Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Chapter 41

Chapter 41 - Kepribadian

lightnovelku-sieg

Sieg, Pemimpin Organisasi Dragon Heart

merry christmas

* * *

“Hei, Master. Setidaknya perkenalkan diri dulu dong, kau ini membuatku sedih saja.”

Makhluk menyebalkan apa ini…?

“Kau … apa kau Mimic?”

“Kenapa kau berpikir kalau aku ini Mimic! Bedakan dong, bedakan! Jangan samakan aku dengan makhluk yang lebih rendah!”

Ternyata bukan Mimic. Dan kalaupun dia Mimic, tak ada alasan untuknya berbicara. Jadi, apa ini?

“Terus kau itu apa, dong?!”

Sungguh aneh berbicara dengan tongkat. Secara alami aku mengajukan pertanyaan sambil merasakan keanehan dari sikapku sendiri.

“Namaku Belphegor! Panggil aku Bel!”

“Master? Ngomong-ngomong, kau memanggilku begitu tadi.”

“Hmm, apa bedanya? Kau kan memegangku.”

Aku tak mengerti maksudnya. Entah bagaimana aku bisa menjadi “Master” hanya karena aku memegangnya. Dalam hal ini, aku tak punya pilihan selain bertanya pada seseorang yang tampaknya mengerti hal ini.

“Hei, apa ini?”

Saat aku bertanya, mereka bertiga tampak bingung. Karena penasaran, Eliza mendekati tongkat ini.

“Apa sih, Nona? Kalau kau menciumku, Nona bisa jadi Master, lho,” goda Bel dengan cerewetnya.

Ekspresi wajah Elisa sepenuhnya berubah, dan dia mengubah ekspresi wajahnya seolah-olah dia melihat sesuatu yang kotor, dan segera mengambil jarak dari Bel.

“Keh! Apa-apaan ini? Aku cuma bercanda. Itu sebabnya aku tidak suka manusia. Wanita jaman sekarang memang tidak bisa diajak bercanda, ya? Dunia memang sudah berubah.”

“Apa kau ini Monster?”

Sieg, yang begitu tenang, bertanya dengan agak takut-takut.

“Beda! Aku bukan monster! Aku ini setengah dari tubuh Master, panggil aku Bel.”

“Sieg, kau tahu apa ini?”

“Aku tidak tahu. Ini pertama kalinya aku melihat tongkat yang bisa bicara.”

“Ngomong-ngomong, kelihatannya tongkat seperti itu muncul di buku yang kubaca saat aku masih kecil…”

Entah kenapa, Alford mulai bergumam.

“Bukannya itu seorang petualang tanpa nama? Aku juga sudah membacanya.”

Dongeng apa yang membuatmu sampai datang ke dunia yang berbeda? Hentikan saja, jangan dengarkan mereka.

“Oke, akan kuperiksa lagi bukunya lain kali. Lihat itu, sepertinya dia sedang menunggu kita.”

Aku menemukan Aries yang menatapku dari aula. Dia mengamati wajah mereka bertiga secara bergantian, lalu menyipitkan matanya saat dia menatapku dan tersenyum seolah dia mencariku melalui senyumannya itu.

Namun, aku salah menangkap ekspresinya. Intuisiku lah yang bilang begitu. Jika benar demikian, maka dia sedang memainkan sesuatu sekarang. Apa alasannya hingga dia harus membuat ekspresi seperti itu … apa ada sesuatu yang tak kupahami…?

Terlihat sekali olehku bahwa Aries tengah ragu dan bertanya, “Siapa kau?”

“Jadi ini sisi naifnya~”

Ini bukti bahwa defisit kognitifnya* tengah menggerogotinya. Jadi aku tidak akan memberi tahu Aries. Cepat atau lambat aku akan membunuhnya hari ini. Tapi aku tidak akan membunuhnya dengan percuma. Aku memang akan membunuhnya, tapi aku akan membunuhnya secara perlahan. Termasuk raja yang ada di belakangnya itu.

[TL/note: *semacam perubahan kepribadian dan perilaku, dan termasuk kriteria dlm diagnosis penyakit Dementia. Salah satu tandanya adlh dengan terganggunya daya ingat]

“Bel, apa yang bisa kau lakukan? Kau memanggilku Master, jadi kau bisa membantuku, kan?”

“Maaf kalau aku menjawabmu kembali dengan pertanyaan, tapi apa yang ingin Master lakukan?”

Pintu masuk itu telah berubah menjadi tumpukan puing karena dampak dari tabrakan sihir sebelumnya.

“Aku ingin kau menghilangkan puing-puing ini. Dan api yang menyebar sangat menghambat, sulit untuk masuk.”

“Haruskah aku menghilangkannya?”

“Ya.”

“Aku mengerti. Ya baiklah, pegang tongkatmu, Master!”

Pria yang sopan. Bel memintaku memegang tongkat.

“―[Greedy Dark Pearl]”

Pada saat Bel mengucap mantra, bola hitam besar tiba-tiba muncul di tempat di mana ada sebuah pintu besar dan menelan puing-puing serta api membara yang tersebar di sekelilingnya.

“Hm? … Ada orang yang kena juga?”

Ada pengumuman terus-menerus di kepalaku. Setelah mengkonfirmasi kematian dengan total 17 orang, barang rampasan telah masuk dengan sendirinya.

“Hmm, sepertinya beberapa orang ikut terbunuh. Yah, itu karena kehendak Master, jadi itu bukan salahku.”

“Bel? Apa maksudmu?”

“Itu karena kekuatan sihir Master sangat tinggi!”

Bel mulai berisik, dan bola yang barusan dikerahkan berkontraksi dan menghilang seolah-olah terhisap ke bagian dalam bola. Puing-puing yang berserakan telah hilang, dan bola itu juga melenyapkan dinding dan langit-langit di dekatnya.

“Bagaimana Master, aku hebat, kan?”

“Oh, aku takut. Aku nggak bisa bilang apa-apa lagi.”

Ada lebih dari selusin orang yang mengenakan jubah di aula yang luas, termasuk Johannes dan Aries. Tampaknya mereka menempatkan prajurit di dekat pintu masuk untuk melindungi mereka karena jumlah mereka yang tersisa sangat sedikit. Sepertinya sihir yang barusan itu adalah semacam sihir gravitasi atau pengisapan, yang memaksa menarik targetnya. Tapi di sisi lain, sihir itu mirip dengan Erosion. Beberapa waktu lalu, aku melihat seorang prajurit yang terseret dengan tubuhnya yang membungkuk.

“Apa Master ingin aku melakukan serangan lain?”

“Tidak, ini sudah cukup.”

“Hah, membosankan. Master tidak mau menyerang lagi? Yah, baiklah. Tapi, dari mana Master mendapatkan sihir ini? Kau ini mengerikan!”

Bel terlalu banyak bicara. Menurut Bel, sepertinya kekuatan sihirku ini mengerikan.

“Nito, mau sihir apa pun yang kau gunakan, aku tidak terkejut sama sekali.”

Sihir Bel sepertinya telah menghilangkan kesan Sieg.

“Nito, saat pertarungan ini berakhir, kau secara resmi bergabung dengan kami. Kami menyambutmu.”

Setelah melayangkan bendera kematian, Alford menuju ke aula mengikuti Sieg.

“Yah … mari kita lakukan yang terbaik.”

Eliza terhanyut dalam semangat salam sosial yang diucapkan Alford. Sementara aku, tak banyak yang bisa kukatakan dan tetap diam. Selain itu, aku juga tak merasa antusias.

Malam ini, cahaya bulan bersinar melintasi langit-langit yang runtuh. Cahaya itu menyinari wajah Aries yang penuh kebencian, dan rambut keemasannya yang berkilau berayun-ayun.

Aku ingin tahu, apa pria yang bertemu dengannya di jalan akan terpesona melihat pesonanya ini. Aku juga ikut bersimpati atas lubang-lubang yang terbentuk akibat serangan barusan. Dan di mataku, dia tampak begitu jahat.

Apa ini ketenangan sebelum badai? Aula begitu sunyi sehingga aku bisa mendengar setiap helaan napas.

“Tidak ada gunanya kami memperkenalkan diri,” kata Sieg, sang pemimpin. “Aries Greyberg, Johannes Greyberg, dan lainnya yang terlibat dalam pemanggilan pahlawan akan mati di sini.”

Pada saat Sieg memberitahukan niatnya, ekspresi Aries berubah menyebalkan.

“Lelucon macam apa itu? Mati? Dan apa maksudnya pemanggilan pahlawan? Kami tidak tahu.”

—Wajah itu.

Ekspresi pada saat dia membuangku, yang mengataiku tidak kompeten, menghinaku, dan membenciku. Dan dia memiliki cara yang pintar untuk mengubah rasa frustrasinya menjadi itikad buruk terhadap orang lain. Namun, itu akan jadi masalah untuknya.

* * *

“[Transfer Network Expansion]”

Lingkaran sihir meluas dari kaki Aries ke seluruh ruangan.

“[Meta Transitions]”

Pada saat itu, Aries menghilang.

“Aku tahu, Dragon Heart—”

Suaranya menggema.

Setiap saat, Aries muncul di seluruh ruang aula dan menghilang, mengejek Sieg yang menunjukkan ekspresi tegas penuh kewaspadaan. Ini adalah gerakan instan yang dapat disebut dengan gerakan sesaat (Momentary Movement). Sieg diombang-ambingkan oleh gerakan Aries.

Di samping itu, Masamune yang tanpa ekspresi mengatakan, “[Destruction Soul Break]”, dan dengan tenang memberi tahu mereka bertiga, “Serahkan dia padaku.”

Tiba-tiba, angin bertiup kencang hingga menerbangkan rambut panjang Sieg. Segera setelah itu, jendela kaca yang mewarnai seluruh dinding kiri aula di depan tahta, hancur serentak.

Suara penderitaan pun terdengar. Jeritan, nafas kasar, batuk, dan muntah. Secara refleks, semua orang mengikuti asal suara dan melihatnya. Apa yang mereka lihat adalah Aries, yang dicekik oleh seorang pria bertudung dan menempel pada pilar.

Cahaya bulan menyinari darah yang mengalir dari mulut ke dagunya. Aries meraung samar.

“Aries!”

Johannes berteriak pada sang putri yang dicekik itu.

“Nito…?”

Sieg dengan ragu memanggilnya saat dia melihat Masamune. Gerakannya ketika menangkap Aries bahkan tak terlihat oleh Sieg.

Mungkin Masamune tidak mendengarnya karena dia tak menoleh ke belakang. Dia mencengkeram leher Aries dengan tangan kirinya tanpa berniat melepaskannya. Tongkat Bel juga terlihat di tangan kanannya.

“Lepaskan…”

Aries meronta kesakitan.

Masamune mengintip sedikit dengan satu mata dari balik tudungnya, dan menatap wajah wanita itu tanpa ekspresi.

“Kau kelihatan berbeda dari waktu itu…”

Setelah berbisik, Masamune menggerakkan tangan kirinya dan melempar Aries ke lantai.

“Ugghh!”

Aries secara praktis terbanting ke lantai, terbatuk dengan keras, dan perlahan mencoba berdiri.

“Itu bukan suara seorang putri.”

Langkah demi langkah, Masamune mendekati Aries yang sedang merangkak.

“Aku akan membunuhmu atas dasar kebencian. Kau yang telah membuatku merasakan kebencian ini dan membuatku berharap, aku sendiri yang akan membunuhmu dan kau harus mati. Dengan begitu aku tak punya dendam lagi terhadapmu!”

Aula tampak tenang. Sieg melihat gelombang merah kehitaman yang keluar dari tubuh Masamune, namun Sieg tidak tahu apa itu. Sieg tidak tahu apakah itu sihir atau sesuatu yang lain.

“[Odium Aura (Strengthening Offense and Defense)]―”

Sambil menatap Aries, dia mengarahkan tongkat di tangan kanannya ke arah mereka bertiga, dan Masamune merapalkan sihirnya.

Tubuh ketiganya terbungkus dengan aura ungu dan kemampuan mereka ditingkatkan.

“Itu akan memperkuat serangan dan pertahanan baik fisik maupun sihir. Sesuai rencana, kalian urus yang lainnya.”

“Dari jarak ini, dia bisa memberikan sihir tanpa lingkaran sihir?!”

Eliza meragukan penglihatannya saat melihat aura di tubuhnya.

“Saat sihirnya diberikan dari jarak jauh, teknik ini cenderung tidak stabil. Jika ada lebih dari satu obyek yang menerima sihirnya pada saat yang sama, barulah lingkaran sihir diperlukan. Kalau tidak menggunakan lingkaran sihir, tekniknya akan runtuh dan Magical Runaway akan terjadi.”

Sieg menganalisis dengan ekspresi tenang.

“Tapi, Nito memberikannya tanpa lingkaran sihir.”

Alford heran dan tak tahu harus berkata apa lagi.

Sieg memperhatikan Masamune. Dia merasa aneh sebelum datang ke sini. Masamune kadang-kadang bersikap menjadi lebih kejam di depan musuh-musuhnya. Sekarang, dia bahkan diselimuti oleh gelombang merah kehitaman. Eliza dan Alford juga tak bisa menjelaskan tentang gelombang itu. Namun ketiganya menyaksikan sesuatu yang lebih tidak bisa mereka pahami.

“Nito … kau baik-baik saja?”

Saat itulah Sieg menanyakan hal itu pada Masamune yang menghadap ke Aries.

“Apa apa?—”

Pada saat Masamune berbalik, rasa dingin menusuk tulang punggung ketiganya. Mereka terdiam oleh kata-kata Masamune begitu melihat mata merah yang menatap mereka.

Itu adalah mata kiri Masamune, dan itu tampak lebih menakutkan di dalam kegelapan ini.

“Hmm…?”

Dia meragukan tiga orang yang menatapnya.

“Aku akan membunuh mereka, jadi yang lainnya aku serahkan pada kalian.”

Ekspresi Masamune tampak biasa. Saat dia mengalihkan pandangannya lagi, Masamune dengan ringannya menginjak tangan kanan Aries.

Tulang-tulang tangannya hancur, dan Aries mencoba menahan rasa sakit yang hebat. Lalu, teriakannya menggema.

“Aries!”

Para prajurit infanteri di aula mulai bergerak untuk membantu Aries.

“[Explosion]”

Namun, Alford menghentikan mereka. Tidak ada lingkaran sihir, dan tiba-tiba tubuh beberapa penyihir meledak dari dalam.

Setelah menggenggam pedang besarnya, Sieg membantu Alford dan mulai menyerang musuh. Dengan tubuh yang terasa ringan, dia menebas leher penyihir dan membunuhnya.

“Kau dengar itu, Aries? Kau akan jadi seperti itu juga,” kata Masamune.

Itu adalah teriakan para penyihir yang terbunuh satu per satu.

“Hei, menyingkirlah dari Aries! – [Great Spear of Soil]!”

Johannes berdiri merapalkan mantra dan melemparkan tombak besar di tangan kanannya ke arah Masamune.

“—[Destruction Soul Break]!”

Namun, lingkaran sihir yang telah Johannes kerahkan di kakinya jadi hancur. Tombak besar yang dia lepaskan tak mencapai Masamune, dan remuk menjadi debu di udara.

“Bagaimana dengan yang ini?! [Rock Spear]!”

Karena kesal dan kewalahan, Johannes mulai mengucapkan mantra lagi. Namun, lingkaran sihir itu hancur lagi segera setelah lingkaran sihir itu muncul di kakinya, dan tombak yang seharusnya muncul di tangan kanannya remuk sebelum berbentuk. Dengan gemetar melihat tangannya, dia menjatuhkan dirinya ke atas tahta seolah kehilangan kesadaran.

“Kenapa … kenapa sihir lainnya tidak bekerja?”

Ungkapannya adalah ungkapan seseorang yang telah mengakui kekalahan. Johannes tidak memiliki kesempatan lagi.

“Karena dia menghancurkan tekniknya…” jawab Aries, dia merangkak dengan tubuhnya yang gemetar kesakitan.

