Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Chapter 19

Chapter 19 - Reinhard Rickman

private-image

“Bloody Tears of the Goddess”

* * *

“Seharusnya ini akan baik-baik saja. Aku telah memecahkan tanduknya, dan aku tidak bisa menggunakan sihir yang kupakai sebelumnya.”

Noot Kerane mengamuk sambil menggosokkan kepalanya ke tanah. Aku penasaran, apa ada kekuatan yang mengalir di tanduknya?

dukung klik iklan

“Sihir…?! Apa itu sihir?” Sierra terkejut.

“Mungkin. Kalau itu benar, apa kau bisa menyerahkan Noot Kerane itu padaku?”

“Menyerahkannya padamu? Apa maksudmu?”

“Ada sesuatu yang ingin kucoba.”

“Yah… baiklah, tentu saja boleh.” Sierra sempat tertegun sejenak.

Aku menantikan kesempatan ini.

[Heel Healing]. Itulah kekuatan yang kugunakan. Apa yang terjadi dengan sihir Oliver?

“Toa, bisa mundur sedikit?”

Toa yang mengerti ucapanku langsung berpindah ke belakangku. Noot Kelane masih menggosokkan kepalanya, sepertinya dia kesakitan. Kujulurkan tanganku ke arahnya.

“[Bloody Tears of the Goddess]”

Itu adalah hasil dari membalikkan [Hell Fire].

Saat aku berbicara, bayangan merah dan hitam berkibar dari tubuhku.

“Apa… apa itu?” tanya Sierra.

“Oh, aku lupa memberitahumu, tapi tolong rahasiakan ini ya.”

Seharusnya aku memberitahunya sebelumnya. Aku mencoba mengabaikan saran Shawn dan mengungkapkan diriku. Tapi itu sangat tidak penting sekarang. Aku hanya ingin tahu, kekuatan sihir apa yang bisa kugunakan.

Lingkaran sihir yang memancarkan cahaya hitam kemerahan muncul di sekitar kaki Noot Kelane dan membungkusnya. Lalu terdengar suara aneh dari pohon roh. Sepertinya, dia tidak bisa bergerak karena terikat oleh sihir. Lalu, aku merasakan suasana aneh yang berbeda dari biasanya.

Sebuah retakan muncul di udara tepat di atas Noot Kerane. Retakan itu secara bertahap menyebar luas, lalu delapan jari muncul melalui celah itu. Itu jari-jari yang sangat tidak wajar. Kukunya yang tajam berwarna merah seperti darah. Dan delapan jari itu mencoba merobek celah dan mengoyakkannya.

“Masamune… Itu…” Toa menunjuk. Tangannya gemetaran.

Di dalam celah itu aku bisa melihat mata hitam kemerahan, yang benar-benar kusadari bahwa itu adalah mata. Mata itu milik seorang wanita berkulit putih, lebih ke transparan. Mungkinkah itu adalah sang Dewi? Matanya merah dan hitam, dan air mata darah mengalir dari matanya ke pipinya.

Sang Dewi memandang pada Noot Kerane di bawahnya. Tiba-tiba, air mata menetes dari matanya. Karena kekuatan gravitasi, air mata berdarahnya jatuh lurus pada sosok itu. Dan seketika Noot Kerane mengeluarkan suara aneh yang sangat nyaring. Monster itu menggeliat kesakitan dan tak bisa menggerakkan tubuhnya. Dan sekarang aku mengerti alasan kenapa monster itu terlihat sangat menderita. Air mata Dewi mampu melelehkan daging. Dan itu meninggalkan lubang di bagian air mata itu menetes.

Air mata darah itu terus mengalir deras seperti shower. Probabilitas curah hujan 100%. Hujan darah yang lebat. Saat kuperhatikan, Noot Kelane perlahan-lahan kehilangan bentuk aslinya karena penuh lubang.

Lalu, sesuatu yang aneh mulai terjadi. Tidak ada air mata darah yang keluar dari lingkaran sihirnya dan semakin terus bertambah. Seperti ada dinding yang tak terlihat di tepi lingkaran sihir… Dan ini juga seperti melihat gelas yang digunakan dalam eksperimen sains. Gelas kimia itu terus terisi oleh air mata darah. Tubuh monster itu akhirnya terkubur, tenggelam dalam darah dan tak terlihat.

Apa monster itu sudah mati?

Setelah mengamatinya, sang Dewi perlahan kembali ke celah itu. Untuk sesaat sebelum dia pergi, pandangan kami bertemu. Mata itu tampak memiliki kesadaran, mungkinkah dia benar-benar sang Dewi? Retakan itu benar-benar tertutup.

Dan seketika lingkaran sihir yang memancarkan hitam kemerahan itu menghilang, dan gelas kimia itu pun ikut menghilang. Air mata darah yang tadinya tertampung seperti di dalam gelas kimia itu mulai tumpah ke tanah secara langsung. Benar-benar tertumpah ruah. Lautan darah menyebar di mana-mana.

“Sudah berakhir…”

Tidak ada jawaban.

Baik Toa maupun Sierra membeku menatap pemandangan di depan mereka. Tentu saja, tragedi ini sungguh mengerikan. Aku saja merasa mual.

Di kejauhan sana suara kuda terdengar di telingaku. Saat kulihat ke belakang, terlihat ksatria putih yang menunggangi kuda. Mungkin para petualang yang telah dievakuasi baru saja memberitahu mereka.

“Toa, sepertinya para ksatria putih kerajaan akan datang. Kita harus pergi sebelum mereka menemukan kita.”

“Eh?”

“Ayo.” Aku mengulurkan tanganku. “Ayo cepat pergi dari sini.”

“Baiklah.” Toa masih terlihat bingung. “Aku mengerti.”

“Ngomong-ngomong, Sierra. Jangan beri tahu orang-orang tentangku, oke?”

“Maksudmu tentang sihir barusan?”

“Pokoknya tentang apapun. Aku percaya padamu, jadi aku akan memberimu pujian karena kau telah menjadi orang yang bisa dipercaya.”

“…” Jawabannya lambat.

“Sisanya serahkan padaku. Aku akan kembali ke ibu kota kerajaan dulu. Ayo kita bertemu lagi nanti, oke?”

Setelah mengatakannya, aku mengaktifkan [God of Speed]. Kemudian membawa Toa, bergegas melewati padang rumput.

***

~ Kejadian sebelumnya, saat Masamune dan teman-temannya sedang bertarung. ~

“Maaf telah mengganggumu, Tuan Reinhard.”

“…Apa?”

Seorang kesatria terlihat mengenakan mantel putih. Rambut cokelatnya yang panjang menutupi telinganya. Dialah Reinhard Rickman, seorang ksatria putih.

“Kami telah menerima informasi bahwa seekor Kelane yang dilingkupi partikel cahaya telah muncul di Hutan Greer,” ucap sang pembawa pesan itu dengan cepat.

“Partikel cahaya… Ah, begitu. Siapa informan itu?”

“Ada empat petualang yang terluka dan saat ini sedang dirawat di kantor medis. Menurut cerita mereka, masih ada tiga petualang lain yang terlibat dalam pertempuran.”

Reinhard menyentuh dagunya dengan ekpresi wajahnya yang serius.

“Mereka bilang ada seorang gadis berambut perak yang menggunakan rapier.” (*pedang tipis ringan dan tajam).

“Aku mengerti.” Reinhard mulai bersiap dan menyambar pedang dari sarungnya.

“Pergi dan informasikan pada Raid. Sierra terlibat dalam pertempuran dengan Noot Kerane.”

***

Dua ksatria putih kerajaan berdiri di gerbang utama ibu kota kerajaan. Salah satunya adalah Reinhard, dan yang satunya lagi adalah seorang wanita berambut perak, Hilda Ecarlat. Saudara perempuan Sierra.

Orang-orang membulatkan mata guna melihat siapa mereka, seperti yang sering dilakukan oleh seorang prajurit berseragam. Ketika mereka melihat mantel putih bersih yang memanjang sampai ke lutut, semua orang berpikir “Itulah ksatria putih kerajaan yang dirumorkan”. Mereka seketika menjadi cemas. Jika ksatria putih ada di sini, itu artinya akan ada bahaya yang terjadi. Apa telah terjadi sesuatu pada negara ini? Mereka yang memperhatikan para ksatria putih merasa bingung dan ketakutan.

“Kalian berdua datang lebih awal!”

“Kau yang kepagian, Raid. Kupikir kau akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk sampai ke sini.”

“Hentikan cara bicaramu yang menyeramkan itu,” kita Hilda dengan nada dingin.

Dia adalah Raid Black, salah satu ksatria putih.

“Meski aku telah ahli, aku tetap tidak sabar menunggu Noot Kerane itu muncul dan menghadapinya. Sudah lama sejak aku menemukan mangsa seperti itu.”

“Sepertinya dia dilingkupi oleh partikel yang memancarkan cahaya. Tidak salah lagi, itu pasti Noot Kerane.”

“Yah, tunggu apa lagi? Lebih baik kita cepat ke sana sebelum adik Hilda membawanya keluar.”

Hilda menatap tajam. Nada yang tidak tampak seperti seorang ksatria kerajaan. Kepribadian yang seperti penjahat. Itulah seorang pria yang bernama Raid.

Kelompok kecil melompat keluar dari gerbang utama, berlari melewati padang rumput, dan  menuju Hutan Greer.

“Kemungkinan besar ada di sana, tapi… ada sesuatu yang aneh.”

Reinhard merasakan adanya embusan angin aneh yang melewatinya, tapi saat dia memutar pandangannya ke belakang, dia tidak melihat apa-apa.

“Ada apa?” tanya Raid.

“Bukan apa-apa. Ayo cepat.”

Namun, setibanya mereka di sana, yang mereka lihat adalah diri Sierra yang berdiri tanpa luka apapun di tengah lautan darah yang menggenang di mana-mana.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset