Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Chapter 21

Chapter 21 - Di Kota Tua

Di Kota Tua

Kami sedang duduk di bangku alun-alun kota tua, tempat yang hampir tidak populer. Toa bertanya tentang keterampilan unikku. Meskipun aku seorang healer, aku juga bisa menggunakan sihir serangan yang awalnya adalah milik Oliver. Sebelumnya aku tak tahu apa-apa tentang sihir itu sampai aku bisa menggunakannya. Dan begitulah, Toa hanya mendengarkan ceritaku sampai akhir.

merry christmas

“Apa sihir itu juga bisa digunakan pada equipment?”

“Mungkin bisa. Aku belum pernah mencobanya.”

Apa yang terjadi kalau aku menggunakannya pada [Wrath of the Saint], ya? Memikirkannya saja membuatku was-was… Tidak, seharusnya aku bisa lebih bersemangat. Sejujurnya, aku juga ingin mencobanya.

“Benar juga. Healer tak bisa menggunakan sihir api. Jadi, kalau seandainya bisa digunakan pada equipment dan kau mencobanya, kira-kira sesuatu seperti apa yang akan muncul ya?”

“Yah… Aku tidak tahu, tapi mungkin akan lebih baik kalau aku tak sembarangan menggunakannya.”

Aku berpikir sejenak. Mungkin tanpa sihir sekalipun aku bisa mengalahkan monster dan semacamnya. Seperti memecahkan tanduk Noot Kerane atau mengalahkan goblin dengan tangan kosong.

Dan aku bukan hanya ingin mencobanya saja. Aku juga ingin menunjukkan kekuatanku pada keduanya. Aku tak ingin menunjukkan diriku yang tidak kompeten di dunia yang berbeda ini.

“Oke,” kata Toa. “Aku akan membantumu, Masamune.”

Aku memikirkan hal ini sebelumnya, kenapa Toa…

“Kalau Masamune tak bisa menggunakan kekuatannya, maka aku akan melakukan yang terbaik. Aku tak bisa mengalahkan ibu, ayah, dan saudara perempuanku… tapi tetap saja.”

Aku menatap Toa dan menjawabnya dengan putus asa. “Terima kasih, Toa… Hei, aku sudah memikirkan ini sejak lama. Saat pertama kali kita bertemu, kenapa kau mempercayaiku?”

“Eh?” Toa sepertinya tak bisa menjawab. “Itu…”

“Masamune! Toa!”

Lalu terdengar sebuah suara dan kami menoleh ke belakang. Kami melihat Sierra mendekati kami. Ngomong-ngomong, aku meninggalkan sepucuk surat di penginapan dengan instruksi, “Tolong berikan pada gadis berambut perak saat dia datang”. Dengan begitu, Sierra akan tahu di mana kami berada.

“Lain kali katakan padaku, ya,” bisikku di telinga Toa karena percakapan kami harus berakhir.

“Oke.” Toa mengangguk.

“Uhm… Apa aku mengganggu?”

“Tidak. Maaf membuatmu datang ke tempat seperti ini.”

“Tidak apa-apa, kurasa tempat seperti ini lebih nyaman.”

“Lalu, apa yang terjadi dengan Noot Kerane itu?” tanyaku, meskipun aku bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Sierra.

“Begitulah. Noot Kerane ditemukan oleh tim otopsi. Karena kau memintaku merahasiakannya, aku tak menyebut namamu dan Toa, jadi kupikir tidak akan ada masalah. Tapi meski begitu, aku tak bisa menjamin apa yang mungkin akan terjadi selanjutnya, lho.”

“Aku mengerti, terima kasih. Terus gimana dengan hadiahnya? Kita menaklukkan Kerane. Kita juga dapat hadiahnya, kan?”

“Aku tak bisa bilang apa-apa soal hadiah itu. Ada prosedur yang diperlukan kalau target penaklukannya berbeda dari Quest yang kita lakukan. Situasinya agak sulit sekarang.”

“Begitu ya…”

Sayang sekali, tidak ada yang bisa kami lakukan tentang hadiah itu. Yang harus kami lakukan hanyalah menerima permintaan lain.

“Kalau Masamune ingin menyembunyikan identitasnya dari kasus ini, kurasa kau perlu menunggu sampai situasinya membaik.”

Huh, apa tidak ada bantuan yang bisa dengan mudah membawakan barang? Lalu bagaimana dengan hari ini? Aku tidak punya uang untuk menginap di penginapan.

“Yah… Kalau tak keberatan, gimana kalau kalian menginap di rumahku saja malam ini?”

Itu tawaran yang terduga.

“Rumah Sierra? Terima kasih banyak, tapi apa kau yakin tidak apa-apa?”

“Tentu saja,” jawab Sierra sambil tersenyum. “Aku punya beberapa kamar kosong, dan aku berterima kasih padamu yang telah membantuku. Jadi, kalian berdua silakan datang ke rumahku.”

“Kalau begitu… aku terima tawaranmu.”

Enteng sekali dia menawarkan bantuan seperti itu, tapi Sierra sungguh baik. Aku pun harus berterima kasih padanya.

“Wah, wah… Siapa ini?”

Aku mendengar suara yang datang dari arah belakangku. Saat aku menengok ke belakang, seorang lelaki telah berdiri menatap kami semua.

“Raid…” ungkap Sierra.

Pria itu menyeringai saat dia mengamati kami.

“Kenapa kau di sini?” tanya Sierra.

“Kenapa? Sederhana saja. Noot Kerane memiliki kemampuan untuk membatalkan sihir, jadi satu-satunya yang bisa memengaruhinya adalah pukulan atau tinju. Pada dasarnya, serangan fisik adalah cara yang tepat untuk membunuhnya. Kau bisa menekan kemampuannya dengan menghancurkan tanduknya, tapi tidak ada yang bisa melakukannya karena tanduknya sangat kuat dan membutuhkan waktu untuk menghancurkannya.”

Tak sesulit itu, lagipula itu kan cuma tanduk.

“Jadi kau harus melakukannya melebihi serangan fisik. Tapi, itu tak berfungsi kalau kau menggunakan pedang, palu, atau tombak. Jelas saja Noot Kerane itu dibunuh dengan sihir. Tidak ada penjelasan lain untuk menjelaskan insiden itu. Dengan kata lain, pria itu menghancurkan tanduknya dan kemudian membunuhnya dengan sihir. Petualang yang terluka memberi tahu para prajurit gerbang, dan kami mengetahuinya lebih awal daripada Ksatria Putih, jadi kami bergegas kemari.”

Dengan senyum yang tak kenal takut, Raid memandang Sierra.

“Sierra, kau tak bisa melakukan itu. Kau tidak bisa membunuhnya. Kau tak berpengalaman dan tak punya cukup kekuatan. Karena itulah, bukan kau yang menghancurkan tanduknya, tapi orang lain. Dan aku berpikir kalau kau tak bisa menggunakan banyak sihir, jadi pastilah orang lain yang melakukannya.”

Raid berganti menatapku dan Toa.

“Dan aku juga tak berpikir kalau pria itu yang membunuh Noot Kerane itu! Karena jelas itu tidak mungkin! Mereka tak punya cara untuk membunuhnya! Aku tak bisa melihat mereka membunuh apa pun selain binatang buas, kelinci tanduk, atau goblin! Kelompoknya jelas berbeda,dan seorang ksatria putih tak seharusnya mengabaikan pria seperti itu!”

Sebuah gumpalan api muncul di telapak tangan Raid dan dia menjulurkannya. Api itu berbentuk seperti batang yang panjang dan bengkok, dan saat api itu padam, sebuah sabit besar muncul.

“Jadi… siapa dia?”

“Raid, mereka bukan musuh!”

“Akulah yang berhak memutuskan, bukan kau!”

Sierra tampak bingung.

“Itu artinya kau mencurigai Sierra sejak awal dan mengikutinya.” Aku menyela pembicaraannya.

“Benar.” Raid melihat ke arahku. “Ternyata kau ikut menguping pembicaraan kami. Siapa kau?”

“…” Aku mencoba memberitahu namaku, tapi Toa melangkah di depanku.

“Siapa lagi kau?”

“Toatrika, aku yang membunuh Noot Kerane itu.”

Toa memelototi Raid.

.

.

.

Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: E~to, onii-sama, jangan di-copy ya !!

Options

not work with dark mode
Reset