Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 12.2

Vol 2 Chapter 12.2 - Kepulangan Sierra

Pemakaman Hilda diadakan di Kediaman Ecarlat. Semua Ksatria Putih Kerajaan hadir, namun jumlah orang lain yang hadir lebih sedikit karena keinginan ibu Hilda—Maria.

Setelah kembali ke Razhausen, Sierra tak bisa mempercayai kenyataan bahwa kakaknya telah terbaring di peti mati. Maria jatuh pingsan di atas rumput. Ia tak tahan melihat putrinya dimakamkan. Tapi Sierra tak meneteskan air mata sedikitpun. Perasaan bahwa kakaknya masih hidup seakan melayang-layang, dan sepertinya perasaan itu tidak akan hilang setelah beberapa hari.

merry christmas

Sejak saat itu, Sierra selalu berada di dalam kamarnya. Keluar pun hanya ke balkon. Langit tampak begitu cerah alami. Namun, dia belum bisa menghilangkan perasaan sedihnya, dan perasaan bahwa kematian Hilda hanyalah mimpi pun terus berlanjut.

Saat berdiri di dekat pagar dinding pembatas, dia melihat Reinhard yang datang melalui pintu gerbang Kediaman Ecarlat. Sierra memutuskan pergi ke taman untuk pertama kalinya dalam beberapa hari.

Reinhard datang menemui Sierra untuk memberitahunya bagaimana Hilda meninggal. Sierra mendengarkannya dalam diam.

“Kali ini, tujuan mereka hanya untuk membebaskan tahanan. Mereka tak seharusnya saling berhadapan, tapi Hilda … ini tidak akan terjadi kalau saja aku menyadari invasi itu lebih awal. Maaf.”

Reinhard menunggu beberapa hari sampai Sierra siap berbicara. Namun, mata Sierra masih tertuju pada meja di depannya.

“Sierra, apa … apa yang akan kau lakukan jika kita berperang dengan kekaisaran?”

“…”

“Apa kau ingin bergabung dalam pertempuran?”

“Aku tidak tahu…”

Rasanya telah terjadi sesuatu. Sierra berpendapat bahwa dalam beberapa hari terakhir ini, telah terjadi sesuatu di mana kata perang selalu terdengar. Tapi bagi Sierra hari ini, dia tidak peduli.

xxx

Sekelompok kuda berkeliaran di atas tanah berkerikil tak berujung. Sekelompok kekaisaran.

“Yang jelas, Gazelle. Kau telah menyelamatkanku. Terima kasih banyak atas bantuanmu kali ini.”

Kali ini, Gazelle Crown sang beastman singa yang memimpin pasukan, telah membebaskan Gido. Dia bahkan tak bersimpatik pada Gido, yang bahkan lebih cemberut dari sebelumnya.

“Aku tidak butuh ucapan terima kasih, kau tahu?”

“Tentu saja, aku menerima hukuman. Ada alasan kenapa aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan semua persiapan itu.”

“…Apa?”

“Itulah yang terjadi kalau kau tidak tahu apa-apa tentang orang itu…”

“Aku sudah dengar ceritanya, apakah itu Nito, si petualang S-rank? Dunia sudah tahu namanya, tapi tidak ada informasi tentangnya meski sudah lama sekali. Apa maksudnya itu?”

“Aku tidak tahu, tapi dia seorang petualang.”

“Tapi menurutmu begitu?”

“Yah … dia semacam monster. Saat aku menyadarinya, semua peliharaanku terbunuh. Bahkan Fran juga.”

“Begitu ya.”

“Untuk pertama kalinya aku melihatnya, seseorang yang menggunakan sihir tingkat lanjut dengan tangan kosong.”

“Tangan kosong?”

“Ya, kami bertarung. Dia menerima sihir Fran dengan tangannya dan melemparkannya kembali.”

“…Tapi bagaimanapun, ini salah Tuan. Itulah yang dia pikirkan.”

“Jadi maksudmu dia tahu? Ngomong-ngomong, kau datang menyelamatkanku apa ada hubungannya dengan Artemias? Apa kau mendapatkan Trifal?”

“Tidak, mereka mendahuluiku.”

“Eh, siapa?”

“Tebak saja, Tuan. Itu Dragon Heart.”

“Begitu ya, jadi mereka. Semuanya jadi tidak berjalan dengan baik…”

Dalam perjalanan menuju kekaisaran, ekspresi Gazelle dalam perjalanan pulang tidaklah jelas. Di kepala Gazelle terbayang lima anak aneh yang dia temui saat itu. Tidak tahu harus menjelaskan apa, Gazelle tenggelam dalam pikirannya di atas kuda.

Gido masih menjereng senyumannya yang tak kenal takut. Entah itu berarti penyerangan atau perang berikutnya … Bagaimanapun, tak diragukan lagi bahwa konflik skala besar akan terjadi dalam waktu yang tak terlalu lama.

Sejak hari dimana ketika kata “Serangan Kekaisaran” mewarnai tajuk utama Magical Communication, dunia pasti merasakan suatu tanda dan merasa tidak nyaman. Senyuman itu mungkin memiliki arti seperti itu.

“Perjalanan masih panjang…”

xxx

Aku mengeluarkan peta dan memberi tahu fool ke mana kami harus pergi.

Tidak ada sosok Sierra di antara kami. Toa naik ke kereta terlebih dahulu dengan wajah tak bersemangat.

“Master, bagaimana dengan Sierra?”

Nem melepaskan ujung jubahku dan naik ke kereta. Dia bilang kami harus menunggu Sierra kembali.

Aku tahu …

Dungeon adalah sesuatu yang terkutuk, dan itu tidak selalu ada. Aku tidak tahu kapan dungeon itu akan hilang. Dungeon bisa menghilang kapan saja.

Sudah seminggu sejak aku melihat Sierra pergi, tapi dia belum kembali. Sadar atau tidak, Sierra menyuruhku pergi tanpa menunggu dirinya. Tidak, aku tahu itu. Juga tentang dungeon. Mungkin dia tidak bisa kembali dalam waktu dekat.

“Masamune, kau yakin ingin melakukan ini?”

“Kita petualang yang memprioritaskan dungeon, dan Sierra tahu ini akan terjadi, jadi dia menyuruh kita pergi dulu.”

“Aku tahu.”

“…Ya, aku juga tahu.”

“Nito-sama, cepat naik,” pinta Sufilia, dan aku naik paling terakhir.

Jauh dari gerbang akademi. Aku merasa seperti telah menjauh dari Sierra. Tapi kami harus terus melangkah. Itu yang terbaik, dan Sierra pasti akan berpikir begitu.

“…Ayo pergi ke Biyomento.”

Tujuan kami adalah Biyomento.

Kebetulan sekali? Nama kota yang paling dekat dengan bukit pasir tempat dungeon itu muncul adalah Biyomento.

Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: E~to, onii-sama, jangan di-copy ya !!

Options

not work with dark mode
Reset