Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 10

Vol 2 Chapter 10 - Hiruk Pikuk

“Terima kasih, Ichijo.”

“Tidak, aku senang bisa membantu Nito.”

Setelah itu, Sieg hendak menebasku, namun Ichijo menengahi kami. Meski belum terselesaikan, tapi mungkin Ichijo lah yang menjadi alasan kenapa aku tidak harus bertengkar dengan Sieg.

“Tapi kenapa kau membawa sang putri…”

“…Kalau aku bertemu dengan Hidaka, mungkin saja dia sama tertindasnya denganku.”

dukung klik iklan

“Apa kau tertindas?”

Aku tak mengerti bobot dari pertanyaan Ichijo. Tapi itu tak mengherankan, mungkin dia tidak pernah tertindas. Dia seseorang yang selalu dipuji. Aku telah bertemu Ichijo sejak aku masuk di sekolah menengah. Di suatu tempat di hatiku, aku mungkin memiliki perasaan yang dekat dengan mimpiku. Itu sebabnya aku sering melihat sesuatu dalam ujung pandanganku. Tapi apa yang tidak kuketahui tidaklah buruk. Mau bagaimana lagi karena lingkungan tempatku dibesarkan memang berbeda.

Ichijo mencoba menghampiriku. Sekarang aku tahu tindakannya itu perlu bagi seseorang sepertiku.

“Nito!”

Sieg berteriak. Lalu, aku merasakan getaran kekuatan sihir di belakangku. Tampak lima orang musuh dan lima tombak terbang dan berputar-putar. Mungkin itu atribut sihir angin.

“[Erosion Wave]!”

Aku mengerahkan gelombang yang bisa memblokir gerakan kelima tombak sekaligus. Tapi jika dipikir-pikir, mungkin itu tidak ada gunanya. Aku bisa mencegahnya dengan pedang atau tangan kosong. Aku tak perlu memikirkan efisiensinya. Tidak tidak… Bukan itu masalahnya.

Lalu Bel memberitahuku.

—Abyss adalah keinginan Master. Jangan merusak sesuatu yang tidak ingin Master hancurkan. Jangan menyerang sesuatu yang tidak ingin anda serang. Hanya hal-hal yang ingin anda lenyapkan yang akan lenyap dari dunia.

“Aaakkhhhhh!”

Aku mendengar teriakan, tapi itu bukan dari lima orang yang berada di depanku. Melainkan sosok Ichijo yang kehilangan lengan kirinya dan menumpahkan darah dari bahunya.

“Ichijo…”

Ini erosion-ku. Erosion-ku lah menyerang lengan Ichijo dan melenyapkannya. Kenapa Abyss tidak mengikuti keinginanku? Bel mengatakan, dia tidak akan menyerang apa yang tidak ingin dia serang.

“Nito…?”

Ichijo bingung terhadapku. Tapi aku juga tidak tahu. Gelombang ini tidak pernah menyentuh rekanku.

Eliza dan Alford menyelamatkan Ichijo. Alford meminjamkan bahunya dan membantu Ichijo berdiri.

“…Nito.”

Ichijo menunjuk ke belakangku dengan tangan kanannya. Ada tanda kekuatan sihir di belakangku. Sayangnya, musuh masih belum mati.

Aku melemparkan [Reversal Mischief [Pole]] pada sihir yang muncul di benakku.

“[The birth of regret [Parture Pygma]]!”

Aku membalikkan sihir [Restriction] dan melemparkannya ke lima orang yang terlihat.

Aku memilih sihir untuk memblokir gerakan, membaliknya untuk digunakan, dan merapalkan mantranya. Tiba-tiba aku mengambil langkah itu tanpa sadar.

“Aaaaaaaahhhhhhh!”

Gerakan kelima orang itu terhenti, dan mereka semua membuka mulut dan mulai berteriak. Jeritan seorang pria gemuk lambat laun berubah menjadi suara orang lain. Ini adalah … tangisan bayi.

Pada saat yang sama, kelima orang itu memegangi leher mereka dan mulai tersiksa. Saat itu juga, aku bisa melihat delapan jari putih bersih dan panjang keluar dari mulut mereka, seolah jari-jari itu membuka lebar mulut kelima orang itu dari dalam dan merobeknya. Ternyata itu bukan manusia.

Tanpa mempedulikan teriakan mereka, jari-jari itu merobek rahang, mulut, hidung, alis, dahi, dan kepala, serta wajah mereka secara vertikal. Saat berikutnya, darah dimuntahkan, dan makhluk humanoid kecil dengan kulit putih aneh muncul dari dalam tubuh seolah-olah mengupas kulit manusia.

“Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir! Aku lahir!”

Tampak jari-jari ramping yang sangat tipis dan sayap yang terangkat. Lengan dan kakinya sama dengan manusia, tapi rambut hitam panjangnya tak terlihat bagus pada tubuh kecilnya. Darah menetes dari tubuh, wajah, dan rambutnya, mungkin karena baru keluar dari tubuh.

Mereka seperti bayi yang baru lahir.

Lima anak itu melihat ke sekeliling seolah-olah sedang mencari sesuatu. Mereka pun bergumam, “Aku lahir.” Seolah mereka menyesal dilahirkan.

“[Heel Aura [Heeling Wave]]!”

Aku tersadar dan segera merawat bahu kiri Ichijo. Namun, lengan Ichijo tidak pernah kembali. Erosion melenyapkan tangan kirinya.

“Apa yang kau lakukan, Nito!”

Itu suara Alford.

“Aku…”

“Apa kau sengaja mengincar Ichijo?!”

“Aku tidak bermaksud begitu…!”

“Tidak apa-apa, Alford,” kata Ichijo. “Pendarahannya sudah mereda dan aku juga tidak merasa lelah. Lagipula tangan kananku masih ada.”

Ichijo menjawab dengan menggerakkan tangan kanannya, sambil mengusap bahu kirinya yang tanpa lengan.

“Maafkan aku … Ichijo. Maaf…”

“Tolong jangan khawatir. Aku yang salah karena tidak cepat-cepat menghindar saat Sieg berteriak.”

Tidak, ini salahku. Ichijo akan selamanya kehilangan tangannya dan tidak akan kembali lagi. Itu karena perbuatanku…

“Master! Master! Master! Master!”

Lima anak yang baru saja aku buat mendekat ke arahku. Mereka berlima memanggilku “Master” sama seperti Bel.

“Apa…?”

“Master, aku lahir! Jadi, yang mana yang harus dibunuh?”

Aku merasa ngeri melihat mata mereka. Aneh, rasanya seperti melihat lukisan hitam dengan krayon. Rasanya seperti tersedot.

“Master, yang mana yang harus dibunuh?”

Aku tidak mengerti apa yang mereka tanyakan. Salah satu dari mereka bertanya dengan suara tipis dan tinggi.

“Nito … apa itu?”

Sieg mengerutkan keningnya dan merasa khawatir.

“Master, apa anda ingin membunuh yang ini? Yang ini?”

“…Hentikan. Pergilah ke manapun sesuka kalian,” kataku.

Sekarang aku tidak bisa mengatasi sesuatu yang tidak aku mengerti.

“Di mana tempat yang kita suka?”

Kelima anak itu saling memandang satu sama lain, lalu mereka melarikan diri ke suatu tempat untuk memastikan apakah masalahnya telah teratasi.

“Apa itu?”

Eliza melihat punggung mereka seolah-olah dia sedang melihat sesuatu yang kotor.

“Alford dan Eliza, jaga Ichijo di sini.”

“Baiklah.”

“Tunggu, aku bisa jalan.”

“Tidak, kau harus istirahat di sini. Nito, aku akan menghancurkan pabriknya.”

“…Aku mengerti.”

“Aku akan menemanimu.”

Sufilia meraih tanganku.

xxx

“Apa kau ingin membunuh Ichijo?”

“Tidak … aku tidak bermaksud begitu. Aku mencoba melindunginya.”

“Tapi lengan Ichijo hilang?”

Aku tidak tahu bagaimana menjawabnya.

“Aku tidak tahu. Sihir itu seharusnya mengikuti kemauanku. Aku tak bermaksud melukaimu ataupun Ichijo, tapi lengan Ichijo…”

“Aku tidak yakin, tapi bukankah itu niat Nito-sama?” kata Sufilia sambil tersenyum lebar.

“Tidak … kau salah! Aku tidak akan membunuhnya lagi! Dia berbeda!”

Tapi fakta telah membuktikan. Sedikit saja kesalahan, dan jika aku terlambat menyadarinya, aku akan benar-benar membunuh Ichijo.

“…Kau ini parah.”

Sieg menghela napas.

“Oke. Kau menyangkalnya sebanyak itu. Tapi aku senang mendengar kata-kata itu darimu. Mari kita jangan bicarakan tentang hal ini lagi. Tak peduli seberapa banyak kita membicarakannya, lengannya tidak akan kembali.”

Apa yang terjadi padaku. Itu normal… tidak, itu seharusnya tidaklah normal.

“Ayo, kita hancurkan pabriknya.”

“…Ya.”

Saat itu, aku tiba-tiba teringat kata-kata Bel.

—Apa anda meragukan abyss?

Aku tidak tahu apa artinya. Namun aku merasa menangkap sesuatu.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset