Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Chapter 22

Chapter 22 - Kekuatan Abnormal

Kekuatan Abnormal

“Tak mungkin kau seorang wanita.”

Raid tertawa terbahak.

“Yah, aku tak merasakan apa-apa dari pria itu. Tapi kau berbeda. Darimu, aku bisa merasakan sihir yang luar biasa.”

“Toa,” panggilku dari belakang.

dukung klik iklan

“Aku baik-baik saja. Masamune, mundurlah,” ucapnya. Dia tak berbalik untuk menatapku.

Aku hanya ingin mengatakan jika keadaannya berbahaya, aku akan membantunya. Namun Toa langsung menarik pedang dari pinggangnya dan mengatur posisinya.

“Kau lihat, ini merupakan skill pedang terlatih yang sekilas bisa kau lihat.”

Ah, aku tidak tahu apa-apa tentang skill pedang, jadi aku tidak tahu.

“Raid, tolong dengar!” Sierra memohon. “Mereka adalah temanku. Aku bertemu mereka dalam perjalanan kembali ke ibu kota! Mereka yang telah menjaga dan membantuku!”

“Wah, sulit dipercaya, ya.” Raid makin tertawa keras.

Sebuah bujukan yang tidak ada artinya.

“Ayo mulai!” Dia berlari menuju Toa.

Toa menggenggam pedangnya dan suara dari dua senjata yang berdentingan terdengar di ruang terbuka. Toa berhasil menangkis sabit besar Raid. Trik yang bagus.

“Kau pakai trik itu ya. Tak masalah. Aku juga akan menggunakan trikku!”

Raid tampak kesal pada teknik pedang Toa.

“[Fire Armor]”

Tubuh Raid tertutupi oleh baju besi yang berapi. Sierra memintanya untuk berhenti, tapi Raid bertindak seolah dia tak bisa mendengarnya.

“Ups, hampir lupa.” Raid berkonsentrasi pada bilah sabitnya yang juga diselimuti api. Diayunkannya sabit api itu ke arah Toa dan Toa menangkisnya lagi dengan pedangnya.

“Ukh,” rintih Toa.

Usahanya tak berjalan mulus. Pada saat pedangnya bersentuhan dengan sabit api, nyala api menyambar ke lengan Toa.

“Toa!” Aku tidak bisa menahan teriakanku.

“Tidak apa-apa… aku baik-baik saja.”

Kenapa dia tak menggunakan sihir? Aku sudah mendesaknya, tapi dia cuma bilang, “Aku baik-baik saja.”

“Pedang tumpulmu itu tidak akan bisa menghentikan sabitku.”

“Oh ya? Kau tidak akan pernah tahu pedang ini tumpul atau tidak kalau kau belum merasakannya.”

Toa terengah-engah. Seperti yang kupikirkan, butuh usaha keras untuk melawan Raid. Adanya nyala api membuatnya mustahil untuk menangkis setiap serangan yang ditujukan padanya. Jika Toa terus membiarkannya begini, dia hanya akan menjadi sasaran dari sabit api itu.

“Hei, berhenti main-main. Seharusnya kau tahu kalau kau tak bisa membunuh dengan pedang itu! Cepat gunakan sihirmu!”

“Cuma ini yang bisa kulakukan.” Toa tetap saja tidak mau menggunakan sihirnya.

“…Yah, rupanya kau mau mati, ya.” Raid bergerak menuju Toa untuk melayangkan niat membunuhnya.

“Toa!”

Aku bermaksud menyerahkan pertarungan ini padanya, tapi aku sudah tidak sabar lagi. Aku mencondongkan badanku ke depan, namun seorang pria asing muncul di depanku.

“Kenapa kau di sini?” Gerakan Raid terhenti. “Jangan halangi aku.”

“Harusnya aku yang tanya begitu,” kata pria itu. “Apa yang kau lakukan di sini, Raid?”

Karena orang asing itu, serangan yang dilancarkan Raid jadi ikut terhenti.

“Toa!” Aku bergegas menghampiri Toa dan menyembuhkan luka bakarnya dengan sihir penyembuhanku. Untungnya, lukanya sembuh dalam sekejap tanpa meninggalkan bekas luka.

“Apa kau baik-baik saja?”

“…Iya.”

“Syukurlah tidak ada bekas luka, tapi kenapa kau tak menggunakan sihir? Apa yang terjadi dengan sihirmu?”

“Sihirku bisa menyebabkan kerusakan lingkungan.”

“….” Aku terdiam.

Ada rumah di sekitar sini yang pastinya ada orang-orang yang tinggal di dalamnya. Toa khawatir jika dia menggunakan sihirnya, dia akan membahayakan banyak orang.

“Maafkan aku….” Sierra tampak kesal.

“Jangan khawatir. Kau sama sekali tak melakukan kesalahan. Aku tahu cepat atau lambat sesuatu seperti ini akan terjadi.”

Aku teringat perkataan Shawn yang menyarankanku untuk menyembunyikan kekuatanku.

“Reinhard, itu dia. Dialah yang membunuh monster itu!”

“Terus?”

“Apa maksudmu “terus”? Aku bilang kalau diaー”

“Kami belum memutuskan apakah mereka musuh atau bukan. Mereka hanya memenuhi Quest yang diminta untuk mengalahkan monster.”

“Kalau itu masalahnya, kenapa mereka melarikan diri? Seharusnya mereka tak perlu kabur, kan? Dan jawabannya sederhana. Mereka bersalah atas sesuatu!”

“Kau cuma mengasumsikan kesimpulanmu.”

“Kau tidak mengerti!” Raid frustrasi. “Hei, brengsek! Apa kau ini pendeta?”

Raid menatapku. Apa dia memperhatikan sihir penyembuhanku?

“…Healer.”

“Apa?” Mulutnya ternganga, lalu dia mulai tertawa terbahak. “Kau seorang Healer? Hahaha! Begitu ya. Jadi itu sebabnya aku tak bisa merasakan apa pun darimu. Karena kau seorang Healer!”

Huh, orang ini mengingatkanku pada Saeki.

***

Raid tertawa penuh kemenangan. Namun, ada seseorang yang tak mengabaikan kekonyolan Raid. Yaitu Reinhard.

(Aku tidak bisa merasakan apa pun…)

Reinhard mengalihkan perhatiannya ke bocah di depannya dan bertanya pada dirinya sendiri.

(Konyol. Seharusnya tidak begini, kan…?)

“Hei, kau.”

Reinhard mencoba memanggil Masamune, tapi…

“Reinhard! Kalau kau tak mau membantu, kau bisa menonton dan duduk saja di sana!”

Raid memegang sabitnya penuh semangat. “Biar aku yang urus dua orang ini!”

Reinhard berkelit dan sebuah sabit mendekati Masamune.

“Hentikan, Raid. Orang itu-!”

“Diam, sialan. Tutup saja mulutmu!”

Apa yang Reinhard khawatirkan terjadi dalam sekejap. Semuanya terasa bergetar dan asap pasir terbang ke udara. Reinhard melindungi mata dan wajahnya dengan lengannya. Asap pasir telah mengurangi jarak pandangnya dan dia menyipitkan mata untuk melihat suasana sekitar dengan lebih jelas. Ada seseorang yang berdiri di tengah asap… di tengah alun-alun. Namun pandangannya yang buruk membuatnya tak bisa melihat wajah orang itu.

Ketika asap pasir berangsur-angsur memudar, seluruh pemandangan di tempat itu menjadi terlihat jelas. Reinhard tercengang. Ada kawah besar yang menelan seluruh area ini. Dan jauh di pusat kawah, Raid tersungkur ke tanah dan pingsan dengan bagian matanya yang putih.

“Apa-apaan ini…” Reinhard kehilangan kata-kata. Namun dia tahu apa yang terjadi dan siapa yang melakukannya. Karena ketika asap pasir benar-benar menghilang, Masamune-lah yang dilihatnya. Dia tengah menunduk, menatap Raid yang tak sadarkan diri.

“Kalau begitu, kaulah yang membunuh Noot Kerane.”

“Masamune!” Itu suara Toa.

Toa, dia yang seharusnya ada di sana bersama Masamune beberapa waktu lalu, entah bagaimana dia bisa jauh dari alun-alun dan berada di daerah perumahan. Ada juga sosok Sierra di sampingnya. Reinhard bisa melihat jelas mereka berdua tidak terluka.

“Kau memindahkan mereka berdua ke tempat yang lebih aman dan membanting Raid ke tanah.”

Tapi belum pasti. Apa yang baru saja Masamune lakukan adalah memukul Raid dengan tinjunya. Dengan kata lain, Reinhard tidak bisa melihat pergerakan Masamune.

“Aku mengerti…” Tangan Reinhard secara alami bergerak menuju pedang di pinggangnya. “Kalau begitu, aku lebih baik bersiap untuk kemungkinan yang terburuk. Atas nama Ksatria Putih Kerajaan, aku akan menghadapimu di sini.”

Dia mengarahkan pedangnya ke arah Masamune.

“Tunggu! Reinhard!”

Sierra bergegas maju.

“Dengar, ini semua salah paham. Masamune-dono adalah temanku, bukan musuh. Tolong, turunkan pedangmu, Reinhard!”

Reinhard telah mengetahui hal ini sebelum Sierra membujuknya. Melihat segaris tatapan lurus Sierra padanya, dia mulai meragukan tindakannya. Mereka bukan musuh, kata-kata Sierra barusan kembali menenangkannya. Reinhard menatap ujung pedangnya, lalu berganti menatap Masamune.

“Kalau begitu, bagaimana kau akan menjelaskan ini?” Dia menunjuk ke tempat mereka berdiri yang sekarang telah tenggelam menjadi kawah.

Namun kata-kata itu sepertinya menunjukkan kegelisahannya.

“Itu karena Raid melukai Toa. Jadi Masamune…”

Pada kenyataannya Reinhard cukup pintar, dia sudah mengetahui semua ini sejak dia tiba. Namun ketidaknormalan kekuatan Masamune telah membuatnya kehilangan ketenangannya.

Ini semua karena keputusan sewenang-wenang Raid. Mungkin dia ingin memperlihatkan kekuatannya dan juga mengukur sejauh mana kemampuan mereka bisa menggunakan kekuatannya. Lalu dia memikirkan alasan yang cocok supaya Toa mau menghadapinya dengan pedangnya.

Reinhard kembali tenang sambil berkata pada dirinya sendiri.

“…Maaf. Aku jadi kelihatan tidak keren.”

Sierra merasa lega.

“Sebelumnya, bagaimana kau bisa tahu?” tanya Masamune.

“Raid bilang dia tidak merasakan apa pun darimu. Tapi itu tidak mungkin. Semua orang memiliki kekuatan magis, tak peduli seberapa sekecilnya kekuatan itu, kau masih bisa merasakannya. Tapi ada pengecualian.”

“Pengecualian?”

“Saat kau memiliki kekuatan yang jauh melebihi kemampuanmu.”

Samar-samar Reinhard mengakui kekuatan Masamune.

“Aku bisa mendeteksinya kalau kekuatan itu sedikit lebih kecil. Tapi itu adalah kekuatan sihir yang sangat besar yang bahkan tidak bisa kudeteksi. Tapi… maaf. Ini salahku yang tidak bisa menghentikan Raid.”

“…Aku tak begitu mempermasalahkannya. Kami hanya tidak ingin terlihat mencolok di sini. Kami cuma ingin jadi petualang biasa dan mendapatkan hadiah untuk pencapaian kami. Itu saja.”

Namun, berbeda dengan Raid yang diselimuti awan kegelapan. Masamune melepaskan kewaspadaannya.

“Hadiahmu akan dibayarkan di kemudian hari, tapi aku tidak akan mengatakan apa-apa tentang ini. Dan aku harus melapor ke kerajaan, jadi akan kulaporkan bahwa dua petualang telah membantu Sierra di negara ini. Apa kau tak keberatan?”

“Yah, tidak apa-apa.”

“Bisa aku bawa Raid bersamaku?” Reinhard menunjuk ke pria yang setengah terkubur di tanah. “Dia masih bawahanku.”

“Silakan.”

Reinhard memegangi Raid di bahunya. Lalu dia mengingat sesuatu dan kembali menoleh pada Masamune.

“Oh iya, namamu Masamune, kan?”

“….” Masamune terpana dengan cara Reinhard yang tiba-tiba berbicara ramah dengannya.

“Baiklah Masamune, aku minta maaf atas kejadian ini. Aku harap kita bisa bertemu lagi nanti.”

Setelah mengatakannya, Reinhard meninggalkan Masamune yang masih berdiri menghadap ke alun-alun.

“Ah… apa aku akan dikenai tagihan biaya kerusakan?” “…” Sierra tertawa dan terduduk di tanah dengan perasaan lega.

 


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset