Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Chapter 24 (2)

Chapter 24.2 - Pria dan Temannya

Pria dan Temannya (2)

Aku membuka mata secara perlahan.

merry christmas

Awan … kabut putih.

Lautan awan.

Banyak awan di sekelilingku.

Rupanya aku berada di atas awan. Karena aku agak tak yakin, jadi aku memastikannya sekali lagi.

Apa ini… sebuah kuil? Ada bangunan seperti itu di depanku. Sinar matahari terbenam terpancar di antara awan, dan tiba-tiba menerangi kuil itu.

“Lama tak jumpa ya, Masamune.”

Tiba-tiba terdengar suara di belakangku. Saat kutengok ke belakang, aku terkejut melihat sosok pemilik suara tersebut.

“…Hah, Shawn?”

Itu Shawn yang seharusnya mati kubunuh. Nada suaranya masih sama seperti sebelumnya. Tatapan matanya pun menakutkan.

“Kenapa kau ada di sini? Aku…”

“Tunggu. Ikut aku. Kau akan segera tahu.”

Shawn memotong ucapanku. Dan aku mengikutinya.

Bagian dalam kuil ini lebih terasa religius daripada bagian luarnya. Tempat ini lebih sepi dan tenang jika dibandingkan dengan aula takhta. Dan ada seorang pria yang berdiri di sana.

“Kau datang juga, Masamune. Atau lebih tepatnya, akulah yang mengundangmu ke sini.”

Pria itu berambut hitam pendek.

“Siapa kau? Kau kenal Shawn?”

“…Kau bisa lihat ini.”

Saat dia mengatakannya, bayangan hitam kemerahan meluap dari tubuh pria itu dan menutupi seluruh tubuhnya. Bayangan itu membungkus tubuhnya dan berubah menjadi armor hitam legam.

“Kalau begini bagaimana?”

“Suara itu…” Aku langsung menyadarinya. “Yang di dungeon…”

Itu adalah suara orang yang memberiku ramuan rahasia Dewa Pembalasan.

“Jadi begitu. Ternyata kau. Kau kenal Shawn?”

“Dia temanku. Namanya-“

“Shawn!” Tiba-tiba pria itu menyela. “Kau tak perlu banyak bicara.”

“Benar juga. Maaf.”

Pria itu telah kembali ke bentuk aslinya sebagai manusia.

“Aku mengerti apa yang ingin kau katakan. Bagimu, ini merupakan tempat yang lain. Tapi bagi kami, ini adalah penjara.”

“Begitulah. Penjara… yang sungguh indah, teman,” kata Shawn.

Keduanya tertawa, sambil memegangi perut mereka.

“Oh, maaf, maaf. Ngomong-ngomong, tubuhmu sedang tidur nyenyak di tempat tidur. Inilah yang kau sebut tubuh mental, jadi jangan khawatir.”

“Tubuh mental?”

“Itu eksistensi yang sesungguhnya. Yah, tidak apa-apa. Untuk sementara aku memanggilmu ke sini.”

“Apa maksudmu?”

“Ramuan yang kuberikan padamu. Itulah ramuan yang menghubungkanku dengan si penggunanya.”

“Tunggu sebentar. Aku tidak mengerti karena ceritanya terlalu mendadak, tapi apa yang kau lakukan padaku dengan ramuan itu?” Aku merasakan sedikit perubahan setelah menggunakannya.

“Ramuan itu dibuat dengan mencampurkan darahku. Efeknya hanya sekali, memberikan keterampilan unik bagi si pengguna. Keterampilan apa yang keluar adalah acak, sebagian besar keterampilannya adalah… biar kuberitahu kau, tidak terbatas. Infinity class.”

“Tapi itu belum dikonfirmasi, kan? Belum pernah ada yang melihat skill itu sebelumnya.”

“Yah, itu memang belum dikonfirmasi. Semua yang kumiliki adalah keterampilan langka sehingga semua yang muncul adalah sesuatu yang luar biasa. Kau beruntung, kau memiliki keterampilan yang bahkan dapat mengalahkan Shawn. Meskipun kalau kau tidak beruntung, kau mungkin akan mati di dungeon itu. Tidak akan aneh kalau Mimic itu memakanmu.”

“…Begitu ya. Sekarang aku mengerti tentang ramuan itu. Kau telah membantuku. Terima kasih.”

“Jangan khawatir, itu karena kemauanku sendiri. Aku cuma melakukannya secara eksperimental.”

“Jadi, kenapa kau memanggilku?”

“Shawn yang akan menjelaskannya.”

“Masamune. Aku akan mengajarimu keterampilan pedangku.”

“Apa?” Aku tidak mengerti maksudnya. “Tidak. Yang ingin kutanyakan adalah kenapa aku  dipanggil ke sini.”

“Aku tidak bisa mengatakannya. Aku juga tidak tahu kenapa,” kata pria itu.

“Apa ada hubungannya denganmu yang tidak mau mengungkapkan namamu?”

“Aku juga tidak bisa mengatakannya. Sama saat kau bertanya pada Shawn.”

“Aku ingin kau memberitahuku, Shawn. Kenapa kau ada di sini?”

“Aku tidak bisa bilang.”

Aku tidak tahu kenapa mereka tidak bisa mengatakannya. Apa kedua orang ini terikat oleh sesuatu? Tapi, kenapa mereka tak mengatakannya?

“Aku mengerti apa yang ingin kau katakan.”

Aku tidak terlalu tertarik. Apa itu teknik pedang yang begitu hebat? Kalau kau mengatakannya padaku, kau bisa mengajariku.

“Aku akan mengajarimu teknik pedangku. Untuk sesaat akan menyakitkan, sama menyakitkannya seperti saat kau minum ramuan itu.”

“Terima kasih telah memberitahuku, cuma teknik pedang, kan? Berapa lama-“

“Baiklah-“ Shawn meletakkan tangannya di kepalaku.

“Hei… apa-apaan?”

Saat berikutnya, seluruh tubuhku terasa sakit. Aku merasakan nyeri hebat yang mencekik. Dan seluruh tubuhku pun menggigil. Itu terjadi hanya sesaat, tapi butuh beberapa waktu agar rasa sakit dan gemetarku menghilang.

“Ini…”

Aku memiliki ingatan tentang teknik pedang yang belum pernah kumiliki sebelumnya.

“Itu teknik pedang.”

“Snake Sword … Beast King School … Greyberg Style Swordplay … Imperial Style Swordplay … Lint … Cockatrice Petrified Bird School…”

Ada banyak teknik pedang dalam diriku.

“Lint… apa itu?”

“Teknik pedang Elf.”

Aku mengkonfirmasi banyak skill pedang di kepalaku. Aku menelusuri ingatanku sejenak, dan teringat pada satu teknik pedang.

“Ini adalah…”

“Ini teknik pedangku. Aku mencampur semua teknik pedang yang aku pelajari dengan teknik pedangku sendiri untuk menciptakan teknik pedang tunggal tanpa celah.”

“Unnamed School? Apa itu?”

“Teknik pedang yang tidak memiliki nama. Tujuannya hanya untuk menebas.”

Entah kenapa, Shawn menatapku dengan tatapannya yang tajam. Kalau kuperhatikan, sepertinya ada sesuatu yang ingin dia katakan.

“Kenapa kau memberiku sesuatu seperti ini?”

“Aku tidak bisa bilang,” kata Shawn.

“Anggap saja sebagai kemauan sekarang,” kata Dewa Pembalasan. “Tapi yang pasti, itu adalah sesuatu yang kau butuhkan kali ini.”

“Yang kubutuhkan? Itu kan hanya berlaku untuk petualangan. Apa maksudnya?”

Entah kenapa aku merasakan ada sesuatu yang lain pada kata “yang kau butuhkan”.

 “…”Tapi Dewa Pembalasan tidak memberikan jawaban.

“Bisa kau beri tahu aku juga…?” tanyaku pada Shawn.

“Kalau kau ingin tahu, cari tahu sendiri. Kau akan mengerti kalau kau melanjutkan perjalananmu.”

“Bisakah kau menjawab pertanyaan yang paling penting? Ngomong-ngomong, Shawn. Aku ingin tahu, kalau kau sangat kuat, kenapa kau kalah dariku waktu itu? Kau bisa menang kalau kau menggunakan skill pedang ini, kan?”

“Seseorang yang kutemui setelah selang waktu 150 tahun. Dan juga pertempuran. Yah, bisa kukatakan itulah penyebabnya. Tapi aku kurang waspada. Dengan kata lain, Dewa berada di atas pada saat itu. Dewa menunjukkan sihirnya, dan itu sihir yang belum pernah kulihat sebelumnya. Meski terlihat samar, tapi aku juga merasakan kehadiran teman-temanku di sana. Jadi, untuk sesaat, aku salah mengartikan itu sebagai sihirnya. Tapi itu bukan dari sihir, itu darimu yang meminum ramuan itu. Jadi, aku tidak bisa melihat sihirmu.”

Berarti dia tidak berlatih.

“Masamune, pergilah ke Beyoment. Temui seorang wanita bernama Khalifa dan katakan padanya jika kau menemukannya, katakana padanya, “Aku menunggu di bukit itu.” Setelah itu dia akan menjawab, “Ada di laci ketiga.” Selanjutnya kau akan mengerti.”

“…Aku tidak mengerti. Apa itu perlu?”

“Ah.” Dewa Pembalasan menatap serius.

“Aku cuma ingin berpetualang secara normal. Yah, aku tidak bisa menahannya, jadi akan kutanyakan saat aku mampir ke kota.”

“Tidak apa-apa. Dan satu hal lagi. Belajarlah ilmu sihir.”

“Belajar sihir?”

“Kau bisa sekolah di mana saja. Penyihir seusiamu biasanya pergi ke sekolah dan belajar sihir.”

“Tapi aku seorang Healer.”

“Tak masalah. Semakin banyak kau belajar, semakin banyak pengetahuan yang kau miliki dan pandangan akan berubah. Kau memiliki sesuatu yang tidak kau ketahui sebagai Healer. Kau bisa menggunakan semua jenis sihir penyembuhan dan sistem pendukung, tapi kalau kau mempelajarinya, jangkauannya akan berkembang. Tidak ada batasan untuk sihir.”

“…Aku mengerti.” Itu kata-kata terbaik yang bisa kuucapkan sekarang. “Aku menurut saja.”

“Selain itu, aku tertarik pada sekolah sihir. Aku ingin pergi kalau ada kesempatan ke sana. Dan selain itu juga, kau akan mendapat manfaat dari ramuan rahasia.”

Dewa Pembalasan tertawa santai.

“Masamune, jika Snake Sword itu tidak cocok untukmu, berikan pada si gadis iblis. Dia akan menyukainya.”

“Itukah pandanganmu?”

Aku tidak memberitahunya bahwa Toa bersamaku. Lalu tiba-tiba aku merasa mengantuk.

“Sudah saatnya.” Dewa Pembalasan bergumam.

“Kami tidak bisa memanggilmu berkali-kali dan kami pun tak tahu kapan waktu selanjutnya kau kami panggil… jadi aku punya permintaan terakhir.”

Penglihatanku terdistorsi.

“Temukan kami…”

Setelah mendengar dua kata itu, kesadaranku menghilang.

Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: E~to, onii-sama, jangan di-copy ya !!

Options

not work with dark mode
Reset