Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Novel Bahasa Indonesia Chapter 17

Chapter 17 - Noot Crane

Noot Crane

Aku sudah selesai sarapan di penginapan. Sierra juga sepertinya sudah menyelesaikan sarapannya.

merry christmas

“Aku minta maaf atas yang terjadi sebelumnya. Aku sudah salah sangka…”

Hampir saja penginapan ini hancur. Dan, Toa masih sedikit marah…

“Aku tak peduli lagi.” Aku tersenyum pahit.

“Maaf,” Sierra meminta maaf lagi. “Ngomong-ngomong, sepertinya Toa baru saja memanggil Masamune dengan nama Nito…”

“Uhm, itu…”

Itu ucapan yang tak disengaja. Tidak apa-apa, lagipula, itu cuma nama. Tampaknya mustahil untuk menyembunyikannya. Aku menjelaskan pada Sierra bahwa itu adalah nama samaran saja.

“Jadi kalau di depan umum, aku ingin dipanggil dengan nama Nito.”

“Aku mengerti. Itu nama yang aneh, tapi aku mengerti. Ngomong-ngomong, bagaimana kau akan menghabiskan waktu hari ini?”

Sierra bertanya, apa yang akan kulakukan setelah ini.

“Untuk saat ini aku sedang berpikir tentang mendapatkan permintaan di guild. Aku sudah tak punya uang…”

“Begitu ya. Jadi, boleh aku menemanimu juga? Lagipula, aku juga seorang petualang…”

Tampaknya, ksatria di negara ini diharuskan mendaftar sebagai petualang. Sierra adalah seorang petualang rank A.

“Aku ingin tahu apa aku bisa mendapatkan hadiah yang lebih tinggi.”

Petualang rank F hanya dapat menerima permintaan hingga rank E. Namun, dalam kasus permintaan pada rank D atau rank yang lebih tinggi, sepertinya seseorang diizinkan untuk menemani jika ada petualang dengan rank yang sama dengan rank-nya itu.

“Akan lebih mudah untuk naik level.”

Toa tampak agak tidak puas.

***

“Apa ada yang lebih baik? Nito sepertinya baik-baik saja.”

Permintaan tergantung di papan bulletin guild. Tiba-tiba aku berpikir. Bisakah Ksatria Putih, yang tidak muncul di depan umum, bisa muncul dua kali di guild kemarin dan hari ini?

“Tidak masalah. Hanya orang-orang yang tahu wajah Ksatria Putih yang tahu, dan aku di sini bukan sebagai ksatria.”

Rupanya, Ksatria Putih adalah orang normal yang hidup di antara orang biasa.

“Sierra, apa ini?”

Aku tidak bisa membaca suratnya. Bukannya tidak bisa, namun aku tidak memahaminya.

“Itu Crane.”

(TL Note: pelafalan dlm jepangnya: Kelane/Kerane/Keraine berdasar pengucapan orang jepang yg agak sulit mengucapkan huruf mati. Jadi disini saya menggunakan Crane)

“Crane? Apa itu?”

“Crane adalah binatang buas raksasa yang hidup di hutan. Ciri utamanya adalah dia punya dua tanduk besar.”

Toa sepertinya baru mendengar nama itu untuk pertama kalinya. Aku tidak tahu, jadi aku tak bisa memastikan.

“Baiklah, ini.”

Aku menyelesaikan prosedur pendaftaran di resepsionis. Sierra bilang bahwa dia membutuhkan sesuatu untuk dibeli, jadi aku menyarankannya untuk membeli di toko Sharon yang ada di seberang jalan.

“Halo.”

“Oh, Sierra. Apa kau libur hari ini?”

“Ya. Aku datang untuk membeli ramuan Catherine untuk pergi berburu Crane.”

“Ramuan Catherine?” tanyanya pada Sierra.

“Ya. Crane menggunakan suara untuk menghambat pergerakan lawan. Ramuan itu memiliki efek untuk melindungi pendengaran, jadi ramuan itu sangat penting saat menerima permintaan untuk mengalahkan Crane.”

Kau juga membutuhkan banyak pengetahuan untuk berburu monster.

“Oh, kalau kuperhatikan dari dekat, bukankah kalian adalah seorang healer dan paladin yang kemarin datang?”

“Eh, Toa adalah paladin?”

“Yah…”

Ekspresi Sharon seolah-olah mengatakan, “maafkan aku.”

“Tidak, aku cuma asal bicara.”

“Aku terkejut kalau Toa adalah seorang paladin.”

“Aku juga terkejut. Kau tahu Sierra.”

“Bahkan paladin lebih terkejut,” kata Sierra.

Menurut Sierra, Paladin jarang terjadi, tetapi mereka adalah salah satu dari Ksatria Putih. Setelah memastikan bahwa dia bisa bicara seringan itu, “Ah!” teriak Sierra. Sekali lagi, dia berkata, “Aku akan baik-baik saja.”

Tidak sama sekali.

Seberapa ringannya orang-orang ini?

