Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 18

Vol 2 - Yang Terlupakan

Guinevere sepertinya menyembunyikan jati dirinya yang adalah seorang putri. Setiap kali dia diberondong pertanyaan, dia terus tertawa. Namun, Kagetra tertarik dengan karakter dan kecantikannya, yang terkadang dengan berani berbicara dan menunjukkan sikap malu-malunya.

“Kenapa sang putri datang ke sini?”

Wajah yang bersinar setelah mandi tak lagi terlihat seperti seorang petualang.

“Putri? Tidak apa-apa, panggil saja Guinevere. Sekilas, aku tahu kalau kalian adalah Dragon Heart itu. Jadi kupikir aku ingin menyapa kalian sebagai seorang putri…”

“Oh, begitu? Aku Kagetra, Dragon Heart.”

dukung klik iklan

Untuk pertama kalinya Kagetra meminta jabat tangan layaknya seorang pria terhormat.

Zephyr dan Shaon menyeringai dan mulai berbisik diam-diam.

“Aku tahu, Kagetra-sama. Aku juga tahu tentang kalian…”

“Guinevere sepertinya tahu banyak tentang patung itu.”

“Ya, tentu saja. Itu patung Adams.”

Meskipun telah diperingatkan oleh Kalifa, Zephyr dan Shaon tak bisa berpaling dari sosok Kagetra yang malu-malu.

“Ada apa, Adolph?”

Di sisi lain, Adolph tampak berbeda.

“Tidak, bukan apa-apa.”

Matanya yang menatap Guinevere tampak dingin. Hanya Kalifa yang memperhatikannya, tapi Adolph sering termenung saat terlibat dalam percakapan sepele.

Pada hari ini, Kagetra jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

xxx

Beberapa minggu telah berlalu dan kelimanya belum meninggalkan Godland. Itu karena Kagetra. Kagetra sedang mempersiapkan dirinya untuk memblokir perang sementara waktu. Dia berusaha menjadi kuat. Tentu saja, resolusi itu bukanlah palsu.

Namun, meskipun bukan palsu, itu hampir seperti sebuah insiden. Kagetra, yang mencoba membangun kembali Biyomento, terkadang melihat ke suatu tempat yang jauh. Dia mungkin telah mengembara ke tempat yang paling gelap di antara mereka berlima. Kagetra tampak sangat bahagia saat itu.

“Aku akhirnya berpacaran dengannya.”

Suatu hari, Kagetra membawa Guinevere dan mengaku pada mereka berempat. Pipi mereka berdua tampak bersemu merah.

“Baguslah!”

Zephyr tersenyum.

“Jadi musim semi telah mendatangi Kagetra, ya?”

Shaon sangat senang dan tampak ingin menangis.

“Sepertinya begitu.”

Kalifa menyeringai.

“Adolph, ayo katakan sesuatu juga.”

Mendengar kata-kata Zephyr, Adolph meletakkan gelas anggurnya.

“Ya. Aku ikut senang. Selamat.”

Dia tersenyum dan meminum seteguk anggur.

Tapi ini cinta terlarang.

Tak peduli seberapa heroiknya dia, seorang petualang tidak diperbolehkan menyentuh putri dari satu negara. Kagetra memberi tahu teman-temannya agar hubungannya dengan Guinevere tidak diketahui oleh negara.

Tapi ada masalah lain. Mereka berlima adalah petualang, mereka tidak bisa tinggal di negara ini selamanya.

Dan hari perpisahan pun tiba.

“Tunggu, Kagetra-sama, tolong bawa aku juga!”

Duka Guinevere bergema di kamar penginapan.

“Kau seorang putri, aku tidak bisa membawamu.”

“Jadi apa yang harus aku lakukan dan kapan aku bisa bertemu denganmu lagi?”

Zhephyr melirik Kagetra yang terdiam.

“Sebenarnya, aku berpikir untuk kembali ke Biyomento kali ini. Kalau kau sudah menyeberangi laut, kau mungkin tidak bisa kembali ke benua ini lagi. Jadi sampai jumpa di Biyomento enam bulan lagi. Yang harus kau lakukan adalah memutuskan apa yang harus kau lakukan saat itu. Kagetra… kau mengerti apa maksudku, kan?”

Zephyr menyuruhnya menculik sang putri. Kagetra mengerti, dan dia tampak serius.

“Aku mengerti. Teman-teman, kita akan bertemu lagi di Biyomento.”

“Kalau begitu, ayo semuanya. Kita kembali ke Biyomento.”

