Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Chapter 25 (2)

Chapter 25.2 - Gadis Bertelinga Kucing Putih

Gadis Bertelinga Kucing Putih (2)

“Temukan kami.”

Ini seperti mimpi malam musim semi. Shawn dan Dewa Pembalasan menghilang di depanku, meninggalkan perasaan sedih.

“Masamune, apa kau mengatakan sesuatu?”

“Aku tak mengatakan apa-apa.”

dukung klik iklan

Kami mengunjungi toko khusus Walstein dengan dipandu oleh Sierra.

Dengan memegang sesuatu yang tampak seperti iga wanita Yowastein, Toa membuat wajah aneh saat dia menatapku. Di sisi yang berlawanan ada Sierra, yang sedang makan daging dengan pandangan penuh semangat sambil menonton situasi kami berdua.

“Masamune, benar kau tidak apa-apa tak berlatih pedang pagi ini?”

“Tidak apa-apa.”

Pagi ini, sama seperti kemarin, Sierra mengambil pedangnya. Namun, aku sedang dalam kondisi di mana aku tak bisa bangun dari mimpiku semalam, dan kata-kata dua temanku masih terus terngiang di telingaku. Itu agak menjengkelkan.

Sierra menyabetkan pedangnya di taman seperti rutinitasnya sehari-hari, dan aku hanya melihat pertarungan simulasi di antara mereka. Namun, aku menyadari sesuatu. Pedang sang Ksatria Putih dan pedang iblis digerakkan dengan lambat, seolah-olah mereka adalah anak-anak yang bermain.

Tapi kalau dipikir-pikir, itu sudah jelas. Aku diajari semua pedang itu oleh seorang pendekar pedang yang telah hidup setidaknya selama 150 tahun. Aku tak tahu berapa lama iblis Toa hidup, tapi Sierra, yang seorang manusia, seharusnya telah belajar pedang selama beberapa tahun. Aku tidak bisa menerkanya.

Apa yang akan Sierra pikirkan kalau aku berlatih pedang dalam kondisiku sekarang? Banyak teknik pedang yang dipelajari Shawn selama perjalanannya yang panjang, terasa seperti kenangan.

“Apa kau baik-baik saja?”

“Eh, apa?”

“Yah, wajahmu kelihatan pucat.”

“Masamune, kau kenapa?”

Wajar saja jika kedua wanita cantik ini mengkhawatirkanku. Tapi, aku merasa bersalah karena karena mereka hanya akan menyia-nyiakan kekhawatiran mereka padaku. Aku harus berhenti memikirkan ini.

“Kondisiku sama seperti biasanya, kok. Hari ini aku ingin berkeliling melihat kota daripada latihan pedang.”

“Ah, begitu ya? Apa kau sudah bosan dengan latihan pedang ini?”

“Latihan adalah cara yang menyenangkan untuk merasakan perkembanganku.”

“Tapi kau sama sekali tak memegang pedangmu pagi ini, kan?”

“Aku cuma merasa tak ingin saja.”

Jika aku memegang pedang, tubuhku akan bergerak secara alami. Aku akan memegang pedangku yang sama sekali berbeda dari kemarin tanpa ada celah dalam pertahananku.

Pandangan heran melayang ke wajah kedua gadis itu, aku mungkin akan ditanyai setelah ini.

“Sierra, apa itu?”

Tiba-tiba, Toa menunjuk ke luar jendela kaca.

Di seberang jalan utama dari toko, sebuah lorong gelap terletak di antara dua bangunan yang mengarah ke jalan belakang. Di sana terlihat seorang pria gemuk dengan wajah yang tampak jahat, meraih lengan gadis berambut putih yang menolak untuk dibawa ke suatu tempat. Lalu tiba-tiba aku menyadari ada sesuatu yang tak familiar dengan gadis itu.

“Itu…”

“Mungkin dia pedagang budak. Tapi di Razhausen, pembelian dan penjualan budak itu dilarang. Tentu saja itu juga berlaku untuk penculikan.”

“Gadis itu punya telinga putih di kepalanya.”

Gadis itu bertubuh kecil, mungkin dia masih anak-anak. Setelah aku menyadarinya, gadis dan pria itu telah menghilang dari gang.

“Itu Beastman. Masamune, apa ini pertama kalinya kau melihat seseorang dari ras Beast?”

“Yah, itu…”

“Berarti benar, ya? Ayo cepat kita ikuti dia. Mungkin ada orang lain lagi yang telah diculik.”

Setelah buru-buru membayar, kami bertiga mengikuti gadis dan pria itu dan menerobos jalanan yang gelap.

***

“Masukkan gadis ini ke penjara! Kucing putih ini bernilai tinggi.”

Gadis Kucing Putih yang ketakutan dibawa ke gudang yang redup dan berdebu.

“Aku mengerti!”

Terdengar suara pria ompong, gadis itu diserahkan pada pria lain.

Branding selesai. Jangan sakiti dia.”

Pria gemuk meninggalkan gudang dan mengubah ekspresinya seperti mencium bau aneh.

“Hei, kecil. Ikuti aku.”

Pria ompong itu berbicara dengan dingin dan gadis itu mengikuti di belakangnya tanpa melawan. Punggungnya membungkuk saat dia berjalan, dia benar-benar ketakutan.

“Masuk ke sini dan diamlah. Kalau kau sampai bersuara, akan kupotong telingamu itu.”

Gadis itu mengangguk ketakutan saat melihat bayangan dirinya terpantul dari pisau yang dipegang oleh lelaki itu dengan matanya yang kejam. Matanya bengkak dan merah, pipinya basah oleh air mata.

Beberapa saat setelah pria itu pergi, gadis itu menangis dan meringkukkan dirinya di dalam kandang.

“(endus)… Kakak. Semuanya…”

Dua pria muncul, berbeda dari dua orang sebelumnya dan mereka tertawa nakal.

“Oi Kevin, ada kucing putih hari ini.”

“Oh, benarkah! Dibandingkan dengan pelacur kemarin, yang ini barang berkualitas tinggi.”

“Iya kan? Hei Kevin, bos sudah keluar sekarang, bagaimana kalau kita bersenang-senang dengan orang ini?”

“Ide bagus! Aku merasa stres akhir-akhir. Yah benar, aku butuh pelampiasan.”

Lelaki itu membuka pintu kandang perlahan dengan ekspresi wajahnya yang tidak sopan. Gadis itu menatap pemandangan di hadapannya dengan matanya yang basah.

“Tetaplah diam, gadis. Ini akan cepat berakhir kalau kau diam.”

“Sus… ter…”

Dia sulit berbicara karena takut.

“Apa katamu?”

“Hei cepatlah, bagaimana kalau si pria gendut itu kembali?”

“Baiklah, baiklah. Aku juga sudah tidak sabar.”

Tangannya yang kotor mencoba meraih gadis itu. Dan pada saat itu, seorang pria tiba-tiba muncul di belakang mereka berdua. Keduanya berteriak, “uhh!” dan langsung jatuh ke tanah.

“Kurasa tidak apa-apa membiarkan mereka tetap hidup…”

Terdengar suara seorang lelaki, tapi gudang itu gelap sehingga gadis itu tidak bisa melihat wajahnya. Dia menatap dua lelaki yang tak sadar dan terlihat bingung apa yang harus dia lakukan terhadap mereka.

“Yah, haruskah aku serahkan ini pada Sierra? Dia kan seorang Ksatria Putih.”

Lelaki itu berdiri di dekat orang-orang yang terbaring, dan saat dia berjongkok, dia perlahan melihat ke dalam kandang.

“Apa kau baik-baik saja?” Dia menggaruk kepalanya menatap gadis yang ketakutan itu dan tersenyum pahit. “Uhm, aku melihatmu di jalan dan… aku datang untuk  membantumu.”

“…”

“Ayo kita pergi dari sini.” Dengan senyum canggung, dia menjangkau gadis itu.

Awalnya gadis itu ragu-ragu, tetapi akhirnya dia mengulurkan tangan kecilnya. Bahkan Beastman memiliki tangan yang sama dengan manusia. Dia memiliki kulit putih transparan. Rasa gemetar di tangannya berhenti ketika dia menyentuh telapak tangan sang lelaki.

“Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Aku akan mengantarmu pulang.”

Gadis ini memiliki rambut seputih salju dan dua telinga kucing berwarna putih. Dia juga mengenakan jubah kusam yang compang-camping. Dan si gadis pun menatap wajah Masamune.

.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset