Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 23

Vol 2 - [Dungeon]: Penjara Nostalgia

Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku TL by Light Novelku.

merry christmas

—”Walker <Lv: 486> dikalahkan, [Goddess’s Blessing] telah diaktifkan.”

—”Walker <Lv: 501> dikalahkan, [Goddess’s Blessing] telah diaktifkan.”

—”Walker <Lv: 520> dikalahkan, [Goddess’s Blessing] telah diaktifkan.”

—”Walker <Lv: 620> dikalahkan, [Goddess’s Blessing] telah diaktifkan.”

—”Walker <Lv: 320> dikalahkan, [Goddess’s Blessing] telah diaktifkan.”

—”Walker <Lv: 497> dikalahkan, [Goddess’s Blessing] telah diaktifkan.”

—”Walker <Lv: 608> dikalahkan, [Goddess’s Blessing] telah diaktifkan.”

—”Walker <Lv: 592> dikalahkan, [Goddess’s Blessing] telah diaktifkan.”

 

—”Silakan pilih item jarahan.”

 

[Erosion Wave] mengikis delapan zombi sekaligus di dalam toilet. Kemudian pengumuman itu bergema di kepalaku. Suara itulah yang memberitahuku tentang kenaikan levelku.

 

―”Dengan mendapatkan Poin EXP, Anda naik level dari Lv: 909 ke Lv: 972.”

―”Dengan mendapatkan Poin EXP, Anda naik level dari Lv: 972 ke Lv: 1032.'”

―”Dengan mendapatkan Poin EXP, Anda naik level dari Lv: 1032 ke Lv: 1072.”

―”Dengan mendapatkan Poin EXP, Anda naik level dari Lv: 1072 ke Lv: 1130.”

―”Dengan mendapatkan Poin EXP, Anda naik level dari Lv: 1130 ke Lv: 1150.”

―”Dengan mendapatkan Poin EXP, Anda naik level dari Lv: 1150 ke Lv: 1174.”

―”Dengan mendapatkan Poin EXP, Anda naik level dari Lv: 1174 ke Lv: 1206.”

―”Dengan mendapatkan Poin EXP, Anda naik level dari Lv: 1206 ke Lv: 1221.”

 

“Nem? Berapa levelmu?”

“34!”

“Yosh!”

Nem semakin kuat meskipun secara bertahap. Level 34…… Bukankah level Toa juga segitu?

“Hei, Toa, berapa levelmu?”

“Aku? 42, kan?”

“Kalau Sufilia?”

“Aku 26.”

Apa sekarang Nem menjadi yang terkuat setelah Toa? Dan levelku juga meningkat pesat. Atau ya, Dungeon dikatakan sebagai kuburan bagi si bodoh yang bermimpi, tapi sejujurnya, tempat ini adalah harta karun EXP. Dan levelku naik sebegitu banyaknya seolah itu terjadi karena bug.

Tidak ada zombie yang memiliki sihir kecuali satu. Sebaliknya, mereka memiliki skill, tetapi sebagian besar dari sembilan zombie tersebut memiliki skill yang sama dan tertutup.

Alhasil, yang aku dapatkan adalah Magic: [Infection] dan Skill: [Eating] [Hypersensitivity] [Smell Hypersensitivity] [Increased Bite Force] [Leading Power].

[Infection] sepertinya adalah sihir yang melekat pada zombie, yang dapat mengubah dirinya menjadi spesies mayat hidup saat menghisap darah di tubuh targetnya. Sedangkan [Gluttony] dikatakan, “Anda bisa memakan semuanya sebagai makanan Anda sendiri.”

“Kita ke atas sekarang?”

Jika kau menuruni tangga ini, kau akan sampai di bagian depan rak sepatu di lantai pertama yang penuh dengan “lumpur”. Namun, akan merepotkan untuk mengatasi jumlahnya yang sebanyak itu. Sebaliknya, ini hal yang bagus karena “kendali” mereka tidak sampai sejauh ini. Dalam hal ini, aku bisa saja melenyapkannya hanya dengan bergerak maju sambil membuka Erosion Wave. Namun, untuk membersihkan lumpur di lantai pertama itu, getaran gelombangnya perlu diperluas sesuai dengan jangkauannya.

Seperti tadi, gelombangnya tidak menyentuh mereka bertiga. Hanya ada beberapa zombie di dalam toilet dan jangkauannya terbatas, jadi tidak perlu melakukan penyesuaian. Salah satu alasannya adalah karena aku belum pernah repot-repot melakukan itu sebelumnya, tapi sangat sulit untuk menyempurnakan perluasan jangkauannya. Sebisa mungkin aku harus menghindari risikonya. Jika tidak, aku akan membuat kesalahan yang sama lagi.

“Kita sekarang di lantai berapa?” tanya Toa.

“Lantai 2.”

“Kalau begitu yang berikutnya adalah lantai 3? Ada apa di lantai 3?”

“Kelasku ada di sana.”

“Entah kenapa, hanya ada ruang kelas di sini?”

“Yah, karena ini memang gedung kelas…”

Selanjutnya apa yang akan keluar? Ini pertama kalinya aku berjalan berkeliling sekolah dengan pikiran seperti itu. Tapi ada sesuatu yang aku khawatirkan. Minotaurlah yang pertama kali muncul, lalu lumpur. Dan zombie juga muncul. Aku merasa tak nyaman pergi ke sana.

Monster berlumpur itu mungkin adalah Slime. Karena ketiganya adalah monster yang aku kenal. Sebelum aku dipanggil ke dunia lain ini, aku biasa bermain RPG dan game-game yang berhubungan dengan zombie saat aku berada di Jepang. Saat Minotaur dan Slime muncul, aku merasa seperti berada di dunia lain meskipun itu adalah sebuah game.

Aku senang bisa menghancurkan zombie hanya dengan tongkatku. Dengan kata lain, ketiganya adalah monster yang aku rasakan kuat, dan monster-monster itu muncul tiga kali berturut-turut.

―Maka wajar saja kalau aku merasa nggak nyaman.

Aku naik tangga dengan perasaan yang tidak nyaman itu. Mereka bertiga mengikutiku.

***

Sesampainya di lantai 3.

Koridor yang sepi dan tak bernyawa. Koridor serta dindingnya kotor dan kusam. Jendela guru yang menghadap ke koridor sepenuhnya adalah cermin dan bagian dalam ruangan sepenuhnya terlihat.

Sekarang, ada hal-hal yang kupikirkan saat meninggalkan “sekolah”. Ini adalah sekolah dengan peraturannya yang ketat… Bahkan membawa ponsel pun dilarang pada zaman ini. Yah… tergantung cara berpikirnya, bisa dikatakan ini seperti waktu di tahun itu…

“Jadi? Yang mana ruang kelas Masamune?” tanya Toa.

Saat menaiki tangga, ada koridor yang bercabang di depan kami. Dengan kata lain, Toa bertanya apakah kami akan belok ke kiri atau ke kanan.

Kalau dipikir-pikir, aneh rasanya karena ada mereka bertiga di sini. Aku selalu sendirian di “sekolah”. Aku juga tidak punya teman selama dua tahun itu…

Tapi sekarang ada tiga teman yang berada di sampingku. Para wanita cantik. Dan Nem masih yang tercantik…

Aku memikirkan mereka bertiga yang berjalan di sampingku sekarang.

―Aku ingin teman.

Namun, ketiganya adalah teman. Tidak … apa kita berteman? Jika mereka teman, apakah suatu hari di masa depan kita masih bisa berteman?

“Kenapa tiba-tiba diam?”

“Eh? Oh, tidak … kupikir aku juga ingin mengajak Sierra.”

Begitu banyak yang kupikirkan hingga aku tak mampu berbicara. Apa Sierra juga akan menjadi temanku?

Aku ingin seorang teman. Jadi mungkin aku telah menerima Ichijo.

“Benar juga, ya … Sierra, apa dia baik-baik saja?”

“Bagaimana kabarnya, ya…”

Sulit mengatakannya. Aku tak berharap untuk menyerahkan nyawa “teman”-ku. Andai sejak awal aku punya teman, aku tidak akan bersumpah untuk membalas dendam, bukan? Atau aku akan tetap bersumpah untuk membunuhnya?

“Lewat sini.”

Kami berbelok ke kanan. Lalu melewati satu atau dua ruang kelas, dan ruang kelasku terletak paling ujung.

“Kita sampai … Aku biasa datang ke sini setiap hari.”

“Apa ini kelas Masamune?”

“Benar.”

Ya, ini ruang kelas 2-3. Kelasku.

“Apa yang Nito pelajari di sini?”

“Singkatnya, cara menghitung, sejarah negara, dan bahasa asing. Yah, tidak jauh berbeda dengan Heilkwait.”

“Apa ada banyak negara di dunia tempat Masamune berada?”

“Yah, aku tak tahu banyak soal itu.”

Aku memasuki kelas dan berjalan ke tempat dudukku. Aku menyentuh mejaku dan mengusapnya dengan lembut.

“Aku … biasa duduk di sini.”

Kemudian Nem duduk di kursiku.

Aku tak bisa menahan senyumku. Kenapa? Apa sekolah itu tempat yang menyenangkan?

Lalu aku meninggalkan bangkuku dan berdiri di podium.

“Kalau begitu, aku akan bertanya pada Nem! Ini dungeon atau sekolah?”

Mungkin karena aku tiba-tiba menanyakannya, Nem menjadi terkejut dan tergeragap. “Ne … Nem tidak tahu.”

“Nem saja tidak tahu, apalagi gurunya!”

Toa dan Sufilia menertawakan situasi ini.

“Haa~ … di mana ini sebenarnya?”

“Bukannya ini dungeon?”

Toa bingung begitu mendengar pertanyaanku yang kadang suka berkebalikan. Tapi aku sendiri juga bingung.

“Entahlah… apa sebelum kita masuk bagian dalam dungeon ini memang sekolah? Atau, apa kau tak terpikir kalau pemandangan dungeon ini berubah menurut penantangnya?”

“Tapi kalau benar begitu, kenapa harus sekolahnya Masamune? Kenapa tidak kampung halaman? Misalnya kalau kampung halaman Sufilia, adalah kerajaan Artemias mungkin?”

“Yah, benar juga … Bagaimana menurutmu, Nem? Apa kau melihat sesuatu yang kau ketahui saat datang ke sini?”

“Aku belum melihat apa-apa,” kata Nem riang sambil menggantung kakinya.

Dengan kata lain, hanya aku. Dungeon ini hanya bereaksi padaku.

“…Jadi untuk apa berpikir kalau aku tak mendapatkan jawabannya?”

Aku duduk di samping Nem. Pastinya kursi ini adalah kursi seorang lelaki bernama Takagi. Dan aku menatap papan tulis, lalu mengalihkan pandanganku ke matahari terbenam di luar jendela.

“Ruang kelas ini … tempat nostalgia yang tak kusukai. Tidak … menurutku …  ini seperti penjara bagiku. Yah, seperti yang Toa bilang. Tempat ini sama dengan kamp.”

Aku teringat apa yang Toa katakan sebelumnya.

“Apa… maksudmu?” tanya Toa padaku dengan lembut.

“Di sini aku … aku dihina setiap hari. Setiap hari-hariku aku dipermalukan.” Lalu aku melihat ke arah Sufilia. “Aku dalam posisi dan situasi yang sama denganmu, Sufilia. Aku juga tertindas. Itu sebabnya aku memutuskan untuk membantumu tanpa membunuhmu…”

Sufilia tersenyum dan tak membalas sepatah kata pun. Namun, ekspresi itu mengungkapkan apa yang ingin dia katakan padaku. Mungkin begitulah menurutku.

“Mungkin masalahku tak seberapa jika dibandingkan dengan Nem yang yatim piatu? Tapi aku rasa, ini bukan masalah skala atau derajat, tapi fakta itu sendiri…”

Lalu, Toa bertanya. “Aku tidak mengerti, apa maksudmu?”

“Saat kau berduka, dunia pasti akan berkata, ‘Ada seseorang yang bernasib lebih buruk darimu.’ Tapi bukan itu yang terpenting. Pertanyaannya adalah apakah fakta penindasan itu memang ada.”

“Fakta penindasan?”

“Masalahnya rumit. Beberapa orang di duniaku mengatakan kalau itu adalah  sebuah “kesalahpahaman”.  Kata-kata itulah yang “mereka” manfaatkan. Aku benar-benar dirugikan…”

Aku turun dari podium dan melihat ke lapangan dari balik jendela. Dan Toa bertanya padaku dengan penuh hati-hati.

“Aku yakin pasti ada sesuatu yang menyakitkan, bukan? Tapi aku tidak tahu apa yang Masamune katakan.”

“Ya, itu memang benar … tapi tidak apa-apa. Aku akan memberitahumu suatu hari nanti. Aku tak perlu melakukan apa pun sekarang, itu saja yang perlu kau tahu, Toa…” kataku pada Toa.

“…Iya. Aku mengerti,” jawab Toa dengan perlahan.

“Mungkin mereka akan bilang begini kalau mereka tahu aku masih hidup. Seperti, “Kau terlalu berlebihan” … atau “Kau cuma salah paham”, atau mungkin mereka akan mengatakan, “Tidak ada yang menindasmu”, “Kita kan teman”… Aku ingin tahu apa mereka akan mengatakan hal-hal seperti itu lagi…”

Tidak … mereka sudah lupa. Saeki mungkin sudah tidak ingat apa yang pernah dia lakukan… Itu saja. Tapi pihak yang tertindas akan selalu teringat. Aku tidak akan pernah lupa berapa lama waktu yang telah berlalu. Aku selalu ingat setiap hal kecil yang kualami.

Dia tidak ada di depanku sekarang, jadi aku tidak lagi tertindas. Tapi bukan itu masalahnya. Aku masih tertindas, aku masih terjebak. Dan aku mencoba untuk keluar dari sini berkali-kali, tapi tidak bisa.

Tak peduli seberapa kerasnya aku berjuang, hari-hari itu tidak pernah lepas dari pikiranku. Aku tidak bisa melepaskannya. Meskipun berada di dunia yang berbeda… aku datang ke dunia yang berbeda itu…

―Aku masih di “kelas” ini.

“Aku ingin tahu tentang kebenaran dungeon, kupikir aku mengetahuinya…”

Jika tidak, maka kembali saja… tapi sepertinya tidak ada gunanya.

Aku kembali menatap mereka bertiga. “Inilah aku…”

Mereka bertiga menatapku begitu aku mengatakan kesimpulan tentang diriku pada mereka.

“Eh?”

Ada seseorang yang duduk di kursi depan jauh dari ketiganya.

“Sejak kapan…?”

Tiba-tiba dia muncul. Aku menjauhi jendela dan perlahan berjalan ke samping papan tulis. Dan aku melihat wajah orang itu.

“Kenapa… bisa ada di sini…!”

Tiba-tiba aku mendengar suara burung gagak dari luar jendela. Refleks, aku terkejut dan menoleh ke belakang. Lalu sinar matahari terbenam menyusup masuk.

―Ini sinar matahari sepulang sekolah.

Aku mengatur napasku dan mengalihkan pandanganku ke kursi itu lagi. Kemudian aku memperhatikannya.

“Toa? Nem?  …… Sufilia?”

Mereka bertiga tidak ada.

“Cuma aku dan Hidaka-kun saja yang ada di sini.”

Lalu, “dia” yang duduk di kursi itu berbicara padaku.

“Sudah lama sekali ya, Hidaka-kun?”

Dengan rambut hitam panjang berkilau dan berkibar, gadis itu berbalik.

“Shirakawa… san…”

Di sini, ada seorang gadis yang menjadi cinta pertamaku.

Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: E~to, onii-sama, jangan di-copy ya !!

Options

not work with dark mode
Reset