“Aku akan tetap tinggal di sini,” kata Adolph.

“Eh, Adolph, memangnya masih ada yang harus kau lakukan?”

“Ya, sebenarnya aku meminta pandai besi untuk membuat senjata, dan itu akan segera selesai.”

”Apa ini, kalau begitu kita tunggu saja sampai selesai? Kita tidak harus kembali hari ini.”

“Tidak apa-apa. Saat aku sudah menerima senjatanya, aku akan pergi ke Rouge Gerd nanti.”

”Hmm, begitu ya? Baiklah, kalau begitu kami kembali dulu. Setelah kau selesai dengan urusanmu, cepat kembali ke Biyomento, ya.”

“Ya, baiklah.”

Adolph juga akan tetap berada di sini.

“Kalau begitu, kalian berdua, tidak, kalian bertiga. Sampai jumpa lagi.”

Kalifa meninggalkan ruangan lebih dulu.

“Sampai ketemu lagi, temanku.”

Shaon juga meninggalkan ruangan.

“Sampai jumpa, kalian bertiga. Cepatlah kembali ke Biyomento.”

Akhirnya, Zephyr pergi, dan itu adalah perpisahan pertama mereka.

xxx

Sebulan telah berlalu sejak ketiganya meninggalkan Godland. Di sebuah bukit kecil di dekat Biyomento, terlihat dua orang yang sedang bersama, Zephyr dan Kalifa.

“Aku rindu tempat ini.”

“Yah, aku juga.”

Saat mereka masih kecil, bukit itu adalah markas rahasia untuk mereka berempat, dan melihat ke bawah kota Biyomento dari sini, mereka merasa bahwa kini mereka telah tumbuh dewasa.

“Ada begitu banyak hal yang terjadi, tapi aku senang bisa membangunnya kembali.”

Perasaan mereka menjadi campur aduk. Tidak ada lagi kota abadi, sekarang yang ada hanyalah empat superhuman. Biyomento adalah kota tempat pengungsi yang dibangun kembali, tidak ada lagi sisa-sisa dari masa lalu.

“Kau benar, banyak hal yang telah terjadi…”

Hampir 15 tahun telah berlalu sejak mereka berempat diusir oleh keluarga mereka dan meninggalkan kota. Shaon bergabung dan menjadi anggota yang kelima, dan sekarang tidak ada yang mengenal mereka. Pengejar mimpi yang hanya ingin menjadi petualang rank S kini telah menjadi pahlawan.

“Kalifa, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”

“Denganku…?”

Kalifa tersipu malu. Namun, segera setelahnya, dia mendengar suara dari suatu tempat yang memanggil nama Zephyr.

Waktu untuk mereka berdua telah berakhir.

“Hmm, ini suara Shaon, kan?”

“…Iya, ini suara Shaon. Kenapa dia berteriak?”

Mereka menuruni bukit dan menemui Shaon, yang kini tampak pucat.

“Shaon. Ada apa, kenapa terburu-buru begitu?”

Napas Shaon terengah-engah. Sambil menahan napas, dia memberi tahu Zephyr bahwa telah terjadi sesuatu.

“…Apa? Kau bilang apa barusan?”

Dia pikir dia hanya salah dengar.

“—Kagetra terbunuh.”

Shaon berkata lagi.

Mereka terkejut dengan pengakuan Shaon. Setelah beberapa saat hening, muncul senyuman yang menyiratkan rasa tak percayanya. Ada raut kesedihan di wajah Zephyr dan hatinya terasa kacau. Ada majalah informasi bernama Banome Communication di tangan kanan Shaon. Zephyr, yang telah membaca artikel tersebut, melihat sebuah tulisan; “Eksekusi Pahlawan Kagetra!”

“Apa……”

Zephyr terlambat memahami dan kehilangan kata-kata.

“Kagetra dibunuh dalam upaya untuk menculik putri para dewa. Raja membunuh Kagetra, menyalibkannya, dan mengeksposnya di alun-alun.”

Majalah informasi di tangan Zephyr berantakan, dan ekspresinya berangsur-angsur berubah menjadi kemarahan yang begitu hebat.

Segera setelah ia menggertakkan giginya, bumi pun bergema. Tanah bergetar dan burung-burung di hutan terbang menjauh. Kakinya cukup gemetar untuk melangkah. Udara pun terasa begitu berat dan tegang.

“Zephyr, tenanglah!”

Ucapan Shaon secara bertahap berhasil meredakan guncangannya. Menekan kemarahannya, Zephyr perlahan membuka mulutnya.

“Shaon, kita akan pergi ke Godland.”

Dua mata merah bersinar menatap Shaon.

“Ya, aku akan melakukannya.”

“Zephyr?

Kalifa menatapnya dengan gelisah.

“Kalifa, kau tetap di sini.”

“Eh?”

“Lakukan saja. Aku punya firasat buruk tentang sesuatu.”

Zephyr berkata dengan suara pedih.

xxx

Mereka berdua berdiri di pintu masuk kota.

“Bagaimanapun juga, aku akan ikut denganmu!”

Zephyr melakukan perpisahan dengan Kalifa.

“Tidak. Kau tetaplah di sini.”

Zephyr menolak untuk ditemani, tapi Kalifa tidak yakin.

“Dia tak semudah itu bisa dibunuh.”

“Ya, aku juga berpikir tidak ada orang di negara itu yang bisa membunuh Kagetra. Tapi kalau memang benar begitu, maka…”

“Ada pengkhianat di belakangnya…”

“Benar. Kalifa, sekarang kau mengerti, kan?”

Zephyr menjelaskan mengapa dia tidak bisa didampingi.

“Tapi Adolph belum kembali.”

“Saat dia kembali, beri tahu dia kalau kami pergi ke Godland.”

“Tapi dia mungkin tahu tentang situasi ini dan sedang dalam perjalanan, sama seperti kita.”

“Kalau begitu aku bisa membantumu juga!”

Kalifa memiliki firasat buruk.

“Kalifa, aku…”

Tapi itu juga demi Zephyr.

“…Apa yang mau kau katakan?”

“…”

“Kau bilang ada sesuatu yang ingin kau katakan, kalau begitu katakan sekarang.”

Suaranya terdengar gemetar.

“Aku pasti akan mengatakannya saat aku sampai di rumah. Aku akan segera kembali…”

Nada suara Zephyr seolah adalah kebalikan dari kata-katanya. Seolah dia tahu dia tidak akan bisa kembali.

“Aku mengerti. Aku … akan menunggu semua orang kembali ke sini.”

Kalifa berkata sambil tersenyum.

“Maafkan aku…”

“Aku … akan menunggu di bukit itu.”

Kalifa tersenyum sambil menyeka wajahnya yang basah oleh air mata.

Zephyr merasa hatinya terkoyak. Tapi, keputusan yang terbaik adalah dengan tidak mengajak Kalifa bersamanya.

Kemampuan Kagetra adalah yang teratas di antara mereka berlima. Fakta bahwa Kagetra telah terbunuh berarti masih ada empat orang yang tersisa. Maka, mereka hanya menunggu giliran atas nasib mereka.

Kalifa menunggangi kudanya. Dia tertunduk dan tersenyum. Zhephyr yang tak bisa menatapnya, akhirnya mengatakan sesuatu.

“Ada di laci ketiga … simpan sampai aku kembali.”

“Eh?”

“Saat aku kembali, aku akan mengatakannya padamu. Jadi tunggu aku, kami pasti akan kembali.”

Di akhir kata-katanya, Zephyr bergegas berlari bersama Shaon.

Dan,

Yang tersisa hanyalah, Kalifa—

“…Eh?”

Dia menyeka air matanya.

“Aku … kenapa aku menangis? … Kenapa aku ada di tempat ini?”

Kalifa kehilangan ingatannya. Kota abadi, petualangan, Dragon Heart, semuanya hingga sekarang, dia telah lupa.

Dengan memiringkan kepalanya dan merasa aneh, Kalifa berjalan menuju kota―

xxx

Dahulu kala, ada lima petualang yang disebut Dragon Heart. Mereka banyak menghadapi petualangan dan kesulitan serta membawa keajaiban dan kedamaian ke dunia ini.

Mereka disebut pahlawan.

Mereka menginginkan perdamaian di dunia ini lebih dari siapa pun. Tapi tidak ada yang tahu lagi tentang mereka.

Dragon Heart, apakah kelima petualang itu benar-benar ada? Tidak ada yang tahu tentang petualangan dan keinginan mereka lagi. Nama mereka berlima menghilang secara tak wajar dari dunia ini.

Namun, faktanya tidak akan pernah hilang. Mereka akan tetap ada di setiap hati selamanya, selama ada orang yang tidak melupakan mereka.

Dan dia salah satunya.

Dia masih menunggu. Mempercayai kata-katanya bahwa dia akan kembali, ke kota abadi ini – di Biyomento. Dia masih menunggu seseorang kembali di bukit itu.

Yang terlupakan—


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset