Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Chapter 33

Chapter 33 - Ichijo sang Pahlawan

Hari itu, sang Penyihir Hutan Albert Morrow dimakamkan di Greyberg. Banyak orang dari rakyat biasa maupun keluarga Kerajaan yang menangis. Termasuk Johannes Greyberg dan Aries. Tidak ada sosok pahlawan yang dipanggil di sana.

“Albert … dia adalah teman. Dia telah lama mendukung negara ini. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa pun pada Albert…”

merry christmas

Raja Johannes berbicara langsung pada semua orang.

“Orang yang membunuh Albert adalah organisasi yang menyebut dirinya Dragon Heart! Awalnya aku tak berniat menceritakan hal ini. Demi kehormatan Albert, aku memutuskan untuk menyembunyikannya dari kalian. Tapi aku sadar itu adalah kesalahan. Karena kalian menderita sama sepertiku!”

Banyak orang yang menangis dan menatap Johannes.

“Jangan lupakan nama orang yang membunuh semua temanmu! Nama orang yang menghina negara ini! Dan aku bersumpah di sini! Dragon Heart… Orang-orang yang membunuh Albert… akan kuhancurkan berkeping-keping!”

Bukan itu yang seharusnya dikatakan oleh Raja. Namun, karena citranya sebagai seorang raja membuatnya tampak benar di mata rakyatnya.

Di akhir pemakaman, Johanneslah yang terlebih dahulu membakar tubuh Albert.  Nyala api yang membakar menguatkan kata yang menyebut diri Albert adalah seorang “teman,” dan Johannes mendapat lebih banyak dukungan dari rakyatnya. Tapi ini bukanlah hal baru.

“Albert Morrow, Penyihir Hutan! Jadilah Greyberg di sini!”

※ ※ ※

Tempat pelatihan sekolah merupakan tanah berpasir. Namun, ada pemandangan menenangkan yang dikelilingi oleh tanaman dan bunga. Ketenangan yang bahkan bisa membuatmu mendengar kicauan burung sekalipun. Para siswa yang berkumpul di sana tahu tentang kabar kematian itu. Dan mereka merasa sulit untuk mempercayai kata-kata Aries.

“Albert telah tiada.”

Ekspresi wajah para siswa secara bertahap meluruh, lalu berubah menjadi kekalutan.

“Kenapa? Albert…,” kata Saeki dengan suara berombak.

“Ada sebuah organisasi bernama Dragon Heart. Mereka adalah bandit yang menargetkan negara, seperti bangsawan dan politisi. Suatu hari mereka muncul di dekat perbatasan. Albert merasakan ada kekuatan sihir yang mengganggu dan segera mendatanginya… sayangnya, dia tak pernah kembali lagi.”

Albert sesekali mengunjungi sekolah dan memberikan pelajaran ilmu sihir kepada para pahlawan. Seorang lelaki tua yang dengan lembut mengajarkan sihir, dia pelatih yang baik bagi siswanya. Senyuman halus dan suara-suara yang terdengar dari bawah kumisnya membuat para siswa merasa terikat padanya.

“Aku khawatir apa aku harus membicarakan hal ini atau tidak. Tapi aku ingin kalian mewarisi keinginan Albert.”

“Keinginan Albert?”

Itu suara Saeki.

“Ya. Untuk membunuh iblis dan raja iblis! Kalahkan raja iblis dan bawalah kedamaian ke dunia. Itulah kehendak Albert. Kedamaian dan kesejahteraan Greyberg, itu adalah keinginan Albert yang telah memikirkan kalian,” kata Aries sambil menangis. Beberapa siswa pun ikut menangis.

“Silahkan.” Mendengar kata-kata Aries, Saeki diam-diam mengepalkan tinjunya.

Ada keheningan sesaat setelah Aries meninggalkan tempat pelatihan. Namun, saat itu juga situasinya menjadi berubah, para siswa mulai berlatih segera setelah memantapkan ekspresi di wajah mereka. Tak satu pun dari mereka yang mencurigai air mata Aries. Kecuali Ichijo. Sementara mereka semua mulai berlatih sihir, pedang, dan tombak di tanah, namun satu orang itu, Ichijo, bersandar di pohon dan menatap langit.

“Ichijo! Kau tak dengar apa kata Aries?”

Saeki berteriak pada Ichijo dengan nada tak sukanya.

”Hm? Oh, Saeki … aku dengar, kok. Sekarang ini kan waktunya istirahat. Jadi kupikir aku mau menggunakan waktu ini sesukaku. Istirahat juga penting, kan?”

Tidak ada kekuatan di mata Ichijo, dia memperlakukan Saeki seperti biasa. Teriakan Saeki pun terhenti dan berganti menjadi keheningan, lalu keduanya saling melirik. Ini adalah kehidupan sehari-hari mereka yang biasa mereka jalani. Ada perubahan yang terjadi tentang Ichijo. Yang pertama adalah Mashima dan Kihara. Awalnya mereka senang berada di dekat Ichijo, tapi sekarang tidak ada seorang pun yang berada di sisinya. Mereka berdua memisahkan diri dari Ichijo dan memilih Saeki, jadi saat Saeki pergi, meraka berdua akan mengikutinya di belakang. Mashima dan Kihara yang sekarang ada di samping Saeki, tidak mengatakan apa-apa. Ichijo menatap mereka sesaat, tapi segera kembali menatap ke langit tanpa minat.

“Saeki, kau datang untuk memukulku, kan? Saat ini aku berpikir. Aku ingin tahu, apakah ini yang dirasakan Hidaka?”

“Kau masih saja mengatakan hal-hal seperti itu?! Kita masih hidup! Berhentilah membicarakan orang mati!”

“Kalau begitu, wanita itu juga bersalah. Dia juga datang membicarakan orang yang sudah mati.”

“Siapa yang kau panggil dengan sebutan ‘wanita itu’?! …Aries maksudmu?!”

“Memangnya siapa lagi?”

Saeki menatap Ichijo dengan tatapan membunuh.

“Saeki… mulutmu, kepribadianmu, dan perilakumu semuanya buruk. Tapi, kau murni, karena itulah kau tidak bisa melihatnya.”

“…Apa?”

“Wanita itu. Kurasa ada yang aneh dengan ucapannya sebelumnya.”

“Katakan dengan jelas!”

“Saeki, kenapa kau mempercayainya sampai sejauh itu…? Pikirkan baik-baik. Apa yang terjadi padamu setelah dia muncul dan mengabarkan kematian pria tua itu? Kau pasti lebih termotivasi daripada sebelumnya. Hei Saeki, ada seseorang yang meninggal, kan? Dan tentu saja dia adalah orang bijak yang telah melayani negara ini selama beberapa dekade, tapi kau malah jadi sangat termotivasi sekarang.”

Ichijo tersenyum tipis.

“Bukankah menurutmu itu aneh? Dia muncul di situasi yang menurutnya tepat, memulai dengan topik gelap, para prajurit yang terbunuh oleh iblis, lalu tentang keinginan, dan bagaimana mereka mempercayakannya pada kita. Setelah mengatakan semua itu, sebagian besar anak laki-laki mulai melakukan pelatihan khusus. Ini semacam pencucian otak. Tapi kupikir itu tidak berlaku untuk anak perempuan. Tapi saat aku menyadarinya, seorang pria tua yang baru saja tertawa seolah-olah sedang jatuh cinta dan pergi keluar, saat pria tua itu meninggal, wanita itu memprovokasi kita untuk menyerang musuh sekarang. Semua sesuai dengan skenario wanita itu. Dia tak punya niat baik.”

“Ada apa, Saeki, bertengkar lagi dengan Ichijo?”

Terlihat sosok seorang butler yang muncul, mungkin karena mengkhawatirkan mereka berdua.

“Tidak, Tuan. Kami cuma membicarakan tentang masa depan kami. Kami harus jadi lebih kuat untuk Greyberg.”

“Begitu ya. Aku menantikannya, Saeki.”

“Iya!”

Inilah Saeki sekarang. Butler dipanggil oleh siswa lain dan pergi ke suatu tempat. Saat Saeki kembali menatapnya, ada sosok Ichijo yang gemetar dan tertawa.

“Wah, Saeki … kau membuatku mual. Sebelumnya kau kelihatan serius.”

Mendengar kata-kata Ichijo, Saeki melotot penuh kemarahan. Namun dia menahannya dan menghela nafas panjang.

“Ichijo … aku tak peduli apa yang kau pikirkan. Aku bilang padamu. Kau kuat. Keberadaanmu sangat penting untuk negara ini.”

“Seberapa besar kesetiaanmu, termasuk keinginanmu?”

“Sudah hentikan!” Mashima yang kesal mendengar kata-kata Ichijo pun berteriak. “Aku bosan dengan ocehanmu itu!”

“Kau dulu sangat keren, tapi sekarang apa… apa kau masih terlihat keren, Ichijo?” imbuh Kihara dengan sikap mengejeknya.

“Itu karena kalian berdua sangat dangkal, jadi kalian tidak bisa melihat apa-apa di atas kalian. Seperti biasanya.”

“Apa?! Coba katakan itu sekali lagi!”

“[Explosion]”

Segera setelahnya, sebuah ledakan besar terjadi di langit, dan angin bertiup cukup kencang sehingga mengguncang pohon-pohon di dekatnya. Para siswa dan Butler terpaku melihatnya. Saat suara ledakan itu menenggelamkan perkataan Mashima, terlihat Ichijo yang menatapnya. Mashima ketakutan pada kekuatannya sehingga tak bisa berkata apa-apa.

“Kalian berdua selalu jadi ikan mas seseorang. Kalau bukan aku, pasti Saeki, kalau bukan Saeki, lalu siapa yang berikutnya? Kalian bersembunyi di balik seseorang dan mendukung mereka dari belakang. Kalau orang itu bukan aku melainkan Hidaka, apa kalian juga bakal berteriak seperti itu?”

Saeki menarik tangan keduanya dan menjauhkan mereka dari Ichijo.

“Jangan gunakan sihir sebagai alat ancaman, pengecut.”

“Yah, aku juga kesulitan bicara dengan pengikutmu. Dan aku cuma sedikit menegurnya.”

Saeki mendekatkan wajahnya dan menatapnya dengan sikap dingin.

“…Pikirkan baik-baik siapa yang salah.”

Saeki bergumam dengan suara rendah dan membawa mereka berdua pergi. Membiarkan Ichijo sendirian, menghela nafas sambil bersandar di pohon, dan menutup matanya.

(Kenapa … semua orang lupa. Sejak awal wanita itu tidak punya belas kasihan. Dan itu jelas terlihat dari ekspresinya, saat dia mengirim Hidaka pergi. Dia tertawa sepenuh hati. Bukan cuma aku, semua orang seharusnya melihatnya…)

Ichijo tidak memahaminya.  Dia menderita karena merasa bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang waras di antara mereka semua.

(Bagaimanapun, kami adalah orang-orang asing. Jika kami dinilai tidak kompeten, kami akan dibuang seperti Hidaka. Tidak, mungkin kami akan terbunuh lain kali. Kenapa tidak ada yang memperhatikannya…)

―Mungkin … akulah yang akan membunuhmu? Juga kalian semua…

Lalu, kata-kata terakhir Masamune terlintas dalam ingatan Ichijo.

Ichijo tersenyum tipis dengan mata tertutup, dan saat dia membuka salah satu matanya, dia menghalau sinar matahari dengan tangannya dan tertawa pelan.

Sambil menatap langit biru, Ichijo diam-diam bertanya.

“Kapan kau akan datang membunuhku? Hidaka…”

Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: E~to, onii-sama, jangan di-copy ya !!

Options

not work with dark mode
Reset