yang seekor naga. Seperti dungeon ini sendiri, aku tidak bisa memahaminya. Saeki adalah naga.

―Bukan begitu.

Mungkin dia juga bukan naga. Jadi apa itu?

“Apa yang lebih baik dari itu? Keraguan?”

Kemudian mulut naga itu mulai menganga, dan aku melihat bayangan api di mulutnya.

“Masamune! Napasnya!”

Begitu Toa berteriak, aku melangkah maju untuk melindungi mereka bertiga.

Erosion Wave… tidak… Namun, Ichijo yang pada saat itu kehilangan lengan kirinya, tiba-tiba terlintas di pikiranku.

Ini buruk.

“[Binder (Dies Obligadio)]!”

Aku membatalkan untuk menggunakan [Erosion Wave] dan menggunakan [Binder]. Sekelompok lengan putih mendorong ke atas tepat di bawah dagu naga yang hendak menyemburkan napas.

”Ugh!”

Mulut naga terkatupkan secara paksa dengan rahangnya yang terdorong ke atas. Kemudian suara ledakan terdengar dari dalam mulut naga, dan asap hitam mengepul melalui celah di taringnya.

Aku tidak bisa menggunakan Erosion Wave. Jika aku menggunakannya, aku bisa membahayakan mereka bertiga. Biasanya, seharusnya sihir itu tak bermasalah dengan kontak fisik, tapi begitu teringat Ichijo, tak mudah bagiku membuat keputusan.

“Apa kau ragu? Abyss.”

Naga melihat ke bawah menatapku dan bertanya padaku. Sepertinya kekuatanku barusan tak menimbulkan damage padanya.

“[Phantom Pain]!”

“Abyss yang tanpa keinginan apa akan mempan padaku?”

Naga itu tak mengubah ekspresinya seolah tidak ada yang terjadi.

“[Onibi (Shreim)]!”

Kemudian Nem berusaha membakar naga itu. Namun, naga itu masih baik-baik saja.

“Hoo? Sihir yang cukup bagus, tidak seperti beberapa pengecut.”

“Nem, mundurlah. Monster ini berbeda.”

“…Iya, baiklah.”

Aku menghadang Nem dengan tanganku.

“Nem, aku akan lakukan ini sendirian … aku merasa harus melakukannya.”

”Raja pengecut, ya? Jangan meragukan abyss!

”Jangan memerintahku! [Unreasonable robbery (Ridiculous)]!”

”Tidak ada gunanya.”

Aku menggunakan sihir merampok paksa bagian tubuh dari lawanku. Dengan sihir ini, aku mencoba merobeknya dengan cepat. Tapi seperti yang dikatakan naga itu, tidak ada yang terjadi pada lehernya yang seharusnya terkena oleh sihirku.

Lalu, lengan kanan naga mendekatiku yang tertegun.

”Eh…”

Aku terlambat bereaksi terhadap “lengan kanan” itu.

”Kenapa wajahmu begitu?”

”Ugh!”

Aku terkoyak oleh cakar tajam naga itu dan terlempar ke belakang. Tubuhku terkoyak dan darah bercipratan di sekelilingku.

“Masamune!”

“Master!”

“Nito-sama!”

Aku mendengar suara mereka bertiga.

Sakit setelah sekian lama. Rasa sakit ini telah terjadi sejak di dungeon. Tapi normalnya jika tubuhku terkoyak, darah akan mengalir dan terasa sakit.

……Ah, aku lupa.

”Jangan ke sini!”

Aku berkata begitu pada ketiganya. Toa yang ketakutan mencoba maju untuk membantuku.

“[Healing Wave (Heel Aura)] ……”

Aku menyembuhkan luka dengan sihir penyembuhan. Aku tidak pernah sebahagia ini menjadi Healer, kalau tidak, aku pasti sudah mati.

“Hmm… Sihir penyembuhan, ya? Itu cocok untukmu, kan? Aku tahu apa yang kau pikirkan. Seperti “Kenapa cuma aku yang satu-satunya Healer? Aku juga memadamkan api secara normal. Kenapa aku bukan Saint? Kenapa bukan Knight? Kenapa bukan Magician? ……Benar, kan? Namun, saat kau terluka, kau merasa lega seolah kau sangat bersyukur. Kenapa kau tidak menghentikannya saja?”

“Berisik……”

Aku harus menyembuhkan diri, tapi aku masih merasa lemah. Naga itu masih mengatakan sesuatu yang menusuk hatiku.

“[Abnormal Condition Healing (Effect Heel)] …… Memangnya kau tahu apa?”

Aku menggunakan sihir, tapi rasa lemahku masih belum hilang.

―Kenapa begitu?

”Karena kau ragu.”

Ini bukan level membaca pikiran. Naga itu menjawab suara hatiku.

“Pada saat kau berdiam diri, semua sihir ada di abyss. Dan abyss tidak menuruti orang yang tidak memiliki tekad atau keinginan. Karena abyss adalah―”

“―Aku sendiri, kan? Aku tahu. Makanya kau mau bilang supaya aku tidak meragukannya, kan? Aku tahu, kok, aku dengar!”

Lalu aku mengambil tongkat putih.

“Lalu bagaimana dengan yang ini?”

Aku melawannya dengan tongkatku.

 

―”[Reversal Mischief (Pole)] telah membalikkan [Saint’s Wrath] ke [Belphegor’s Staff]. “

 

Kemudian, saat aku melihat tongkat itu, tongkat itu sudah berubah menjadi hitam.

“Bel, tembakkan “itu” padanya.”

”Kau dengar, kan, saat aku bilang kalau itu tidak ada gunanya?”

Naga itu masih menatapku.

……

“Bel?”

Aku melihat patung di ujung tongkatku. Namun, tidak ada jawaban. Biasanya, dia akan membuka matanya dan berbicara dengan “Master”-nya ini dengan santai…

Kemudian, cakar naga itu menyerangku lagi. Aku bereaksi seketika dan menghindarinya dengan benar kali ini.

“Kenapa dengan tongkatnya?”

Aneh … Bel tidak merespon.

“Hentikan…”

Aku tidak punya pilihan selain menyimpan Bel di tempat penyimpananku. Tak peduli seberapa banyak aku bicara dengannya, dia tak bereaksi sama sekali meskipun aku mengguncangnya dengan kasar. Aku tak punya waktu untuk menunggu Bel. Sementara itu, cakar naga itu mendekat lagi.

Aku mencoba melakukan tinju dengan kepalan tanganku kali ini. Jika sihir tidak berhasil, ini akan jadi pertempuran fisik.

Tapi―

“Ahh! Uagghh!”

“Percuma saja.”

Tinjuku tak menyentuhnya, namun aku tertiup angin ke belakang.

“Ugh! [Healing Wave (Heel Aura)]”

Aku berhasil mendarat dan segera sembuh. Entah karena pikiranku saja atau aku memang merasa kalau efek penyembuhannya juga berkurang?

“Master?”

Nem memanggilku dengan cemas.

“Hmm… Apa yang mau kau lindungi? Kau lihat dirimu sendiri, kan? Siapa yang akan kau lindungi? Kau saja tidak bisa melindungi dirimu sendiri.”

“…Kau tahu jawabannya meski tanpa bertanya, kan?” tanyaku pada naga itu.

“Hmm?”

“Aku tidak tahu kenapa kau bisa membaca isi hatiku. Kalau begitu, kau tahu kan kenapa aku tidak menggunakannya?”

“Oh, kalaupun aku tahu, itu karena kau telah menghancurkan lengan pria tampan yang bernama Ichijo itu. Karena itulah lengan pria itu tidak pernah kembali. Tapi apa yang terjadi? Apa kau ingat? Apa yang kau takutkan?”

“Aku tidak takut. Aku hanya menganggapnya sebagai fakta. Aku tidak meragukan diriku sendiri.”

“Tidak ada gunanya … tidak ada alasan di dalam abyss. Kau menyangkalnya. Kau benar-benar tahu kenapa Erosion menyerang lengan Ichijo, kan? Itu karena kau meragukan dirimu sendiri.”

“Aku tidak ragu! Aku bahkan tidak tahu! Saat itu, aku cuma menggunakan sihirku secara normal. Tapi Erosion menyerang Ichijo, dan hanya Ichijo yang diserang!”

“Yah. Dengan kata lain, apa benar itu jawabannya?”

“Huh?”

“Kau tidak tahu? Aku bilang, itulah keinginanmu.”

“Kenapa aku ingin menyakiti Ichijo?”

“Singkatnya, kau ingin membunuhnya.”

Apa yang naga ini katakan? Apa aku ingin membunuh Ichijo?

“Kau tidak menginginkan persahabatan karena kau tahu tidak ada hal seperti itu di dunia. Seperti ada keraguan saat kau mempercayai Ichijo. Kau cuma mengucapkan kata-kata yang membuatmu nyaman saja.”

”Kau salah… dia, aku…”

”Kau benar-benar berpikir begitu, kan? Apa kau merasa tak nyaman? Karena orang sepertimu sangat membenci “Teman” di atas segalanya.”

Benar, tidak ada yang namanya teman.

“Sekarang kau telah terpengaruh oleh kata-kata orang lain, dengan kata-kataku. Kenapa kau tak berhenti melakukan itu?”

Aku tahu… aku tahu. Aku tak memiliki cukup keinginan sejak awal. Meskipun aku memutuskan menggunakannya, aku tidak bisa menggunakannya. Ini rumit, dan merepotkan.

“Mereka yang meragukan dirinya sendiri dan merasa cemas, itu seperti kapal yang mudah hancur.”

Kata-kata naga itu terdengar seperti sebuah kode. Tapi aku tidak bisa mengerti apa pun.

”Kau tidak mengerti? Masamune? Ah, bukan. Nito?”

”Ada yang salah dengan nama samaranku?”

”Tidak, tidak, itu benar-benar seperti dirimu, kok. Tak masalah.”

”Kalau begitu, apa? Yang soal Ichijo itu.”

Kemudian naga itu menghela nafas.

”Biar kuberi tahu kau satu hal. Abyss menanggapi keinginan jauh di dalam hati. Namun, itu juga menanggapi keinginan dangkal yang awalnya mudah.”

”Terus kenapa aku? Waktu itu aku—“

“Bukan soal Ichijo-nya. Sebelumnya, kau mengalami ‘kekhawatiran’.”

”Ha? … Aku khawatir?”

”Itu bukan masalah yang sepele. Itu lebih besar dan lebih menentukan. Dan kekhawatiran itu terus berubah menjadi ketakutan.”

Aku selalu merasa khawatir. Mau sedikit, atau banyak.

”Kekhawatiran adalah keraguan pada diri sendiri.”

Kekhawatiran yang seperti apa itu? Sejak kapan aku merasa khawatir?

“Masamune!”

Saat itu, aku mendengar suara Toa.

Pada saat yang sama, ada rasa sakit yang hebat di sekujur tubuhku. Aku mendapati diriku yang diinjak oleh tangan naga. Tidak, sepertinya tubuhku dirobek lagi oleh cakarnya. Aku merasakan sesuatu yang hangat di perutku.

“[Healing Wave (Heel Aura)] ……”

Sihir ini bahkan kurang efektif dari sebelumnya.

“Masamune!”

“Master!”

“Nito-sama!”

Aku bisa melihat ekspresi wajah mereka bertiga yang tampak begitu khawatir.

Ya … mungkin aku akan mati. Lagipula, tidak ada yang bisa melindungiku, kan? Nem, Sierra, Sufilia… dan Toa … tidak ada yang bisa menyelamatkanku dari kematian.

Meskipun aku mencarinya sekeras mungkin, aku masih tidak bisa menemukannya. Yaitu sihir yang menyelamatkan Toa dari kematian. Tidak … sejak awal aku memang tak memiliki keyakinan diri.

……

Oh, aku mengerti. Apa itu kekhawatiranku? Aku tidak bisa menyelamatkan Toa. Apa ini pertanyaan, kekhawatiran, dan ketakutan yang kumiliki?

“Benar… Mungkin itulah sebabnya aku tak bisa menyelamatkannya, seperti “aku” sendiri.”

[Tl/Note: “aku” adlh Hidaka yg di masa depan. Cek di chapter: 59]

Di masa depan aku tidak bisa menyelamatkan Toa. Aku tidak tahu keseluruhan ceritanya, tapi sepertinya itulah yang kutahu.

”Benar. Kau sangat cemas. Kau meragukan dirimu sendiri. Tapi bukan itu masalahnya.”

“Ya… aku menyembunyikannya, dari diriku sendiri.”

“Ya, itulah masalahnya. Kau berbohong pada dirimu sendiri. Itu jauh lebih berat daripada keraguan. Membohongi diri sendiri, artinya menyangkal diri sendiri. Kau telah menyangkal kelemahanmu.”

“Tapi aku harus kuat, meskipun aku harus mengabaikan diriku yang lemah.”

“Kau tidak harus mengabaikannya, termasuk dirimu. Baiklah? Cuma ada satu hal yang kau butuhkan. ―Jangan ragukan dirimu sendiri.”

Ragu… bohong… aku tidak mengerti.

“Kau tahu alasannya. Jangan ragukan dirimu sendiri, percayalah. Itu saja. Abyss adalah dirimu sendiri. Ini begitu sederhana dan juga sulit, tapi kau berani berpikir keras.”

Aku tahu bahwa naga ini mencoba membuatku sadar akan sesuatu. Tapi apa yang harus aku lakukan? Aku tidak meragukan diriku. Entahlah, aku tidak tahu.

Pertama, daripada memikirkan itu―

“Bagaimana kalau yang ini… [Erosion Wave (Disparase Aura)]!”

―Aku melemparkan sihir, sihir pertama yang kutolak.

Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: E~to, onii-sama, jangan di-copy ya !!

Options

not work with dark mode
Reset