Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Chapter 59

Interlude Chapter 59 - "Aku"

Interlude 6

 x x x

merry christmas

“Nenek Magi, apa maksudnya?”

“Wajah orang ini! Aku melihatnya dalam wahyu yang disampaikan padaku!”

“Nenek Magi, apa itu artinya Nito adalah orang yang muncul dalam ramalan?”

“Benar. Aku melihatnya dalam mimpi. Sufilia, kau dikejar oleh naga merah dan bertemu dengannya.”

“Ya, itu benar.”

“Bukan begitu! Sudah kubilang itu yang terjadi dalam mimpiku!”

Sufilia bingung. Alasan ia mengejar permata itu karena wanita tua itu yang memberitahunya. Kalau tidak, dia tidak akan mencurinya dari naga itu. Dia seorang putri, tidak mungkin dia bisa melakukannya.

“Tapi, Nenek. Nenek Magi pasti bilang begitu saat melihatku memegang permata naga itu, kan?”

“Hmm … apa katamu?”

“Ah, maaf menyela pembicaraan, tapi kalau boleh, bisa tolong jelaskan padaku? Sang Putri.”

Masamune ingin tahu saat itu juga. Sierra perlahan mulai berkeringat dingin.

“Nenek Magi adalah pembaca bintang, dengan kata lain, seorang peramal.”

“Pembaca bintang?” ulang Masamune.

“Yang bisa membuatmu melihat masa depan.”

“Itu artinya dalam ramalan nenek—“

“Masamune, kumohon,” Sierra memperingatkan. Wajahnya tampak pucat.

“Maaf. Apa itu artinya aku orang yang disebutkan dalam ramalan?”

“Itu benar!”

“Nenek Magi, bagaimana kalau Nenek membaca bintang Nito?” saran Sufilia.

“Jangan-jangan kalian ingin melihat masa depanku?” Masamune yang tanpa sadar langsung berdiri, terlihat curiga pada mereka.

“Ya, tapi … apa kau tidak suka?”

“Bukannya aku tidak suka atau semacamnya. Hanya saja aku tidak tahu apa-apa tentang itu karena aku memang tidak peduli.”

“Membaca bintang adalah kemampuan untuk melacak seseorang dan melihat masa depan.”

“Hah…”

“Membaca kehendak-Nya, memanggil-Nya, dan yang lainnya! … Itu terhubung ke masa depan. Inilah Bacaan Bintang.”

“Uh … apa artinya itu? Aku tidak ingin tahu masa depan.”

“Um, jangan mengubah kehendak-Nya. Masa depan tidak selalu bagus. Apa kau tak ingin tahu keadaan apa yang akan menimpamu?”

“Masamune, kenapa tak kau lihat saja?” usul Toa yang masih berlutut. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, dan aku yakin ini akan berguna untuk perjalanan kita.”

“Mmm … bukannya begitu.”

Bagi Masamune yang bimbang, mengetahui masa depan hanya akan meningkatkan kekhawatiran sehari-harinya. Dia bisa membayangkan. Terlebih lagi, dia tak menyukai gagasan yang telah direncanakan.

“…Baiklah, kalau Toa bilang begitu, aku terima.” Tapi Masamune tak bisa menolak saran Toa.

“Kau membuat keputusan yang bagus. Kalau begitu, kita lakukan?”

Tiba-tiba Nenek muncul di depannya, dan ia meletakkan tangannya di atas kepala Masamune.

“Pertama, tarik napas dalam-dalam!”

“…” Masamune menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. “Jadi apa yang harus aku lakukan selanjutnya … Hmm? Um…”

Namun, tidak ada jawaban.

“…Eh?”

Masamune menyadari pembacaan bintang telah diaktifkan. Sekarang, Masamune sedang melihat pemandangan lain, bukan aula.

x x x

Seharusnya aku berada di aula. Dimana ada seorang wanita tua di depanku, dan di sampingnya ada seorang putri. Lalu di belakang… saat aku menengok ke belakang, hanya terdapat dinding tanah. Tidak ada tiga orang yang lainnya di sana.

Ngomong-ngomong, ini adalah sebuah gua yang berada di suatu tempat. Aku melihat pintu masuk. Gua ini tidak terlalu gelap, dan cahaya menyusup sepenuhnya dari luar.

Lagi-lagi aku menyadarinya, aku tidak bisa bicara. Aku tak merasa seperti sedang berbicara. Dengan kata lain, mulutku bergerak, tapi tidak ada suara yang terdengar. Ini seperti mimpi.

Pada saat yang sama, tubuh, kaki, dan leherku tidak bergerak ke arah yang aku inginkan. Sebaliknya, aku berpindah dari waktu ke waktu.

“Kau di sini?”

Aku mendengar suara. Suara yang lembut, seperti nostalgia. Sebenarnya itulah yang kupikirkan, tapi entah kenapa emosiku meluap, dan entah bagaimana itu seperti suaraku.

“Untuk apa kau datang?”

Aku mendengar suaraku sendiri. Aku tak mencoba untuk berbicara.

Lalu dia menjawab dengan wajah tertunduk.

“Perang akan segera dimulai. Mungkin lebih buruk dari sebelumnya…”

Suara nostalgia berlanjut.

“Kenapa … kau tak melihatku?”

Suara itu terdengar sedih. Ini juga sesuatu yang meluapkan entah emosi atau perasaanku, tapi aku sudah merasa seperti itu sebelumnya.

“Lihat Nem! Master!”

Suara yang bergema di dalam gua mengejutkanku … Nem?!

Seorang wanita cantik berdiri di depan pintu masuk. Terdapat telinga kucing putih di kepalanya.

“…Nem.”

Bercanda, kan? Apa benar ini Nem?

Kecantikan itu, adalah Nem…

Tapi dia benar-benar Nem. Tapi dia bukan Nem yang aku kenal. Sosoknya memang Nem. Namun, dia jauh lebih tumbuh dewasa dari dirinya yang sekarang.

“Yah, kau tahu aku di sini.”

“…Aku sudah mencarimu saat bepergian ke berbagai tempat.”

“Begitu ya … Nem memang punya penciuman yang tajam.”

Dan hal ini mengakhiri nostalgia.

“Apa yang kau maksud adalah Perang Lucius?”

“Ya, tapi dalangnya adalah pria lain.”

“Siapa?”

Aku ingin tahu apa yang Nem katakan.

“Saeki … Sepertinya orang yang menyebut dirinya begitu.”

Ini bukanlah emosiku, tapi keterkejutanku sendiri. Jika ini masa depan, kenapa Saeki masih hidup…? Tentu saja aku merasa ragu dan aneh, tapi lucunya, itu berarti kalau aku tidak bisa membunuhnya, bahkan sekarang Nem sudah tumbuh besar. Aku terlalu penakut.

“Master, tolong pinjamkan kami kekuatanmu. Kami tidak bisa mengendalikannya sendirian.”

“Aku tidak bisa.”

“Master…”

“Apa yang bisa kulakukan untukmu? Bagiku, aku ini pengecut.”

“Kalau kau membiarkannya seperti itu, kau bisa kehilangan Kak Sierra juga.”

Pada saat itu, keputusasaan yang mendalam dan kesedihan yang tak tertahankan merasuki diriku. Seolah-olah seluruh penglihatanku menjadi gelap dalam sekejap dari ujung kakiku.

Aku berada dalam kegelapan. Aku menyadari itu.

“Apa yang bisa kulakukan? Aku bahkan tidak bisa menyelamatkan Toa.”

Pertanyaan itu memberiku arti dari perasaan ini.

Aku … telah kehilangan Toa.

“Master … Bukan itu masalahnya sekarang.”

“Aku tidak peduli lagi dengan dunia ini. Itu tidak penting.”

Aku pengecut, persis seperti yang kukatakan sebelumnya. Tidak ada apa-apanya di dalam diriku.

“Dari awal … dunia lain itu tidak ada. Tidak ada mimpi ataupun sihir. Aku seharusnya mati di dungeon itu. Kalau aku mati, aku tak perlu tahu apa pun, yang ada hanyalah kehampaan.”

“Kalau itu memang terjadi, Nem tidak akan ada di sini sekarang.”

“Nem, larilah. Beri tahu Sierra juga. Tidak ada mimpi yang tersisa di dunia ini.”

Nem meneteskan air mata di pipinya, dan aku hanya bisa melihatnya.

“Maafkan aku, Nem. Orang sepertiku malah menjadi tuanmu. Lagi pula, seharusnya aku meninggalkanmu di Razhausen waktu itu. Seharusnya akan lebih baik kalau kau tetap bersama Suster dan teman-temanmu. Aku seharusnya tidak membawamu dan ikut menanggung kesedihan ini.”

Nem memunggungiku.

“Aku … Nem. Bahkan sampai sekarang … kau adalah tuan Nem, master Nem.”

Setelah mengatakan itu, Nem menghilang. Pria yang luar biasa. Nem meminta bantuanku, tapi apa yang aku lakukan di masa depan ini? Si iblis membuat Nem sedih.

“Kau di sini … Masamune.”

Tiba-tiba, “Aku” mulai berbicara dengan diriku sendiri.

“Waktu itu … di sinilah aku melihatmu. Benar kan, Masamune?”

Dia bukannya berbicara sendiri. Orang ini, yang adalah “Aku”, jelas-jelas berbicara padaku. Aku sedang membicarakan adegan ini sekarang, memahami bahwa aku telah melihat adegan sejauh ini dan aku berbicara dengan diriku sendiri.

“Jadi canggung, ya. Bukankah begitu?”

“Aku” berkata begitu dan tertawa tak berdaya.

“Aku mengagumi semua dunia yang berbeda ini, memimpikan sihir dan melibatkan semua orang, tapi pada akhirnya aku tidak bisa melindungi apa pun.”

Aku tahu. Sesuatu itu, akar dari kesedihan ini, telah muncul.

“Kau tahu… ya.” Aku memejamkan mata. “Toa sudah mati.”

Aku bisa mendengar suara angin dari luar gua, padahal di dalam sini tidak ada angin dan terasa sunyi. Ini seperti waktu dan ruang yang terbagi. Rasanya seperti hanya aku yang tersisa di gua ini. Aku harus keluar dari sini, tapi aku merasa tidak ingin keluar.

“Saat itu, di depanku … aku masih ingat. Aku tidak akan pernah lupa. Kalau tahu ini yang akan terjadi, aku pasti akan mendengarkan lelucon wanita tua itu.”

“Aku” tiba-tiba tertawa. “Aku” menahan perutku dan tertawa. Itu memang lucu dan “aku” tidak bisa menahannya. “Aku” sangat marah, karena diriku sendiri tidak mempercayainya.

“Masamune, inilah kenyataannya. Di masa depan yang jauh, ini adalah kenyataan yang pasti akan terjadi padamu. Waktu itu aku tidak memikirkannya, hingga akhirnya Toa mati. Aku seharusnya menyadarinya saat itu … tapi, semuanya sudah terlambat.”

“Aku” berdiri dan keluar dari gua. Sebuah dataran luas terhampar di luar sana, dan pegunungan bisa terlihat di kejauhan. Angin bertiup kencang.

“Masamune. Temukan, temukanlah sihir itu … Ada di suatu tempat di akademi. Pastikan kau menemukannya. Kalau tidak, kau akan kehilangan Toa, kau akan kehilangan segalanya, dan—”

Pada saat itu, “aku” membaca mantra di dataran. Saat mantra sihirnya mendarat jauh, sihir itu meraup tanah dan menghapus pegunungan, bahkan cakrawala.

“Kau akan kehilangan dunia ini.”

Ini malapetaka. Tidak ada apa pun yang tersisa yang bisa terlihat lagi. Dalam satu tembakan, semuanya lenyap.

“Aku akan mengakhiri dunia ini. Ini akan membuat semuanya lebih baik, tidak akan ada perang lagi.”

Aku sudah gila.

Orang ini akhirnya menghancurkannya. Dengan bangga akan kegilaannya, ia mencoba mencari bakat yang bernama Sensitivity dengan membuat perbedaan dengan orang lain. Namun, jika kau kehilangan sudut pandang objektifmu, kau tidak akan bisa lagi terpikat oleh dirimu yang berbakat. Karena tidak ada apa-apa di dalam dirimu.

“Seharusnya ada sihir yang bisa menyelamatkan Toa…”

“Aku” melemparkan beberapa mantra lagi.

Hentikan! …Hentikan! Hentikan! Namun, suaraku tidak sampai.

“Masamune. Jangan seperti aku.”

Di akhir ucapannya, cahaya yang menyilaukan menerangi pandanganku, dan kesadaranku terputus.

x x x

Aku bisa melihat wanita tua yang memegang kue mochi dan didampingi oleh sang putri. Ini adalah tahta Artemias. Di sampingnya ada wajah Toa yang tampak cemas, dan ada juga sosok Sierra dan Nem. Nem masih anak-anak.

“Master, apa kau baik-baik saja?”

“…Ah, aku tidak apa-apa.”

Nada suaranya tepat milik Nem.

“Ya, Dewa … apa-apaan kau! Adegan itu…”

Nenek yang kesal menatap wajahku dengan serius. Rupanya wanita tua itu juga melihat hal yang sama sepertiku. Maksudku, dia melihatku yang telah menghancurkan dunia.

“Itulah yang terlihat. Apa maksud ramalan itu?”

Sang nenek perlahan berdiri, dibantu oleh Sufilia.

“Ramalan adalah ramalan. Itulah masa depan yang akan datang padamu. Itu adalah sesuatu yang tidak pernah bisa kau hindari. Kecuali Dewa tidak memperhatikan titik cabangnya.”

“Titik cabang?”

“Dewa telah memberitahumu. Carilah sihir itu.”

Ada sihir yang seharusnya bisa digunakan untuk menyelamatkan Toa. “Aku” mengatakan kalau aku harus menemukannya di akademi. Mungkin Sekolah Tinggi Sihir Heil Kuwait. Dan mungkin ada sesuatu di sana.

“Nenek Magi, apa yang kau lihat?”

“Kau tidak perlu bertanya. Stimulasinya terlalu kuat untukmu.”

Saat dia berkata begitu, dia menatapku dengan serius.

“Kau bilang namamu Nito, kan?”

“Eh … iya.”

“…Tidak, itu nama yang bagus. Nito, apa kau menyukai dunia ini?”

Wanita tua itu memiliki intuisi seolah telah menyadari aku adalah alien dari dunia yang berbeda. Dan saat aku memikirkan tentang akhir dari dunia ini, aku—

“…Jangan khawatir. Akulah pria yang bahkan berharap pada dunia ini. Dunia ini tidak akan jadi seperti itu. Tidak, seharusnya tidak akan pernah begitu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”

“…Begitu ya. Aku lega mendengarnya … kurasa aku mau istirahat dulu.”

Nenek menghilang ke dalam kamar setelah menunjukkan ekspresi lembut di wajahnya.

“Masamune, kau baik-baik saja?”

Ketika aku melihat Toa, aku teringat diriku di masa depan. Aku tidak bisa melihat sosoknya, tapi jika aku kehilangan Toa, apa aku akan seperti itu?

Ngomong-ngomong, Nem menjadi gadis yang cantik. Dia bahkan memanggil Sierra dengan sebutan “Kak”…

“Master aneh.” Nem memiringkan kepalanya saat melihatku yang tiba-tiba tersenyum.

“…Tidak apa-apa, aku baik-baik saja.”

“Jadi, kau sudah melihat masa depanmu?”

“Yah, begitulah… Lain kali aku ceritakan.”

Aku tidak akan mengatakannya pada mereka bertiga. Kalaupun aku memberitahunya—setidaknya hanya sedikit jika terjadi sesuatu yang buruk.

“Nito, kali ini aku ingin memberimu hadiah, tapi apa kau punya punya permintaan?”

Sufilia bertanya sebagai sang putri.

“Hadiah … Kalau begitu, aku ingin Trifal.”

“Maaf, aku tidak bisa memberikannya padamu.”

Sufilia menambahkan tidak apa-apa jika mau diambil saat meninggalkan negara ini, tapi tidak ada alasan yang tepat untuk melakukannya.

“Kalau begitu, kereta. Aku ingin pergi ke Heil Kuwait. Itu sebabnya aku membutuhkan kereta yang layak. Tentu saja, aku hanya akan menumpang dan mengembalikannya dengan baik.”

“Ayah, apa boleh?”

“Yah, tidak masalah.”

“Kalau begitu, kami akan menyiapkan segala sesuatunya dengan baik di sini.”

“—Yang Mulia! Saya datang untuk melapor.”

Tiba-tiba pintu besar aula terbuka dan seorang utusan muncul.

“Baik, bicaralah.”

“Ada sebuah dokumen yang datang dari Light Sphere!”

Ekspresi raja pun tampak mendung.

Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: E~to, onii-sama, jangan di-copy ya !!

Options

not work with dark mode
Reset