Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 11

Vol 2 Chapter 11 - Fool of the Abyss

Ada naga hitam di depanku. Ia memiliki sayap besar yang terlipat, dan tubuh raksasanya menggeliat seperti anjing.

Setelah menyelesaikan banyak hal di Artemias, aku datang ke markas melalui transfer. Aku dan Sufilia terjebak di aula dengan naga yang berada di depan kami.

merry christmas

“Tuan Nito, ya…”

Naga hitam itu memperhatikanku dengan bola matanya yang besar.

“Di depan Carpent Ze Bach ini, anda tidak perlu takut.”

Naga itu tertawa kecil.

“Aku ingin bertanya padamu, Tuan.  Tentang Ichijo, apa itu perbuatan Tuan?”

“…Itu salah sasaran. Maaf, aku membuat kesalahan dalam mengendalikan sihir.”

“Kukuku, kalau memang benar begitu, Sieg tidak akan mengundangmu ke sini. Bukan itu yang kudengar. Aku ingin tahu kenapa anda melakukan kesalahan? Alford dan Eliza, aku bisa tahu dari detak jantung dan perubahan suhu tubuh mereka. Ada banyak keraguan dalam diri Tuan, dengan kata lain, anda belum memberi kami penjelasan yang meyakinkan.”

“Itu kesalahanku. Aku tidak bisa menjawab apa pun.”

“Begitu, aku merasa menyesal. Anda tidak berbohong, tapi ada satu hal yang menggangguku. Saat Tuan mengatakan “Kesalahan”, denyut nadi anda semakin cepat. Aku juga merasakan peningkatan suhu tubuh anda. Dengan kata lain, Tuan marah. Aku tidak tahu kenapa. Apa ada sesuatu yang anda sembunyikan?”

Percuma saja bila aku menyangkalnya, dia juga akan mengetahuinya, kan? Naga memang makhluk yang merepotkan.

Tiba-tiba, cakar besar naga itu mendekat di depanku. Aku secara refleks menangkapnya dengan satu tangan. Gelombang kejut menyebar ke sekitar dan aula pun bergetar.

Sufilia tiba-tiba membelalakkan matanya dan terkejut, ia hendak membunuh naga di depannya itu. Aku menggelengkan kepala terhadap sikap permusuhan Sufilia sebagai tanda bahwa semuanya baik-baik saja di sini. Lalu Sufilia membungkuk dan mengurungkan niat membunuhnya.

“Apa yang kau ocehkan?”

“Begitu rupanya, sekarang aku mengerti apa yang dikatakan Sieg.”

Naga hitam itu menarik tangannya.

“Aku diizinkan untuk melihat sedikit kekuatan anda.”

Sieg dan naga ini, apa mereka tak punya cara lain untuk mengujiku? Seharusnya mereka memberiku peringatan lebih dulu.

“Aku sudah lama hidup. Aku telah melihat perubahan dunia berkali-kali. Aku bertemu dengan bermacam-macam orang, dan di antara mereka ada yang sepertimu.”

Rupanya jarang ada manusia yang bisa menghentikan tangan naga.

“Ini bukan kemarahan … benar, ini ketakutan. Apa yang Tuan takutkan, aku akan menjawab jika anda bisa menjawabku?”

“Apa maksudmu?”

“Anda tak perlu khawatir. Sejak awal aku tidak akan menyalahkan atau menghukum Tuan. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi. Tapi mungkin itu sama dengan Tuan, yang tidak tahu alasan apa yang terjadi padanya.”

“Aku ingin tahu soal sihir. Apa sihir sangat dipengaruhi oleh emosi?”

“Tentu saja itu benar. Tapi secara tegasnya, tidak. Sihir selalu bergantung pada kekuatan sihir pemiliknya. Ekspresi yang bergantung pada emosi tidak akurat.”

Tapi itu tidak berlaku untukku. Kalau begitu, apa tangan Ichijo yang hilang itu karena pengaruh kekuatan sihirku? Kalau dipikir-pikir itu aneh. Erosion-ku tidak pernah menyentuh teman-temanku sebelumnya. Tapi selama aku sadar bahwa mereka adalah rekanku, sihir itu tidaklah berbahaya.

