Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Chapter 23 (1)

Chapter 23.1 - Komplotan

Komplotan (1)

Dia baru saja selesai melapor kepada Raja Arnold. Reinhard bertanggung jawab atas Ksatria Putih Kerajaan, yang merupakan perintah langsung dari sang Raja untuknya.

Reinhard meninggalkan aula. “Akan lebih baik kalau kau tak ikut denganku untuk menyembunyikannya.”

Ada sosok Daniel yang bersandar di dinding, di depan Reinhard. Dia terpana.

“Terserah aku, dong. Tapi sepertinya kau memperhatikan gadis itu.”

dukung klik iklan

“Jangan menatapku dengan senyumanmu yang menyeramkan itu. Jadi bagaimana?”

“Kau masih sedingin dulu, ya.”

“…” Bayangan iblis seolah muncul di belakang Reinhard.

“Bercanda. Ngomong-ngomong, aku di sini karena ada sesuatu yang aneh soal Noot Kerane itu.”

“Aneh bagaimana?”

“Yah, sepertinya akan butuh waktu lama untuk memulihkannya karena bentuk aslinya hampir tidak ada. Namun, daripada itu, aku telah mengetahui satu hal. Sesuatu yang penting.”

Daniel memiliki kebiasaan untuk mengurus hal yang penting.

“Monster itu kosong.”

“…” Reinhard mengerutkan kening.

“Tim anatomi memperhatikan kalau monster itu lebih kurus dan mereka mulai memeriksa bagian dalamnya. Tapi tampaknya bagian dalamnya kosong. Mereka tak menemukan apa-apa di dalamnya.”

“Bicara yang jelas, apa maksudnya kosong?”

“Itulah yang kumaksud. Monter itu tak memiliki organ dalam. Itu artinya dia sudah mati sejak awal, sebelum dia muncul.”

“Jadi begitu, itu artinya…”

“Ada seseorang di balik semua ini.”

Jadi, monster itu merupakan Nymph Beast, jenis monster mutan. Ada berbagai hal yang bisa menjadi pemicu terbentuknya mutan pada binatang buas itu. Di masa lalu, ada roh tertentu yang mengganggu monster hingga kekuatan sihir monster itu tidak lagi bekerja secara efektif. Karena itulah monster itu tak bisa mengendalikan sihir mereka sendiri dan mengamuk di kota. Dengan kata lain, monster yang menerima gangguan roh dikenal sebagai binatang Nymph.

“Siapa yang mencoba melakukan hal seperti itu… Aku pikir ini belum berakhir, besok kita harus menyelidiki hutan itu.”

“Oke.”

Negara ini sedang dalam bahaya, Reinhard dapat merasakannya.

Keesokan harinya,  tim investigasi dikirim untuk menyelidiki hutan. Mereka mati-matian mencari jejak, namun tak peduli seberapa lama mereka mencarinya, hutan itu masih tetap sama seperti biasanya. Tim investigasi tak bisa menemukan apa pun.

***

Kota Tua Ibu Kota Kerajaan Razhausen.

Ada sebuah kedai yang bertuliskan “The Waterfowl” di atasnya. Di sana ada banyak orang yang singgah. Selain para petualang, juga ada penduduk lokal yang datang untuk bersantai dan minum-minum.

Dan di sudut ruangan, tampak dua orang yang duduk dengan tudung yang menutupi wajah mereka.

“Tak kusangka ada orang yang begitu aneh di sini. Siapa dia?” tanya sang pria.

“Tenang saja, dia cuma seorang petualang. Dia juga bukan dari negara ini,” jawab wanita yang duduk di seberangnya.

“Aku lega mendengarnya. Kalau seseorang seperti itu muncul lagi, rencana kita tidak akan bisa dilanjutkan, meski dalam hal ini aku telah gagal membunuh Ksatria Putih.”

“Tak masalah. Toh masih ada banyak monster.”

“Kau tidak mengerti. Aku telah berusaha keras untuk menemukan Nymph Beast itu. Sulit, tahu.”

“Usaha kerasmu itu tidak ada hubungannya dengan rencana ini.”

“Kau yakin tidak apa-apa?” Alis pria itu berkerut. “Nymph Beast tak mudah ditemukan, bahkan jumlahnya tak lebih dari satu di hutan. Awalnya mereka adalah binatang yang tak disengaja dilahirkan, dan itu cukup langka. “

“Kalau begitu, bawa saja dari hutan yang lain.”

“Tidak, itu tak perlu lagi.”

“Apa maksudmu?”

“Fran tiba di ibu kota kerajaan besok.”

“Si wanita itu??” Dahi wanita bertudung itu mulai berkeringat.

“Yah. Ngomong-ngomong, kau tak menyukainya ya?”

“…” Wanita itu memelototi pria yang duduk di depannya.

“Bagiku, tidak ada yang lebih berbakat dari dia.”

“Aku tak tertarik dengan seleramu itu. Lanjutkan saja bicaranya.”

“Huft… ya sudahlah.” Sang pria menghela nafas. “Bawakan aku jasad Noot Kerane-nya. Sepertinya sudah pulih. Tanpa itu, kita tidak bisa melanjutkan rencananya. Jadi tolong bawakan sebelum Fran datang besok.”

“Baiklah, aku akan mendapatkannya malam ini.”

“Tolong, ya.”

Wanita itu lekas berdiri dan meninggalkan kedai. Lelaki itu tetap tinggal dengan sisa-sisa minumannya, senyum tak kenal takut pun terulas di wajahnya.

***

Kami telah sampai di rumah Sierra. Di depan rumahnya terdapat gerbang besar yang jauh lebih tinggi dariku, dan di sampingnya ada taman besar. Rumah ini juga sangat besar. Dasar orang kaya. Kalau di Jepang, dia ini sudah sekelas jutawan.

“Begitu ya… jadi Sierra seorang nona muda bangsawan?”

“Tidak, aku seorang ksatria dan akan tetap seperti itu. Dan nona muda itu…..”

Sierra tertawa keras.

“Oh, Sierra-chan sudah pulang.”

“Ibu. Tidak… Jangan panggil aku begitu di depan para tamu, dong…”

Sebuah lampu gantung besar menerangi pintu masuk dengan tangga yang ternyata lebih besar dari yang seharusnya. Plafon tinggi dan ruangan besar ini juga bisa dipastikan tidak akan bisa mengenai kepalamu. Seperti yang kupikirkan, orang kaya itu berbeda dari kami. Apa aku butuh tangga rumah yang besar? Toh kupikir tidak ada orang yang perlu menggunakan tangga sebesar itu.

“Sierra-chan, kau masih memanggilku Ibu? Seharusnya Mama, kan?”

“Ibu… sudah diamlah…”

“Jadi, siapa tamu yang datang ke rumah kita ini?”

Ibu Sierra menyambut kami. Ternyata beliau orang yang cukup lucu, meskipun Sierra tampak cemberut.

“Biar bagaimanapun, Sierra kan memang seorang perempuan. Jadi tidak ada salahnya dipanggil -chan.”

“Masamune, tolong ya. Jangan beri tahu siapa pun soal ini…”

Melihat sisi diri Sierra yang tak banyak diketahui orang lain, rasanya menyenangkan juga.

“Ha~h… ini Masamune-dono dan Toa-dono.”

“Masamune-kun dan Toa-chan….” Mama Sierra mengerutkan kening. “Oh, maksudnya kau adalah Nito-kun, ya? Dan Toa-chan.”

Enteng sekali bicaranya. Sierra pasti sudah memberitahu mamanya.

“Aku senang sekali kalian datang berkunjung. Terima kasih sudah menjaga Sierra untukku. Ngomong-ngomong Nito… bukan, Masamune, kau kelihatannya kuat, ya? Kudengar kau telah menyelamatkan seorang anak lelaki di Desa Tanya.”

Rupanya aku salah menilai Sierra dan membuat keputusan datang kemari. Mungkin karena dia cantik, makanya aku tidak bisa menolak tawarannya. Kalau aku kurang bisa sabar, aku bisa saja mencekiknya sekarang. Tapi aku tidak bisa melakukan itu.

Dan Sierra memalingkan wajahnya. Aku tahu situasinya akan buruk kalau aku mengatakannya, tapi aku merasa informasiku cukup cepat bocor akhir-akhir ini.

“Ibu … ini bukan waktunya membahas soal itu.”

“Ah, benar. Kalian bertiga pasti lapar, jadi ayo kita makan malam bersama.”

Kami diantar ke ruang makan yang terdapat meja besar panjang di dalamnya. Dan tak lama kemudian, makanan mewah yang baru pertama kali kulihat pun disajikan.

.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset