Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Chapter 26

Chapter 26 - Nem

Nem

“Kakak… siapa?”

“Aku Masamune. Kau siapa?”

“Nem, aku Nem.”

Telinganya seperti salju, rambutnya juga, semuanya putih seperti salju.

dukung klik iklan

“Nem… Baiklah, Nem . Ayo kita pergi dari sini sebelum ada orang yang datang.”

“Iya.”

Dia menggenggam tanganku dan tangan mungil itu sedikit bergetar. Sepertinya dia masih ketakutan.

Tanpa bicara apa pun lagi, aku berjalan menuju pintu keluar dan melangkah keluar dari gudang bersama dengan Nem yang ketakutan. Sinar matahari yang tiba-tiba muncul tampak menyilaukan mata kami. Dan di luar sana, aku melihat Toa dan Sierra yang sedang menunggu.

“Masamune!”

“Ada yang datang?”

“Pria yang kita lihat di jalan itu kembali, dan dia ada di sana.”

Sierra menunjuk ke tempat Toa melambai. Di sampingnya, duduk seorang lelaki gemuk yang tak sadarkan diri, lelaki yang sama yang membawa Nem ke tempat ini.

“Oh, ini Beastman yang sebelumnya dibawa pria itu ke sini, kan?”

“Namanya Nem.”

Sierra berlutut dan menatap Nem beberapa saat sebelum mengangguk.

“Senang bertemu denganmu, Nem. Namaku Sierra, tapi kulihat kau punya telinga putih dan ekor putih, apa mungkin kau dari suku kucing putih?”

“Iya, benar.”

Nem tampak gugup akan pertemuan pertamanya dengan Sierra, dan dia meraih bagian bawah jubahku.

“Kalau boleh tahu, kau tinggal di mana, Nem?”

“Di tempat Suster.”

“Oh, aku mengerti. Anak ini dari gereja ya?”

Sierra terus bertanya.

“Gereja?” Toa telah melepaskan pengawasannya pada lelaki yang tak sadarkan diri itu dan bergabung dengan kami.

“Itu panti asuhan, tempat untuk melindungi dan merawat anak-anak sementara waktu. Melihat Nem, sepertinya dia berasal dari gereja itu.”

Sepertinya ada gereja panti asuhan di kota. Kami memutuskan untuk membawa Nem ke sana untuk sementara waktu.

***

“Suster! Suster!”

Setibanya di panti asuhan, Nem berlari dan bergegas membuka pintu. Kami bertiga mengikutinya ke dalam.

Ketika kami masuk, terdapat pintu tanpa ruang resepsionis di dekatnya. Kami bisa melihat tangga besar. Bisa kulihat bangunan itu lebih mirip rumah tua daripada gereja.

“Nem!”

Seorang wanita muncul mengenakan pakaian biara berwarna putih dan biru tua.

“Suster!”

Nem bergegas berlari ke arah wanita itu dan memeluknya.

“Kau dari mana saja? Aku khawatir padamu!”

“Maafkan aku … aku ditangkap oleh orang-orang yang menakutkan, tapi Masamune menyelamatkan aku.”

Aku sangat terkesan bahwa dia mengingat namaku. Karena bingung, Suster Biarawati itu membungkuk dan membawa kami ke dalam ruangan.

“Terima kasih telah menyelamatkan Nem dari tempat yang berbahaya.”

Saat kami duduk, Sierra menjelaskan situasinya pada Suster itu. “Oh, tidak, kami senang mengantarnya pulang dengan selamat.”

“Nem kadang tak mengatakan kapan dia akan mengunjungi teman-temannya. Ibukota Kerajaan ini sangat damai dan kulihat tak banyak orang yang mendiskriminasi para Beastman di sini. Dan perdagangan budak pun dilarang, jadi kupikir dia akan baik-baik saja. Tapi, setelah tahu sesuatu seperti ini bisa terjadi…”

Rupanya Nem memiliki kebiasaan berkeliaran, tapi karena dia selalu kembali dalam keadaan baik-baik saja, hal itu membuat Suster tak perlu merasa khawatir tentangnya.

Sementara kami berbicara, Nem bermain dengan anak-anak yang lain. Seharusnya dia masih ketakutan, tapi dia terlihat baik-baik saja sekarang. Dia gadis kecil yang kuat. Dan saat aku memikirkan keadaan dirinya yang sebelumnya, saat itulah aku melihat Nem tersenyum. Dan aku melihat sesuatu yang aneh di lengannya.

“Itu … Maaf, Suster. Apa itu yang ada di lengan kiri Nem?”

Sesuatu itu seperti lingkaran. Dan letaknya berada di lengan kiri atas seperti tato.

“Tidak mungkin. Itu … Lambang Budak?!”

Suster terkejut dan kehilangan kata-katanya saat air mata mengalir di pipinya.

Menurut Sierra, itu disebut Lambang Budak. Lambang itu merupakan merek yang diukir dengan menekan logam panas ke kulit seseorang. Melihat lambang itu, Suster berlari dan memeluk Nem yang sedang bermain dan kembali menitikkan air matanya. Namun, Nem sendiri tampaknya tidak menyadari apa yang terjadi dan bingung melihat sikap Suster itu padanya.

Tampaknya, beberapa pedagang budak melakukan pemberian merek. Merek dikatakan sebagai rantai yang mengikat roh dan untuk menghentikan pelarian atau kaburnya seseorang yang telah ditandai dengan lambang itu. Lambang Budak lebih sering digunakan oleh laki-laki, sementara wanita hanya beberapa saja yang menggunakannya.

Dalam kasus Nem, Sierra dengan berat mengatakan kalau itu mungkin karena Nem adalah seorang Beastman, atau manusia beast yang dicap sebagai Nem.

“Sial, seharusnya kubunuh saja mereka semua…”

Aku merasakan kemarahan yang mematikan dari lubuk hatiku. Aku menyesal telah memilih untuk menyerahkannya pada para Ksatria Putih.

“Masamune, kau baik-baik saja, kan?” Toa menatap wajahku. “Ekspresimu tampak gelap.”

“Masamune, tidak apa-apa. Kami akan mengurus sisanya. Aku sudah menghubungi Annette dan itu bukanlah sesuatu yang harus kau khawatirkan. Serahkan saja pada kami.”

Sierra sekali lagi berkata, “Tidak apa-apa.” Sama seperti aku yang terus memikirkan apa yang telah kulakukan.

Di depan panti asuhan, Sierra berpisah dengan kami untuk pergi membantu pembersihan. Dan kami mengucapkan selamat tinggal pada Suster dan Nem.

“Nah, baiklah kalau begitu. Nem, sekarang kau harus berhati-hati ya, oke?”

“Kau sudah mau pulang?” Wajah Nem menjadi sedih.

“Ah, tapi aku akan datang berkunjung lagi nanti. Jangan menyelinap keluar sendirian, ya.”

“Baiklah. Sampai jumpa besok…”

Kami membungkukkan badan pada Suster dan melirik ke arah Nem, lalu kami meninggalkan panti asuhan.

“Apa besok kita akan kembali ke sini?”

“Aku tidak tahu…”

“Tapi Nem bilang ‘sampai jumpa besok’, kan?”

“Dia memang bilang begitu, tapi dia mungkin akan melupakanku besok.”

Aku tak terlalu memikirkan apa yang Nem katakan. Namun, keesokan harinya, saat seperti biasa aku terbangun di Kediaman Ecarlat, aku mengetahui makna di balik kata-katanya.

***

“Selamat pagi, Masamune-sama. Ada seorang tamu yang datang untuk menemui anda pagi ini. Apa anda mau menemuinya?”

“Eh, aku punya tamu?”

“Ya, dia sedang menunggu anda.”

Aku segera bangun dan meraih gagang pintu ruang tamu lantai pertama, tapi pelayan rumah menghentikanku. Dia memanduku ke ruangan lain di mana sang tamu menungguku.

“Suami!”

“Suami?”

Saat aku membuka pintu, kudengar suara seseorang dan dia melompat ke arahku. Kulihat ke bawah kakiku, dan aku melihat Nem di sana. Rambut, telinga, dan ekor seputih salju, aku tahu.

“Nem, kenapa kau ada di sini sepagi ini? Dan kenapa kau memanggilku “Suami”?”

“Ibuku yang memberitahuku. Jika ada seseorang yang menyelamatkan hidupku, aku harus mencintai orang itu selama sisa hidupku… Dan Tuan telah menyelamatkan Nem! Jadi Tuan adalah suami Nem!”

