Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 20

Vol 2 - Menara Hitam & King's Shield

Aku berjalan melewati padang rumput, dan setelah beberapa saat, padang rumput yang kupijak berganti menjadi pasir. Lebih tepatnya, ini gundukan pasir. Petualangan dengan pijakan jalan yang buruk berlanjut untuk sementara waktu…

Tiba-tiba, aku melihat sebuah menara hitam.

merry christmas

“Nito-sama, itu kan…!”

Sufilia sangat senang. Ini adalah dungeon, mungkin jarang baginya bisa melihatnya. Area di sekitar dungeon cukup ramai, dengan kios-kios berjejer dan beberapa bangunan yang dibangun di sekitar tempat. Sepertinya ini adalah penginapan untuk orang kaya, tapi ini bukan lagi sebuah kota, tapi kota yang berada di tengah gurun.

Di kios-kios, aku bisa melihat apa yang disebut jus dungeon dan roti dungeon. Haruskah aku membelinya dalam perjalanan pulang?

“Karena terus berjalan, aku jadi haus.”

Karena Toa bilang begitu, aku pun membeli jus dungeon untuk 4 orang. Rasanya manis jeruk. Nem tampak enak sekali meminum jusnya. Sepertinya dia kehausan.

“Apa sejak awal memang ada kios yang berjejer di sana-sini?” tanyaku pada pemilik kios.

“Mungkin tidak. Karena ada dungeon, penantang jadi berkumpul, karena penantang berkumpul, kami para pedagang juga berkumpul. Kami membangunnya sesuai dengan adanya mereka, karena inilah saatnya menghasilkan uang untuk pedagang seperti kami.”

“Hei, apa yang akan kita lakukan setelah ini, apa kita akan pergi ke dungeon?”

Aku sudah memikirkannya sebelum Toa bertanya padaku.

“Kalau menurut kalian bagaimana bagusnya? Kita bisa istirahat sehari dan mencobanya besok.”

Aku sih tak terlalu lelah, tapi bagaimana dengan mereka bertiga?

Nem masih kecil meskipun dia seorang Beastman. Sufilia juga pernah dibesarkan di istana yang besar. Dan Toa sepertinya baik-baik saja.

“Terserah Nito saja.”

Sufilia tampak masih enggan. Nem dan Toa sepertinya tak keberatan. Tapi kami harus menantang dungeon dalam kondisi prima.

“Ayo istirahat saja hari ini.”

“Kalau begitu, kita cari penginapan?”

“Iya. Nah, kenapa kita tak melihat-lihat menara hitam itu dulu? Aku ingin melihatnya lebih dekat, setelah itu baru kita cari penginapan.”

Kami pun berjalan menuju menara dengan menggenggam jus di satu tangan kami.

※※※

“Besar sekali…”

“Apa ini dungeon-nya?”

“Begitulah.”

Kekuatannya berbeda jika dilihat dari dekat. Ada beberapa kelompok orang di sekitar dungeon yang kelelahan, dan sepertinya mereka adalah orang-orang yang menantang dungeon ini.

“Aku penasaran ini terbuat dari apa.”

“Apa bahannya, ya?”

Toa tertarik pada sesuatu yang mengangumkan.

Aku menaiki tangga hitam pendek yang merupakan bagian dari menara dan berdiri di depan pintu masuk yang luas. Toa melambai dari bawah tangga. Ada juga pintu masuk di belakangku, dan di dalamnya sangat gelap gulita dan tidak terlihat apa-apa. Sesekali angin sepoi-sepoi bertiup dan aku bisa mendengar suara angin di kejauhan yang sepertinya bergema.

Itu terdengar seperti suara.

“Hei, ayo cepat pergi!”

Aku mendengar suara Toa dan melihat kembali ke bawah tangga. Di sana, aku menemukan dua sosok yang tak asing sedang berjalan dari kios.

Francesca, sang reporter Magic Communication, dan Dolly, sang fotografer. Francesca berteriak saat bergabung dengan ketiganya.

“Lama tak bertemu, wajahmu masih sama saja, ya.”

Sebelum memasuki kota ini, aku memasang ‘topeng’ku untuk berjaga-jaga.

“Aku takut ketahuan.”

“Minta fotomu saja boleh, kan?”

Dolly memegang kameranya.

“3 orang kurang bagus.”