“Tapi ada pengecualian.”

“Pengecualian?”

“Itu disebut abyss,” kata sang naga hitam.

Pada saat yang sama, dia menatap mataku.

“Jadi begitu, apa itu masalahnya…?”

Ternyata dia membaca pikiranku lagi. Apa ada cara agar dia tak membacanya lagi meskipun dengan menaikkan level spirit?

“Apa Tuan adalah Fool of the Abyss?”

“Apa maksudmu, bukankah abyss itu cuma dongeng?”

“Abyss itu nyata, tapi hanya sedikit yang mengetahuinya. Seperti yang Tuan katakan, abyss adalah tempat di mana para petualang dalam dongeng tinggal. Di zaman modern, kebanyakan orang, jika mereka mengetahuinya, hanya sedikit yang memiliki tingkat kesadaran itu.”

“Tapi, apa kau tahu soal itu?”

“Aku tidak tahu detailnya, tapi aku tahu legendanya.”

“Legenda?”

“The Wizard of Genesis—sebuah legenda yang konon ditinggalkan oleh Adams Rad Polifia,” kata naga itu.

Mereka yang ternoda oleh abyss akan kehilangan hidupnya.

Mereka yang tertelan oleh abyss akan kehilangan cintanya.

Mereka yang terjatuh ke dalam abyss akan kehilangan kebebasannya.

“Aku tak mengerti maksudnya.”

“Legenda itu seperti peringatan. Siapapun yang menyentuh abyss akan mendapat banyak kerugian. Artinya, jika anda tidak ingin menyentuhnya, maka jangan menyentuhnya. Mereka yang mengabaikan peringatan abyss dan menyentuhnya disebut: “Fool of the Abyss.”

“…Begitu ya.”

“Hidup, cinta, dan kebebasan. Jika anda tahu bahwa anda akan kehilangan semua itu dan masih mencari kekuasaan, itu artinya anda bodoh. Aku sudah menerima tradisi ini. Sudah lama sekali. Saat itu, aku sedang memikirkan tentang apa itu abyss, tapi pada akhirnya aku tidak pernah melihat abyss itu.”

Jadi kita sampai pada satu hipotesis.

“Lalu bagaimana dengan hidup, cinta, dan kebebasan itu sendiri?”

“Uhm, sudah kubilang anda mungkin akan kehilangan semuanya.”

“Kalau begitu, mungkin sihirku bukan abyss.”

“Maksud Tuan?”

“Dulu aku mengira sihirku adalah abyss. Pertama kali aku berpikir begitu saat Sieg menunjukkannya padaku. Kurasa aku mengetahuinya karena aku diberitahu, bukan karena menyadarinya sendiri. Aku belum mati, aku belum kehilangan cintaku, dan yang terpenting, aku bebas. Jadi, aku bukan Fool of the Abyss, kan?”

Wajah naga itu menunjukkan ekspresi pahit.

“Tentu, mungkin saja begitu…”

“…Ngomong-ngomong, pengecualian pertama yang kau sebutkan tadi, apa itu ada hubungannya dengan abyss?”

“Itu … dulu sekali, tapi aku pernah bertanya pada Ryuo-sama tentang abyss.”

“Ryuo-sama?”

“Raja Naga kami. Dan aku masih mengaguminya.”

“Jadi, apa yang dikatakan Raja Naga?”

“Aku bertanya apa itu abyss. Kata Raja Naga—jangan terlibat dengan abyss. Dia memperingatkanku bahwa jika aku ditelan oleh abyss, aku tidak akan bisa bebas, dan aku tidak bisa mengendalikan rasa ingin tahuku. Dan aku bertanya apa maksudnya ditelan … Kata Raja, itu merupakan runtuhnya kepribadian. Berbeda dari abyss, kita bisa dengan bebas memanipulasi pengaruhnya sesuai dengan keinginan tuannya.”

Itu sama seperti yang dikatakan oleh Bel.

“Namun sebagai ganti atas kekuatan besar itu, ketika tertelan ke dalam abyss, roh, ego, kepribadian, hasrat dan keinginan akan terpengaruh. Semua itu menjadi tidak stabil tanpa disadari.”

“Keinginan menjadi tidak stabil?”

Aku teringat kata-kata Bel lagi.

―Jika anda meragukan diri sendiri, anda akan ditelan oleh abyss.

Jika memang benar aku meragukan diriku sendiri, kapan dan di mana tepatnya aku ragu? Aku tidak pernah meragukan diriku sendiri. Selalu ada standar dalam tindakanku yang tidak akan aku sesali, dan itulah niatku.

“Tapi pasti ada banyak hal yang tidak berlaku untuk Tuan. Ini mungkin kesalahpahaman seperti yang Tuan katakan.”

Aku tidak tahu penyebab cederanya Ichijo. Jika sihirku adalah abyss dan aku tertelan, maka keinginanku menjadi tidak stabil. Maka kurasa tidak ada yang bisa kulakukan tentang hal itu.

Naga itu akhirnya melirik Sufilia, dan tak mengatakan apa pun secara khusus.

xxx

Saat aku membuka pintu kamar, aku melihat Eliza, Alford, dan Ichijo. Ichijo sedikit berhati-hati dan tersenyum ringan saat menatapku yang mengenakan topeng.

“Maaf. Aku ingin bicara sebentar dengan Nito. Apa kalian berdua bisa meninggalkan kami sendiri?”

Mereka menerima permintaan Ichijo dan menjawab, “Oke,” lalu menatapku sebelum mereka meninggalkan kamar.

“Maaf, aku membuatmu jadi berhati-hati padaku.”

“Tidak.”

“Dan, maaf, aku telah melakukan sesuatu yang tidak bisa kuperbaiki.”

“Jangan khawatir. Berkat sihir Nito, aku sudah tak merasakan sakit lagi, dan tubuhku baik-baik saja. Itu sudah berakhir. Mau menyesalinya pun tanganku tidak akan kembali.”

“Maafkan aku…”

“Tidak, aku tak bermaksud menyalahkanmu! Karena … aku mengalaminya, jadi aku tahu. Bagaimana menurut Nito sekarang?”

“…Maksudmu soal Hidaka?”

“Ya … berulang kali aku menyesal. Tapi tak peduli berapa kali aku menyesalinya, penyesalan itu akan tetap sama. Itu tidak akan mengubah apa pun. Saat itu, aku merasa menyesal, jadi pikiranku kacau. Kupikir aku telah melakukan hal yang benar … Tapi, rasa bersalah yang kurasakan selanjutnya lebih dari itu. Dan lagi-lagi aku menyesal … itu terulang lagi.”

Aku tidak tahu. Kupikir semua orang telah melupakanku. Aku pasrah menyerahkan hidupku dan kupikir aku akan dilupakan, dan itulah yang aku lakukan. Aku tidak ingin kau mengingatnya, dan aku tahu itu tidak akan berubah.

Tapi Ichijo berbeda.

“Apa pahlawan yang lain juga mencari Hidaka?”

“Aku tidak tahu, aku telah memperhatikan semua orang sejak aku memutuskan pergi dari sana, apakah ada yang mengikutiku atau tidak. Tapi sejauh yang kulihat, tidak ada seorang pun selain aku yang berpikir Hidaka masih hidup. Namun, ada seorang siswa yang mengatakan bahwa dia hanya teman masa kecil Hidaka. Oh, sejujurnya, kami yang para pahlawan hanyalah siswa SMA…”

Teman masa kecil, atau nostalgia… Mungkin itu tentang seekor burung kecil. Tidak mungkin aku pernah menjadi bagiannya.

“Ada berapa banyak orang?”

“Huh?”

“Berapa banyak pahlawan yang telah dipanggil?”

“Kalau tidak salah … 21 orang?”

Berarti ada 19 orang kecuali aku dan Ichijo?

“Pantas saja, Hidaka tertindas.”

“Ngomong-ngomong, kau juga bilang begitu waktu itu.”

“Tidak, jangan khawatir. Yang terpenting adalah tangan Ichijo, aku akan mencoba mencari cara untuk mengembalikannya. Maaf, sampai saat itu, mohon tunggulah.”

Aku tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Tapi kurasa aku sedikit menyesal. Daripada permintaan maaf, bukankah itu lebih ke pertanda penyesalan? Tapi aku tidak bisa melepas topengku, dan aku tidak tahu wajah seperti apa yang harus kutunjukkan padanya jika aku melepasnya. Tidak ada yang bisa kulakukan dalam keadaan setengah hati. Tidak, mungkin aku hanya berusaha melarikan diri.

“Aku mengerti. Dan juga kalau memungkinkan, informasi tentang Hidaka … kalau kau menemukan sesuatu, tolong beri tahu aku.”

Kenapa Ichijo tidak menyalahkanku saat dia kehilangan tangannya? Bagaimanapun, Ichijo mungkin telah menjadi “saint prince”.

xxx

Ketika aku menyusuri koridor, aku melihat Alford.

“Apa kau memberitahukan namamu?”

Aku berhenti. Sufilia juga berhenti di sampingku.

“Aku tidak bisa melakukannya sekarang.”

“Yah … aku tidak akan mengatakan apa-apa pada Ichijo kalau kau memang tidak mengizinkannya. Eliza juga akan melakukan itu. Dan meskipun dia adalah target balas dendammu pada suatu waktu, entah bagaimana aku tahu kalau kau tidak lagi menganggap Ichijo sebagai musuh.”

Aku tidak suka dilihat secara objektif.

“Tapi menurutku kau tidak begitu kesal. Itu membuatku sedikit tertawa saat mengingatnya.”

“Tolong beri tahu aku kalau ada sesuatu tentang tangan Ichijo. Aku juga akan mencarinya di sana.”

“Hmm, jangan terlalu khawatir, semua orang pernah membuat kesalahan.”

“Itu tergantung pada tingkat kesalahannya, jelas aku khawatir.”

Kami meninggalkan tempat itu. Dan ada sosok Sieg yang berada di depan pintu besar ruangan.

“Kau mau pergi sekarang?”

“Ya, tolong berikan sihir transfermu.”

“Ada banyak hal yang terjadi kali ini, tapi … untuk saat ini, aku akan menyerahkan sang putri padamu.”

“Ya.”

“Dan ada satu hal yang ingin kukatakan padamu.”

Sieg memperkuat ekspresinya.

“Aku sudah mengatasi semua penjaga.”

Aku mengerti maksudnya.

“Apa yang kita lakukan bukanlah niat baik. Kalau kau menembaknya, itu tidak akan membahayakan organisasiku. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan dengan membiarkan mereka pergi, tapi berhati-hatilah lain kali.”

Aku mengerti apa yang orang ini katakan.

“Bukan niat baik, terserah padamu untuk mengikuti keyakinanmu. Begitulah caraku untuk tidak menyesalinya. Aku hanya akan mengikuti keyakinan diriku sendiri. Setelah itu, apa pun yang ingin kau lakukan, itu terserah padamu. Kau mau membunuh para penjaga, tak masalah. Lagipula kau memang baru saja membunuh mereka.”

Sieg menatap mataku, dan setelah beberapa saat, ekspresinya kembali biasa.

“Oke, aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi.”

Kaki kami berdua bersinar.

“Ngomong-ngomong, ke mana kau akan pergi sekarang?”

“Untuk saat ini, transfer aku ke tempat yang sama seperti sebelumnya.”

“Hah, rahasia ya? Jadi begitu.”

Sieg hanya menarik sudut kiri mulutnya dan tertawa kecil.

“Sampai jumpa—“

Dan pemandangan itu pun diselimuti cahaya.

Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: E~to, onii-sama, jangan di-copy ya !!

Options

not work with dark mode
Reset