“Kau tahu benar, rupanya. Tapi siapa yang menyuruhmu bicara?”

“Agghhh!”

Masamune meraih leher Aries dengan tangan kirinya dan menekannya ke lantai.

“Sebagai hukuman, aku ingin kau melihatnya. Melihat ayahmu yang mati di depanmu.”

Setelah mengatakannya, Masamune memutar tongkat di tangan kanannya ke arah Johannes.

“Ughh … Brengsek…”

“Kau bilang apa—”

Masamune menjambak rambut Aries dan mengangkatnya dengan ringan, dan mengalihkan pandangannya pada Johannes.

“[Phantom Pain]!”

Tiba-tiba, Johannes menjerit dalam posisi jongkok. Kemudian dia meneteskan air liur dari mulutnya dengan napas kasar berulang-ulang.

Sihir [Phantom Pain] adalah sihir [Magic Bullet] hasil dari [Reversal Mischief (Pole)]. [Magic Bullet] adalah jarahan yang diperoleh dari Guard on the Grand Staircase.

“Ini sihir yang bagus. Itu adalah rasa sakit dari mereka yang kalian bunuh.” –[Phantom Pain]!”

“Ayah!”

Aries menyaksikan ayahnya dan berteriak dengan ekspresi sedih.

“Kau mau terlihat seperti itu juga~? Tenang, jangan khawatir. Tapi selain itu kau juga layak dibunuh.”

Masamune tersenyum dan tertawa, dan mengembalikan tongkatnya ke arah Johannes lagi.

“[Phantom Pain]―――――――― ―――”

Dia tertawa dan mengucap mantranya berulang-ulang. Tetapi Johannes tidak lagi bersuara. Sepertinya dia sudah mati. Sebagai bukti, tubuhnya melemah dan mulai samar-samar bercahaya.

“Ups, ini berbahaya—[Healing Heel (Conditions Effect)]”

Cahaya pada tubuh Johannes secara bertahap menghilang dan kembali ke tubuhnya. Johannes mendapatkan kembali kesadarannya, menyeka air liur di mulutnya, memandang sekeliling seolah-olah dia tak mengerti situasinya.

“Aku telah mendengarnya. Pemanggilan pahlawan adalah untuk melukai orang-orang sampai mereka dilenyapkan.”

Aries tidak menjawab sedikit pun.

“Aku senang mendengarnya. Dengan begitu aku bisa merasa bebas untuk membunuh kalian. Aku tidak akan ragu, tapi aku merasa bersalah. Aku tidak bisa memaafkan diriku yang lemah sehingga membuatku merasa bersalah. Itu menyebalkan. Tapi sekarang tidak lagi—[Phantom Pain]!”

“H-hentikan! Dia ayahku!—”

“Apa kau gila? Hahahahaha! Jangan khawatir, aku akan menyembuhkannya lagi. Sekarang ayahmu masih hidup! [Phantom Pain]!”

Jeritan kembali menggema di aula. Dan sepertinya Johannes telah mencapai batasnya. Seperti sebelumnya, air liur menetes dari mulutnya, dan pandangannya menatap lurus ke kejauhan.

Masamune menggunakan [Healing Heel (Conditions Effect)] lagi untuk mengembalikan Johannes pada kondisi normalnya.

“…Aku capek. Selanjutnya kau, Aries. Sekarang, biar si kakek tua itu mati.”

“Tunggu, tunggu! Tolong, hentikan! Dia satu-satunya ayah yang kumiliki!”

“Orang-orang adalah satu-satunya untuk semua orang. Yah, mungkin saja. Hal yang sama juga berlaku untuk mereka yang telah dibunuh atau dikorbankan di masa lalu. Mereka juga pastinya “satu-satunya orang” untuk keluarganya persis seperti yang kau bilang barusan. Kau tidak tahu itu, hah…”

Aries menatapnya antara ragu dan takut.

“Aku akan membuatnya lebih mudah.”—[Bloody Tears of the Goddess].”

Lingkaran sihir merah kehitaman muncul di kaki Johannes.

Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: E~to, onii-sama, jangan di-copy ya !!

Options

not work with dark mode
Reset