Aku tak mengerti apa yang dikatakan anak ini. Di sisi lain, sepertinya dia hanya ingin memanggilku dengan sebutan Suami. Ini akan sulit jika Toa dan Sierra sampai mendengarnya. Aku harus melakukan sesuatu…

“Pagi, Masamune.”

“Pagi, Masamune. Kau bangun lebih awal ya? Ini kan masih pagi.”

Namun, Toa dan Sierra muncul. Waktu yang tepat. [TL/Note: lebih tepatnya indah hhaa]

“Suami, kau mau pergi ke mana hari ini? Nem ingin ikut denganmu.”

“ーSuami?” ucap Toa dan Sierra secara serempak.

Mata mereka membelalak lebar saking terkejutnya, tapi pada saat berikutnya, yang kulihat adalah tatapan mata mereka yang menghina dan aneh.

“Tu-tunggu dulu! Bukan seperti itu! Ini ada alasannya…”

“Suamiku seorang petualang, kan? Apa Suami mau pergi ke guild hari ini?”

Nem, tolong diamlah sebentar…

Aku berusaha menjelaskan pada dua orang yang menatapku penuh curiga, tapi Nem terus berulang kali memanggilku “Suami” sehingga alasan yang kuucapkan jadi tidak berguna.

***

Kami meninggalkan Kediaman Ecarlat setelah sarapan. Karena kebaikan Sierra, kami tak perlu membayar apa pun meskipun kami diizinkan tinggal di sana. Namun, kami harus benar-benar mendapatkan permintaan dan mendapatkan uang, kami tidak tahu kapan kami akan meninggalkan negara ini.

“Kalian pikir aku yang memintanya memanggilku seperti itu? Mana mungkin.”

Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan tentangku, tapi sampai aku menyangkal, Toa dan Sierra tampaknya berpikir kalau aku yang telah memaksa Nem untuk memanggiku Suami.

Ketika kecurigaan mereka menghilang, kami berempat tiba di depan guild.

“Oh, Nem. Tidak, tidak.”

“Ah! Ada Sharon di sini!”

Di sana aku bertemu Sharon yang sedang membuka toko.

“Kalian berteman dengan Nem?”

“Dia suami Nem!”

“Suami? Apa maksudnya…”

Oh, tidak lagi…

Sharon menatapku jijik.

Apa aku harus menjelaskan lagi? Tapi, kali ini Sierra lah yang menjelaskannya untukku dan dengan cepat menghapus kecurigaan Sharon terhadapku.

“Oh, begitu ya, aku kira itu benar.”

Dia dengan terang-terangan berbohong. Aku melihat penghinaanmu sebelumnya, Sharon. Kau tidak bisa menyembunyikannya.

Nem sering datang ke toko sehingga Sharon mengenalnya dengan sangat baik. Aku ingin tahu, apa Suster membicarakan tentang teman Nem…

“Nem, kenapa lenganmu?”

Sharon memperhatikan luka bakar di lengan Nem.

***

“Aku mengerti … jadi, itulah sebabnya? Itu sangat mengerikan. Kalau aku ada di sana, aku akan memukulnya hingga babak belur.”

Sharon memasang ekspresi antara sedih dan marah saat mendengar penjelasan Sierra.

“Kau telah menyelamatkannya, aku juga berterima kasih padamu.” Sharon tidak bisa menyembunyikan amarahnya terhadap para pedagang budak. “Nem seperti anak perempuanku sendiri.”

Setelah memahami situasinya, Sharon menyeringai padaku. “Tapi aku tak menyangka, hari dimana aku akan menyerahkan putriku pada seseorang akan datang secepat ini. Kau harus melindunginya. Kaulah suami yang Nem pilih. Jangan kau kecewakan dia, mengerti?”

Aku tidak mengerti. Apa yang orang ini katakan?

“Kau tidak mengerti arti dari kata-kata Nem, kan?”

“Arti? Apa maksudmu?”

“Yah, tidak apa-apa kalau sekarang kau tidak tahu, tapi kau akan memahaminya nanti. Dan akan kukatakan lagi padamu. Kau sebaiknya tidak membuatnya bersedih.”

Lalu Sharon melayangkan jari telunjuknya di depan wajahku, seolah-olah dia ingin menusuk wajahku.

“Sierra, aku mencarimu.”

Seorang pria aneh muncul. Dia memiliki kumis seperti pesolek, kacamata berlensa di mata kirinya dan mengenakan topi sutra putih. Terlebih lagi, dia mengenakan mantel putih yang mencolok.

“Edward, kau masih berpenampilan seperti itu di depan umum…”

“Seperti biasa. Ini bukan masalah besar. Tidak ada yang mengira aku seorang Ksatria Putih Kerajaan. Bagiku, ini adalah pakaian sehari-hariku dan akan selalu begitu. Daripada itu Sierra, ini dari Reinhardt, ambillah.”

Tanpa penjelasan, pria itu memberi Sierra selembar kertas yang digulung dan diikat dengan tali.

“Oh ya, mereka ini…”

“Masamune-dono, Toa-dono, dan ini adalah Nem-dono.”

Sierra tidak memperkenalkan Tuan Sharon, tapi pria itu membungkuk padanya dalam diam. Rupanya mereka saling kenal.

“Kau yang dirumorkan itu, ya … maaf, namaku Edward Scotch. Maaf aku terlambat memperkenalkan diri.”

“Ngomong-ngomong, Edward. Dokumen apa ini?”

Sierra membuka gulungan kertas yang diserahkan padanya dan menanyakan isinya.

“Itu permintaan, bukankah sudah tertulis di situ?”

“Ah, ini raja?!”

“Rupanya, Basilisk telah muncul selama seminggu. Di gudang Boreas, teman Yang Mulia.”

“Apa itu Basilisk?”

Itu juga pertanyaan bagiku, tapi sepertinya Toa juga tidak tahu.

“Nem tahu! Itu ular besar!”

“Ular besar?”

“Pengetahuanmu memang luar biasa, Nem, kau sangat pintar. Benar. Basilisk adalah ular besar.”

“Raja berkata kau harus pergi, Sierra.”

“Apa maksudmu? Kenapa aku?”

“Aku tidak tahu. Aku hanya diperintahkan untuk menyerahkannya padamu.”

“Tepat sekali! Sierra, pergilah dan singkirkan Basilisk itu! ”

“Bahkan Sharon juga ikut-ikutan … kenapa?”

“Aku kehabisan kelenjar air mata Basilisk, kantong racun, dan taring besar. Akan sangat membantu kalau kau bisa mengumpulkannya begitu kau membunuhnya.”

Sierra tampak enggan, khawatir, dan tak begitu antusias.

“Sierra, aku akan ikut denganmu. Tidak apa-apa kan, Toa?”

“Yah. Kalau Masamune pergi, aku juga tidak keberatan.”

“Kalian, aku minta maaf untuk kalian berdua.”

“Jangan khawatir, Sierra. Lagipula ini waktu luang kami. Dan kami juga masih berutang budi padamu.”

“Kalau kau pergi, bawa Nem juga.”

“Nem? Tidak! Kau tahu itu ular besar, kan? Tidak bisa ikut … Nem masih kecil!”

Ini sangat berbahaya. Aku tidak tahu monster jenis apa Basilisk itu, tapi yang jelas lawan kami adalah ular. Apa yang akan terjadi jika terkena racunnya?

“Suami, apa kau mau meninggalkan Nem? Nem ingin membantu suamiku!”

“Meski kau bilang begitu … apa kau mau bertarung dengan monster?”

Jika terjadi sesuatu padanya, aku bisa cepat menyembuhkannya dengan sihir penyembuhanku. Tapi membawa anak sekecil itu juga benar-benar gila namanya! Sekalipun aku bisa menyembuhkannya, tetap saja itu berbahaya.

“Bawa saja dia bersamamu. Jangan khawatir. Nem memang kelihatannya seperti ini, tapi dia lebih kuat darimu yang seorang Healer.”

“Nem lebih kuat? Benarkah?”

“Itu kisah yang terkenal di sini. Kau pikir aku menipumu, bawa dia bersamamu.”

Di mana asalnya rasa kepercayaan itu? Jika dia memang kuat, dia tidak akan ditangkap oleh pedagang budak.

“Mau bagaimana lagi, baiklah, aku mengerti. Tapi untuk kali ini saja.”

Aku tidak bisa menolaknya. Dan dengan enggan aku menerimanya.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset