Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Chapter 39

Chapter 39 - Pangeran Greyberg

“Eliza, apa kau bisa membuat dinding di sekitarmu dengan sihir?” bisik Masamune.

“Aku bisa menggunakan Water Barrier.”

merry christmas

“Itu sudah cukup. Aku akan membunuh orang-orang yang di atas. Saat aku memberimu tanda, cepat gunakan Water Barrier-mu.”

“Itu saja untuk saat ini. Aku akan membiarkan kalian mati. Aku bukan pangeran, jadi aku tak punya kewajiban untuk menyelamatkan kalian.”

Saat itulah Alford menyuarakan pembunuhan.

“Sekarang!” Suara Masamune bergema di tangga besar.

Saat itu, Masamune menghilang dan Eliza berbalik.

“[Water Flow Barrier]”

Kekuatannya membentuk penghalang air yang sangat besar. Ketiganya, termasuk Sieg dan Alford, dilindungi oleh Water Barrier, sedangkan para penjaga yang berkumpul dan para pemanah di puncak tangga, berada di luar penghalang yang diciptakan Eliza.

Di sisi lain, Masamune yang mengaktifkan [God Speed] meninggalkan tempatnya tepat sebelum Eliza mengerahkan penghalang dan berlari menaiki tangga. Saat dia mencapai puncak tangga, sembilan pemanah tersebut bahkan tak menyadari keberadaan Masamune yang sudah berada di depan mereka. Masamune menggenggam pedang lebarnya dan langsung memenggal mereka secara berurutan dari kanan.

Kepala yang terpenggal seolah tak menyadari bahwa ia telah meninggalkan tubuhnya, dan saat kepala itu terbang di udara, terdengar sebuah kata, “Ah?”. Dan ketika jatuh ke tanah, mereka sudah mati.

Pengumuman terus mengalir tanpa henti di benak Masamune. Tiap penyiar membacakan nama orang yang tewas, Masamune tidak tahu siapa saja pemilik nama-nama tersebut.

Segera setelahnya, Masamune berbalik. Dia berlari menuruni tangga, merentangkan tangannya ke arah sekelompok penjaga di dua arah kanan dan kiri yang berada di luar Water Barrier.

“[Bloody Tears of the Goddess]”

Sihir merah kehitaman muncul di kaki para penjaga yang berdiri di dua tempat, dan menangkap semua penjaga di bawah tangga. Dinding semi-transparan terbentuk di sepanjang tepi lingkaran sihir, dan dinding itu terlihat seperti gelas kimia berwarna merah kehitaman.

“Apa ini?! Magic Bullet?”

Para penjaga yang terperangkap di dalam dinding yang menyerupai gelas kimia mencoba melarikan diri dengan memukulnya menggunakan pedang dan sihir. Namun, sihir itu menghilang pada saat menyentuh dinding, dan bilah pedangnya juga tak bisa menembusnya sama sekali.

Celah-celah mulai muncul di dua tempat di langit, dan delapan jari putih aneh yang besar muncul untuk merobek ruang itu.

Itu adalah Dewi.

Saat Dewi mengintip wajah para penjaga melalui celah yang terbuka, air mata darah mengalir dari matanya. Dan ia melihat ke bawah ke para penjaga di bawahnya yang terperangkap di dalam gelas kimia.

Yang pertama adalah setetes darah. Dewi meneteskan sedikit air mata, kemudian aliran air mata darahnya secara bertahap meningkat. Banyak air mata darah yang mengalir ke dalam dinding gelas kimia.

“Oh, itu…”

Eliza nyaris kehilangan kata-kata begitu melihat Dewi menangis di langit.

Alford berteriak, “Apa yang terjadi?” teriaknya dari balik Water Barrier.

“…Nito?”

Sieg memperhatikan Masamune, yang mengontrol sihir dari tangga.

“Uaagghhhh! Aku membencimuuuuu!”

“Alford-sama!! Uaagghhhh!”

“Aku tidak ingin mati … Ughhh!

Air mata Dewi dengan mudahnya melelehkan armor yang dikenakan para penjaga, menembusnya, dan melelehkan daging mereka.

Tubuh para penjaga hancur seperti daging giling karena hujan darah yang terus-menerus mengalir, dan bentuk tubuh mereka secara bertahap menghilang tak berbentuk.

Pada saat air mata memenuhi dinding gelas, mereka tidak lagi terlihat seperti manusia, tetapi seperti benjolan di dalam cairan merah.

Jumlah para penjaga lebih dari dua kali lipat dari pemanah. Di depan insiden itu, Masamune mendengar pengumuman yang berulang-ulang di benaknya.

Akhirnya, Dewi kembali ke celah itu. Segera setelah celah itu benar-benar tertutup, lingkaran sihir di sisi kiri dan kanan dilepaskan, dan dinding gelas kimia menghilang. Air mata darah yang tadinya memenuhi dinding gelas meluap sekaligus, dan darah bercampur potongan-potongan daging meluber di sekitar tempat.

Tepat saat Eliza memperhatikan kejadian itu, dia melepaskan Water Barrier-nya dan langsung melihat Masamune yang berada di sisi tangga.

“Ayo kita masuk ke istana.”

Saat Masamune mengatakannya, ketiganya menyaksikan kondisi mengerikan di sekitar mereka.

“Apa ini…”

Bukan hanya pada permukaan yang rata, tapi sejumlah besar darah mengalir menuruni tangga hingga membentuk seperti karpet merah. Alford tercengang, sedangkan Eliza tak dapat berkata-kata. Tapi hanya Sieg yang sedikit terlihat berbeda.

Sieg menyentuh darah yang mengalir dengan jari telunjuknya dan bergumam pelan, lalu menciumnya. “Apa ini… Abyss Magic?”

“Abyss Magic?”

Namun, Masamune tak mengerti sama sekali, dan hanya menunjukkan wajah bingungnya.

“Tidak, kita bicarakan nanti saja,” kata Sieg sambil berdiri.

Namun, Alford dan Eliza masih dalam kondisi kebingungan akibat insiden tadi.

“Nito, bunuh siapa pun yang terlibat.” Sieg dengan antusias menaiki tangga.

“Akan kulakukan.”

Menatap punggung Sieg, Masamune tersenyum.

* * *

“Aries, apa mereka masih belum ditemukan?”

Johannes duduk di atas tahta. Orang-orang yang terlibat dalam pemanggilan pahlawan, termasuk Aries, juga berkumpul di aula. Ada juga guru akademi di dalamnya.

“Belum.”

“Yah, kudengar mereka licik. Mereka bahkan tak meninggalkan jejak, apa boleh buat.”

“Ya, tapi dari mana informasi itu bocor … aku tidak tahu.”

“Aku sudah siap untuk hari seperti ini, sama dengan Albert. Aku tak bisa berbuat apa-apa tentang bocornya informasi itu sekarang. Meskipun ada mata-mata, ancaman Dragon Heart masih belum hilang.”

Kemudian, pintu aula terbuka, dan dari sana muncul seorang pembawa pesan yang tampak tergesa-gesa.

“Saya ingin melaporkan!”

Pembawa pesan itu berlutut dan menundukkan kepalanya di depan tahta.

“Di depan pintu gerbang utama, saya mendapat pesan bahwa para penjaga telah mengidentifikasi orang-orang yang tampaknya adalah Dragon Heart!”

“Mereka datang?”

“Apa penjaga benar-benar telah memastikan identitas mereka?”

“Ya, tentu saja. Pesannya tertulis di sini.” Si pembawa pesan itu mengambil selembar kertas.

“Bacakan.” Aries menunjukkan wajah kesalnya.

“Baik! Dua orang dari mereka adalah laki-laki dan yang satu lagi perempuan. Satu orang lagi menyembunyikan wajahnya dengan tudung, jadi mereka tidak bisa memastikannya.”

“Tidak usah basa-basi, bacakan saja ciri-cirinya. Cepat.”

“M-maaf. Dari ciri-cirinya, seorang wanita dipastikan adalah [Eliza the Wet Hair].”

“Apa dia Eliza Crossford?!” Ekspresi Aries berubah menjadi bingung. “Begitu ya, keluarga Crosfford yang selamat adalah anggota Dragon Heart… cepat bacakan selanjutnya.”

“Dan seorang lagi yang disebut [Sieg the Dragon Attack].”

“…Benarkah? Dengan kata lain, “Dragon” mewakili orang itu, ya. Bagus juga. Aku bisa mengungkap Dragon Heart yang sampai sekarang tak bisa kupahami.”

Aries, dengan pandangan tajam, meminta sang pembawa pesan itu untuk membacakan sisa pesannya.

Pembawa pesan itu panik. Dia memalingkan padangannya dan meremas kertas di tangannya. “Sangat sulit untuk dikatakan…”

“Bukan kau yang memutuskan. Kau hanya harus membacanya.”

“Baik, izinkan saya melaporkan. Salah satu di antara mereka adalah Alford-sama.”

Saat sang pembawa pesan itu menyebut nama Alford, Johannes berdiri dari tahta.

“Mustahil!”

“Tapi menurut kesaksian para penjaga, orang itu adalah Alford-sama.”

Aries menggigit bibirnya dan mengerutkan alisnya. “Jadi begitu, rupanya dia masih hidup…”

“Lalu, seperti yang saya katakan sebelumnya, satu orang yang lainnya mengenakan tudung dan menyembunyikan wajahnya, jadi identitasnya tidak bisa dipastikan. Namun, para penjaga mengatakan dia dipanggil “Nito”.”

“Nito? Apa kau tahu nama itu, Ayah?”

“Mungkin dia dari Kerajaan Toyland yang berada di seberang laut, tapi aku juga tidak tahu.”

“Benarkah…? Lalu bagaimana situasinya sekarang?”

“Bernard dan Mike mengatakan mereka sedang bertarung di lapangan air mancur, tapi mereka telah tewas. Setelah itu, mereka mengerahkan pasukan penaklukan untuk mencoba menghentikan Dragon Heart di tangga besar…”

“Tidak mungkin, jadi mereka memasuki istana?!”

“Maaf! Itulah pesan yang tertulis!”

Ekspresi wajah Aries menegang.

“Apa kau yakin dua tim terkuat itu telah kalah?!” tanya salah satu orang di aula.

Semua orang mulai mendengar suara-suara kesal seperti “Mustahil” dan “Brengsek”.

Bernard Othman dan Mike Orphen adalah bawahan Aries.

Setelah lulus dari akademi, mereka menjadi anggota Knights of the King Swords dan kemudian ditunjuk oleh Aries sendiri sebagai ksatria yang melapor langsung padanya. Keduanya juga terjun di pertempuran sebelumnya melawan pasukan Raja Iblis dan mereka selamat.

Prestasi yang patut dipuji, dan orang-orang memanggil mereka “The Greatest of Greyberg”.

“Tenanglah, jangan marah!”

Aula menjadi tenang karena kemarahan Aries.

“…Baiklah, aku mengerti. Sekarang, panggil semua ksatria dan semua mage. Kita gabungkan seluruh kekuatan negara ini. Lalu panggil ksatria pedang dan temui aku di sini.”

“Baik!”

Pembawa pesan itu bergegas keluar dari aula.

“Aries.”

Kemudian seorang guru maju ke depan.

Aries menatap pria yang bersujud dengan satu lutut, dan dengan kepala menunduk.

“Aku Philip Butler! Aku bersumpah akan membunuh Dragon Heart dengan mempertaruhkan nyawaku!”

“Butler … aku tidak bisa memintamu melakukan itu. Kau bukan orang yang bisa melawan mereka sendirian.”

“Kalau begini aku jadi tidak bisa menunjukkan wajahku lagi di depan para murid.”

Philip Butler adalah seorang pria yang telah dipanggil dan bertanggung jawab atas para pahlawan.

“Setelah lulus dari akademi, aku menyerah menjadi ksatria dan beralih menjadi seorang guru. Tapi, itu adalah tindakan yang bertentangan dengan makna keberadaanku, dan aku menjadi khawatir. Aku juga berpikir untuk meninggalkan pedang dan sihir. Saat itulah, Putri Aries yang menyarankanku untuk membimbing para pahlawan.”

“Kau tidak bisa menggunakan sihir tingkat tinggi, tapi kau sangat pandai dalam sihir dasar, jadi kupikir itu tepat untuk mereka.”

“Ya. Seperti yang anda katakan, aku telah melatih murid-muridku sampai hari ini. Tapi…”

Butler bangkit berdiri.

“Aku juga berpikir bahwa ini mungkin saatnya untuk memenuhi misiku sebagai seorang penyihir.”

Seorang lelaki besar berjanggut muncul dan berkata, “Semangat sekali, Butler.”

“Grogg-sensei,” lirik Butler.

“Aries, tolong biarkan aku pergi juga.”

Pria itu berkata begitu keras sambil berlutut.

“Anda…”

“Aku tidak akan membiarkan satu pun junior pergi.”

“Tapi…”

Aries menolak memberikan izin, namun mereka membungkukkan badan dan meninggalkan aula. Butler menatap wajah Aries melalui celah pintu yang tertutup. Namun, Aries tak melihatnya.

Lalu, sekelompok ksatria dan penyihir muncul dan membaur. Mereka berbaris begitu masuk dan berlutut di tempat.

“Semuanya berkumpul! Para ksatria pedang, halangi pintu masuk aula, jangan biarkan siapa pun yang masuk! Sisanya yang ada di sini, lindungi Raja di tempat ini! Mage, pergilah ke barisan belakang! Dan yang lainnya, pergilah ke barisan depan!”

Semuanya bersiap mengikuti perintah Aries.

 

Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: E~to, onii-sama, jangan di-copy ya !!

Options

not work with dark mode
Reset