Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 3

Vol 2 Chapter 3 - Serupa

Hari berikutnya.

Saat aku memasuki kelas, semua siswa kembali memandangiku. Beberapa pasang mata itu pasti menatapku. Saat aku menatap balik mereka, mereka langsung berpaling mengalihkan wajah. Sementara itu, aku menemukan Patrick yang sedang duduk di kursi dekat jendela sambil menatap keluar. Untuk sesaat, aku seperti teringat seolah aku sedang melihat diriku dalam sosok itu.

Dan kelas pun dimulai. Sepertinya pelajaran hari ini adalah tentang “Mendeteksi Kekuatan Sihir”.

“Baiklah, buat pasangan masing-masing dua orang.”

Oke, ada Nem di sampingku.

dukung klik iklan

“Nem, mau bekerja sama denganku?”

Nem sudah diminta.

Lalu Toa.

“Toatrika, mau berpasangan denganku?”

“Oh, baiklah.”

Lalu Sierra.

“Sierra-san, denganku…”

Aku jadi merasa sendirian di dunia yang berbeda ini.

“Nito, bagaimana kalau kau bergabung dengan Patrick?”

Guru kemudian mengatakan sesuatu.

“Eh, Patrick…”

Lebih dari itu… memang tidak ada banyak siswa yang tersisa. Patrick, tentu saja, sepertinya mood-nya sedang buruk. Tapi dia tampaknya tipe orang yang tidak ada yang bisa mendekati, itu artinya, dia adalah tipe orang yang sama sepertiku.

Mau bagaimana lagi, mari kita santai saja untuk saat ini. Aku pun berjalan menuju kursi dekat jendela dan duduk di samping Patrick tanpa saling menyapa satu sama lain.

“Sekarang, kita akan mulai berlatih mendeteksi kekuatan sihir. Penyihir merasakan posisi musuh dengan gerakan gelombang yang dihasilkan oleh kekuatan sihir. Jadi, mulailah berdasarkan apa yang telah kalian pelajari sejauh ini.”

Setelah mendengar penjelasan, masing-masing mulai merasakan kekuatan sihir.

Tapi apa yang harus aku lakukan? Aku belum pernah melakukan deteksi sihir sebelumnya.

“Hei, aku harus apa?”

“Apa kau tak mendengarnya? Kau merasakan sihirku, dan aku merasakan sihirmu. Itu saja.”

“Aku tidak bisa merasakannya … bagaimana cara melakukannya?”

“Apa? Kau bahkan tidak tahu cara mendeteksi sihir?”

Patrick mungkin bertanya-tanya, “Kenapa aku bisa kalah dari orang ini?”

“Kalau begitu biar aku duluan yang melakukannya.”

Aku mendengar desahannya yang dalam. Patrick menghadapku, memejamkan mata dan mulai berkonsentrasi.

“Apa pendeteksian butuh waktu lama?”

“…Seharusnya tidak… kenapa, kenapa aku tidak bisa merasakannya…”

Patrick bergumam sendiri.

“Huh? Masa kau tidak bisa melakukannya?”

“Bagaimana semuanya, sudah selesai?”

Setelah istirahat, guru mulai memeriksa perkembangan tiap pasangan di kelas.

“Hei, apa maksudmu tidak bisa merasakannya? Apa ini tugas yang sulit?”

“Tidak sulit, siapa pun seharusnya bisa melakukannya.”

“Lalu kenapa?” ​​Aku meragukan kemampuan Patrick.

“Ya bukan salahku, dong. Sederhananya … aku tidak merasakan kekuatan sihir darimu.”

“Hah? Kau tidak merasakan kekuatan sihirku? Apa maksudmu? Lalu apa aku perlu memanggil guru ke sini?”

“Tunggu, jangan mempermalukan aku lagi,” kata Patrick cepat.

“Tapi kalau kau tidak bisa merasakannya, itu berarti kau tidak bisa melakukan deteksinya. Biar guru yang memberikan contoh padamu.”

“Tidak, jangan panggil…”

“Maaf, Guru!”

Aku mengabaikan Patrick dan memanggil guru.

“Ada yang bisa kubantu?”

“Aku ingin Guru memeriksa kekuatan sihirku … apa boleh?”

Saat aku mengatakan itu, Guru menatap Patrick dengan tatapan misterius.

“…Tidak masalah, mari kita lihat.”

Yakin seolah-olah dia telah menebak sesuatu, guru itu mulai memusatkan perhatiannya padaku.

“Ini bukan sesuatu yang bisa kau lihat dan ingat, tapi dengan cara ini kau bisa membaca gelombang energi sihir yang mengalir ke lawanmu.”

“B-begitu ya…”

Ini mungkin hal yang mudah untuk segera dilakukan. Kalau tidak, metode pengajaran ini terlalu bertele-tele.

“…Hmm, ini aneh.”

Guru membuka matanya untuk melihat apakah pendeteksiannya sudah selesai. Namun, keraguan terukir di wajahnya.

“Aku tidak bisa mendeteksinya…”

“Eh? Tidak bisa?”

“Benar.”

Patrick tampak bangga karena ucapannya yang ternyata benar.

“Jadi begitu, kalau begitu ini kasus yang sangat langka.”

“Langka?”

“Ya. Patrick, mungkin kau juga tidak bisa merasakannya, kan?”

“Ya, normalnya, ini tidak seharusnya terjadi…”

“Benar. Patrick adalah salah satu siswa terbaik di kelas ini.”

“Maaf, apa maksudnya?” Aku tidak mengerti maksud dari percakapan mereka.

“Masalahnya bukan pada Patrick, Nito, tapi kau.”

“Aku?”

“Ya. Bagaimana menjelaskannya, ya? Para penyihir bisa mendeteksi gelombang kekuatan sihir yang mengalir dalam kehidupan dan memastikan posisi musuh dan kemampuan lawan sampai batas tertentu. Karena gelombang kekuatan sihir itu selalu menguar, kau selalu bisa memeriksanya. Karena itulah, ini bisa menjadi kelemahan setiap orang. Namun, seorang penyihir yang terampil dapat mengontrol dan menyembunyikan gelombang kekuatan sihir tersebut, beberapa orang di antaranya menyembunyikannya dengan alat sihir khusus. Hanya ada dua cara di dunia ini untuk menyembunyikan gelombang itu.”

“Apa anda ingin mengatakan kalau aku menyembunyikannya? Aku saja belum pernah mendengar tentang Gelombang, dan aku juga tidak tahu bagaimana cara menyembunyikannya karena aku tidak punya alat sihir.”

“Kalau begitu, ada satu hal yang dapat dipertimbangkan, yaitu ketika kekuatan sihir berlipat ganda lebih tinggi.”

“Kekuatan sihir yang lebih tinggi?”

“Ya. Dalam hal ini, penyihir tidak akan bisa memahami kekuatan sihir lawan. Tentu saja, kekuatan sihir dapat dirasakan meski lawannya lebih unggul. Namun, ada dimensi yang berbeda di dunia ini menurut buku-buku yang telah kubaca.”

Saat guru berkata demikian, aku menyadari bahwa para siswa di kelasku tengah menatapku. Ruang kelas yang sedikit bising menjadi sunyi.

“Nito, kau…”

Guru menatapku dengan mata yang berbeda dari sebelumnya. Patrick juga. Semua orang aneh saat menatapku…

“Tunggu sebentar. Aku bahkan tidak bisa merasakan kekuatan sihir Patrick … eh…”

Aku tiba-tiba menyadarinya. Ada gelombang kekuatan sihir yang jelas di sana.

“Kenapa dengan kekuatan sihir Patrick?” tanya Guru saat beliau memperhatikan perilakuku.

Mungkin inilah kekuatan sihir Patrick. Entah bagaimana, aku benar-benar bisa merasakannya sekarang.

“Ini terlalu mudah…”

Apa sulit bagiku untuk melakukan sesuatu yang begitu sederhana? Hanya aku yang berbeda di kelas ini.

“Tapi ini sesuatu yang sangat membanggakan!”

Guru tersenyum bahagia.

“Siapa sih kau ini? Bukannya cuma seorang Healer, ya?”

Patrick terkejut. Tapi aku merasa ucapannya itu mendekati pujian, bukan ungkapan kekaguman.

“Setahuku, penyihir seperti itu hanya terdengar di dalam dongeng dan mitos. Sejujurnya aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya … ini adalah kehormatan besar. Nito, kau sangat membanggakan.”

Bukankah aku merasa sendirian? Tapi pikiranku langsung tertuju ke sana.

Aku tidak pernah menginginkan sesuatu yang normal. Tapi sekarang aku ingin menjadi normal. Mungkin aku selalu ingin menjadi normal. Aku selalu ditindas oleh Saeki dan tidak bisa menjalani kehidupan sekolah menengahku yang normal, jadi kupikir aku bisa mencari sesuatu yang normal di suatu tempat di dalam hatiku.

“Oh, masterku memang luar biasa! Meski tanpa sihir, masterku bisa membunuh monster dengan satu pukulan!”

Aku mendengar suara Nem yang senang. Aku mencoba berpikir bahwa dia terlalu banyak berbicara, tapi kulihat para siswa mendengarkannya dengan gembira di sekelilingnya…

“Nito luar biasa.”

“Benar, masterku memang luar biasa!” kata Nem. Yah, itu normal saja.

“Yah, benar. Bukan itu saja … Nito juga kuat, jadi jangan mempermalukan diri sendiri di depannya.”

Bukan hanya Nem. Para siswa di sekitar Toa juga memiliki pandangan yang serupa.

“Aku seorang Healer. Aku tidak bohong.” Aku memberi tahu Patrick.

“Tapi seberapa besar kekuatan sihirmu itu!”

“Tidak normal, ya.”

“Tidak, itu terlalu menakjubkan. Masuk akal kau bisa mencegah sihirku dengan tangan kosong.”

“Apa yang kau lihat memang sebesar itu?”

“Saat itu kau tidak menggunakan sihir, kan?”

“Aku tidak membutuhkannya.”

Guru kembali ke podium dengan senyuman kecil tentang apa yang terjadi.

“Hei, apa kau bilang, Nito?”

“Sudah kubilang barusan.”

“Nito, sepertinya kau tidak suka bergaul, kau bisa saja terisolasi nanti.”

“Bukan urusanmu, aku tidak ingin diberitahu olehmu.”

“Aku cuma mengatakannya demi kebaikanmu, kalau kau memang sudah tahu ya aku tidak akan mengatakannya lagi.”

Patrick benar-benar diam setelahnya dan tidak mengatakan apa-apa lagi.

xxx

Setelah kelas usai, kami istirahat makan siang. Ini pertama kalinya aku mengajak Toa. Tapi hari ini sepertinya dia akan makan dengan teman barunya…

Aku menyadari, seperti kata Patrick, aku benar-benar terisolasi.

Nem dan Sierra keluar dari ruang kelas sambil mengatakan bahwa semua orang akan pergi ke kafetaria, dan hanya aku yang tertinggal di dalam kelas.

“Itu sebabnya kubilang padamu, itulah yang bisa terjadi pada orang sepertimu.”

“Hah?”

Patrick yang tertinggal sama sepertiku, melewatiku dengan ramah dan bersahabat.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset