Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Chapter 56

Interlude Chapter 56 - Keberangkatan

Interlude 3

x x x

Keesokan harinya, pertemuan rutin diadakan di Markas Ksatria Putih.

Diawali dari perkataan Reinhard, “Greyberg telah membuat informasi publik,” dan lima orang yang kemudian diberitahu, “Istananya telah menghilang”, tidak mengerti apa maksudnya dan ruang pertemuan berubah menjadi sunyi.

“Apa maksudnya menghilang?”

dukung klik iklan

Raid menekankan kata “menghilang.”

“Segala sesuatu di situs itu, termasuk istana kerajaan, menghilang dalam semalam. Hanya pagar dan gerbangnya yang tersisa, juga raja, putri, dan pihak lainnya menghilang. Sepertinya ada jejak yang berupa lubang besar di dalam tanah. Selain itu, ada satu hal yang aneh—”

Bukan hanya Raid. Tampaknya Ksatria Putih lainnya kesulitan untuk memahaminya.

“Bola hitam besar yang disaksikan sebagian besar orang muncul di pagi hari dan dapat terlihat dari kota di dekat Greyberg—Mira. Perkiraan posisinya ada di dasar istana kerajaan, tempat hilangnya istana. Sepertinya hilangnya istana itu berhubungan dengan lubang ini.”

Tapi satu orang, yaitu Sierra, menunjukkan reaksi berbeda. Jika itu karena Dragon Heart, jelas bahwa Masamune terlibat.

“Reinhard. Apa itu artinya Dragon Heart yang telah melakukannya?”

Namun, mereka semua baru mendengarnya, dan tidak ada yang mendengar tentang Masamune.

“Pengungkapan informasi tampaknya merupakan niat dari raja yang baru saja memerintah—Arthur Greyberg, dan dia menegaskan secara tertulis bahwa penyebabnya hampir dipastikan adalah Dragon Heart.”

Dengan kata lain, Masamune juga terlibat. Sierra bingung, dan sejenak khawatir dengan tindakan Masamune. Namun, fakta bahwa istana menghilang tidaklah mudah untuk dipahami, dan itu juga agak mencurigakan.

“Aku akan melaporkan kasus ini segera setelah aku mendapatkan informasinya. Lalu Sierra, ada yang perlu kubicarakan denganmu.”

“…Oh, aku?”

Dia mendengar suara Reinhard saat pikirannya teralihkan dari agenda kepada Masamune. Sierra tampak seolah ia tertangkap basah karena lengah.

“Nito akan segera meninggalkan negara ini. Bersamaan dengan itu, Sierra. Aku berpikir untuk melepaskan posisimu sebagai Ksatria Putih.”

Karena tak bisa memahaminya, Sierra terdiam.

“Aku sudah lama berkonsultasi dengan Hilda.”

Sierra menatap Hilda.

“Sierra. Ini tidak wajib. Kalau kau ingin tinggal di negara ini, tentu saja, tidak apa-apa. Tapi Hilda ingin kau berpetualang.”

“Sierra. Kurasa kau harus melihat dunia sesekali.”

“Kakak…”

“Meski dirimu masih di sini, pikiranmu di sana. Kalau kau bepergian dengan Masamune dan Toa, melihat berbagai hal dan menyentuh nilai yang berbeda, sesuatu pasti akan berubah. Dan kau juga menginginkannya.”

“Tapi aku seorang Ksatria Putih—”

“Ksatria Putih bisa kau lakukan bahkan setelah kau tua, tapi ini perjalanan barumu bersama mereka sekarang. Setiap orang punya kesempatan. Tapi begitu kau melewatkannya, kesempatan seperti itu mungkin jarang terjadi lagi.”

“Kenapa kakak menyuruhku untuk berubah? Apa yang salah denganku?”

Raid, yang tenang mendengarkan pembicaraan pun menyela. “Jujur saja, aku tak suka berbicara dengan sesama anggota di tempat lain, tapi yah, aku sudah cukup lama berhubungan denganmu. Jadi aku berani mengatakan ini padamu. Sierra, singkatnya, mereka semua berbicara tentang pedangmu.”

“Pedang … ada apa dengan pedangku?”

“Hanya ini yang bisa kukatakan, pedangmu seperti pedang model. Kalau ada seorang ksatria kerajaan yang perlu diajari oleh salah satu dari kami cara berpedang, tanpa ragu aku akan memilihmu. Tidak ada kesempatan bagi pedangmu. Tapi itu cuma sebuah contoh.”

“Maaf, tapi Raid. Aku tidak mengerti apa maksudmu.”

“—Terlalu biasa. Tidak ada apa pun di pedangmu. Tentu saja, kau mungkin telah belajar dari pertempuran itu. Tapi biar aku perjelas. Pertumbuhanmu hanya sampai di sini, tidak lebih. Aku jamin itu.”

Ada amarah yang bercampur di mata Sierra. Namun, tidak ada kata sanggahan yang keluar, dan ia berusaha mati-matian menahannya.

“Pedang merupakan cermin yang memantulkan dirimu sendiri, contohnya adalah sabitku, yang selalu ada warna di suatu bagiannya. Aku bukannya ingin bilang kalau kau tidak punya kepribadian. Tapi terlepas dari pedang, kau terlalu biasa. Kau normal dalam berbagai elemen yang membentuk kepribadianmu. Tapi keadilan dan moralitasmu lemah. Ini cuma contoh. Kau tak malu untuk menunjukkannya pada siapa pun, tapi itulah kelemahanmu. Saat kau bersaing dengan seseorang yang memiliki level yang sama denganmu, kau selalu kalah, dengan kata lain kau tak punya peluang untuk memenangkan pertarungan. Itulah dirimu sekarang.”

“…Aku tidak mengerti. Raid, kau bilang keadilanku lemah?”

“Itu pedang pinjaman. Tidak apa-apa kalau kau ingin jadi ksatria. Tapi kalau kau menginginkan sesuatu yang lebih, kau perlu menemukan pedangmu sendiri.”

“…”

“Sierra, kau tidak harus memutuskannya sekarang, tapi kau harus putuskan sebelum Nito pergi.”

Menanggapi kata-kata Reinhard, Sierra berbisik, “Baiklah.”

x x x

Kediaman Ecarlat.

Tak lama setelah pertemuan usai, Sierra dan Masamune berada di dekat petak bunga di taman. Masamune, yang dipanggil untuk membicarakan sesuatu, sedang menunggu kata-kata Sierra. Namun, Masamune yang sebelumnya telah diberitahu oleh Hilda dan Raja Arnold, sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh Sierra.

“Aku mendengar tentang Greyberg kalau istananya menghilang…”

“Benarkah?”

“Setelahnya, aku juga mendengar kalau Masamune dan Toa akan meninggalkan ibu kota kerajaan.”

“Nem sedang pergi ke gereja sekarang. Sepertinya dia juga pergi ke tempat Sharon. Aku akan membawa Nem dengan seizin Suster. Bagaimanapun, aku ingin dia ikut denganku.”

“Begitu ya?”

Terjadi jeda dalam pembicaraan. Masamune menyadari keadaan Sierra. Namun, Sierra juga menyadari bahwa Masamune mengangkat topik Nem untuk mengalihkan perhatiannya.

Namun,  Sierra melanjutkan bicaranya.

“Masamune … Apa menurutmu, perbuatan Masamune itu benar?”

“Maksudmu soal Greyberg?”

“Iya.”

“…Aku tak berpikir itu benar, dan aku juga tidak memutuskan tentang benar atau tidaknya. Aku hanya tidak menyesalinya.”

Namun, ada penyesalan di raut Masamune. Masamune sendiri tidak tahu apa perasaan itu dan dia hanya menyebutnya “penyesalan”, tapi dia terus terjebak dalam sesuatu.

“Kudengar istananya menghilang. Apa itu artinya kau juga tidak menyesalinya?”

“Seseorang berkata bahwa kebaikan dan kejahatan itu abstrak. Dia juga bilang dia percaya pada apa yang dia lakukan. Di sisi lain, dia memilih jalan yang tidak akan dia sesali. Kata-katanya berbeda, namun esensinya sama. Aku tidak menyesalinya.”

“…Tidak ada apa pun di pedangku.”

Masamune menatap Sierra yang tiba-tiba berkata demikian.

“Mereka bilang keadilan dan moralitasku lemah. Mereka juga bilang aku tak punya cukup pengalaman, dan pedangku adalah pedang pinjaman … Dulu, aku bersikap positif tentang apa yang Masamune lakukan. Tidak, sekarang pun aku masih berpikir begitu. Tapi sekarang aku tak percaya pada diriku sendiri, aku emosi mendengar pedangku adalah pinjaman … Masamune, apa yang harus aku lakukan?”

“…Tidak ada gunanya mengkhawatirkan soal itu.”

Masamune tidak tahu harus menjawab apa.

“Apa Reinhard yang mengatakannya? Apa sikap ksatria itu sangat buruk? Bagaimanapun, dia tidak bisa mengatakan hal seperti itu pada orang yang telah hidup selama 17 atau 18 tahun. Sudah jelas, tapi kalau aku ketahuan, aku sudah pasti akan dibunuh daripada disalahkan. Tapi jika kami tidak melakukan apa-apa, perang akan dimulai.”

“Perang? Jadi ini tentang keadilan?”

“Aku bukannya pergi untuk menghentikan perang, dan aku tidak tahu karena itu adalah alasan Dragon Heart. Apa menurutmu mereka jahat?”

“Aku tidak tahu. Aku tidak bisa menilainya sekarang. Apa yang harus aku lakukan…”

“Mungkin kau butuh waktu untuk menemukan jawabannya. Yah, menurutku sederhana saja. Kalau kau tidak ingin pergi, maka tinggallah di ibu kota kerajaan. Kalau kau ingin pergi, pergilah bersama kami besok.”

“Eh, besok?!”

“Oh, maaf kalau mendadak. Seharusnya aku pergi lebih awal, hanya saja karena tertunda oleh Dragon Heart ataupun kerajaan.”

“Begitu ya…”

Masamune tahu arti ekspresi Sierra yang menggumamkan kata-katanya. Dia punya ide apa yang harus dia katakan, lalu biar Sierra yang memutuskan.

“Menurutku itu lebih baik daripada menjadi Ksatria Putih Kerajaan. Ditambah lagi, Toa dan Nem pasti akan senang, dan Sierra tidak akan kesepian. Dan sisanya, Sierra lah yang memutuskan.”

Terlihat Nem dan Toa di sana. Sierra memperhatikan mereka dan secara alami dia tersenyum.

“Aku ingin pergi…”

Sierra bergumam.

“Aku … aku ingin berpetualang dengan kalian semua.”

“Eh? Semudah itu? Oke, tidak apa-apa.”

“…Benar juga ya. Mungkin saja. Kurasa memang aneh karena aku memutuskannya semudah itu.”

Sinar matahari di taman menerangi sosok Sierra yang tersenyum lega. Tidak ada lagi wajah depresi Sierra yang menyapa Toa dan Nem. Di depan pemandangan tersebut, pandangan Masamune tidak jelas entah ke mana, dan sepertinya dia sedang melihat sesuatu yang berbeda.

“Tidak, akulah yang ingin pergi…”

Dengan tersenyum lelah, Masamune menatap ke atas langit.

x x x

Hari berikutnya.

Sesampainya di gerbang utama ibu kota kerajaan, kami disambut oleh para petualang yang dipimpin oleh Yogi, Sharon, dan ksatria putih dengan pakaian polos, yang berbeda dari pakaian berdominan putih seperti biasanya.

Pahlawan, dengan kata lain, aku meninggalkan negara ini, dan ada penduduk kota dan pelancong yang hadir di daerah tersebut. Maria juga sangat tersentuh diiringi dengan air mata yang mengalir.

“Maria, kalau kau menangis, Sierra dan Masamune juga akan menangis.”

“Tuan Brown, Nito ada di sana.”

“Ah, benar. Jagalah Sierra, Nito.”

Petualang membuka jalan. Dan aku melihat Yogi bersama dengan para petualang yang lainnya.

“Rasanya seperti baru kemarin aku menyarankanmu untuk tidak menjadi seorang petualang. Sekarang memang sudah terlambat, tapi aku minta maaf karena telah mengatakan kau yang terlemah saat itu. Kaulah pahlawan negara ini.”

“Wah, ternyata kau bisa baik juga ya. Sampai jumpa Yogi, sampai ketemu lagi.”

“Kalian akhirnya akan meninggalkan negara ini. Aku akan mentraktirmu minum bir lagi saat bertemu denganmu dalam perjalanan. Jangan lupakan nama Yogi ini, yang membelikan bir untuk pahlawan Nito.”

Oh, aku akan mengingatnya.

Nem meminta maaf dan mengucapkan salam perpisahan pada Suster. Anak-anak dari panti asuhan yang sama pun turut menyaksikan. Sierra mengucapkan selamat tinggal pada Sharon. Toa menyeringai menanggapi permintaan maaf Cedric. Dan saat aku menoleh, sosok mereka terpampang di depanku.

“Saat semuanya sudah membaik, aku ingin bertarung denganmu.”

Ada Raid di balik gerbang utama. Di sampingnya adalah Reinhard.

“Maaf aku pernah menghajarmu sebelumnya, Raid. Karena ini yang terakhir kalinya, aku akan minta maaf.”

“Jangan ingatkan aku soal itu, anak jelek.”

Dalam keadaan kesal tapi dengan sedikit tersenyum, Raid berjalan menuju Sierra.

“Apa ini benar-benar yang terbaik? Bawalah Sierra bersamamu.”

“Ah, jagalah Sierra. Ini akan baik untuknya dan negara ini.”

“Aku akan memberitahumu, kalau-kalau kalian ingin mencariku.”

“Kau orang yang hati-hati. Apa karena nama samaranmu itu?”

“Ada banyak hal juga yang terjadi padaku.”

“Aku sudah memberitahunya tentang tujuan ke mana kau akan pergi. Kau akan tiba di Heil Kuwait dalam beberapa hari.”

“Maaf karena kau harus menyiapkan kereta kuda meskipun aku tidak memintanya. Ini sangat membantu.”

“Kau seorang pahlawan. Itu tidak terlalu penting. Bahkan itu masih tidak cukup.”

“…Baiklah, Reinhard. Lindungilah ibu kota kerajaan.”

“Akan kulakukan tanpa kau minta.”

Tidak ada percakapan lebih lanjut dan aku menuju gerbong kereta terlebih dahulu. Kulihat Toa juga ikut masuk.

“Sierra kelihatan sedih.”

“Dia akan meninggalkan kampung halamannya tempat dia dilahirkan. Itu wajar saja. Yang perlu dia lakukan adalah mengucapkan salam perpisahan sampai dia merasa lebih baik.”

Lalu aku melihat Nem berlari dan hendak melompat ke dalam kereta.

“Nem. Apa dia baik-baik saja setelah mengucapkan salam perpisahan pada Suster dan semua anak-anak panti asuhan?”

“…Ya. Bahkan jika dia berbicara dengan mereka, itu hanya akan membuatnya sedih.”

“Sampai jumpa lagi. Aku akan kembali suatu hari nanti, sampai jumpa.”

Aku dengan lembut menepuk Nem yang menahan kesedihannya.

Ketika beberapa saat Sierra naik, keretanya mulai bergerak.

“Sampai jumpa lagi!”

Nem melambaikan tangannya dan dengan keras mengucapkan sampai jumpa kepada orang-orang di depan gerbang utama. Toa dan Sierra juga mencondongkan tubuh mereka ke luar kereta, dan bersama-sama melambaikan tangan.

“Hidup pahlawan!”

Aku khawatir saat aku mendengar banyak suara, dan aku sedikit mengintip keluar dari lengan bajuku. Hilda memalingkan wajahnya padaku dan mengedipkan matanya seolah ingin berkata, “Jaga Sierra.”

Aku membalasnya dengan senyuman kecil atas permintaannya.

Kami pun menjauh dari ibu kota kerajaan.

Ketiganya melambai sampai semua orang tak terlihat, tapi aku sendiri bersandar di kereta. Yang mengambang di dalam kegelapan adalah wajah Aries dan Saeki yang seharusnya terbunuh. Saat aku terus memikirkan tentang perasaan asing yang menggangguku, aku menghela nafas karena aku tak bisa menemukan jawaban seperti biasanya.

Aku berpaling ke luar kereta sehingga aku bisa lepas dari rasa hampa itu, dan meminta jawaban di kejauhan.

Tapi seperti biasa, langit kelabu ini tidak memberitahuku apa pun.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset