Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 25

Vol 2 - [Dungeon]: Keegoisan

Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku TL by Light Novelku

***

“Sudah lama, ya? Hidaka…”

Itu Saeki.

“Saeki…”

dukung klik iklan

Saeki sedang duduk di kursinya seperti biasa.

“Dari mana saja kau, dan apa yang kau lakukan? Siapa mereka? Apa mereka temanmu?”

Seperti biasa, Saeki tersenyum jail seolah mengejekku.

“Siapa kau? Kau bukan Saeki, kan?”

“Kenapa kau berpikir begitu? Kau salah paham padaku, ya?”

Aku terdiam. Itu karena dia mengatakan kata-kata metafora seperti “kesalahpahaman”.

”Aku penantang dungeon. Itu sebabnya aku ada di sini.” Kemudian Saeki berdiri. “Kau masih hidup… tidak mungkin.”

“Aku tanya sekali lagi. Siapa kau?”

“Hei, Hidaka … Gimana rasanya saat kau membunuh Aries? Apa itu menyenangkan? Apa kau sudah puas?”

Lalu aku melayangkan tanganku ke arah Saeki.

“Apaan, nih? … Hahaha! Kau bodoh, ya? Kau pikir kau benar-benar bisa membunuhku?!”

Dia terlihat persis seperti Saeki. Nada dan raut wajahnya sama seperti Saeki yang kukenal. Tapi aku tahu dia berbeda. Salah satu buktinya adalah Saeki yang sekarang memakai seragam. Tapi bukan itu masalahnya.

―Situasi dan intuisi.

“Masamune?” panggil Toa dengan ekspresi khawatir.

“Nito-sama, kau mengenalnya?”

Sufilia juga ingin tahu tentang orang yang berada di depannya.

“Tidak apa-apa. Dia Saeki. Sama sepertiku, dia salah satu pahlawan yang dipanggil ke dunia ini. Tapi dia mungkin―”

“Bukan begitu! Ada apa dengan … matamu itu?”

“Mata?”

Saat itulah Toa mengatakan sesuatu yang aneh. Kemudian Toa menatapku dengan tatapan tertegun dengan mulut terbuka.

“Apa? Itu … matamu, bersinar merah? Hanya mata kananmu yang bersinar?”

“Mata kanan?”

Aku menyentuh kelopak mataku dengan tanganku.

“Bukan yang itu…”

“Oh, yang ini…?”

Kanan dari Toa, berarti mata kiri. Dan sepertinya ada yang aneh dengan mata kiriku. Tapi sekarang aku juga tidak punya cermin…

“Ah … Apa? … Apa ini?”

Tapi saat kuperhatikan, ada satu titik merah di jendela kaca ruang kelas yang menghadap ke koridor. Aku cepat-cepat mendekati jendela itu, lalu aku bisa melihatnya dengan lebih jelas dari sebelumnya. Aku bisa melihat wajahku yang terpantul di jendela kaca itu. Dan aku melihat mata kiriku yang bersinar merah.

“Apa … apa ini?”

Pertama kali aku melihatnya, aku bingung dengan mataku sendiri. Namun, ada sesuatu di mata ini.

―Oliver Joe.

Sejak saat itu, mataku selalu terlihat seperti ini. Mata itu, mata Oliver.

“Tadi masih belum seperti ini. Sejak kapan matamu terlihat seperti ini…?”

”Baru saja, setelah dia muncul.”

“Dia” adalah Saeki. Dengan kata lain, mataku bersinar setelah orang ini muncul? Tapi kenapa?

“Kau? Apa yang kau lakukan?”

“Huh! … “Kau”? Sudah kubilang aku Saeki kan, Hidaka?”

“Tidak, itu bukan kau. Aku tahu itu…”

Entah bagaimana, aku mengerti. Sulit untuk mengungkapkannya dengan kata-kata, tapi apakah ada kesamaan antara Oliver pada waktu itu dan aku yang sekarang?

……

Aku ingin tahu apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui. Namun, aku tidak merasakan adanya kelainan pada tubuhku. Tubuhku sama saja seperti biasanya.

Dan aku merasa jantungku berdebar lebih cepat.

“Masamune?”

Toa mengkhawatirkanku…

“Tidak apa-apa. Aku tidak tahu apa penyebabnya … tak masalah. Ini akan segera sembuh.”

“Jangan pura-pura!” teriak Saeki.

Tapi apa yang salah dengan diriku? Aku tak merasakan sesuatu yang aneh. Jika aku yang dulu, aku pasti akan langsung takut.

“Apa kau pura-pura jadi petualang yang tidak kompeten?! Kau sudah mati! Hari itu, saat Aries melemparmu! Kau pasti sudah mati!”

“Apa kau Nightmare yang selanjutnya? Hmm? Apa kau pikir ini akan berpengaruh padaku? Kalau kau mengatakan kata-kata seperti itu padaku, kau akan bisa mematahkan semangatku? Begitu maksudmu?”

“Aku dengar kalau Hidaka itu Nito? Tapi kalau kau tanya padaku, kau itu cuma seorang Healer. Bagaimanapun itu memang sosokmu, kan? Hei, Hidaka? Kegilaan macam apa yang kau lakukan?”

Lalu Nem mulai berbicara, “Dasar kau! Master! Nem tidak tahan lagi!”

Kemudian, enam bola api, yang sedikit lebih besar dari sebelumnya, muncul di sekitar Nem.

Saeki menatap Nem dan kemudian mengalihkan pandangannya kembali padaku.

“Apa dia temanmu? Hmm… teman, ya? Jangan membuatku tertawa, kurasa orang-orang itu tidak akan bisa membantumu di dunia ini, kan?”

”Rasakan ini!”

Nem kemudian menembakkan enam bola api ke arah Saeki. Namun, ketika bola api itu mengenai Saeki, keenamnya meledak dan menghilang. Kemudian Saeki menepuk-nepuk seragamnya, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Meski dia terlihat seperti Saeki, apa dia monster dungeon…?”

“Hidaka? Kau akan terus tertindas olehku, kan?”

“…Tidak, itu tidak akan terjadi. Kalian semua akan kubunuh.”

“Semuanya? Hah! Kau bilang semuanya? Apa kau juga mau membunuh orang yang tidak ada sangkut pautnya denganmu? Misalnya Kawachi atau Ichijo?”

“……”

Aku tidak ingin berdebat dengannya. Dia monster. Tapi seandainya dia adalah Saeki sekalipun, itu sama saja.

“Bukankah ini lucu? Bukan cuma aku yang ingin kau bunuh, tapi orang-orang di sekitarmu juga?”

Namun, mulutnya terus saja mengoceh.

“Itu tidak ada hubungannya. Semua orang tahu dan menyadari situasiku saat itu. Kalian hanya tidak ingin terlibat karena itu akan merepotkan kalian.”

“Jadi kau mau membunuh mereka karena mereka tidak menolongmu? Egois sekali kau.” Saeki menatapku yang terlihat seolah tersenyum mengejek.

“Kau mau bilang kalau itu tidak masuk akal, kan…?”

“Tidak masuk akal. Egois. Tak peduli mau apa pun itu, itulah kau. Kau yang terburuk!” teriak Saeki yang bangkit menunjuk ke arahku.

“Lalu, kenapa aku?”

“Huh?”

“Tidak harus aku, kan? Benar, kan?”

“Apa maksudmu?”

“Saeki, siapa pun kau, hari itu, bagaimana jika ada orang lain yang kebetulan bertemu denganmu di depan mesin penjual otomatis, dan kebetulan juga sekelas? Selain aku, pasti ada anak laki-laki lain yang kau “sukai”, kan? Tapi hanya aku yang kau bully … Hei, Saeki? Tidakkah menurutmu sikapmu itu juga tidak masuk akal?”

“Mau bagaimana juga kau tetap tertindas. Kau sudah tahu itu, kan? Salah nasibmu sendiri yang dilahirkan di bawah rasi bintang yang buruk!”

“Tidak, kurasa tidak. Ini tidak masuk akal. Tidak masuk akal aku di-bully. Tapi mau bagaimana lagi karena itu memang norma di dunia itu…”

Benar. Hal-hal yang seperti itu memang sering terjadi di dunia.

”Bagaimana? Tidakkah menurutmu mereka pantas dibunuh olehku?” imbuhku.

”Apa normal bagimu untuk membunuh mereka?”

“Ya. Mereka adalah penonton dan pengamat. Mereka tidak ada hubungannya denganku saat berada di lokasi penindasan. Jika menurutmu itu tidak masuk akal, mungkin saja, aku tidak akan menyangkalnya, tapi bagaimana denganmu? Apa yang kau lakukan dengan ketidakmasukakalan itu? Aku tak melihat ketidakmasukakalanku, dan jika saat kalian yang berada di dalam situasi yang tidak masuk akal itu, apa kau juga akan tetap berteriak seperti itu? Itu juga egois.”

”Kau telah diselimuti oleh dendam.”

“Hmm. Dendam adalah sesuatu yang datang tiba-tiba tanpa disengaja. Yang menjadikannya dendam … adalah sesuatu yang barusan kau sebut dengan ‘tidak masuk akal’ itu.”

“Ini memang saat yang tepat untuk mengungkitnya. Tapi kau juga hanya memikirkan keadaanmu sendiri.”

“Suatu peristiwa memiliki penyebabnya sendiri dan itu telah terjadi. Aku sama sekali tak melakukan sesuatu yang salah, tapi aku bertanya-tanya apakah ada penyebabnya … Hanya ada pelaku antisosial di sana … Saeki, kau satu-satunya yang jahat.”

“Kau ini bilang apa. Kau yang bilang mau membunuh mereka, kalau dilihat dari sudut pandang mereka, berarti kau juga “jahat”, kan?”

“Tidak, tidak. Sejak awal mereka yang jahat padaku. Itu sebabnya aku harus membunuh mereka.”

“Apa? Mereka kan tidak melakukan apa-apa, jadi apanya yang jahat? Hahaha!”

“Yah, pada dasarnya, bukan itu masalahnya. Sebelumnya sudah kubilang, kan? Karena mereka adalah penonton dan pengamat. Bukan karena mereka tidak mau menolongku. Pada saat itu, mereka membangun dinding pembatas yang jelas-jelas menunjukkan bahwa mereka tidak ingin terlibat atau pun berhubungan denganku. Mereka menolak keberadaanku.”

”Jadi, apa intinya?” Saeki menyipitkan matanya.

”Seharusnya kau sudah tahu.”

“Tidak, aku tidak tahu. Semua yang kau katakan aku tidak mengerti! Itu tidak masuk akal.”

“Tidak masuk akal? Tidak, yang ada hanyalah keinginan.”

“Apa maksudmu dengan keinginan?”

“Mereka memilih untuk berpaling dariku dan berada di antara para penonton di tepi lapangan. Mereka seharusnya merasa bersalah meskipun cuma satu milimeter. Tapi mereka tetap memilih jadi penonton. Kenapa? —Karena adanya keinginan. Itu niat mereka untuk melakukannya. Mereka mengukur dengan garis pengukur mereka sendiri dan memilih jalan yang mereka yakini sesuai keinginan mereka.”

Mereka bertiga hanya diam, tak berusaha untuk menyela pembicaraanku. Toa memiliki ekspresi yang sulit. Nem menunduk ke bawah. Dan Sufilia hanya tersenyum tipis.

“Dan aku hanya melakukan itu juga. Keinginanku adalah menghakimi mereka yang jahat.”

“Kau hanya mencari-cari alasan. Kau harus tahu, tindakanmu itu tidak benar.”

Ada sesuatu yang bisa kupahami saat kami berbicara. Orang ini mencoba membuatku mempertanyakannya. Dan aku tidak tahu kenapa.

“Benar dan salah ditentukan atas penilaian masing-masing, terutama di dunia seperti itu. Intinya adalah apakah kau bisa mempercayainya atau tidak. Dan aku percaya bahwa penilaianku tidaklah salah. Dan aku ingat sesuatu yang lebih sederhana dan lebih penting daripada hal konyol itu …. yaitu arti sebenarnya saat aku mengatakan “Aku akan membunuh kalian semua” pada saat itu.”

”Arti sebenarnya…?”

“Awalnya memang tidak masuk akal. Aku terlahir sebagai orang yang tertindas, sungguh tidak masuk akal, kan. Tapi hal-hal yang kau maksud dengan tidak masuk akal itu bukan seperti “tidak masuk akal” yang aku tahu. Apa pun yang kau lakukan, itu tak penting bagiku. Itu sama saja seperti kalian yang membuat dinding pembatas denganku. Aku hanya melakukan apa yang aku inginkan.”

Kemudian Saeki tersenyum dengan senyuman penuh arti dan tiba-tiba mengangkat tangan kanannya.

“Aku mengerti keinginanmu, tidak apa-apa. Ini yang terakhir.”

Dan dia menjentikkan jarinya.

―Lalu

“Apa…?”

Aku merasakan getaran di kakiku. Berangsur-angsur, semua kursi dan meja di dalam kelas mulai berderak.

“Apa yang kau lakukan, Saeki?”

”Kau sudah tahu, kan?”

Nada suara Saeki tiba-tiba berubah. Kemudian, wajah Saeki berangsur-angsur terdistorsi dan kehilangan bentuknya.

“Masamune! Apa yang terjadi?!” tanya Toa panik.

“Aku takut! Tubuhku gemetar!”

“Nem, pegang tanganku.”

Nem memegang tanganku seperti yang kuperintahkan.

Kemudian guncangan menjadi semakin keras. Dan wajah serta tubuh Saeki secara bertahap mulai membesar.

”Kau ini … apa?”

“Selector—”

“Selector? … Apa maksudmu?”

“Abyss … Jangan meragukan dirimu sendiri…”

”Apa?”

Dia tersenyum dengan wajah tak berbentuk yang terdistorsi, dan menggumamkan kata-kata yang sama seperti Bel.

Dan guncangan pun menjadi lebih intens.

“Master!”

“Masamune!”

“Nito-sama!”

Mereka bertiga meraihku dan memanggil namaku. Kemudian, guncangan yang sangat kencang hingga batas maksimum mereda dalam sekejap.

”Eh?”

Tapi saat berikutnya, meja kursi, dinding, papan tulis, dan lantainya, segala sesuatu di sekitar kami menjauh dari kami dengan kecepatan yang luar biasa.

Kami kehilangan pijakan dalam sekejap. Namun anehnya, kami tidak terjatuh dan kaki kami berada di “tanah”.

Pemandangan berganti dengan kecepatan yang tidak bisa kuikuti. Semuanya adalah pemandangan tempat yang pernah ada di dalam ingatanku.

Apa itu sekolah dasar? Taman hiburan … apa itu rumah temanku yang dulu sering aku kunjungi saat aku masih SD?

Dan itu…?

Ada beberapa adegan yang tidak ingin aku ingat. Dan pemandangan yang membingungkan itu pun berhenti bergerak.

Pada saat itu, lantai dan tanah mendekati kami dari kejauhan. Ketiganya ketakutan dan berpegangan padaku.

“Tidak apa-apa.”

Kemudian, seperti sebelumnya, lantai, dinding, dan langit-langit, yang mendekat dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh mata, berhenti ketika sebuah ruangan tertentu tercipta.

“Eh?” Toa bingung dengan situasi ini.

“Ini … dimana?” Sufilia melihat ke sekeliling.

“—Ini gimnasium.”

Itu adalah gimnasium sipil yang pernah aku datangi saat aku masih menjadi siswa SMP.

Dan di depan kami bertiga, seperti sebelumnya, ada sosok “Saeki” yang kehilangan bentuk aslinya. Tidak, itu bukan lagi Saeki, itu hanya segumpal daging.

“Raja bukanlah raja bagi mereka yang meragukan abyss. Mereka tak layak,” katanya sambil menatapku.

“Apa? Apa yang kau bicarakan?”

Aku tak bisa mencerna masalah yang datang satu per satu. Aku bahkan tak mengerti apa yang dikatakannya.

“Mari kita seleksi—”

Pada saat itu, yang berada di depanku mulai tumbuh lebih besar lagi, dan pakaian yang dia kenakan robek dan kulitnya membengkak.

Hal pertama yang muncul adalah lengan merah besar dan cakar yang meraup tanah. Lalu kaki. Lalu tubuh yang secara bertahap menunjukkan bentuknya. Dinding dan langit-langit gimnasium pun semakin mengembang seiring pertumbuhan tubuh itu.

“Masamune … apa ini?”

Toa memperhatikannya.

Leher panjang dan mata yang memperhatikan musuhnya seolah tak ingin membiarkannya kabur. Taring di mulutnya yang tak terhitung jumlahnya. Dan terakhir, sayapnya yang besar.

Pada saat itu, gimnasium berubah menjadi ruangan yang sangat luas.

“Ah … itu naga.”

Yang berada di depanku adalah naga bersisik merah.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset