Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Chapter 58

Interlude Chapter 58 - Red Dragon

Interlude 5

x x x

merry christmas

“Putri! menunduklah!”

“Heathcliff, kalau terus begini kita berdua akan mati!”

Tidak ada pengemudi dalam kereta itu, dan sepertinya keretanya berjalan sendiri. Putri berambut biru itu dijaga oleh penjaga ksatria—heathcliff.

“Sepertinya kekurangan kekuatan magis, kalau begini…”

Trifal merupakan alat sihir. Dan sumber kekuatannya adalah kekuatan magis.

“Manusia! Jangan kira kalian akan mencuri hartaku dan membawanya dengan gratis.”

Suara rendah dan besar yang terdengar dari luar kereta membuat ekspresi mereka lebih menegang. Lalu atap kereta itu tiba-tiba lepas.

“Sekarang, kembalikan harta yang kau curi dariku.”

Aku bisa melihat wajah yang merah padam tepat di atas kereta. Dia menunjukkan taring yang tak terhitung jumlahnya dan matanya yang tajam dan besar.

“A-aku tidak akan memberikannya padamu! Aku tidak akan menyerahkannya! Bagiku, inilah yang kubutuhkan!”

“Hah, apa itu lebih penting daripada hidupmu?” Naga itu menatap matanya.

“Putri! Turunlah!”

Heathcliff mengarahkan pedangnya ke arah naga itu dan keluar di depan sang putri.

“Tidak mungkin, kau tidak bisa menantangku dengan pedang itu. Kau bahkan tidak bisa menusuk mataku dengan tusuk gigi seperti itu.”

Keringat mengalir dari dahi Heathcliff. Tangannya agak gemetaran, dan pedangnya bergoyang-goyang.

“Tepat. Aku baru saja datang untuk mendapatkan kembali apa yang telah kau curi.”

“Aku tidak bisa mengembalikannya! Inilah yang dibutuhkan Artemias!”

Saat berikutnya, naga itu memblokir jalannya dengan sayap kanannya yang besar dan memaksa kereta untuk berhenti.

“Bodoh. Manusia adalah makhluk yang benar-benar bodoh. Meskipun kalian begitu penyayang … apa kalian masih bisa berusia ratusan tahun?”

Naga itu mengangkat lengan sayapnya yang telah menghentikan kereta sekuat mungkin.

“Putri! Larilah!”

Itu adalah momen saat dia mengayunkan lengannya sekuat mungkin—Sosok pria yang melompat dan menendang ke arah naga raksasa di depan sang putri.

“Dragon Slayer Kick!!”

Raungan sang naga begitu kuat. Heathcliff meragukan penglihatannya. Karena naga besar yang dapat menghancurkan kereta kuda dengan satu lengan sayapnya itu memutar tubuhnya dan kehilangan keseimbangan, lalu terbang seperti karung pasir yang telah berubah bentuk.

“Gwaaa!”

Naga berteriak karena terkejut dan tertekan, lalu menggerakkan tubuhnya. Saat berguling, dia menggores tanah keras-keras, dan saat dia berhenti bergerak, dia terjatuh.

“Guh … apa yang terjadi.”

“Naga yang hebat, bisa aku membunuhmu?”

Melihat raksasa di samping kereta, Masamune memahami kurangnya status. Meskipun dia tak bertubuh gemuk, tapi dia telah berusaha keras. Dan dia tak berpikir naga itu masih bisa bangkit. Dengan kata lain, dia memahami bahwa ini terkait dengan perbedaan ras seperti manusia, binatang, dan iblis. Dan status setiap organisme tidak dinyatakan dalam nilai numerik.

“Kau … manusia?”

“Kenapa kalau aku manusia?”

Hidung naga itu menghembuskan nafas pasir dan menciptakan hembusan kecil. Tapi bagi Masamune, ini seperti badai kecil. Dengan mengayunkan tangan kanannya, Masamune menyingkirkan asap debu.

“Kau, tidak sopan menyebut Red Dragon dengan Hardy de Stein Gogh!”

“Tidak sopan…? Entahlah, tapi hentikan seranganmu itu. Hanya itu yang ingin kukatakan.”

“Tidak salah? Merekalah yang menyakitiku lebih dulu. Meski aku terlihat seperti ini, aku ini naga yang lembut, dan aku tinggal di dunia bawah. Aku bukan seperti naga yang dibayangkan para manusia bodoh.”

“Itulah yang kumaksud, tapi bagaimana menurutmu?” ​​Dia melihat dua orang yang bersembunyi di balik kereta yang jatuh. “Kau yang duluan menyerangnya, kan?”

Sang putri terjebak, dan dengan cepat Heathcliff mengulurkan tangan kanannya dan masih berusaha melindunginya. Tapi sang putri tak mengulurkan tangannya sama sekali.

“Aku tidak tahu siapa kau!” Sang putri muncul dari kereta. “Tolong bantu aku! Naga itu telah menyerang kami!”

“Putri, turunlah.” Wajah Heathcliff memerah dan kesal.

Sang putri mengenakan gaun putih. Di balik kereta mewah itu, Masamune yakin bahwa gadis itu adalah keluarga kerajaan.

“Ah, beritahu aku lebih jelasnya, apa yang sebenarnya kau lakukan?”

“Mereka mencuri permata naga. Itu harta naga yang diberikan oleh Raja Naga padaku. Itu bukan sesuatu yang bisa didapatkan manusia.”

Naga merah dan putri berambut biru. Masamune membandingkan mana yang bisa dia bantu. Sang naga khawatir tentang permata naga itu. Tapi tiba-tiba Masamune menyadarinya. Naga itu tidak menyerangnya saat dia tengah merenungkan sesuatu.

“Apa yang kau lihat, manusia?”

“Tidak. Ternyata kau sama sekali tidak menyerangku.”

“Hmm. Makanya kubilang, aku tidak akan menyerangmu.”

“Hmm. Yah, kalau bisa aku tidak ingin membunuh naga. Membunuh fantasi adalah tindakan konyol, apalagi kalau itu makhluk yang baik.”

Lalu Masamune menoleh ke sang putri.

“Hei, bisa kau kembalikan apa yang kau curi dari naga ini?”

“Hah! Bodoh … Apa kau percaya kata-kata naga itu?! Dia naga, bukan manusia, kan?!”

“Pada dasarnya manusialah yang tidak bisa mempercayainya,” bisik Masamune.

“…” respon naga itu yang tertawa melalui hidungnya.

“Maaf, aku tidak bisa mendengarmu!”

Sang putri tak terlalu mendengar.

“Jangan takut dan cepat kembalikan. Kau akan terbunuh kalau kau terus seperti ini. Negara yang kau lihat di sana itu bisa hancur pada saat yang sama. Itu negaramu, kan?”

“Hoo, kedengarannya bagus juga. Bukan hanya soal permata, ayo hancurkan sedikit negaranya lalu pulang.”

Naga itu mendengar bisikan Masamune. Mereka saling memandang dan tertawa.

“Biar kuberitahu, naga ini serius. Sebaliknya, apa dia lawan yang bisa kalian hadapi sejak awal? Tidak, itu tidak mungkin. Serahkan permata itu dan lindungi negaramu kalau kau adalah seorang putri. Aku tidak akan memberitahumu lagi. Terserah padamu.”

“Putri. Bawa permata itu dan larilah ke dinding.”

Heathcliff bersosok tegas. Di sisi lain, sang putri terlihat tenang.

“…Baiklah. Aku akan mengembalikan permatanya.”

“Putri?”

“Heathcliff. Dia benar, itu Red Dragon. Dia bukan lawan yang bisa kita hadapi. Kalau aku tidak mengembalikannya, Artemias akan binasa, seperti yang dia katakan.”

“Apa itu juga yang dikatakan Nenek Magi?”

“…Mau bagaimana lagi. Mungkin saja yang dia katakan itu mutlak.”

Setelahnya, permata itu dikembalikan pada sang naga. Namun, Masamune setengah curiga. Sosok sang putri yang mengambil permata dari kereta menghembuskan napas dalam-dalam dari lubuk hatinya.

“Maaf.”

“Tidak perlu minta maaf.”

“Hei.”

“…Apa?”

“Bisa kau meletakkannya di punggungku?”

“…Nggak mau.”

“…Dasar kau.”

Lalu Masamune dan Hardy tersenyum menjereng gigi mereka.

“Aku bisa mendapatkan permata itu kembali dengan selamat. Siapa kau ini? Sudah lama sejak ada pria yang menendangku.”

“Aku cuma seorang petualang. Aku ingin dengar lebih banyak. Apa kau memang naga?”

“Benar. Aku naga. Di dunia aku dikenal sebagai Red Dragon. Mungkin aku telah dilupakan karena aku berusaha untuk tidak muncul di dunia manusia.”

“Begitu ya… aku Nito.”

“Nito? Itu nama yang aneh.”

“Ini pertama kalinya aku tahu kalau seekor naga punya nama.”

Masamune bertanya-tanya tentang naga yang terlihat serius itu.

“Kenapa?”

“…Aku ingat masa lalu saat melihatmu.”

Naga itu melebarkan sayapnya yang besar. Sayap itu bahkan lebih besar dari tubuhnya sendiri. Lalu dia melompat tinggi ke langit.

“Selamat tinggal, manusia. Aku akan membalas kebaikanmu ini suatu hari nanti.”

“Aku tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi nanti…”

Tidak ada lagi kata-kata, naga itu terbang menjauh. Yang dia ingat ada seorang putri yang bersembunyi di kereta mewah. Masamune berbalik.

“Hei, aku pergi.” Keduanya muncul begitu mendengar suara Masamune.

“Permatanya…” kata Heathcliff.

“Sudah dia bawa. Memang awalnya karena itu kan dia mengejarmu?”

“Heathcliff. Sudah aman sekarang.”

Sang putri mendekati Masamune tanpa khawatir.

“Aku Sufilia Artemias. Kota benteng yang bisa kau lihat di sana adalah Artemias, negaraku.”

“Oh. Apa kau seorang putri?”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Entahlah, tahu saja. Terlihat dari keretanya yang mewah.”

“Putri Sufilia!” Heathcliff menyela percakapan mereka. “Jangan mengungkapkan identitas Anda dengan sembarangan. Kita belum memutuskan untuk mempercayainya.”

“Dia Heathcliff. Pengawalku.”

Sufilia mengabaikan Heathcliff yang kelihatannya sedang kesal.

“Aku Nito. Ngomong-ngomong, kenapa putri dari suatu negara mencuri permata? Dari naga lagi.”

“Itu…” Sang putri sepertinya sulit untuk mengatakannya.

“Itu bukan hal yang perlu diketahui oleh orang biasa sepertimu.”

“Kata-kata yang mengerikan. Itukah yang kau katakan pada penyelamat kalian? Apa semua bangsawan Artemias memang seperti itu? Ah, aku kecewa…”

Sang putri menolak kata-kata itu. Lalu, kereta Toa datang.

“Masamune! Apa kau terluka?”

Toa melompat keluar lebih dulu. Lalu kulihat Nem dan Sierra.

“Ah, dia naga yang ramah. Dia sangat berbeda dari para ksatria dan putri dari beberapa negara.”

“Aku mengerti!” Putri yang tertekan mengangkat wajahnya dengan penuh semangat.

“…Apa apa?”

“Karena kau bilang begitu, aku akan mengundangmu ke kastil.”

“Aku tidak mengerti maksudmu mengatakan itu, maksudku, apa itu berarti teman-temanku juga bisa ikut bersamaku?”

“Apa…?”

Sufilia tak memperhatikan sosok Toa karena dia melihat ke bawah. Dia pikir itu hanya Masamune.

“Tentu saja! Semua orang diundang ke kastil!”

x x x

Kota benteng Artemias.

Ini adalah Istana Kerajaan yang dimiliki oleh keluarga Artemias—Balfalk Castle.

“Ayah. Aku kembali.”

“Sudah pulang, Sufilia? Bagaimana?”

Matahari bersinar melalui jendela kaca patri yang menerangi aula dengan bendera nasional di kedua ujungnya. Tapi itu hanya apa yang kau lihat di balik takhta. Meski luas, Masamune merasa ruangannya tertutup.

“Aku tidak mendapatkan permatanya.”

“Oh, begitu. Dan siapa mereka?”

Empat orang berlutut dengan satu lutut di belakang Sufilia. Masamune merasa sesak di dalam hatinya. Namun, karena dia teringat pada Sierra, dia tak menunjukkan ekspresi wajahnya.

“Akan kujelaskan.”

“Hm.”

Kepada raja yang mengangguk, Sufilia menceritakannya padanya.

“Terima kasih banyak telah membantu Sufilia kali ini.”

“Tidak, aku sama sekali tidak—” Sierra menepuk bahunya.

“Masamune. Hati-hati dengan kata-katamu. Tak peduli betapa sepelenya ucapanmu, kalau kau membuat tersinggung Raja Artemias, kita akan segera dihukum mati.”

“Terima kasih.” Dia mendengar nasihat Sierra.

“Ngomong-ngomong, Ayah, di mana Nenek Magi?”

“Aku di sini.”

Seorang wanita tua muncul dari sudut aula. Pinggangnya tampak bengkok dan membuatnya sulit untuk berjalan.

“Maafkan aku, Nenek Magi. Permatanya telah dirampok oleh naga.”

Masamune mendesah mendengar kata-katanya. Sekali lagi, Sierra menepuk bahunya.

“Huh!” Tiba-tiba, Nenek Magi tertegun melihat empat orang di depannya.

“Ada apa, Nenek Magi?” tanya Sufilia.

“Sufilia, pria itu! Dia pria yang kulihat!

“Eh, aku?”

Dengan kuat wanita tua itu menunjuk Masamune.

Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: E~to, onii-sama, jangan di-copy ya !!

Options

not work with dark mode
Reset