Aku sudah mengatakan sebelumnya bahwa mereka boleh saja mengambil fotoku dengan ‘topeng’. Saat Dolly mengambil foto, Francesca menanyakan tentang apa yang kurasakan saat ini.

“Aku sedikit gugup, tantangannya akan dimulai besok.”

“Begitu ya? Tapi tak masalah, aku akan mewawancaraimu besok.”

Apa yang ingin dia ketahui?

Lalu, Francesca mengambil memo dan penanya.

“Sebenarnya, setelah beberapa saat meninggalkan akademi, aku mendapat informasi kalau kota benteng Artemias diserang oleh kekaisaran, jadi kupikir Trifal mungkin adalah tujuannya.”

Huh? Itu kami yang melakukannya, bukan kekaisaran. Dan Sufilia menatapku sejenak.

“Tubuh raja serta pelayannya, dan banyak pejabat kerajaan juga ditemukan. Dan kematian sang putri juga telah dikonfirmasi.”

Francesca melirik Sufilia. Dan Sufilia menunjukkan senyum biasa di wajahnya. Tapi Francesca mungkin sudah memperhatikannya, dan bertanya-tanya. Kenapa ada seorang putri di sini?

“Seperti yang kubilang sebelumnya, aku tidak bisa menjawabnya.”

“Lalu, apa hobimu?”

“Hobi? … Tidak, tidak ada.”

“…Baiklah. Aku menyerah, biar aku ubah saja pertanyaannya.”

Francesca sepertinya tidak akan menyerah, itu bertentangan dengan kata-katanya barusan.

“Apa Nito anggota kekaisaran?”

“Tidak, tentu saja tidak.”

“Baiklah. Selanjutnya, aku ingin bertanya tentang Nona Sierra.”

“Kenapa Sierra?”

“Sulit mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Rumor mengatakan kalau dia baru keluar dari kediamannya.”

“Benarkah…?”

“Sudah lebih dari seminggu sejak pemakaman Hilda Ecarlat dilaksanakan. Setelah dua serangan kerajaan, sepertinya terjadi perselisihan pendapat antara Ksatria Putih Kerajaan dan Raja.”

“Perselisihan pendapat?”

“Ya, Ksatria Putih Kerajaan ingin balas dendam pada kekaisaran … dengan perang. Namun raja tidak mengizinkannya.”

“Jadi begitu.”

“Master, apa yang akan terjadi pada Suster dan Sierra kalau perang itu terjadi?”

Aku melihat wajah Nem yang gelisah.

“…Aku juga tidak tahu. Tapi perangnya belum dimulai, kan?”

“Aku tidak tahu bagaimana-bagaimananya. Namun, Razhausen adalah negara kecil, dan seharusnya negara itu tak cukup memiliki kekuatan militer untuk menantang kekaisaran.”

“Jadi, apa yang ingin kau dengar tentang Sierra?”

“Ksatria Putih Kerajaan akan diterbitkan dalam sebuah artikel, jadi aku ingin menulis tentang Nona Sierra sebelum diterbitkan nanti.”

“Tak masalah asal isi artikelnya tidak ada hubungannya denganku.”

“Oke, izinkan aku menanyakan beberapa hal…”

Dan wawancara dimulai.

※※※

Setelah beberapa saat, wawancara pun selesai.

“Terima kasih atas cerita berhargamu.”

Saat itulah Francesca membungkuk dan hendak pergi. Entah kenapa aku merasa aneh. Ada sesuatu di belakangku, dan aku berbalik.

“Hmm, apa?”

Ada sosok besar. Seorang pria dengan rambut putih bersih hendak mengayunkan cakarnya yang tajam ke arahku. Aku meraih leher orang itu.

“Ugh!”

“Kenapa tiba-tiba menyerangku?”

Beruang putih, beastmen ya? Aku melemparkannya. Si beruang putih, yang dengan ringan terlempar ke tanah, bangkit berdiri dan mengalihkan pandangannya yang tajam. Dan di arah lain, aku juga merasakan niat membunuh yang sama. Aku mencengkeram lehernya dan melemparkannya dengan cara yang sama seperti sebelumnya.

“Dua beruang putih…”

Dua beastmen itu menatapku.

“Apa kau Nito?”

Di belakang—sebuah suara terdengar di dekat tangga dungeon. Saat kulihat ke belakang, ada satu orang yang duduk di tangga. Seorang pria berambut hitam keriting yang tampak kusut dan tak terawat.

“Petualang dengan para kurcaci wanitanya, tak salah lagi, kau pasti Nito.”

Aku memikirkan kata-katanya, dan aku menatap wajah Francesca. Seharusnya aku mengatakan kalau dia tidak boleh menulis artikel tentang teman-temanku. Tapi Francesca menggelengkan kepalanya. Dengan kata lain, dia tak membuat artikel seperti yang kupikirkan.

“Kenapa kau bisa tahu aku?”

Wajah dan senyum tak kenal takut yang merendahkan orang, jaket dan tindiknya mengkilap, serta rambut hitamnya kusut dan acak-acakan.

“……”

Pria itu diam-diam mengalihkan pandangannya ke dua beruang putih. Segera setelahnya, cakar tajam mendekat ke arahku seolah mereka baru saja diberi semacam sinyal. Dari depan, aku bisa melihat beruang putih itu berdampingan. Aku melangkah ke celah di antara keduanya, menempelkan otot bisep kedua lengan ke wajah kedua beruang tersebut, dan mengaktifkan [God Speed] sekaligus dan memukul mereka.

 

―”Jackson Frederick [Lv: 41]” telah dikalahkan, skill unik “Blessing’s Goddess” diaktifkan. Silakan pilih item jarahan.”

 ―”Samuel Frederick [Lv: 42]” telah dikalahkan, skill unik “Blessing’s Goddess” diaktifkan. Silakan pilih item jarahan.”

 

Ada dua pengumuman di kepalaku. Saat aku berbalik, dua beruang besar itu sudah tergeletak tanpa leher.

“Hahahahaha, ini mahakarya!”

Si pria berambut kusut pun berdiri.

“Dari mana kau punya kekuatan itu, aku bahkan tidak bisa merasakan kekuatan magismu!”

Dia tersenyum meski rekannya sudah mati? Dia gila, ya.

“Jangan berpikir buruk dulu, itu hal pertama yang harus kulakukan.”

“Tak masalah, cara yang bagus untuk menilai kemampuan orang lain.”

Obrolan yang tak berguna.

“Jangan-jangan, kau…”

Francesca berkata dengan nada heran, mungkin dia tahu siapa dia, ekspresinya secara bertahap mulai berubah takut-takut.

“Apa kau kenal orang ini?”

“Tak salah lagi … dia Rage Cots, sang King’s Shield.”

“King’s Shield?”

“Salah satu dari tiga orang yang melindungi kaisar. Dikatakan bahwa ada lusinan anggota sekelas Ksatria Putih Kerajaan di kekaisaran, tapi kaisar sebelumnya mengumumkan pada dunia bahwa ada tiga orang di negara ini yang jauh melampaui Ksatria Putih Kerajaan.”

“Dan mereka adalah King’s Shield itu?”

“Benar. Namun, fakta kekaisaran itu masih jadi misteri hingga saat ini. Itu karena kaisar tidak pernah menunjukkan substansi King’s Shield. Oleh karena itu, masyarakat umum mengatakan bahwa King’s Shield adalah sebuah kebohongan kaisar dengan tujuan untuk memamerkan kekuatannya.”

Dengan kata lain, King’s Shield yang dianggap tidak ada, sekarang terbukti benar dengan kemunculan satu orang ini.

“Heee~, Magical Communication memang hebat ya, kau benar-benar tahu aku rupanya.”

Si pria berambut acak-acakan itu memujinya.

“Kota lembah Pulse Terra—kau dikenal dunia karena satu insiden itu.”

“Hebat juga, kau mengingatnya dengan baik!”

Rage tersenyum lebar.

“Pulse Terra, ya?”

Rage duduk di tempatnya, sedangkan Francesca perlahan sedikit menjauh.

“Kau tak perlu khawatir. Coba katakan lagi tentangku.”

“…Kau mantan penyihir di kota Pulse Terra.”

Rage tersenyum lebar.

“Benar, benar! Oh, aku merindukan hari-hari itu. Seperti namanya, Pulse Terra adalah kota yang dibangun di dalam lembah, namun pada malam hari, pemandangan malamnya sangat indah.”

Dia tersenyum lebar saat menatap langit.

“Pemandangan malam, ya … Kalau begitu, aku juga mau pergi ke sana.”

“Mustahil.”

Rage berkata dengan senyum di wajahnya.

“Karena aku sudah menghancurkan negara itu.”

“Menghancur…kannya?”

Senyum Rage perlahan berubah menjadi senyum yang menakutkan. Saat dia tertawa, sudut mulutnya terangkat, dan matanya kian menyipit. Mata menakutkan yang bisa kulihat dari matanya yang menyipit itu menatapku.

“…Begitu rupanya, pantas saja.”

“Itu menyenangkan, lho. Ngg … Nito, apa kau lihat sosok terakhir yang kau bunuh, orang yang kau pikir adalah temanku?”

“Hobimu buruk juga, ya.”

“Aku tidak tahu apa dia musuh atau sekutu, dan aku bingung saat dia sekarat! Lalu aku sadar kalau dia adalah musuh! Tapi saat aku menyadarinya, aku sudah terlambat, dia sudah mati.”

Apa-apaan, dia gila ya?

“Begitu ya. Dengan kata lain, kau mengkhianati negara itu dan ingin menyerahkan diri pada kekaisaran?”

“Tidak. Sejak awal aku adalah orang kekaisaran.”

“Itu benar.”

Francesca meluruskan kesalahpahamanku.

“Lebih dari 10 tahun yang lalu kaisar mengumumkan keberadaan King’s Shield. Lima tahun lalu, dia menghancurkan Pulse Terra, yang telah menyusup sebagai mata-mata, dan kembali ke kekaisaran. Setelah itu, kaisar mengumumkannya kepada dunia lagi, sebagai bukti bahwa dia adalah seorang pria kekaisaran sejak awal.”

“Ya, buktinya nama asliku adalah Large Darmskail.”

“…Darmskail?”

Itu kata yang terdengar familiar. Saat aku berada di Razhausen, aku pertama kali mendengar kata kekaisaran. Aku tidak mempertanyakannya karena aku tak terlalu tertarik. Tapi sejak saat itu, aku sudah mendengar nama Kekaisaran berkali-kali.

Kekaisaran Darmskail.

Aku mendengar nama itu dari Kalifa. Tapi negara itu hancur ratusan tahun yang lalu, dan sudah tidak ada lagi hingga sekarang. Begitulah kekaisaran disebutkan di zaman modern.

“Kenapa Darmskail masih ada?”

“Nito-sama, nama kekaisaran di zaman ini juga Darmskail,” jawab Sufilia.

Aku sama sekali tak menyadarinya.

“Kau bilang apa tadi? Di zaman ini?”

Rage berdiri dengan enteng.

“Ya … cerita yang bagus. Untuk saat ini, aku tahu kau gila.”

“Haa, aku tidak gila. Maksudku, aku merasa lebih dekat denganmu.”

Rage dengan sengaja menunjukkan sikap menekannya.

“Kenapa kau menargetkanku?”

“Itu bukan sesuatu yang harus kau tanyakan, karena kau mengarahkan pedangmu pada kekaisaran. Aku bicara tentang membunuhmu sebelum terjadi masalah, dan aku yang bebas menentukan di sini.”

“Begitu, tapi kau tidak bisa melakukan itu, kan?”

“Aku tak terlalu yakin. Namun, kekuatan magismu berada di tingkat yang sama dengan Sieg.”

“Aku baru saja datang untuk menantang dungeon.”

“…Begitu ya, merepotkan kau harus terlibat denganku. Kalau begitu, kubunuh saja salah satu temanmu itu biar kau lebih serius.”

Pada saat itu, sosok Rage menghilang. Tapi aku masih bisa melihatnya. Di depan Toa, ada sosok besar. Dia hendak mengayunkan pedang ungunya pada Toa.

“Gwaahhh!”

Aku melangkah di antara Toa dan Rage dan menjatuhkan tangan kanan Rage. Rage memegangi tangan kanannya tempat darahnya menyembur, lalu mengambil jarak. Dari ekspresinya, aku bisa melihat ketakutan yang berbeda dari sebelumnya.

“Teman-teman, kalian mundurlah. Aku sendiri sudah cukup.”

“Yah, keputusan yang bagus, Nito. Mereka tidak bisa melihatku sama sekali.”

“Kau mau mati di sini?”

“Haha, kedengarannya itu bukan seperti lelucon, aku takut.”

“Aku serius.”

Dia mencoba membunuh Toa saat melihatku yang tak termotivasi, ya.

“Kau menjijikkan…”

“Begitulah. Sudah banyak cerita yang kudengar, tapi aku tak berpikir akan sampai di sini. Kurasa akulah yang terkuat, tapi di depanmu…”

Segera setelah ekspresi Rage berubah sepenuhnya, ada sesuatu yang dia takutkan.

“Oh, kau! …Apa-apaan! Mata itu?!”

“…Apa?”

“Jangan mendekat!”

Rage kehilangan keseimbangan dan terjatuh, lalu dia buru-buru bangun dan menjauhkan diri.

“Uhh, ayolah!—[Curse Ball]!

Rage menerbangkan bola ungu, dan masih banyak lagi.

“Mati kau, mati, mati! —《Dark Iron Hammer Devolkers》!”

Bola ungu besar muncul di atas kepala Rage. Bola itu tak memiliki lingkaran sihir dan datang padaku segera setelah bola itu muncul.

“Sungguh hebat, kekaisaran memang cepat—Technique of Destruction [Soul Break]!”

Namun, bola besar itu menghilang sehingga bisa tersedot ke tengah. Rage tampak lebih ketakutan.

“Jangan mendekat!”

“Yah, aku cuma ingin bertanya, apa yang kalian lakukan pada Razhausen? Negara itu damai, seharusnya tidak ada hubungannya dengan orang yang kejam sepertimu, kenapa ingin menyerangnya?”

“Jangan… mendekat!”

“Aku cuma tanya, kan?”

“[Transfer Transmeta]!”

“Apa?”

Kakinya bersinar, dan pada saat itu, Rage menghilang dari tempat kejadian.

“Eh…”

Itu terlalu tiba-tiba. Rage melarikan diri, meninggalkan mayat beruang putih.

※※※

Setelah kami berpisah dengan Francesca, kami berjalan-jalan di sekitar kota untuk mencari penginapan.

“Itu kekuatan sihir yang luar biasa.”

Aku tak yakin, tapi dari sudut pandang Toa, Rage adalah penyihir yang kuat. Nem meringkuk seram. Sedangkan Sufilia terlihat tenang seperti biasanya.

“Sepertinya hanya skill sihirnya saja yang bagus, tapi … sulit untuk kabur. Akan merepotkan baginya kalau diserang lagi.”

Aku melihat Toa berhenti di depan tenda putih. Ada tulisan “klinik” di atapnya, dan Toa menatap ke dalam dengan tampak sedih.

“Toa, ada apa?”

Karena penasaran, aku menghampiri Toa dan melihat ke dalam tenda.

“Ini…”

Apa yang kulihat adalah sejumlah tempat tidur dan pasien dengan perban di sekujur tubuh mereka. Toa menutup mulutnya dengan tangannya dan terkejut melihat pemandangan itu.

“Apa kalian juga seorang penantang?”

Seorang pria bertubuh besar keluar dari tenda.

“…Iya.”

“Kalau begitu perhatikan mereka baik-baik.”

“Apa yang terjadi pada orang-orang ini?”

“Kau akan tahu kalau kalau kau melihatnya. Mereka ini si bodoh pemimpi.”

Tenda itu penuh dengan erangan. Jadi mereka si bodoh pemimpi … Inikah nasib dari penantang dungeon?

“Sampai beberapa hari yang lalu, semua orang setenang kau. Tapi sekarang keadaannya jadi seperti ini. Tapi orang-orang ini masih beruntung. Sejak dungeon muncul hingga saat ini, hampir seribu orang yang telah menantangnya. Tapi kebanyakan dari mereka belum kembali.”

“Eh, berarti cuma orang-orang ini yang kembali?!”

“Benar. Itulah dungeon. Semua orang menantangnya dengan mengatakan hal yang sama seperti meremehkan. Tapi di suatu tempat di dalam hati mereka, mereka sudah gagal. Mungkin aku juga begitu, yang berpikir aku bisa melakukannya sejak awal. Hanya saat semua orang mencobanya, akhirnya menyadari kalau itu adalah kebodohan mereka sendiri.”

Dungeon menunjukkan mimpi bagi mereka yang mencarinya, tapi publik mempermainkannya.

“Aku seharusnya lebih memikirkan kenapa tidak ada penangkap selama ratusan tahun… Kau juga harus berpikir dua kali. Apa pilihanmu memang sudah tepat? Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi karena kau sendiri yang akan menanggung resikonya…”

Setelah berkata demikian, pria itu kembali ke tenda. Mungkin dia datang untuk menghentikan tantangan kami. Dia sendiri adalah seorang penantang, seperti yang kulihat dari bahu kanannya. Hanya perban berdarah, yang tak memiliki lengan.

“Toa…”

Toa melihat ke bawah dan gemetar. Sulit baginya melihat pemandangan ini. Mungkin Toa tidak bisa melakukannya.

“Aku akan pergi…”

“…Toa, kau tak perlu berlebihan, aku akan baik-baik saja.”

“Ya, tidak apa-apa, aku akan pergi. Aku sudah sejauh ini, aku bersamamu untuk ini.”

“Kesannya aku seperti membawamu dengan paksa.”

“Tidak, Nito-sama, bukan itu masalahnya.”

“Sufilia…”

“Aku di sisimu juga berharap. Aku masih belum berubah pikiran.”

“Nem, Nem akan ikut tuanku.”

“Nem…”

Aku tak bisa menjawab mereka dengan baik. Tapi ini mungkin kesempatan yang bagus. Aku sedang memikirkannya, mungkin aku sudah memahami arti dari menantang dungeon. Dengan kata lain, memberikan kehidupan pada petualangan.

“Oke, kalau begitu aku tidak akan bertanya lagi pada kalian. Ayo kita ke dungeon.”

※※※

Hari berikutnya. Kami kembali ke depan dungeon. Ada sosok Francesca di sana.

“Tuan Nito, apa kau akan menantangnya?”

“Iya.”

“Bisa beri tahu kami bagaimana perasaanmu saat ini?”

“…Aku sangat antusias.”

Francesca menatap wajah kami masing-masing. Dan dia tak menanyakan apa-apa lagi setelah menatap kami.

“Kalau begitu, kami menunggu penangkapannya.”

Setelah wawancara, kami berempat naik tangga, berdiri di depan pintu masuk dan saling berpandangan satu sama lain.

“Oke, kita masuk…?”

Seorang pria yang menahan seorang wanita keluar dari dungeon. Dia mengenakan lapisan baju besi yang besar, seperti seorang ksatria. Si wanita banyak mengeluarkan darah. Saat kami mencoba untuk melewatinya,

“Tunggu—”

“…Ya?”

“Kau mau memasuki dungeon?”

“Ah, iya benar.”

“Lebih baik hentikan. Ini bukan buat coba-coba.”

Pria itu mengamati wajah kami berempat,

“Tiga wanita dan satu pria … ini kuburan.”

“Untuk yang kalah mungkin memang benar, tapi tak masalah bagi kami.”

“Kau harus dengarkan nasihatku. Orang yang menggampangkan sepertimu akan mati lebih dulu. Apa kau mau membunuh mereka juga?”

Nem mengancam, “Kalau kau mau mengejek tuanku lagi, akan kurobek kau!”

Lalu kata Sufilia, “Aku tidak tahu siapa dirimu, tapi kenapa kau tak mengkhawatirkan dirimu dulu? Ini adalah Nito, seorang petualang Rank S.”

“Jadi kau Nito yang itu?!”

“Ayo pergi,” kata Toa dengan wajah murung.

“Benar, sebelum kesiangan.”

“Tunggu sebentar.”

“Maaf, tapi nanti saja. Kenapa kau tak mengurus wanita itu dulu?”

“Namaku Leonardo! Aku ksatria Darms Ardan. Sampai jumpa lagi, Nito-dono.”

“Ya, baiklah.”

Saat mengetahui bahwa aku adalah Nito, tiba-tiba dia memanggilku dengan baik.

Kami pun memasuki dungeon.

“Apa ini?”

Saat kami melangkah masuk, pemandangan di sekitar kami berubah total.

“Eh, ini…” Toa kebingungan.

“Begitu ya… ini tempat aneh yang belum pernah kulihat sebelumnya.” Sufilia dengan tenang menganalisis. “Apa ini dungeon?”

Nem memiringkan kepalanya. “Ini……”

Matahari terbenam yang menusuk. Angin hangat dan suara burung gagak. Ini malam sekilas yang paling kubenci. Gerbang sekolah, gimnasium, tanah, dan gedung sekolah. Semuanya tampak akrab.

“—Ini sekolah.”

Ini adalah tempat di mana aku menghabiskan waktu yang tidak berarti…

Ini adalah gedung SMA-ku.

Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: E~to, onii-sama, jangan di-copy ya !!

Options

not work with dark mode
Reset