Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 13

Vol 2 Chapter 13 - Wanita Tua di Biyomento

Bar Biyomento—Tora Tei sangat ramai. Saat sejumlah orang datang, percakapan di antara kami berempat pun langsung tenggelam. Petualang dengan banyak gelas di atas meja telah berulang kali bernyanyi, makan, dan minum. Entah apakah mereka akan melanjutkannya sampai pagi, tidak ada tanda-tanda mereka mau berhenti.

“Apa selalu seperti ini?”

merry christmas

Aku bertanya pada tuan dari kursi konter.

“Tidak juga. Belakangan ini, ada banyak orang bodoh pemimpi yang sering berkumpul di sini.”

“Pemimpi?”

“Maksudnya dungeon itu. Kau juga sedang membicarakannya, kan? Yah, melakukan itu tidak ada gunanya untuk kota miskin seperti ini. Maaf kalau aku mengatakan ini, tapi sebaiknya kau hentikan saja. Kau tampak masih muda. Dungeon telah lama dikatakan sebagai kuburan para orang bodoh, yang telah menyia-nyiakan hidup mereka.”

“Kami sedang mencari seseorang.”

“Seseorang? Begitu ya… Siapa namanya? Mungkin aku mengenalnya.”

“Kami mencari seorang wanita bernama Kalifa, mungkin dia ada di kota ini.”

“Kalifa…”

Penjaga bar tampak berpikir. Sepertinya orang ini juga sedang mabuk. Menurutku tidak apa-apa, aku senang bar ini dipenuhi dengan banyak orang.

“Aku tidak kenal wanita dengan nama itu. Aku lahir dan dibesarkan di sini, jadi aku pasti tahu kalau dia memang ada di kota ini.”

Meskipun disebut kota, skala Biyomento hanyalah seukuran desa besar. Pastinya, dengan ukuran kota yang sebesar ini akan mudah untuk mengetahui dari mana kau berasal.

“Hei, apa orang itu benar-benar ada?” tanya Toa dengan gelisah.

“Aku yakin ada.”

Karena tidak mungkin Revenge God mengatakan hal-hal yang tak masuk akal.

“Nito-sama, orang ini tahu.”

Sufilia, yang tanpa kusadari telah meninggalkan kursinya, kembali dari suatu tempat. Di sampingnya, tampak seorang pria bermata rubah dengan tubuh pendek.

“Apa kau kenal Kalifa?”

“Ya, aku tahu tentang Kalifa.”

Entah kenapa aku merasa ini agak mencurigakan…

“Dia ada di kota ini?”

“Aku akan memandumu secara langsung.”

Memangnya aku bisa bertemu dengannya tanpa perkenalan atau sesuatu semacamnya? Bukankah perlu memberitahukan tentang Revenge God terlebih dahulu?

“Kalau begitu, bisa kau tunjukkan tempatnya?”

Aku memutuskan mengikutinya.

xxx

“Kok bisa ketemu orang yang seperti itu?”

“Saat aku berjalan di sekitar bar, aku ditanya apa aku sedang mencari seseorang.”

Pria bermata rubah menoleh ke belakang dan berjalan melewati rumah, lalu berkata, “Lewat sini.”

“Sudah mau sampai, ya.”

Saat itulah kami berbelok di tikungan berikutnya.

“Kita sudah sampai.”

Ada belasan pria yang tampak kuat. Kami dikepung oleh sekelompok bandit.

“Apa-apaan ini?”

“Maafkan aku…”

Sufilia meminta maaf.

“Tidak apa-apa.”

Ketidaksengajaan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari petualangan. Dan ini juga menyenangkan.

“Aku yang akan urus wanita dan uangnya. Kau urus saja laki-lakinya, atau manfaatkan saja dia dengan sebaik mungkin.”

Itulah yang dikatakan orang bertubuh paling besar dalam kelompok itu. Orang-orang di sekitarku menertawakan apa yang sedang terjadi sekarang.

“Kau menipuku?”

“Maaf, ini pekerjaanku. Untuk orang seperti kami, sekaranglah kesempatan untuk mewujudukan mimpi kami,” kata pria bermata rubah.

“Kesempatan?”

“Tidak ada yang menantang dungeon dengan tangan kosong, semua orang mempersiapkannya sebelum mereka melakukannya. Dan kami mempersiapkannya dengan cara kami sendiri.”

“Jadi begitu. Kau mengincar kami setelah tahu kami akan menantang dungeon?”

“Karena aku berpikir kau sedang mencari seseorang.”

“Lalu bisa kau jelaskan senjata di tangan kalian itu?”

“Memang beginilah kami, dan kami adalah pencuri terkenal di sekitar sini. Anak ayam sepertimu tidak ada gunanya melawan kami.”

Ada satu masalah, aku ingin menahan diri dari sihir di samping Toa dan yang lainnya, tapi orang-orang ini sepertinya tak berniat melepaskan kami.

“—[Isolation]!”

Tiba-tiba aku mendengar suara, dan cahaya hijau muncul di depanku.

Ekspresi wajah para bandit yang berdiri di depanku tiba-tiba berubah dan memalingkan wajah mereka seolah tidak terjadi apa-apa. Dengan pandangan kosong dan kaki yang sempoyongan seolah mereka sedang mabuk, mereka pergi berhamburan.

“Itu tempat yang berbahaya.”

Aku mendengar suara dari belakang dan segera melihatnya. Ada sosok seseorang yang memakai jubah dan menyembunyikan wajahnya dengan tudungnya. Suaranya seperti wanita tua.

“Apa kau seorang pengembara? Baru-baru ini, aku mendapat masalah di sini.”

“…Ah, yah, terima kasih.”

“Sama-sama. Mungkin karena dungeon telah muncul, kota ini jadi berantakan akhir-akhir ini. Hmm, Tuan … apa yang ada di tanganmu itu?”

Suara wanita tua itu tiba-tiba berubah, seperti suara wanita muda.

“Eh … oh, maksudnya ini? Ini pedang ular Killgils.”

Dia tampak terkejut mendengarnya.

“Apa katamu?”

Suaranya benar-benar seorang wanita muda.

“Ini pedang ular, Kilgils…”

Akhirnya aku mengerti sesuatu. Wanita ini terkejut. Tapi yang mengejutkannya adalah pedang ular ini. Itu berarti…

“Di mana kau mendapatkannya…?”

Aku yakin, dari reaksinya dia tahu tentang pedang ini yang bahkan tidak bisa diidentifikasi.

“Ini milik Shaon…”

“Shaon…?”

[Tl/note: di englishnya Shawn. Saya ubah sesuai raw-nya aja]

Ini layak untuk dicoba, seperti yang dikatakan oleh Revenge God padaku—

“Aku menunggumu di bukit itu…”

Aku mengucapkan kalimat itu.

“Masamune?”

Aku mengatakan pada Toa bahwa ini bukan masalah serius.

“Aku menunggumu di bukit itu.”

Sekali lagi, dengan jelas, aku memberi tahu wanita tua itu.

“Di mana … cincinku?”

“…Di laci ketiga.”

Segera, wanita tua itu jatuh berlutut, memegangi wajahnya dengan tangannya dan meneteskan air mata.

“Aku menemukannya.”

Dia adalah Kalifa.

[Tl/note: perlu pengingat, baca lagi di chapter 24.2]

xxx

“Karena aku super-human, aku jadi hidup lebih lama dari kalian. Karena itulah dulu aku berpenampilan seperti wanita tua dan berumur panjang supaya aku tak terlihat menyeramkan.”

Kalifa meletakkan empat gelas susu coklat di atas meja. Dia tinggal di sebuah rumah kayu tua. Penerangannya hanya berupa lilin dan sinar bulan yang masuk melalui jendela kecil di dapur. Aku terkejut saat dia melepas jubahnya, kecantikannya yang mempesona terlihat jelas di hadapanku.

“Jadi, dia masih hidup, ya…”

“Dia?”

“Zephyr. Apa yang membuatmu datang ke sini?”

“Zephyr? … Aku diminta Revenge God untuk bertemu denganmu.”

“…Oh begitu. Dia menyebut dirinya begitu sekarang.”

Mataku jauh memandang, ini membuatku merasakan nostalgia.

“Itu milik Shaon, aku ingat.”

“Ini pedang ular Kilgils.”

“Kenapa kau bisa memilikinya?”

Mungkin Shaon juga kenal dengan wanita ini. Agak sulit untuk menjelaskannya.

“Oh, jadi dia sudah mati…”

“Ya, tapi kemudian Shaon muncul dalam mimpiku. Di suatu tempat seperti kuil, itu tempat misterius dengan kabut putih, seperti di atas awan. Aku bertemu dengannya di sana.”

“Zephyr ya… Lalu?”

“Eh … apa ada masalah?”

“Untuk apa kau datang ke sini, apa yang dia katakan padamu di sana?”

“Aku disuruh pergi menemuimu…”

“Itu saja?”

“Ya, itu saja.”

Aku pikir aku hanya cukup untuk bertemu dengannya saja. Hanya saja, ada sesuatu yang menggangguku…

“Aneh. Dia membawamu ke sini karena dia meminta sesuatu.”

“Apa maksudmu?”

“Dia ingin kau melakukan sesuatu. Apa dia mengatakan hal yang lainnya?”

“…Penjara.”

“Hm?”

“Dia bilang tempat itu seperti penjara. Itu yang dia katakan di dalam mimpi.”

“Di kuil putih, ya?”

“Ya. Dan sepertinya mereka mewaspadai sesuatu … Saat aku bertanya kenapa aku di sana, tak satu pun dari mereka yang mau mengatakannya.”

“Aneh. Dari ceritamu, sepertinya kau terjebak. Aku pikir dia ingin kau membebaskannya, aku yakin dia tidak bisa keluar dengan kekuatannya sendiri. Aku bahkan tidak bisa mengatakan alasannya, jadi maaf.”

Anehnya, dia berbicara seperti orang lain.

“Tapi apa yang kau ingin aku lakukan?”

“Aku tidak tahu. Tapi … misalnya, kalau kau tahu tentang kami, berarti kau tahu sesuatu?” kata Kalifa.

“Ngomong-ngomong, yang kita bicarakan ini apa ada hubungannya dengan Zephyr dan Shaon?”

“Tentu saja, itu kisah saat kami berlima masih menjadi petualang.”

“Berlima?”

Dua orang saja tidak cukup, ya.

“Yah … itu sudah lama sekali, sekitar 150 tahun yang lalu.”

“150 tahun?!”

“Hei, reaksimu berlebihan, sudah kubilang aku ini super-human.”

“Ahaha…”

“Itu sebelum kami dikenal dunia.”

Kalifa kembali memandang ke suatu tempat yang jauh.

Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: E~to, onii-sama, jangan di-copy ya !!

Options

not work with dark mode
Reset