Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 8

Vol 2 Chapter 8 - Arteri Karotis Tersembunyi

―Dungeon telah muncul.

Rumor tersebut telah merampas konsentrasi siswa, dan seluruh sekolah membahas topik ini. Rapat umum diadakan langsung oleh Kepala Sekolah Sabrina, dan kami tahu itu bukan rumor.

merry christmas

“Kami dengan tegas melarang tantangan dungeon di sekolah kita. Jika kalian masih ingin berpartisipasi, silakan bawa segel dengan kontrak sihir oleh wali atau orang tua kalian. Dalam hal ini, sekolah tidak akan bertanggung jawab.”

Kepala sekolah yang naik ke atas panggung mengatakannya dengan nada yang kuat. Karenanya, aula sekarang menjadi sangat sunyi.

Aku tak tahan dengan udaranya dan aku meninggalkan tempat itu seorang diri. Begitu aku keluar dan menarik napas dalam-dalam, dua orang menghentikanku.

“Apa kau punya sedikit waktu?”

Mereka adalah dua reporter Magical Communication yang kulihat tempo hari.

Ini buruk…

“Jangan terlalu waspada, aku telah memiliki informasi kalau kau adalah pahlawan Nito. Tolong ceritakan sedikit saja tentang hal itu.”

“Aku sedang buru-buru.”

Syukurlah aku punya topeng. Pria tua berjenggot di belakangnya selalu memegang alat sihir seperti kamera.

—Ada reaksi terhadap [Dragon Crystal Ring]

Pengumuman terngiang di kepalaku.

Sieg…? Untungnya, pada saat seperti ini hanya aku yang bisa mendengar suaranya.

“Nito … kau bisa dengar aku?”

—Ini merepotkan, apa yang bisa kulakukan untukmu?

“Maaf merepotkanmu … ini aku. Alford.”

Hmm … aku bisa melakukan percakapan tanpa berbicara? Seperti dugaanku, cincin itu adalah perangkat khusus untuk peringatan.

Yah, yang seperti ini memang tak seharusnya bersuara keras, kan?

“Entah aku harus mulai dari mana…”

Aku bisa mendengar suara di kepalaku, dan di depanku, seorang wanita bernama Francesca juga terus berisik.

“Apa kau tahu Ichijo?”

—……Apa?

“Menurut dugaanku, orang ini mungkin kenalanmu… apa itu benar?”

Kenapa Alford menyebutkan nama Ichijo?

“Singkatnya, aku menambahkan Ichijo ke dalam anggota baru kami.”

“Hah!?”

Tanpa sadar aku berteriak keras.

“Maaf, apa pertanyaanku tidak sopan?”

“Oh tidak, tidak juga.”

Pertanyaan? Aku tidak mendengarnya sama sekali.

“Aku mengerti maksudmu. Aku telah mendengar pembicaraanmu dan Aries, dan berpikir bahwa mungkin dia adalah salah satu target balas dendammu. Aku hanya ingin kau mendengarkanku dulu.”

—Apa yang harus kudengar?

“Saat aku bertemu Ichijo, dia dikejar oleh pahlawan lain. Ichijo akan meninggalkan Greyberg pada saat itu. Singkatnya, orang ini sedang mencari Hidaka Masamune.”

—……Apa?

“Kau tahu apa artinya itu?”

—Apa maksudmu Ichijo mencariku? Aku seharusnya sudah mati, kan? Lalu untuk apa dia mencariku?

“Aku belum memberitahunya tentangmu, tapi apa yang akan kau lakukan, Nito?”

—Aku tidak akan mengungkapkan identitasku, ini mutlak. Kalau kau memberitahunya, aku akan menghilang dari hadapanmu.

“…Baiklah, sesuai keinginanmu. Kalau begitu, aku akan merahasiakan masalah ini dari Ichijo, tenang saja. Sekarang, mari kita masuk ke pokok pembicaraan yang utama.”

—Masih ada sesuatu…?

“Kau tahu negara hebat Artemias, kan? Kami akan menyerang negara itu sekarang juga.”

—Apa ini tindakan yang merepotkan lagi?

“Jangan bilang begitu. Sepertinya Raja Artemias baru saja melakukan genosida pada rakyat. Tujuan dari penyerangan tersebut adalah untuk membunuh raja dan sang putri.”

[TL/note: Genosida — pembantaian besar-besaran secara sistematis terhadap ras, bangsa, atau rakyat dengan maksud memusnahkan ras, bangsa, atau rakyat tersebut]

—…Maksudmu, putri Sufilia?

“Hmm, kau tahu? Ya, Sufilia Artemias. Dia juga terlibat dalam pembantaian itu.”

—Sufilia terlibat? … Tidak, seharusnya tidak begitu. Sebaliknya, dia pasti berusaha untuk menghentikan genosida itu.

“Aku akan membicarakan detailnya nanti. Kalau kau ingin berpartisipasi, ucapkan mantra transfer seperti biasanya.”

“Tuan Nito, apa kau ingin berfoto?”

“Huh?”

“Berfoto.”

Francesca tersenyum.

“Kalau memungkinkan, aku ingin mengambil fotomu dan menunjukkan wajah aslimu.”

“Aku menolak untuk difoto. Dan aku bukan Nito, aku cuma seorang pelajar.”

Aku menerapkan sihir penghancuran teknik ke kamera yang dipegang oleh pria di belakangnya.

“Ugh, apa ini?!”

Lensa retak dalam sekejap dan asap mengepul dari kamera itu.

“Ada apa, Dolly?”

“Kameranya meledak.”

Francesca memelototiku.

“Itu pekerjaanmu, kan?”

“Apa maksudmu…?”

“…Aku hanya ingin tahu. Siapa yang menghentikan serangan itu, apa si petualang Rank S Nito?”

Rank S? Aku seharusnya rank B…

“Rank S, bukannya itu petualang yang hebat?”

“Ya, itulah kenapa aku mencarinya.”

“…Kurasa bakalan sulit mendapatkan foto wajah aslinya.”

“Kalau begitu, satu pertanyaan lagi.”

“…Dan aku hanya akan menjawab dengan satu jawaban juga.”

Kalau aku tidak menjawab, kecil kemungkinan mereka akan melepaskanku. Aku tak tertarik pada reporter ini, tapi pada Sufilia dan Ichijo. Aku harus menanyakan sesuatu pada mereka berdua karena ini hal yang penting.

“Apa pekerjaanmu?”

“Aku seorang Healer.”

“Healer?! … Itu benar … Lalu di mana kau tinggal? Dari mana asalmu?”

“Aku cuma punya satu jawaban. Tidak ada kesempatan lagi.”

“Tunggu!”

“Oh, foto itu sama sekali tidak berguna, kan?”

“…”

“Kalau kau tahu aku adalah Nito, kau juga pasti akan mencari teman-temanku. Foto-foto itu tidak ada gunanya. Kalau kau tetap mau melakukannya … kau tahu apa yang akan terjadi, kan?”

Aku mendengar suara tenggorokan Francesca.

Aku mengucapkan mantra transfer dan meninggalkan akademi untuk saat ini.

xxx

Setelah membuka mata, aku tak bisa berpaling dari sosok Ichijo yang berada di belakang mereka. Kenapa ini terjadi? Ichijo bergabung dengan Dragon Heart.

Aku diperkenalkan dengan Ichijo.

“Terima kasih atas kerjasamanya.”

Dari balik topeng aku menatap Ichijo. Dengan jubah penyembunyian dan topeng merah ini, dia tidak akan mengenaliku dalam sosok ini.

“Tolong beri tahu aku alasan pembunuhan Sufilia.”

“Akan kujelaskan,” kata Sieg.

