Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 14

Vol 2 Chapter 14 - Empat Petualang

“Apa kita akan pergi? Sejujurnya, aku masih khawatir…”

“Kau harus ikut! Tak masalah kalau kita ikut dengan Zephyr. Itu pasti akan lebih menyenangkan.”

merry christmas

“Aku sedikit takut, para petualang bukan hanya membunuh monster, tapi membunuh banyak hal lainnya juga, kan? Kurasa begitu…”

“Adolf, kau terlalu banyak berpikir. Kau harus lebih kuat, seperti Kagetra.”

Ada seorang pemuda berambut hijau tua bernama Adolf. Dia selalu tampak cemas sepanjang waktu.

“Hei, kalian berdua, ayo berangkat!”

Tampak seorang pemuda berambut hitam melambai pada keduanya, dialah Kagetra. Di sampingnya adalah Zephyr, yang menunggu mereka dengan tangan terlipat di depan dada.

“Lihat, Kagetra sudah memanggil. Ayo, ini kali terakhir kita.”

“Kalifa, saat latihannya selesai, bisa kita bicara sebentar?”

“Soal apa?”

“Aku tidak bisa mengatakannya sekarang, jadi nanti saja.”

“Kalian berdua ayo cepat, matahari akan terbenam!”

Mendengar suara Zephyr, Adolf meraih tangan Kalifa dan berlari dengan sedikit kegembiraan.

Keesokan harinya, mereka berempat memutuskan untuk meninggalkan Biyomento. Mereka memulai perjalanan  mereka sebagai petualang.

“Hati-hati, ya.”

“Ibu…”

Orang tua Zephyr dan Kagetra mengucapkan salam perpisahan, dan ibu mereka menangis.

“Ibu percayakan Kagetra padamu.”

“Kami akan baik-baik saja, Ibu. Lagi pula Kagetra juga lebih kuat dariku.”

“Baiklah. Dan kau Kagetra, selalu andalkanlah kakakmu.”

“Serahkan padaku.”

Kagetra tersenyum.

Kalifa dan Adolf juga mengucapkan selamat tinggal. Adolflah yang paling bersedih.

“Sampai jumpa lagi. Tapi kalau menurutmu itu tidak cocok, cepatlah kembali.”

“Iya…”

Di depan ibunya, Adolf mengusap wajahnya yang penuh air mata. Namun, ketika dia mendengar panggilan Kagetra, dia tersenyum dan mengucapkan selamat tinggal pada sang ibu.

“Hei Adolf, kemarin kau bilang mau membicarakan sesuatu denganku, kan?”

“Huh?”

Kalifa bertanya pada Adolf saat dia naik ke gerbong kereta. Adolf menunduk, lalu mengangkat wajahnya dengan sebuah senyuman.

“Tidak apa-apa, itu bukan masalah besar.”

“Benar begitu?”

Sembari mengucapkan salam perpisahan dengan kampung halaman mereka, mereka berempat tampak sangat senang dengan petualangan yang akan segera mereka mulai.

“Ayo pergi ke Mira dulu,” kata Kagetra.

“Ngomong-ngomong, di sana ada guild petualang, kan?” tanya Kalifa.

“Benar. Tujuan kita adalah menjadi petualang rank S, mari kita jadi petualang teratas di sana!”

Pada hari ini, empat petualang meninggalkan kota abadi—Biyomento.

xxx

Sudah sebulan dan beberapa hari sejak mereka mulai tinggal di Mira. Mereka berempat berkembang dengan kecepatan yang bisa dibilang tidak biasa bagi petualang baru. Mereka telah menyelesaikan banyak Quest yang sulit, dan sekarang tidak ada seorang pun di kota Mira yang tidak mengenal siapa mereka. Dan mereka yang terkuat, telah menarik perhatian banyak orang.

“Ngg, Tuan Adolf, aku penggemarmu, tolong beri aku tanda tanganmu!”

“Oh, yah, boleh saja…”

“Tuan Zephyr dan Tuan Kagetra, boleh aku minta tanda tanganmu juga!”

“Nona Kalifa, izinkan aku memotretmu untuk di rumah, aku akan membuatkan figura khusus!

Karena Kalifa sangat cantik, dia menerima perhatian yang sedikit berbeda sebagai Kalifa yang mempesona. Namanyalah yang paling terkenal di pesta itu.

“Kau yang di sana! Maaf, tapi aku tidak suka difoto.”

Kalifa menunjuk seorang pria yang memegang kamera.

“Dia bilang tidak suka difoto?”

Entah bagaimana, sorakan besar terjadi.

“Aku juga mau dong ditunjuk Kalifa!”

“Kalifa-sama, aku juga punya kamera, lho!”

Tanpa sadar semua orang menghela napas dan terpesona pada kecantikannya itu.

“Hei Zephyr, sudah saatnya mendapatkan Quest, kan?”

“Yah, kita pergi sekarang?”

“Bukan pergi lagi, kita kan petualang, jadi kita memang harus pergi.”

Kalifa hanya tidak suka dengan situasi ini. Setiap hari dalam perjalanan ke guild, ia selalu dikelilingi oleh penggemar, dan mereka memblokir jalan hingga sulit untuk sampai ke guild. Itu semua bisa terlihat jelas dari mata putih para petualang yang dengan serius bertanya apa pun padanya.

Meskipun mereka petualang, tapi mereka terasa seperti idola. Perjalanan mereka menjadi terhambat… Akhirnya, saat mereka menerima Quest dan pergi keluar, para penggemar mengejar mereka hingga ke depan gerbang.

Tiga orang merasa senang pada saat itu, tapi tidak dengan Kalifa. Ia ingin menikmati petualangan, bukannya berinteraksi dengan para penggemar.

“Aku kesal sekali, aku heran kenapa ini bisa terjadi. Apa petualang itu seperti ini? Ini jelas-jelas berbeda.”

“Tidak apa-apa, kan. Kita kan harapan kota,” kata Zhepyr dengan bangga.

“Suatu hari nanti akan kupatahkan harapan itu. Kalifa yang mempesona apanya! Aku marah karena aku merasa diejek, aku jadi tidak bisa kembali ke Biyomento sekarang…”

Kalifa rindu menjadi petualang biasa. Dia mulai berpikir bahwa ia ingin berpetualangan diam-diam. Ketika kesabaran Kalifa hampir mencapai batasnya, tiga orang yang lainnya memutuskan untuk meninggalkan Kota Mira.

“Sampai jumpa semuanya, terima kasih atas perhatian kalian selama ini!”

Para penggemar dan warga kota mengiringi mereka berempat. Tiga orang mengucapkan salam perpisahan, dan satu orang lagi berteriak penuh kegirangan.

Setelah ini, Mira disebut sebagai kota awal lahirnya empat petualang.

xxx

Rumor mereka berempat telah melampaui Mira dan menyebar ke seluruh benua. Mereka mengunjungi banyak kota dan negara, melakukan banyak Quest, dan melakukan perjalanan melintasi benua.

Pada saat itu, mereka sudah menjadi petualang rank S. Dengan kata lain, tujuan awal mereka telah tercapai. Lalu, mereka berempat melanjutkan perjalanan.

Pada saat tertentu, peringkat petualang tampaknya menjadi hal yang omong kosong. Hanya bepergian, melihat berbagai tempat, dan bersentuhan dengan berbagai budaya. Mereka benar-benar menikmati perjalanan itu.

Ada juga peristiwa dimana nama keempat orang itu semakin dikenal banyak orang, yaitu saat pertarungan antara Naga Hitam dan Kagetra. Kejadian inilah yang memberi harapan bagi dunia bahwa manusia kecil pun bisa melawan naga.

“Kenapa, kenapa kau melakukan ini?” tanya Kagetra.

Seekor naga dengan sisik hitam turun di depan Kagetra yang tak terkalahkan.

“Inilah akhirnya. Manusia, tak bisakah kau melihat hutan ini?”

Hutan belantara yang luas membentang jauh, dan sebuah hutan kecil muncul di dalamnya. Namun, pepohonan telah terbakar oleh manusia, dan hutan itu telah hancur.

“Ini adalah hutan roh, apa kau tahu apa artinya itu?”

“…Apa kau menghancurkan negara karena hutan ini terbakar?”

“Ya. Roh-roh itu lembut, tak peduli apa yang mereka lakukan, mereka tidak pernah mengganggu manusia. Itu sebabnya aku membunuh para manusia bodoh itu.”

“Meski begitu, itu bukan alasan yang baik untuk membunuh!”

“Jawabanmu begitu bodoh!”

Kagetra mendekati sang Naga Hitam.
“Saber Lightning [The Lightning of Heaven]!”

Saat Kagetra mengucapkan sihir, bilah petir yang tak terhitung jumlahnya terbang dari atas langit dan menyerang Naga Hitam.

“Kekuatan yang begini bisa mengenaiku?”

Naga Hitam melebarkan sayap hitamnya dan menargetkan Kagetra. Namun, petir dengan cepat menembus sisiknya. Sang Naga Hitam, yang terkena petir, berhenti bergerak dan berteriak. Ada bau terbakar dari tubuh besarnya disertai asap yang mengepul.

Naga Hitam pun perlahan mengangkat tubuhnya yang terluka.

“Entah bagaimana kau memiliki kekuatan sebesar itu. Hutan dibakar karena ulah manusia, dan banyak roh yang tinggal di hutan ini telah mati dan kehilangan rumah mereka. Bagaimana menurutmu?”

Untuk pertama kalinya, Kagetra mengetahui fakta bahwa roh itu mati. Ini karena Quest yang hanya menyatakan “Penaklukan Naga Hitam yang mengancam negara.” Bagi mereka berempat, ini hanyalah Quest, dan mereka belum mendengar apa pun tentang roh.

Saat situasi mulai tenang, penampakan hutan tiba-tiba terlihat.

Para petualang itu diam-diam memenuhi Quest yang diberikan. Tak peduli seberapa banyak kau menamainya, itulah mengapa negara meminta seorang petualang yang dapat melakukan apa saja jika kau mau membayar.

―Tolong selamatkan kami dan negara ini.

Tidak ada petualang yang menanggapi kata-kata ini dan menerimanya. Kagetra mulai menyadarinya.

“Rajalah yang memberi perintah untuk membakar hutan, karena itu tidak baik untuk pertahanan.”

Zephyr juga.

“Apa raja tahu kenapa Naga Hitam itu muncul?”

Kalifa juga merasa tak percaya.

“Asal kau tahu, kami diperintahkan untuk menaklukkanmu.”

Adolf pun tampak tertekan.

“Kagetra, jangan lakukan ini lagi. Kita telah melakukan pekerjaan kotor, dan ini sudah selesai.”

“Aku percaya padanya.”

Kalifa tersenyum pada Naga Hitam.

Segera setelah mereka berempat menemukan naga hitam itu, mereka memutar pedang mereka sekaligus untuk menunjukkan permusuhan mereka. Namun, itu tidak mungkin dilakukan oleh tiga orang yang lainnya kecuali Kagetra.

Naga Hitam bisa saja membunuh Kagetra, namun tidak dengan membunuh mereka bertiga. Dia hanya berkata, “Hentikan seranganmu.”

Ada alasan bagus untuk percaya. Kagetra menurunkan senjatanya.

“Namaku Kagetra, dan aku minta maaf atas kebodohan negara itu.”

“Kagetra … yah, aku tahu itu bukan salahmu. Ini tidak bisa dihindari. Itu normal dan masuk akal di dunia ini.”

Ada sedikit kesedihan dalam ucapan sang Naga Hitam.

“Hutan akan muncul kembali pada waktunya, dan roh-roh akan menghuni lagi. Ini bukan lagi urusanmu. Untungnya, nukleusnya belum hancur.”

Lalu mereka berempat pun melihat penampakan makhluk mulia. Sungguh agung nan indah, menyiratkan rasa kerinduan. Dia melebarkan sayapnya hingga ke ujung.

“Namaku Carpent Ze Bach, salah satu dari Tiga Naga Agung yang melayani Raja Naga! Pria langka, jangan tertipu oleh dunia!”

Naga Hitam itu terbang dan menghilang.

Dengan ini, Quest telah terpenuhi. Dan setelahnya, mereka berempat disambut dengan meriah di istana kerajaan.

“Petualang Kagetra, atas nama Kaisar, Kekaisaran Dams Kale, akan memberimu sebuah nama.”

Kini Kagetra memiliki nama kedua, “Dragon Slayer”.

Dikatakan bahwa empat orang telah berhasil mengusir Naga Hitam, naga yang terkenal sangat kuat. Dan dalam arti tertentu, mereka dikatakan telah menghancurkan jantung dunia dan membangun alasan baru.

Orang-orang memuji keberanian dan kekuatan mereka.

—Jantung naga berada di tangan mereka, dan terserah mereka mau menyelamatkan atau membunuh.

Mereka berempat lambat laun disebut seperti ini;

Dragon Heart—.

Namun, mereka tidak bersedia.

Naga adalah makhluk yang memenangkan pertempuran, sedangkan mereka berempat adalah orang-orang yang diselamatkan. Karena itulah mereka berempat malu dengan nama mereka.

Namun, setelah sebutan nama mereka tersebar, itu tidak dapat diubah lagi. Mereka sudah sangat dikenal oleh dunia. Nama ini sudah menjadi simbol untuk menunjukkan keberadaan mereka.

Oleh karena itu, setidaknya mereka harus meletakkan makna yang bisa dikenali tanpa harus merasa malu;

Mereka yang mendedikasikan segenap hatinya untuk Naga Hitam yang mulia – Dragon Heart.

Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: E~to, onii-sama, jangan di-copy ya !!

Options

not work with dark mode
Reset