Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 4

Vol 2 Chapter 4 - Penindasan

Dalam kasusku, perutku tidak akan keroncongan atau mati meskipun aku tidak makan siang. Mungkin Toa dan yang lainnya juga begitu, aku merasa menjadi seorang siswa lagi.

Yah, ini menyenangkan. Semua orang menikmati kehidupan sekolah mereka.

“Hah? Apa kalian mau menindasku!”

Saat aku berjalan tanpa tujuan untuk menghabiskan waktu, aku mendengar teriakan dari sudut suatu tempat. Ada sekitar empat orang saat aku mengkonfirmasinya dengan menggunakan pendeteksian kekuatan sihir yang aku pelajari di kelas sebelumnya.

Aku bersembunyi dan melihat situasinya—

dukung klik iklan

“Patrick, kau tahu, kan? Kami butuh uang. Kalau kau tidak punya, mintalah pada ayahmu. Kau ini pangeran, kan?”

“…Itu tidak mungkin.”

Ada luka parah pada tubuh Patrick, mungkin dia telah dipukuli beberapa kali. Dan bukan hanya itu. Satu matanya bengkak, kelopak matanya terluka, dan darah keluar dari mulutnya.

“…Apa-apaan ini?”

Saat aku memperhatikannya, aku berhenti mengintai dan muncul di depan mereka.

“…Nito.”

“Patrick, apa maksudnya ini? Kau seorang pangeran, kan? Lalu kenapa ini bisa terjadi?”

Patrick membuang muka.

“Patrick, kau kenal dia? Yah, itu benar. Hei, apa kau mau meminjamiku sedikit uang?”

Dalam sistem empat tahun Heil Kuwait, ada sesuatu berbentuk seperti tongkat di dada—dalam hal ini ada angka 3 yang mewakili kelas.

Berarti tiga orang ini adalah siswa kelas tiga? Kenapa Patrick harus diperlakukan seperti ini?

“Hei, kau dengar tidak? Aku bilang padamu untuk meminjamiku uang.”

Pria itu meraih lenganku.

“…Lepaskan.”

“Kau tahu dengan siapa kau bicara?”

“—Kau, kan?”

Begitu aku menatapnya, secara refleks dengan kekuatan yang tak terhindarkan …

“…Apa? Ugh … Uaaaahhhhhh!”

Reaksi yang kulepaskan berhasil mematahkan lengan lawan. Siswa lainnya berteriak begitu melihat lengan temannya bengkok ke arah yang berlainan.

“Charles!”

Jadi ini senior Charles.

Pria yang menjambak rambut Patrick berteriak.

“Charles-senpai, kau tidak apa-apa?”

“…”

“Apa seniormu yang melakukan itu? Tidak, Patrick adalah teman sekelasku, tapi kau tahu wajahnya berdarah, kan? Dengan kata lain, aku bertanya apa dia yang melakukannya.”

“Diam kau!”

“Pinch shot!”

Dua orang yang tadinya menangkap Patrick hendak menghajarku.

“Giliran aku yang menghajarnya kalian marah? Omong kosong apa ini … [Dies of Rigadio]!”

Lengan putih yang tak terhitung jumlahnya muncul dari dinding dan lantai. Mereka dengan cepat menahan dua siswa senior yang mendekat dan satu yang masih dalam keadaan kesakitan. Tiga orang itu membatu di udara dengan tangan mereka yang terentang di udara.

“Ini…”

Patrick terkejut dengan wajahnya yang penuh luka dan darah.

“Patrick, aku akan mengajarimu sihir seorang Healer. Ini akan membunuh para penindas itu—[Erosion Wave]”

Gelombang merah kehitaman seperti sebuah bola menyelimutiku dan mendekati para senior dengan perlahan.

“Hentikan!”

Lalu kudengar suara Patrick.

“Ada apa?”

“Hentikan, Nito…”

“…Kenapa?”

“Kalau kau melakukan itu, kau tidak akan bisa tetap berada di akademi. Dan mereka bangsawan. Setelah kau meninggalkan sekolah pun mereka akan tetap mengejarmu sampai kau mati.”

“Berarti aku harus sekalian membunuh seluruh keluarga mereka.”

“Nito!”

Ekspresi Patrick sudah tampak pucat.

“Sudah cukup, aku tidak apa-apa.”

“Kau bohong.”

“Ini bukan kebohongan … aku tidak bohong. Ini semua terjadi karena kelemahanku.”

“Patrick…”

“Ini masalahku.”

Aku melepaskan para senior itu dan menyembuhkan luka di wajah Patrick.

“Mereka mungkin pergi untuk memberi tahu guru.”

“Kenapa kau menyuruhku berhenti?”

“Apa?”

“Kau tidak ingin memberitahuku?”

“Aku seorang pangeran. Kalau aku melakukan hal seperti itu, nama Razhausen akan hancur.”

“Kenapa kau tidak mencoba melawannya?”

“Aku tidak bisa mengalahkan mereka dengan kekuatanku.”

“Apa kau takut?”

“…A-ah, bagaimanapun juga aku tetap akan kalah.”

“…Benarkah?”

Kenapa aku terlibat dengan Patrick? Aku merasa seperti aku tahu mengapa dia sendirian di kelas. Saat aku memikirkannya, aku tahu ini sejak aku mengobrol sedikit dengannya.

Bahwa dia orang yang sama sepertiku …

“—Siswa kelas dua, Tuan Nito dan Tuan Patrick, harap segera datang ke kantor kepala sekolah. Saya ulangi…”

Pengumuman yang berbeda terdengar di seantero sekolah, dan kami terkejut.

“Nah, seperti katamu tadi.”

“Tapi ini terlalu cepat.”

“Sekarang, ayo kita ke kantor kepala sekolah. Aku tidak ingin karena masalah ini aku jadi dikeluarkan dari akademi ini.”

Entah bagaimana Patrick tertawa sama sepertiku.

“Apa boleh buat, tidak, mau bagaimana lagi. Kan kau yang melukainya…”

Kata-kata itu di luar dugaanku. Saeki memang tidak memukul wajahku, tapi saat aku melihat wajah Patrick yang memar, aku teringat akan diriku di masa lalu.

“Mau bagaimana lagi, kali ini aku akan mengikuti instruksinya.”

“Benar.”

Patrick tertawa seolah dia baik-baik saja.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset