Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 22

Vol 2 - [Dungeon]: Sekolah Hantu

Aku melihat ke atas atap. Namun, yang bisa kulihat dari sini hanyalah sebuah pagar. Selain itu, aku tak melihat apa pun dan tidak ada seorang pun di sana.

Aku memulainya dari tempat itu. Aku tahu itu. Makanya aku tak ingin ke sana. Ini berbeda dari ketakutan, karena semakin aku menatapnya, semakin aku menolak melangkah ke sana.

Dan lagi…

Tidak ada apa-apa di sana.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan?”

dukung klik iklan

“Hm? Yah…”

Saat itulah Toa bertanya ke mana kami akan pergi selanjutnya. Untuk saat ini, mari kita coba masuk.

“Ayo masuk ke dalam gedung sekolah, mungkin ada sesuatu di sana.”

Aku tak memikirkan apa pun lagi. Aku tidak tahu di mana ini, tapi entah ini dungeon atau dunia tempatku berada dulu, aku harus terus bergerak.

Kami berempat menaiki tangga berundak, dan menuju gedung sekolah.

“Ngomong-ngomong, Nem, berapa levelmu sekarang?”

Lalu, entah kenapa, Nem menatapku dengan cemberut.

“Kenapa? Apa kau sakit?”

“Bukan begitu! Nem sedang menunggu kapan Master akan mengetahuinya!”

Dengan kata lain, aku tak langsung menanyakannya, ya… makanya dia ngambek.

“Jadi? Gimana levelnya?”

“Luar biasa!”

Lalu Nem melompat kegirangan. Sepertinya dia ingin mengatakannya secepat mungkin.

“Level Nem, yang tadinya 13, sekarang jadi 24!”

“Eh? 24? Sedikit, ya … apa cuma sebanyak itu poin exp yang kau dapatkan?”

Lalu, ekspresi Nem berubah menjadi sedih.

Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?

Kemudian Toa―

“Kau naik 11 level sekaligus? Itu cukup bagus, kau hebat, Nem.”

“Benarkah?”

Nem memang tak langsung mengalahkannya. Dia hanya melemparkan sihir dan sedikit membakarnya. Mungkin itu cukup untuk menaikkan levelnya.

Aku menatap Nem lagi dan meralat perkataanku. “Bagus, Nem! Dengan levelmu ini, ayo kita lanjutkan perjalanannya!”

“…Benar?”

“Hm?”

“Apa itu benar?”

Nem menatap wajahku dengan penuh harap.

“Benar… apanya?”

“Apa Nem… berguna untuk Master?”

Nem menatap mataku dan berkata demikian dengan ekspresi sedih.

Seperti yang kupikirkan sebelumnya, kenapa Nem mengikutiku? Tentu saja pada saat itu, jika saja aku tak menolongnya, dia mungkin akan berakhir dengan sangat buruk. Karena dia telah selamat, aku tak keberatan kalau dia melakukan apa pun yang dia inginkan.

“Ya, tentu saja! Mungkin aku terlalu sering meningkatkan levelku sendiri. Tapi kerja bagus, Nem! Sihirmu itu luar biasa.”

Lalu Nem mulai tersenyum, dan menatapku. “Iya! —Aku berlatih dengan sangat keras!”

Aku membelai kepala Nem.

一Berusaha keras, ya… Apa aku juga begitu?

Kalau begitu aku harus memujinya. Nem bisa tumbuh bersamaku.

“Masamune, apa itu?”

Toa menunjuk ke dalam gedung sekolah yang terlihat dari sini.

“Itu rak sepatu.”

Itu rak sepatu yang tersusun rapi, sudah lama sekali aku tak melihatnya.

“Eh? …Apa itu?”

Kemudian, dari kejauhan, ada bayangan di rak sepatu yang tampak bergerak-gerak. Aku menyipitkan mata dan memperhatikan bayangan itu.

“Hei? Apa itu…”

Lalu sesuatu muncul di sana. Sesuatu yang berlumpur keluar dari pintu masuk gedung sekolah.

“Yang itu?”

Sufilia juga menyipitkan matanya dan melihat hal yang sama denganku.

“Sufilia? Kau tahu apa itu?”

“Tidak, aku tidak tahu.”

Aku juga menatap wajah Toa dan Nem. Namun, sepertinya mereka bertiga juga tidak tahu.

“Nem, bisa kau tembakkan sihirmu yang tadi ke lumpur itu?”

Aku menyuruh Nem untuk mencoba menyerangnya.

“Iya. —[Demon Fire Shreim]!”

Kemudian tiga bola api muncul di sekitar Nem. Ini api yang sama seperti sebelumnya. Bola api menggemakan suara pembakaran dan suara hembusan angin, dan terbang menuju lumpur itu sekaligus. Dan bola api itu langsung mengenai lumpurnya.

“Kena!”

Setelah terkena langsung, asap pun mengepul. Aku menutupi wajahku dan menunggu asapnya menghilang.

Lalu—

“Hei, hei, ini bohong kan?!”

Asapnya menghilang. Kemudian, lumpur tambahan yang tak terhitung banyaknya muncul di sana. Dan aku melihat lebih banyak lagi, di dalam gedung sekolah, di luar rak sepatu.

―Seharusnya aku melihat tangga yang mengarah ke lantai dua, tapi tempatnya gelap gulita dan aku tak bisa melihat apa-apa.

Dan “kegelapan” itu bergerak secara halus.

Ya—lumpur yang serupa pun menggeliat mengisi ruangan. Aku bisa saja mengatasi semuanya, tapi…

“Ini sulit.”

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Toa padaku.

Saat aku melihat mereka, mereka tengah menunggu instruksiku.

“Ini merepotkan, ayo masuk dari pintu yang lain.”

Ini bukan satu-satunya pintu masuk ke gedung sekolah. Kau bahkan bisa masuk melalui jendela di lantai pertama.

Kami berempat pun meninggalkan tempat itu dan menuju koridor yang mengarah dari gedung olahraga ke gedung sekolah.

▽▽▽

―Melintasi koridor.

Ini adalah koridor luar ruangan yang panjang yang menghubungkan gedung olahraga dan gedung sekolah. Meskipun dipasangi atap, namun kondisi koridornya terbuka. Juga koridor ini relatif panjang, melewati tepat di samping gedung sekolah dan mengarah ke beberapa pintu masuk. Jadi ini bukan hanya menghadap ke gedung sekolah, tapi juga menghadap ke gedung staf.

Aku bisa langsung menuju gedung kelas, tapi aku juga bisa masuk ke gedung kelas dari lantai 2 gedung staf. Tapi jaraknya jadi lumayan cukup jauh.

Sejujurnya, seharusnya aku lewat sini sejak awal, tapi aku juga merasa ingin melewati rak sepatu itu untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ada banyak hal, dan aku merasa sudah lama sejak aku menjadi seorang siswa…

Dan ada juga alasan kenapa aku ingin kami berempat melewati bagian depan rak sepatu itu.

Bagiku, bagian depan rak sepatu yang aneh itu terasa seperti “gerbang sekolah”, dan pada saat itu aku mengganti sepatuku sendiri setiap hari tanpa alasan dan hanya melewatinya begitu saja.

Bagaimana dengan siswa SMA biasa?

Misalnya, aku kebetulan bertemu dengan seorang teman yang datang ke sekolah pada saat yang sama, dan menyapa kecil, “Selamat pagi”. Untuk siswa SMA biasa, itu rutinitas sehari-hari dan tidak ada artinya. Itu wajar saja, bukan masalah bagiku.

Bahkan itu menjadi mimpi bagiku. Itu sebabnya kami berempat bisa sampai ke sekolah ini.

Kami pun berjalan menyusuri koridor.

“Ini tempat yang aneh, ya kan?” kata Toa lagi.

“Iya, sudah usang.”

Yah, sekolah umumnya memang seperti ini dimana-mana.

“Hmm … rasanya seperti kamp.”

“Kamp?”

Itu terlalu berlebihan.

“Itu adalah tempat untuk menampung orang-orang jahat. Dulu aku pernah melihatnya di sebuah gambar.”

“Hmm. Tapi aku belajar di sini setiap hari…”

Saat aku mengatakannya, entah kenapa Toa tampak terkesan. Tidak sopan sekali.

“Ngomong-ngomong, jalan ini menuju ke mana?”

“Ke berbagai tempat. Nah, mau coba ke kelas?”

“Kelasnya … Masamune?”

“Iya.”

Tidak ada alasan khusus. Aku tak harus pergi ke kelas secara terpisah, tapi kakiku sudah melangkah ke sana.

Saat aku berjalan menyusuri koridor, aku melihat pintu masuk gedung kelas di sebelah kanan dan pintu masuk ke gedung staf di sebelah kiri.

Terdapat kaca di pintu masuknya, jadi kau bisa melihat bagian dalamnya dengan baik. Tempat tersebut merupakan jalur masuk sekolah ini. Dan saat kau melewatinya, ada pintu yang mengarah ke luar.

Di luar pintu ada jalan, namun tidak ada mobil dan pejalan kaki yang seharusnya berjalan di sana. Sebaliknya, noda darah dan darah yang berceceran, mayat yang diduga adalah para penantang bertebaran.

“Ayo pergi……”

Toa langsung segera pergi begitu melihat mayat yang tergeletak.

Kami naik ke atas dari gedung staf ke gedung kelas di mana setiap ruang kelas berada. Kedua bangunan ini terhubung di lantai satu dan dua.

Segera setelah memasuki gedung kelas, aku melihat ruang kelas di samping kananku. Ada meja kursi dan papan tulis. Namun, tidak ada siswa di dalamnya.

“Sudah kuduga, ini memang dungeon, ya?” pikirku lagi. Sejujurnya, aku selalu memikirkan yang mana yang benar.

“Benarkah…?”

“Ya, kalau dipikir-pikir aneh rasanya karena tidak ada orang di sini. Di malam hari, biasanya ada seseorang di sini.”

Tapi tidak ada orang lain selain kami. Bukankah itu aneh?

―Ini Sekolah Hantu.

“Benar juga, sih. Kalau dipikir-pikir, memang tidak ada orang, ya?”

“Ya, cuma ada mayat.”

Saat aku berkata begitu, ekspresi Toa tampak masam.

“Sudah cukup… Jangan buat aku jadi mengingatnya lagi. Aku mencoba untuk tidak memikirkannya, tahu.”

“Hmm… apa itu cukup menjijikkan? Ngomong-ngomong, kalau ini dungeon, sebelumnya kau bilang kalau monster akan berubah jadi partikel dan menghilang?”

“Eh? Masa?”

“Ya, di dungeon sebelumnya itu memang benar, tapi Minotaur itu tidak menghilang, kan?”

“Benar juga, ya…”

Sebelumnya, Toa memberitahuku bahwa monster di dungeon akan menghilang setelah dikalahkan. Sepertinya dia telah membaca deskripsi seperti itu di sebuah buku.

“Yah, aku juga tidak peduli.”

Aku tak peduli apakah monster itu akan menghilang atau tidak. Namun, lain ceritanya jika yang menghilang itu adalah yang berkaitan dengan rahasia dungeon ini.

Setelah melewati beberapa ruang kelas, kami berjalan menyusuri lorong.

Lalu—

“Masamune—”

“Ya, aku tahu.”

―Ada monster.

“Itu……”

Kami bersembunyi di balik pilar, dan kemudian melihat monster itu, monster dengan darah yang berjalan merangkak dengan kakinya. Matanya dengan tegas mengawasi sekitar.

“Spesies undead. Walker, ya?” bisik Sufilia.

Singkatnya, ini adalah zombie. Tak peduli mau bagaimanapun melihatnya, itu memang terlihat seperti zombie. Hanya satu monster yang berjalan di depan tangga yang menghubungkan lantai 1 hingga 4 di gedung ini.

“Apa Walker adalah nama umumnya?”

“Ya, aku yakin itu Walker kalau dilihat dari penampilannya.”

“Apa maksudnya spesies undead?”

“Itu salah satu klasifikasi monster. Mayat hidup pada dasarnya lahir secara tidak sengaja melalui mediasi mayat. Seperti yang kau lihat, dia punya tubuh busuk dan bau yang memuakkan ini,” kata Sufilia dengan menutupi mulut dan hidungnya dengan tangannya.

“Aku akan melakukannya sendiri. Kalian berdua nggak minat, kan?”

Seperti Sufilia, Toa juga menutupi mulut dan hidungnya.

“Nem … aku bahkan tak perlu bertanya padamu.”

Nem mencibir dengan ekspresi pucat.

“Nito-sama?” panggil Sufilia saat aku melangkah mendekati zombie.

“Hm?”

“Atribut suci efektif untuk spesies undead, tapi karena atribut suci adalah sihir unik pendeta…”

“Begitu ya… aku akan melakukannya.”

Aku mengeluarkan [Saint’s Wrath] dari ruang penyimpanan yang berbeda.

“Itu adalah…?” tanya Toa.

“Ini tongkat yang kutemukan di dungeon sebelumnya. Dengan ini, bahkan aku yang seorang Healer pun bisa menggunakan atribut sihir.”

“Hmm. Itu jarang sekali terjadi, kan?”

Ngomong-ngomong, Sieg juga pernah mengatakan hal itu.

“Kau tidak akan melakukannya?”

“Aku tidak membutuhkannya.”

Aku bersandar di pilar, tersenyum lembut pada Toa, dan melanjutkan lagi.

Dan setelah lima langkah, aku menoleh ke belakang. Aku merasa ada yang tidak beres. Tidak ada langkah kaki selain aku. Aku merasa seperti tidak ada orang di belakangku.

―Lalu, aku melihat mereka bertiga bersembunyi di balik pilar dan tidak bergerak sama sekali.

“Hei! Kalian bertiga juga ayo ke sini, kalau di situ saja bakal bahaya, kan?”

Aku memanggil mereka bertiga dengan suara sekecil mungkin sehingga zombie tidak menyadarinya.

Kemudian, Nem mendatangiku dengan gemetar. Setelah itu, dua yang lain di belakangnya juga berjalan perlahan.

“Kau ngapain, sih?”

“Itu karena aku tidak ingin terlalu dekat dengan monster itu.”

“Kau bilang mau pergi ke dungeon, kan? Lagipula kau akan terbiasa, kok.”

Toa mengedutkan hidungnya berlebihan bermaksud menunjukkan baunya padaku. Aku menyeringai tanpa sengaja. Dan aku pertama kali mengarahkan tongkatku ke zombie “pertama”.

Sekarang dari sini aku memperhatikan bahwa ada toilet tepat di samping tangga. Aku tidak bisa melihat bagian dalamnya karena pintu kacanya yang buram, tapi aku bisa melihat ada “bayangan” di sana.

“[Saint Shine’s Wrath]!”

Bola kuning yang bersinar dilepaskan dari ujung tongkat, lalu mengenai kepala zombie dan meledakkan kepalanya.

―”Walker <Lv: 450> telah dikalahkan, [Goddess’s Blessing] telah diaktifkan. Silakan pilih item jarahan.”

“Pertama-tama, skill … [Gluttony].”

―”Anda telah mempelajari skill [Gluttony].”

―”Dengan mendapatkan experience point, Anda telah naik level dari Lv: 812 ke Lv: 909.”

Potongan daging yang berterbangan mengeluarkan bau yang lebih busuk.

“Ngomong-ngomong, ini skill…”

Aku membuka statusku dan memiliki beberapa skill.

“Apa… yang terjadi? Nito-sama. Mayatnya… apa pemusnahannya sudah selesai?” tanya Sufilia padaku sambil berulang kali merasa mual ingin muntah.

“Belum, seharusnya masih ada sedikit di toilet…”

Aku menggunakan skill [Cleaning] untuk membersihkan lingkungan. Aku benar-benar lupa kalau aku juga memiliki skill semacam ini.

“Gimana? Agak mendingan, kan?”

Kemudian Nem menurunkan tangannya dari hidungnya) saat dia menyadarinya.

“…Tidak apa-apa! Sudah tidak bau lagi!”

Lalu, mengikuti Nem, keduanya juga menurunkan tangan mereka dari hidungnya.

“Benar! Tidak bau lagi!”

Rupanya, mereka berdua pun baik-baik saja dengan ini. Skill ini memang luar biasa!

“Bagaimana caramu melakukannya?!” Toa terkejut dan bertanya padaku.

“Dengan [Cleaning].'”

“Pembersihan adalah skill?”

“Oh, aku lupa kalau aku punya skill itu. Untuk saat ini, aku akan selalu menggunakannya selama kita ada di lantai ini, jadi itu jauh lebih baik, kan?”

Kemudian ketiganya menarik napas dalam-dalam dengan ekspresi segar.

“Itu berlebihan.”

“Sama sekali tidak! Baunya busuk, tahu!”

Tak seperti biasanya, Nem memprotesku.

“Yah, Nem memang punya indra penciuman yang tajam, sih.”

Nem tak punya pilihan. Tapi untuk mereka berdua, aku harus membuatnya sedikit lebih bersabar. Apalagi Sufilia dibesarkan di rumah kaca. Aku dengar Toa juga hampir sama.

“Ayo, singkirkan zombi yang tersisa. Tapi itu zombie Lv:450.”

“Akan Nem lakukan!”

“Wow … haruskah aku serahkan pada kalian bertiga?”

Saat mendengarnya, ekspresi Toa mengatakan bahwa level monster itu masih kuat.

“Nito-sama, aku juga tak keberatan. Akan kupikirkan lagi saat sesuatu yang sedikit lebih lemah muncul.”

Sufilia juga berkata begitu. Akan kupikirkan lagi, itu sih sama saja dengan tidak mau melakukannya.

“Yah, tapi menurutku tidak ada yang “lemah”,  ya kan? Secara ini dungeon.”

Biarpun kubilang begitu, Sufilia hanya tersenyum pahit.

Aku tak ingin bertengkar. Jika memungkinkan, aku ingin mereka sedikit meningkatkan level untuk petualangan yang akan datang. Yah, bahkan goresan pun bisa berakibat fatal, dan soal level, toh itu bisa ditingkatkan meski bukan di dungeon.

“Kalau begitu tidak apa-apa, tapi masih bisa lanjut, kan?”

Awalnya aku sempat kesal, tapi aku tak terlalu banyak mendebatnya. Tapi sepertinya juga tidak baik jika harus menimbulkan ketegangan di sini.

“Nah, Nem? Aku akan membuka pintunya sekarang, jadi tembakkan sihirmu dengan sekuat tenaga, ya.”

“Iya!”

Nem mengangkat lengannya dan menjawab dengan berbisik.

“Ngomong-ngomong, Nem. Apa kau bisa menggunakan sihir atribut suci?”

“Aku tidak bisa menggunakannya,” kata Nem dengan wajah sedih.

“Ngg, tidak! Tidak apa-apa! Kalau begitu, sihir atribut api yang sebelumnya juga tidak apa-apa!”

“…Baiklah!”

Nem mengangguk. Begitu sesuatu terjadi, dia terlihat sedih. Nah, itulah yang ingin aku tanggapi. Tapi kenapa? Aku merasa seperti sedang dimanipulasi oleh Nem…

“Aku tahu kau mencoba memenuhi harapanku, tapi Nem sudah melakukan lebih dari yang kuharapkan. Relakskan sedikit bahumu, atau santai saja. Jika tidak, itu akan mengganggu aksimu. Tenang saja, aku
akan melindungimu.”

“Aku mengerti … aku akan mencobanya!”

Suara Nem menjadi lebih pelan saat aku mendekati pintu tempat bayangan sosok itu terlihat. Aku bisa merasakan tanda-tanda mereka di sini. Dan aku menyuruh Nem untuk menunggu di belakangku selagi aku mendekati pintu, lalu menyentuh pintunya.

“Nah, kita mulai?”

Aku mengawasi Nem.

“Ini baru permulaan. Aku yang akan selesaikan sisanya. Jadi tembakkan sihirmu sekali, setelah itu cepatlah mundur.”

“Iya, baiklah.”

Dan aku membuka pintunya.

“Sekarang!”

“[Demon Fire Shreim]!”

Saat pintunya terbuka, Nem mengeluarkan sihirnya dan mengenai zombie yang bersembunyi di dalam.

“Oke! Biar aku yang urus sisanya!”

Atas isyaratku, Nem bergegas mundur dan dua yang lainnya juga secara refleks berpindah dan terkejut.

…Sekarang seharusnya baik-baik saja.

“[Erosion Wave]!”

Saat aku melepaskan sihir erosion, aku melangkah ke bagian belakang pintu — toilet.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset