Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 24

Vol 2 - [Dungeon]: Kepingan Kenangan

Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku TL by Light Novelku

***

Aku ingat hari itu. Aku tidak bisa melupakannya. Karena orang yang pertama kali aku pikirkan adalah pemilik wajah itu……

—Dari “kursi” itu, dia terlihat cantik.

Dia memiliki rambut hitam panjang yang lembut, rapi, serta anggun. Bagiku saat itu, seperti itulah dia terlihat.

dukung klik iklan

“Hei, Hidaka? Kau lihat apa?” tanya Saeki.

“Eh… Apa?”

“Shirakawa, ya. Kau memperhatikannya, kan? Kau menyukainya?”

“Itu tidak benar! Aku bahkan tidak cocok untuknya.”

“Mau aku bantu?” tawar Saeki sambil tersenyum jail.

Saeki bilang dia akan membantuku. Tentu saja tidak. Tentu saja, aku pun ragu. Tapi bagiku saat itu, kata “membantu” lebih menarik dari apa pun. Jadi aku ingin dia membantuku kalau bisa. Dia memanfaatkan kelemahan hatiku.

“Sebenarnya… aku memang menyukainya.”

Itulah yang aku katakan, tapi ternyata aku salah. Tidak, aku tahu itu. Namun, aku mempercayai Saeki meskipun untuk sesaat. Aku 1% percaya padanya meskipun aku tahu dia bohong. Jadi sekali lagi, aku “tertindas”.

Tapi bagaimanapun juga Saeki tidak akan mau berhenti, itu yang kupikirkan sekarang.

―Dan itu terjadi pada suatu hari saat istirahat makan siang.

Tidak ada kafetaria di sekolahku, dan pada dasarnya setiap siswa akan makan siang di kelas mereka masing-masing atau di kelas teman dekat mereka. Lalu sisanya makan siang di atap. Dan kelasku selalu penuh dengan siswa dari kelas lain setiap harinya. Dan orang-orang di kelas ini berkumpul memenuhi bagian belakang kelas. Salah satunya adalah Ichijo.

Aku sendiri sedang makan siang di kelas. Dan sampai saat tertentu, ketika murid-murid biasa berkumpul di kelas, Saeki berdiri dan berkata:

“Ada sesuatu yang ingin aku katakan pada kalian semua. Sebenarnya … Hidaka baru saja berkonsultasi padaku.”

“Konsultasi? Saeki, konsultasi apa?” tanya salah satu murid yang duduk di belakang.

“Shirakawa? Ini ada hubungannya denganmu.”

“Eh? Aku?”

Shirakawa tampak bingung. Tentu saja. Bagaimana rasanya jika ada seseorang yang tiba-tiba berkata begitu? Coba kau pikirkan.

Dan untuk sesaat, Shirakawa membuang muka ketika dia melihatku. Kalau dipikir-pikir lagi, dia mungkin sudah tahu apa yang akan dikatakan Saeki waktu itu. Tidak, aku rasa memang begitu. Karena Saeki mengatakannya untuk mengantisipasi hal itu.

“Hidaka, berdirilah. Dan bilang padanya…”

Aku berdiri secara alami. Aku tertegun dan tidak bisa memikirkan apa pun lagi. Jadi seperti yang diberitahukan padaku, aku langsung berdiri dan berpaling padanya seperti yang diperintahkan Saeki.

”Hidaka, katakan saja di sini.”

Semua orang pun tahu.

―”Hidaka ingin menyatakan perasaannya pada Shirakawa.”

Itulah yang dikatakan semua orang.

Dan kau tahu apa yang terjadi setelah itu? Aku malu. Dan itulah tujuan Saeki. Dia tahu itu akan terjadi dan sengaja membiarkanku melakukannya. Kemudian, untuk menghindariku, Shirakawa akan memalingkan wajahnya begitu melihatku, dan mulai mengabaikanku tanpa peduli lagi. Tapi, aku belum pernah mengatakannya sebelumnya. Namun, semuanya tak berakhir hanya sampai di situ saja.

Masing-masing dari mereka mulai mengejekku. Dan kemudian aku menyadari bahwa itulah niat Saeki. Dia mencoba mencari kesenangan dengan mempermalukanku. Dia tidak akan berhenti dan dia hanya ingin bersenang-senang, yaitu dengan menjebakku……

Dan Saeki berhasil melakukannya.

―“Hidaka mana mungkin pantas dengan Shirakawa.”

Kemudian untuk beberapa saat, Saeki dan murid-murid di sekitarnya, dan bahkan mereka yang tak pernah terlibat denganku sampai saat itu mulai menertawakanku setiap kali kami berpapasan dan berkata satu sama lain agar aku bisa mendengarnya. Semuanya, tanpa terkecuali…

Dan sekarang, gadis itu berada di depanku.

“Apa kau ingat?” tanya Shirakawa padaku.

…Aku tidak akan pernah lupa.

”Hidaka, katakan padaku kalau kau menyukaiku.”

Apa ini? Saat aku memperhatikannya lagi, Shirakawa berkata demikian. Tapi yang mengejutkan, aku tidak merasakan apa pun.

“Aku bahagia waktu itu.”

“Lalu kenapa kau menghindariku?”

“Aku … aku mencoba ingin langsung mengatakannya, tapi … aku malu, kau tahu bagaimana perasaanku, kan…?”

Awalnya, aku merasakan jantungku yang berdebar-debar, atau sesuatu semacam itu. Tapi sekarang aku tidak merasakan apa-apa.

“Bohong.”

“Huh?”

“Kau bohong. Kau tidak punya perasaan itu untukku. Kau bahkan berpikir aku menjijikkan, kan?”

“Itu tidak benar! Aku―”

“Itulah Shirakawa Chihiro. Hanya bagian luarnya saja yang cantik, tapi isinya seperti ikan kering. Aku tahu sekarang, ada “bau” busuk dari orang sepertimu.”

Dia memperhatikan kapak eksekutor di tangan kananku.

“Kau mau tahu apa ini? Kalau kau perhatikan… yang ada ditanganku ini adalah [Executor Axe].”

Aku bergerak selangkah demi selangkah ke arahnya. Dan aku berdiri di depan meja tempat dia berada. Bahkan di depannya saja, aku masih tidak merasakan apa-apa.

“Hei, Hidaka-kun? Bisa katakan lagi padaku? Kata-kata … yang saat itu ingin kau katakan padaku.”

Kata-katanya luar biasa pelan. Aku merasakan nada terperinci di setiap kata yang dia ucapkan, tapi aku tak merasakan perasaan yang berarti.

“Ada alasan lain kenapa aku tidak merasakan apa-apa.”

Alasannya mudah saja.

“Karena kau jelek sekali. Lebih jelasnya, tiga orang gadis yang kulihat sepanjang waktu itu lebih cantik sampai kau terlihat cukup menyedihkan untuk dilihat.”

“Hidaka-kun, tolong…”

“Tolong? Apa maksudmu? Apa kau ingin membiarkanku mengatakan itu? Apa itu keinginan terbesarmu?”

Aku bahkan tak bisa membuat ekspresi apa pun, mungkin karena aku tidak merasakan apa-apa. Begitulah aku tumbuh secara mental.

”Yah, aku punya sebuah permintaan,” kataku lagi.

Aku menggenggam kapak di atas kepalaku. Dan Shirakawa tampak sengaja melayangkan tanda tanya agar terlihat imut.

“Kuharap aku tidak akan pernah melihat wajah kotormu itu lagi.”

Aku mengayunkan kapakku ke lehernya.

”Enyah, kauuuuu……”

Pada saat itu, kepala Shirakawa melayang di udara, memercikkan darah, membentur dinding depan dan jatuh ke lantai, lalu menggelinding di kakiku.

“Aku tidak menginginkanmu lagi. Aku tidak butuh.”

Apa aku gila? Aku rasa tidak. Aku normal-normal saja. Orang-orang inilah yang gila sejak awal. Membunuh orang-orang gila itu akan menjadi bukti normalitas.

”Ini—“

Aku menginjak kepala itu.

“―Ini duniaku yang berbeda.”

Saat itu juga, aku merasakan sesuatu yang membuatku seperti terhuyung-huyung.

――

……

“Masamune! Sadarlah!”

Aku mendengar suara. Lalu aku tersadar kembali dan membuka mataku secara perlahan. Kemudian aku melihat seorang wanita cantik berambut merah muda di sampingku.

“…Toa?”

Saat aku mengatakan itu, Toa menghela nafas seolah dia merasa lega.

“Apa kau baik-baik saja? Master?”

Nem menatapku dengan wajah sembab.

“Nem?”

“Nito-sama tertidur.”

Lalu Sufilia menceritakan situasiku saat ini.

“Aku tertidur? Apa maksudnya? Beberapa saat yang lalu kan aku ada di dekat jendela…”

Saat aku memeriksa area di sekitarku, aku masih berada di dekat jendela.

“Tiba-tiba kau berhenti bicara seolah kau pingsan, dan saat aku mendekatimu, kau sudah tidak sadarkan diri.”

Ternyata aku pingsan saat berdiri.

”Pingsan? Kenapa…”

Alasannya sudah jelas.

 

―”Nightmare <Lv: 785> telah dikalahkan, skill [Goddess’s Blessing] diaktifkan. Silakan pilih item jarahan”

―”Dengan mendapatkan Poin EXP, Anda naik level dari Lv: 1221 ke Lv: 1262″

 

“Rupanya aku dipaksa mengalami mimpi buruk oleh monster.”

Itulah yang terjadi, dan entah bagaimana aku telah mengalahkannya.

“Mimpi buruk?” Sufilia menatapku penuh minat.

“Ya, sepertinya monster bernama Nightmare itu yang menyerangku dengan membuatku bermimpi buruk.”

“Nightmare?! Itu bukan monster, itu iblis!”

“…Begitu ya, iblis rupanya?”

“Benar. Nightmare dikatakan menyerang roh dan menunjukkan trauma pada subjek.”

Trauma ya … Tapi bagiku, itu mimpi konyol yang membuatku bisa membunuh orang yang selalu ingin aku bunuh.

“Ngomong-ngomong, Masamune? Kau bilang kau tahu yang sebenarnya sebelum kau pingsan, apa maksudnya?” tanya Toa.

Aku kembali teringat.

“Kebenaran tentang dungeon. Ya benar … tapi aku tidak tahu tepatnya?”

Toa memiringkan kepalanya.

“Tapi bukan itu yang terpenting… Aku ingat sesuatu yang lebih penting.”

Aku menatap mereka bertiga.

“Ada yang ingin kukatakan pada kalian bertiga. Tentang alasanku berpetualang.”

“Alasan?”

“Ya, alasan awalku memulai perjalananku…”

Lalu mereka bertiga terdiam menunggu kata-kataku.

“Ada beberapa orang yang ingin kubunuh … Putri Greyberg dan rekan-rekannya telah terbunuh. Tapi itu masih belum cukup. Ada orang lain lagi yang harus kubunuh.”

“Aku pasti akan membunuh kalian semua…”.

Aku bersumpah saat itu. Namun, aku bertemu Toa, Sierra, Nem, dan Sufilia. Seiring berjalannya waktu, rasa sakit itu mulai memudar. Aku lupa arti lain dari sumpahku saat itu. Aku lupa kenapa aku mengatakan “kalian semua”. Aku sangat menikmati petualangan itu. Aku senang hanya dengan menyentuh sihir, sesuatu yang tak kuketahui sampai saat itu. Tapi—

“Aku ingat…”

“…Ingat? Ingat apa…”

Mungkin apa yang kulakukan akan membahayakan kalian bertiga di masa depan. Namun sebisa mungkin aku akan melakukannya dengan tanganku sendiri. Seperti saat di Greyberg … tapi, aku tidak bisa mewujudkannya kalau kita tetap bersama-sama.”

”Master? Apa … kau ingin melakukan suatu kejahatan?”

Nem menungguku untuk bilang tidak. Aku bisa tahu dengan melihat ekspresinya.

“Menurutku tidak. Baiklah, Nem? Dengan kau percaya kalau itu adalah hal yang benar untuk kulakukan—itulah yang terpenting. Itulah yang kupikirkan. Menurutku itu bukan suatu kejahatan.”

“Kalau begitu … Nem mau ikut Master…”

“Apa itu yang Nem inginkan? Kalau begitu, baiklah.”

Dari ekspresi Nem, aku bisa melihat sesuatu yang rumit, seperti antara kecemasan dan keraguan.

“Nito-sama,” kata Sufilia. “Aku mirip dengan Nito. Entah kenapa, sekarang aku tahu kenapa Nito membantuku. Kita berdua sama-sama tertindas. Aku tidak akan ragu. Aku akan ikut denganmu.”

“Baiklah … Terima kasih, Sufilia.”

Sufilia mengangguk.

“Toa…”

Aku menghadap ke arah Toa.

“Sejujurnya aku tidak tahu apa yang Masamune katakan. Tapi seperti sebelumnya, aku tahu kau mencoba melakukan sesuatu yang buruk yang sebelumnya tidak bisa kau lakukan. Tapi … Itu sesuatu yang penting bagi Masamune, kan?”

“Ya, sangat penting … aku tidak bisa mundur. Kalau aku mundur, aku akan terjebak di dunia ini…”

“Kalau begitu aku akan ikut denganmu. Saat itu aku memutuskan untuk percaya padamu, dan kau masih ingin mengantarku pulang, kan?”

“Haha … benar juga, ya.”

Tujuanku saat itu adalah untuk mengantarkan Toa kembali ke kampung halamannya. Tapi menurutku Toa sudah tak terlalu memikirkannya lagi.

“Jadi? Seperti yang kau bilang sebelumnya, apa kebenaran dari dungeon ini? Bisa beri tahu aku?”

Toa menatapku dengan ekspresi yang tidak sabar.

“Yah … tapi aku masih tak yakin, tapi jika apa yang kupikirkan itu benar, maka aku akan segera bisa menaklukkannya…”

“Menaklukkan?! Apa yang ditaklukkan?”

“Yah, sederhananya, tidak ada tempat lain di sekolah yang masuk akal bagiku selain ruang kelas ini.”

“Tempat yang penuh makna?”

“Ya, sejak awal aku sudah berpikir ada yang aneh. Kenapa dungeon yang kumasuki adalah sekolahku?”

”Benar juga, ya,” kata Sufilia yang mulai setuju dengan ucapanku.

“Itu pasti… ngomong-ngomong soal dungeon, itu adalah labirin terkenal yang ada di dalam banyak dongeng sejak dulu. Sepertinya ada berbagai macam gaya, tergantung pada waktunya. Tapi apakah pernah ada bangunan yang seperti itu? Aku belum pernah melihat yang seperti itu sebelumnya. Aku rasa yang kulihat masih belum semuanya.”

“Apa maksudmu? Master?”

“Hm, intinya dungeon ini ada hubungannya denganku. Aku tidak tahu apa-apa lagi, cuma itu yang bisa kukatakan.”

Saat berbicara, aku pun memilih item jarahan dari penaklukan Nightmare.

―Sihir [Dream Eating].

“Dungeon ini… ada hubungannya dengan Master?”

Nem memiringkan kepalanya.

“Yah, monster yang telah keluar sejauh ini, mimpi buruk yang aku sebutkan tadi, itu adalah sekolah itu sendiri. Aku tidak tahu apa alasannya, tapi ini semua berkaitan denganku.”

“Jadi? Apa kebenarannya?”

“Hm… ini mungkin sedikit hipotesis awal, tapi mungkin dungeon itu sendiri adalah sesuatu yang diperuntukkan untukku. Sebelum aku berangkat, Kalifa sempat bilang, “Kalau tidak sama, kembalilah.” Aku memikirkan arti kata itu, tapi saat aku memikirkannya, kurasa memang begitulah menurutku.”

Mereka bertiga tampak memikirkan sesuatu dengan ekspresi yang rumit. Lalu—

”Eh?”

一Untuk sesaat, aku merasakan perasaan yang janggal.

Aku pikir itu Nightmare lagi, jadi aku memeriksa area di sekelilingku. Namun, sepertinya mereka bertiga merasakan “getaran” yang sama.

“Masamune.”

“Ya, aku tahu.”

Saat itu juga aku waspada terhadap area tersebut.

Ada suara yang tak asing seperti kaki logam meja dan kursi yang bertabrakan satu sama lain di ruang kelas yang tenang. Kami secara refleks menatap ke arah sumber suara itu. Kemudian ketiganya mengerutkan kening sambil bertanya-tanya. Tapi tidak denganku.

“Sudah lama, ya? Hidaka…”

Seseorang yang duduk di sana adalah Saeki.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset