Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 16

Vol 2 Chapter 16 - Harapan Revenge God

Setelah pertempuran yang panjang, perang pun berakhir dan kekaisaran telah hancur. Tentara Liberal telah mengalahkan Kekaisaran. Itulah hasil yang mereka inginkan, namun yang tersisa setelahnya hanyalah kesedihan. Semua orang kehilangan keluarga, kekasih, dan sahabat mereka yang berharga. Meninggalkan bekas luka di berbagai tempat, dan kerusakan pada kota dan desa yang tak terkait. Tak terkecuali Biyomento.

Ketika mereka berlima tiba di Biyomento, tidak ada lagi kampung halaman yang mereka berempat kenali. Zephyr, Kagetra, Adolph, dan Kalifa. Mereka tak dapat berkata-kata setelah melihat kampung halaman mereka yang telah berubah. Rumah-rumah hangus terbakar, puing-puing bangunan yang runtuh, dan mayat-mayat yang hangus.

merry christmas

Kalifa jatuh berlutut. Adolph juga sama.

“Ibu……”

Zephyr dan Kagetra menunduk. Shaon juga tak bisa berkata-kata. Mereka berempat tidak bisa berdiri untuk sementara waktu.

Kemudian seorang ksatria muncul dari dalam kota. Zephyr segera berlari ke arahnya setelah dia melihat sosoknya.

“Ngg, maafkan aku!”

“Apa yang terjadi pada mereka?!”

Mengikuti Zephyr, empat yang lainnya bergegas bergabung dan menjelaskan bahwa mereka berasal dari kota ini.

“Kota ini…”

Ksatria itu menggantung kata-katanya.

“Apa yang terjadi dengan kota?”

Kalifa mengajukan pertanyaan.

“Kekurangan makanan semakin parah di kalangan tentara, mereka menyerang setiap kota dan desa di lingkungan ini.”

Wajah mereka berempat menegang. Mereka yakin, makanan bukanlah satu-satunya penyebabnya.

“Tenang saja, penduduk kota telah dievakuasi ke tempat penampungan terdekat sebelum penyerangan itu terjadi. Semua orang ada di sana.”

Mendengar kata-kata ksatria, mereka berempat mengusap dada dan merasa lega. Mereka ingin menemui keluarga mereka sekarang.

Mereka berlima menuju ke tempat penampungan. Tapi apa yang ada di sana adalah pemandangan tragis yang merobek hati empat orang itu.

“Apa yang……”

Adolph jatuh pingsan di tempat.

Tempat penampungan, seperti Biyomento, hangus terbakar dan menjadi kuburan. Ada banyak mayat yang tergeletak di samping kerangka tenda yang jatuh.

Orang pertama yang mereka temukan adalah orang tua Adolph. Adolph hampir tak bisa menjaga kesadarannya, lalu dia menangis dan pingsan.

Kalifa dengan lembut memanggil ayah dan ibunya yang sudah dingin. Air mata membasahi pipinya, dan air mata itu juga turut jatuh di pipi ibunya.

Zephyr dan Kagetra diam-diam menutupi tubuh orang tua mereka dengan kain dan membawanya ke kereta tanpa mengatakan apa-apa. Ekspresinya berbahaya, seolah bisa meledak kapan saja. Saat mereka membawa Adolph yang pingsan ke dalam gerbong kereta, jasad orang tuanya juga dimasukkan ke dalam gerbong. Dan mereka dengan lembut merangkul bahu Kalifa yang menangis saat mereka akan pergi dari tempat itu.

“Kenapa… kenapa……”

Mereka tak bisa menjawab apa pun atas pertanyaan Kalifa karena mereka juga memiliki perasaan yang sama.

Setelah itu, mereka berempat melakukan perjalanan bolak-balik antara tempat penampungan dan Biyomento, membawa semua jenazah anggota keluarga mereka ke Biyomento. Awal rekonstruksi adalah pembangunan pemakaman dimana setiap jenazah dimakamkan dan penanda makam didirikan.

xxx

“Apa ini salah… kita…?”

Kalifa bergumam di depan kuburan yang tak terhitung jumlahnya. Karena Zephyr tidak bisa menjawabnya, jadi dia hanya memeluk Kalifa.

Apakah benar bagi mereka untuk pergi bertualang?

Ia berpikir itu adalah kesalahan mereka. Mereka seharusnya segera kembali. Mereka seharusnya tidak berpartisipasi dalam perang itu.

“Kita tidak tahu, aku juga tidak tahu ini akan terjadi…”

Kata-kata Zephyr seperti menyiratkan sesuatu, seolah dia berkata pada dirinya sendiri.

“Alasannya adalah… kita meninggalkan semua orang…”

Kalifa menanggapi ucapan Kagetra. “Ya, kita hanya memikirkan diri kita sendiri. Aku tak pernah mengira kampung halaman kita akan diserang. Tapi, setelah dipikir-pikir, ini memang seperti perang waktu itu. Tapi kita hanya bisa melihat apa yang ada di depan kita … kita cuma memprioritaskan petualangan kita saja…”

“Petualangan? … Ya, mungkin benar begitu.”

Bagi mereka, perang itu mudah, dan itu hanya perpanjangan dari petualangan. Tak peduli seberapa banyak mereka menempatkan diri mereka dalam bahaya, mereka tak perlu khawatir karena telah mempertaruhkan nyawa mereka. Mereka berempat berpikir bahwa mereka tidak memperhatikan situasi di Biyomento, yang merupakan tempat berharga, tempat dimana mereka mendapatkan kekuatan untuk petualangan mereka selama ini.

“Kita mengabaikan hal yang paling penting, kita meninggalkan semua orang yang seharusnya bisa selamat,” kata Kagetra.

“Kagetra, bukan itu masalahnya. Ini sama sekali tidak membantu.”

“Itulah faktanya!”

Kagetra dengan tegas menyangkal kata-kata Zephyr, dan suaranya menggema di kota yang hangus itu.

“Kakak, kita seharusnya punya cukup kekuatan untuk menyelamatkan mereka, ini adalah hasil dari kesombongan kita. Kita meninggalkan mereka semua!”

Zephyr tidak membalasnya. Dia harus mengakui bahwa mereka memang memiliki kesombongan.

“Ya, mungkin kau benar,” kata Kalifa.

“Tapi, kita harus mengubahnya mulai sekarang. Ah tidak, cuma itu yang bisa kita lakukan.”

Ucapan Kagetra bertentangan dengan apa yang dia katakan sesaat sebelumnya, dan dia mencoba menguatkan diri. Namun, mungkin itulah batasannya, air mata mengalir di pipinya. Dia tak pernah berbicara lembut dan tak pernah menunjukkan sisi kelemahan dirinya selama ini. Dan inilah air mata yang dia tunjukkan untuk pertama kalinya.

Empat orang yang lainnya juga sangat sedih.

“Kagetra…?”

Kalifa mengulurkan tangannya. Tapi dia tidak tahu bagaimana dia harus bicara dengannya. Yang terpenting, dia tidak bisa mengabaikan situasi di mana mereka cenderung hancur oleh kesedihan.

“Kagetra, tidak apa-apa kalau kau ingin menangisi hari ini. Menangislah.”

Hanya Shaon yang mengucapkan kata-kata yang dia inginkan. Lalu Kagetra menyeka air matanya.

“…Aku tidak ingin melihat perang lagi, aku tidak ingin melihat orang-orang yang penting bagiku mati. Aku tidak ingin lagi ada yang mati, siapa pun orangnya.”

Zephyr dan Khalifa menangis mendengar kata-kata itu.

“Aku akan balas dendam pada dunia ini, balas dendam atas perang!”

Tidak ada amarah dalam kata-kata Kagetra, yang ada hanyalah kesedihan.

Keempatnya memahami arti kata “balas dendam” yang diucapkan Kagetra. Yaitu menjaga perdamaian tanpa menyebabkan perang. Dia bersumpah bahwa negara seperti Kekaisaran tidak boleh dibangun lagi. Balas dendam adalah resolusi Kagetra. Namun, itu bertentangan dengan kata “Aku tidak ingin ada yang mati.” Itulah mengapa dia bersiap. Bersiap untuk membawa segalanya, bersiap untuk membawa pengorbanan.

“Revenge God! Benar, Shaon, aku akan memberitahu dunia tentang nama ini!”

Air mata kembali mengalir dari mata Kagetra. Bahunya bergetar karena isak tangisnya.

“Dunia membutuhkan pencegahan, kita akan menjadi Dewa…”

Mereka tidak bisa mengatakan bahwa Kagetra sedang tidak stabil. Dia pasti sudah cukup putus asa. Kagetra tidak tahan dengan fakta di depannya. Kesiapsiagaan, balas dendam, pencegahan, Dewa, hanya kata-kata itu yang terucap. Namun, tidak ada yang bisa tetap tenang di sini.

“Kagetra…” Shaon menatap punggung Kagetra.

“Aku tidak akan ragu untuk mengarahkan pedangku pada mereka yang mengedipkan bayangan perang. Oleh karena itu, jumlah korban akan terus meningkat di masa mendatang. Tapi ini diperlukan. Membalas dendam pada dunia yang telah menciptakan perang … Aku tidak akan ragu.”

Itulah yang dikatakan Kagetra pada akhirnya. Tidak ada seorang pun yang menyangkalnya.

Adolph juga tidak mengatakan apa-apa selama itu. Dari tempat yang agak jauh dari keempat orang itu, dia menatap punggung mereka berempat dengan tatapan yang sangat mendung.

xxx

Mari kita bangun kembali kota ini— itulah yang awalnya Kagetra katakan.

Shaon mengatakan padanya, “Aku akan membantumu sebisaku,” dan tiga yang lainnya juga setuju.

Biyomento adalah kota superhuman. Karena itulah kota ini disebut kota abadi. Namun tidak ada lagi keabadian. Tetap saja, mereka berjanji untuk membangun kembali visi tersebut. Mereka berharap keluarga mereka akan kembali ke kota ini suatu hari nanti—.

Setelah lima tahun, Biyomento mendapatkan kembali visinya. Kehidupan baru lahir di sana, dan para pelancong serta petualang pun datang berkunjung. Namun, tidak ada lagi keabadian seperti di masa lalu.

“Ini cukup bagus…” kata Kagetra.

5 orang itu melihat kota dari luar gerbang.

“Ya, ini bagus … sangat bagus. Selama ada kota di sini, keluarga akan kembali lagi. Dan mereka bisa terhubung selamanya.”

Zephyr sedang melihat masa depan yang sama dengan Kagetra.

“Kota abadi ada di hati kita…”

Adolph membutuhkan waktu lima tahun untuk mendapatkan kembali kestabilannya. Dia dengan lembut menatap kota itu, menatap kota yang dulunya abadi yang tampaknya tumpang tindih di sana, kemudian tersenyum.

“Apa yang akan kita lakukan sekarang, mengakhiri perjalanan kita?”

“Tidak…”

Kagetra menjawab pertanyaan Shaon.

“Sebenarnya, aku berpikir untuk melakukan perjalanan lagi. Kudengar dungeon telah muncul tiga hari yang lalu.”

Shaon-lah yang memberitahunya, dan dia menunggu Kagetra mengatakannya.

Kalifa tampak terkejut. “Dungeon, dungeon yang itu?!”

“Benar, labirin yang memakan para petualang. Shaon dan aku akan segera menantang labirin. Aku yakin kalian semua akan sedih karena kami akan mengakhiri perjalanan kami di sini.”

Secara bertahap, Zephyr, Kagetra, dan Adolph mendapatkan kembali perasaan mereka sebagai mantan petualang.

“Kagetra, aku juga akan pergi,” kata Adolph. “Aku ingin meyakinkan ayah dan ibuku yang mengantar kepergianku di hari itu. Bahwa aku baik-baik saja.”

“Baiklah.”

“Aku juga ikut,” kata Kalifa. “Apa yang orang pikirkan saat mereka melihat kita berhenti di sini? … Mungkin mereka akan menertawakan kita atas apa yang kita lakukan.”

“Kau tak perlu khawatir soal itu,” kata Zephyr. “Mari kita pergi ke dungeon.”

Kelimanya saling memandang dan tersenyum. Namun, Kalifa merasa agak aneh. Tentang Adolph. Dia yang paling tenggelam dalam kesedihan dalam beberapa tahun terakhir, tapi sekarang wajahnya tampak jernih dan ceria. Itu agak menyeramkan. Namun, Kalifa tak begitu memikirkannya dan merayakan rekonstruksi kota ini.

“Ngomong-ngomong, sepertinya dungeon sering muncul dalam beberapa tahun terakhir. Aku dengar dari seorang petualang yang lewat, dungeon itu muncul tepat tiga tahun yang lalu.”

“Benarkah?”

Zephyr tampak tertarik.

“Ya. Tapi beberapa bulan kemudian, dungeon itu menghilang dan sepertinya tidak ada yang menangkapnya.”

“Hmm…”

“Jadi kali ini, itu akan jadi penangkapan pertama kita.”

Kagetra jadi sangat antusias.

“Kita—”

Mereka kehilangan kampung halaman dan keluarga mereka dalam perang, juga tenggelam ke dalam jurang keputusasaan. Namun mereka tak tersesat dan mulai berjalan lagi menuju jalan yang mereka yakini.

Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: E~to, onii-sama, jangan di-copy ya !!

Options

not work with dark mode
Reset