Tapi sulit bagiku untuk mengerti. Dalang dari pembantaian itu adalah Sufilia sendiri.

“Apa kau keberatan?”

“…Ya.”

Tapi dia tahu aku tidak bisa berbohong. Dan aku perlu memastikannya sendiri pada Sufilia.

“Kalau begitu, kita akan menyerang Artemias sekarang. Strateginya sama seperti sebelumnya.”

“Apa kau mau menerobos dari depan lagi?”

“Oh, negara ini adalah kekuatan teknologi, tapi kalah dengan Greyberg dalam hal angkatan bersenjata. Mungkin tak masalah, tapi aku ingin mengatakan sesuatu lebih dulu,” kata Sieg. “Ini adalah tim dan pertarungan pertama untuk Ichijo. Seperti yang kubilang sebelumnya, kami tidak boleh kalah.”

“Apa kau ingin aku membantunya?”

“Bisa aku mengandalkanmu?”

Sungguh orang jahat! Sieg tahu aku tidak bisa menolak. Aku tidak pandai menjawab pertanyaan yang tidak perlu.

“Tak masalah. Ada penjelasan yang lainnya?”

“Yah, cuma itu saja.”

“Oke, kalau begitu aku juga punya satu permintaan. Serahkan sang putri padaku.”

“…Oke, tak masalah.”

Sieg menyetujuinya.

xxx

“Jenis sihir apa yang akan kau gunakan, Nito?”

“Akan kutunjukkan kalau ada kesempatan, tapi jangan berharap terlalu banyak, aku ini tidak kompeten.”

“Tidak kompeten? … yang kudengar darimu, Nito sepertinya yang terkuat!”

“Kau terlalu berlebihan. Lagipula, aku … ngomong-ngomong aku juga mendengarnya. Ichijo dipanggil oleh summoner pemberani. Kau orang dari dunia yang berbeda, kan?”

“Benar. Aku berpikir apa yang akan terjadi saat itu, tapi aku berhasil melaluinya.”

“Begitu ya…?”

“Ngomong-ngomong, ada yang ingin kutanyakan padamu, Nito.”

“Apa?”

“Apa benar kau tidak tahu tentang seseorang bernama Hidaka Masamune?”

“…Itu nama yang jarang kudengar. Itu nama yang asing, apa dia temanmu atau semacamnya?”

“…Kurasa dia tidak berpikir begitu, karena kami meninggalkannya.”

“Sepertinya ada alasannya. Maaf, aku tidak tahu. Tapi kalau aku mendengar nama itu selama perjalanan, akan kuberitahu nanti.”

“Tolong, ya.”

[Carotid Artery]. Jika dipotong, darah tidak akan masuk ke otak, dan pada akhirnya orang tersebut akan mati karena kehilangan darah.

Leher Ichijo berdenyut-denyut di depan mata. Aku bisa membunuhnya kapan saja, tapi tidak sekarang. Untuk sekarang aku akan menunggu.

Kami berdua berada di tembok Artemias. Sieg terkejut saat aku menunjukkan sayap hitam kemerahanku—Lazy Wings-ku, tapi Ichijo sepertinya biasa saja. Aku berbicara dengannya seperti seorang kenalan. Dan sisi ramahnya itu sangat menyebalkan.

Penjaga ditempatkan secara berkala di tembok. Karena [God Speed]-lah aku bisa menyerang tanpa diketahui oleh penjaga sebanyak ini. Ichijo bahkan bisa saja ikut terlibas dengan kecepatan ini. Tentu saja aku melindunginya agar itu tidak terjadi … Sieg tidak akan percaya padaku kalau aku membunuhnya sekarang dan berkata “aku tidak bisa membantumu”.

“Haruskah aku ikut?”

Ada satu penjaga di belakang pilar.

“Tidak, Ichijo, tetaplah di sini. Negara ini adalah pembangkit tenaga teknologi. Ini akan berkembang lebih besar lagi. Aku tidak ingin membunuh para penjaga di kegelapan.”

“Tapi negara ini adalah—”

“Aku tahu, hanya setelah aku memeriksa tuan putri secara langsung. Tunggulah sampai saat itu.”

“…Baiklah.”

Aku memerintahkan Ichijo untuk menunggu dan mendekati penjaga dengan [God Speed].

“Sekarang!”

Aku menangkapnya dan membawanya ke tempat yang sunyi.

“—Those who bind [Dies of Rigadio]!”

Dia terikat dengan lengan putih.

“Diamlah. Kau tidak dalam bahaya.”

“Hmm, hmm!”

“Kalau kau melawan, aku akan membunuhmu. Kubilang sekali lagi, berhenti melawan.”

Sang penjaga menghentikan perlawanannya dan perkataanku bisa dimengerti olehnya.

“Kami menyebutnya Dragon Heart.”

Penjaga itu membuka matanya. Pandangannya menegang.

“Sepertinya kau memahaminya. Yang terpenting, kau tahu tentang kebodohan raja meski dari reaksinya, kan?”

“Haah~ … haah~ … apa kalian datang untuk membunuh raja?”

Penjaga, yang telah terlepas dari cengkeraman, berbicara sambil mengatur nafasnya. Sepertinya dia tidak ketakutan.

“Tepat sekali.”

“…Benarkah?”

Reaksinya sangat biasa. Apa dia tahu kami akan datang?

“Aku ingin menanyakan sesuatu tentang putri Raja.”

“Putri Sufilia?”

“Benar.”

“Katakan padaku apa yang kau tahu. Kau tahu bahwa raja melakukan genosida pada beberapa orang, apa benar sang putri, bukan, sang raja yang memerintahkan genosida itu?”

“Itu benar.”

“Jujur sekali.”

“Aku tidak akan menyembunyikannya. Mungkin banyak orang, begitu juga aku, kami menunggumu.”

“Apa maksudmu?”

“Negara ini sudah berakhir. Tidak, mungkin itu sudah lama sekali terjadi. Memonopoli teknologi maju, raja tenggelam dalam uang dan keserakahan, dan memerintah negara ini sesuka hatinya. Mereka yang menentang akan dibunuh, meskipun mereka adalah anggota keluarga Artemias sekalipun. Raja itu gila!”

“Jadi, apa kalian menunggu kami untuk membunuh raja?”

“Begitulah.”

“Apa itu artinya sang putri memerintahkan genosida atas perintah raja?”

“Aku tidak tahu detailnya, tapi menurutku putri itu juga gila. Dalam arti tertentu, dia lebih buruk dari raja. Seorang anak yang tidak tahu kanan atau kiri, yang baik dan yang jahat, dia tumbuh dalam ajaran kebodohan sang raja. Kau tahu manusia seperti apa yang lahir dari orang seperti itu?”

Tapi pada saat itu, Sufilia tidak terlihat seperti itu.

“Ichijo, ayo pergi ke ruang tahta.”

“Tunggu dulu. Bagaimana dengan penjaga yang lainnya?”

“Terima kasih telah memberitahuku banyak hal. Tujuan kami adalah, seperti yang kau katakan, raja dan sang putri, dan ajudan mereka juga termasuk dalam target pembunuhan kami. Aku tidak akan membunuh para penjaga, tapi temanku yang lain mungkin akan membunuh mereka. Kalau kau tidak ingin mati seperti itu, larilah. Beritahu temanmu. Kalian harus menjauh dari sini untuk sementara waktu.”

“…Aku mengerti.”

Aku membiarkan penjaga itu kabur.

“Apa mau dikata, Nito ternyata lebih tenang dari yang kudengar, ya?”

“Tenang?”

Ichijo berkata dengan heran. “Kudengar dari Sieg, Nito-lah yang menghapus kastil kerajaan Greyberg dan membunuh Aries dan sang raja. Tapi kau berkata seolah kau tidak terlihat seperti Nito yang akan melakukan hal itu, jadi aku merasa sedikit aneh.”

“Negara itu berbeda. Berapa banyak kegelapan yang telah tercipta karena keberadaan Aries dan Johannes … aku bahkan tidak bisa membayangkannya. Hidaka, yang sedang kau cari, adalah salah satu dari kegelapan itu, kan?”

“Kegelapan…”

“Kenapa Ichijo mencari Hidaka?”

Ichijo enggan memberitahuku.

“Saat Hidaka dibuang oleh Aries, aku lebih mengutamakan diriku sendiri. Kupikir kalau aku melakukan kesalahan, aku juga akan dibuang. Saat aku perhatikan, Hidaka telah menghilang dari hadapanku. Aku telah meninggalkannya.”

“Begitu ya…”

“Aku ingin mempedulikan Hidaka, yang saat itu sedang mengandalkan seseorang.”

“Mengandalkan?”

“Ya, dia orang yang kikuk.”

Dia bisa mengatakannya dengan baik tanpa mengenal orang lain dengan baik.

“Tapi pada akhirnya, aku meninggalkannya. Aku menyuruhnya untuk mengandalkanku, tapi aku malah meninggalkannya.”

“Begitu. Ngomong-ngomong, kau bilang dia dibuang sekarang?”

“Benar.”

“Itu artinya dia sudah…”

“Tidak, Hidaka masih hidup, dia seharusnya masih hidup!”

Nadanya terdengar emosional.

“Jadi apa yang akan kau lakukan padanya kalau dia masih hidup?

“Dia memberi tahu kami sebelum dia menghilang. Dia memastikan akan kembali untuk membunuh…”

“Untuk balas dendam, ya…?”

Aku mengingatnya dengan baik.

“Ya, tapi aku tidak ingin dia pergi ke sana. Balas dendam hanya akan menghasilkan balas dendam. Aku tidak tahu di mana Hidaka sekarang, tapi dunia ini penuh dengan kematian. Tentu saja, ada kematian di dunia tempatku berada, tapi itu tidak seakrab di dunia ini. Di dunia di mana kematian biasa terjadi, aku tahu apa yang akan dia lakukan.”

“Boleh aku tanya padamu satu hal?”

“Apa itu?”

“Ichijo, menurutmu apa yang akan dia lakukan?”

“…Aku tidak tahu persis apa yang akan dia lakukan, tapi dia mungkin tak punya pilihan selain membalas dendam. Mungkin akan ada beberapa kehancuran dalam prosesnya.”

“Kalau begitu kau harus membunuhnya, kau perlu melakukan sesuatu sebelum dia menyebabkan kehancuran.”

“Dia bukan orang jahat! … Maafkan aku.”

“Tidak, aku yang terlalu banyak omong.”

“Aku tidak perlu melakukannya. Aku akan mencarinya.”

Orang ini sepertinya mengira aku benar-benar masih hidup.

“Apa yang kau lakukan saat kau menemukannya?”

“Bantu aku. Tolong … kali ini aku tidak akan meninggalkannya.”

Kata-katanya sepertinya tidak berbohong.

xxx

Koridornya tidak ada bedanya dengan saat aku berkunjung kemarin. Kalau aku lanjutkan begitu saja, akhirnya aku akan mencapai bagian depan pintu besar aula.

“Kalau kau merasa telah merasakan kekuatan magis yang mencurigakan…”

“Maaf, Nito. Aku tak mengalami gangguan kognitif.”

“Yah, mau bagaimana lagi.”

Aku menemukannya tiba-tiba.

“Kalian bukan dari negara ini, siapa kalian?”

Aku ingat wajahnya. Pria yang mengawal Sufilia saat bertemu dengan naga merah waktu itu. Siapa namanya, Heathcliff?

“Kami datang untuk membunuh raja dan sang putri, apa kau keberatan?” tanyaku lugas.

Pertanyaan ini bukan hanya sederhana, tetapi juga efisien. Semuanya diketahui tergantung pada reaksi yang pertama kali ditunjukkan oleh pihak lain. Dengan kata lain, hanya ada dua jawaban untuk pertanyaan ini.

Entah dia setuju, atau mencoba menghentikanku seperti penjaga itu.

Bahkan jika kami adalah orang yang mencurigakan, wajar saja jika dia berusaha menahan kami atau mengarahkan ujung tombaknya pada kami. Tapi selain itu, dia adalah salah satu orang yang, seperti penjaga itu, memiliki keraguan tentang sistem di negara ini.

“…Kau ingin main-main?”

Heathcliff mencabut pedang di pinggangnya. Dengan kata lain, artinya sudah jelas.

“Ichijo, sepertinya dia sekte kerajaan.”

“Ayo lakukan.”

Ichijo menggenggam pedang emas yang muncul di tangannya bersama dengan sumber cahaya.

Itu pasti [Brave Sword Excalibur]. Itulah keuntungan yang hanya bisa didapatkan oleh para pahlawan.

“Nito, ini akan jadi pertarungan langsung pertamaku. Ini pertama kalinya aku mempertaruhkan nyawa.”

“Baiklah, aku di sini untuk melindungimu.”

“Maaf. Aku jadi terbantu.”

Ichijo segera menutup jarak. Sikap dan ilmu pedangnya sangat baik. Mungkin Alford yang mengajarkannya. Segera setelah pedang Ichijo dan pedang Heathcliff bersentuhan, pedang Heathcliff terpotong oleh pedang Ichijo.

Inikah kekuatan sang pria pemberani…?

Heathcliff, yang bingung, mengambil jarak.

“[Forging Cressel]!”

Heathcliff memegangi tangannya di atas pedangnya yang patah. Dan ketika dia dengan perlahan menggeser telapak tangannya, ujung pedang yang seharusnya terpotong telah diperbaiki.

“Pedang yang luar biasa, tapi itu cuma harta karun busuk bagi si pengguna.”

Pastinya, seperti yang dikatakan Heathcliff, pedang Ichijo penuh dengan celah. Tebasannya memang kuat, tapi belum matang. Aku juga mengerti ilmu pedang.

“[Wind Blade Solid]!”

Ichijo menembakkan sebilah angin.

Namun, Heathcliff berdiri dengan pedang dan menembakkan banyak pisau dari sumber cahaya di tangan kanannya. Namun, Ichijo memotong semua pisaunya dengan sebilah pedang emas. Tanpa istirahat, lingkaran sihir besar muncul di kaki Ichijo. Itu lingkaran sihir putih.

“Nito, aku mampu mengatasinya. Aku ingin menyelesaikan pertarungan ini.”

“Aku serahkan padamu.”

Kekuatan sihir Ichijo meningkat.

“[Detonation Explosion]!”

Pada saat itu, sebuah lingkaran sihir muncul di kaki Heathcliff, dan di saat yang sama terjadi ledakan besar.

Momentumnya luar biasa, melibatkan dan menghancurkan bangunan di sekitarnya serta pilar, dinding, dan langit-langit yang membentuk koridor kastil ini.

Puing-puing berhamburan karena ledakan. Debu menutupi ruangan. Setelah jarak pandang menjadi jelas, bukan hanya Heathcliff yang terlihat, tetapi juga tumpukan puing-puing yang berupa koridor sebelumnya.

Jika kau bertanya padaku, itu adalah sihir yang mewujudkan ketidak-masuk-akalan. Jika kau memiliki kekuatan ini, kau tidak akan kesulitan dalam merebut Dungeon. Jika ada satu keselamatan, itu adalah Saeki yang tidak memiliki kekuatan ini.

Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: E~to, onii-sama, jangan di-copy ya !!

Options

not work with dark mode
Reset