***

Itu adalah hutan yang kami kunjungi untuk menyingkirkan para goblin. Sekarang kami hanya fokus dalam perjalanan yang ada di depan kami.

Aku melihat dari kejauhan, beberapa petualang tengah duduk di luaran hutan.

“Apa yang terjadi?”

Ada empat petualang. Dengan darah dan luka pada lengan atau wajah mereka. Sepertinya mereka diserang oleh sesuatu.

“Kami pergi ke hutan untuk menemukan pohon ek. Awalnya tidak ada masalah. Seperti biasa, itu adalah hutan yang sepi. Namun, suasananya tiba-tiba berubah, dan kami melarikan diri menuju pohon ek dari goblin dan serigala pemburu.”

Para petualang terlihat ketakutan oleh sesuatu.

“Saat itu aku sempat berbalik. Itu… Crane. Kami tidak bisa mengalahkannya. Percuma. Namun, Crane itu tampak berbeda. Aku sudah melihatnya beberapa kali sebelumnya. Tapi tidak seperti itu. Seluruh tubuhnya bersinar… seperti terbungkus partikel cahaya…”

“Apa itu seperti butiran cahaya?” Sierra sepertinya yakin dan mencoba memastikan.

Lalu, kami mendengar suara yang keras dari dalam hutan. Apa itu suara geraman? Rasanya seperti kami sedang disengat.

“Dia!” kata salah satu petualang.

“Hei… dia tak mungkin mengikuti kita, kan!”

Suara geraman monster meningkat di mana-mana. Burung-burung terbang menjauh dengan suara gemerisik dari pohon-pohon dari dalam hutan.

Aku bisa mendengar geraman yang sama lagi, dan itu terasa seperti sebuah getaran. Sepertinya ada sesuatu yang sedang mendekat.

“Tidak salah lagi… dia melacak bau darah kita… Berdiri! Kita lari ke penghalang!”

Mereka fokus pada tubuh mereka yang terluka dan mencoba meninggalkan tempat itu.

Lalu, sosok itu muncul dengan suara aneh yang sangat  nyaring.

“…Dia mengejar kita!”

Para petualang ketakutan.

“Lari, kami akan menahannya di sini!”

“Maaf! kami pergi, semuanya!”

Para petualang berbalik dan berlari dengan terburu-buru.

“Saat aku dengar cerita tentangnya, aku sudah menduga. Itu bukan Crane. Tapi Noot Crane.”

“Noot Crane?”

Monster itu bersosok seperti reptil berambut. Tanduknya seperti… rusa. Wajahnya seperti domba. Tapi tubuhnya berkali-kali lebih besar dari beruang di kebun binatang. Dan dia memiliki partikel cahaya yang melayang.

“Masamune!” kata Sierra, yang tak memanggil dengan Nito.

“Ya!” aku menjawab lebih keras dari biasanya.

“Apa tubuhmu baik-baik saja?”

“…Tubuh? Ya, aku baik-baik saja.”

Aku bertanya-tanya tentang pertanyaannya barusan, Sierra tampak menunjukkan ekspresi tertekan. Tubuhnya seperti sulit digerakkan. Dia berusaha menggerakkan kakinya juga. Dan Toa juga menunjukkan ekspresi yang serupa.

“Jadi ternyata memang benar. Hanya dengan mendengar suara Crane saja itu bisa menghambat pergerakan lawan. Itu memberi beban pada setengah tubuh. Hal yang sama berlaku untuk Noot Crane, tapi itu tidak sebanding dengan Crane saja.” Hanya mulutnya yang sepertinya bisa digerakkan.

Mengalahkan Crane adalah permintaan untuk rank A. Tapi makhluk ini sepertinya monster rank B. Tetapi Noot Crane berbeda. Dia sebenarnya adalah monster rank A. Terutama, dalam hal ini, raungan suara anehnya sepertinya lebih nyaring dan penuh kemarahan, sehingga ketika ini jadi sebuah permintaan dari guild, itu akan berubah menjadi “Permintaan Berbahaya”.

“Kekuatan Masamune hanya terlihat sekali, dan hanya sesaat, tapi jika sesuatu terjadi… apa kau akan tetap menyerahkannya padaku?”

“Ya, tentu saja.”

Noot Crane adalah monster level 32. Suasana menegangkan ini bisa terasa seperti lelucon.

“Toa, kau baik-baik saja?”

“Ya, aku baik-baik saja sekarang.”

“Ayo mulai, Masamune!” Sierra berlari.

“Toa, bantulah Sierra. Jangan khawatirkan aku.”

“Aku mengerti.”

“<< Ice speed ice move >>!”

Sierra menyerang dari sisi kiri. Jalan es muncul dari kakinya ke arah tempat tujuannya, dan dengan cepat meluncur menuruni padang rumput.

“<<Ice Big Blade Freeze Enchant>>!

Aku bisa melihat es yang terbungkus rapier yang sudah kusiapkan. Mempercepat ke titik pendekatan, dan mengayunkan rapier yang terbungkus es ke bawah kaki kanan Noot Crane. Aku berbalik.

“Bagaimanapun… ini tidak berguna.”

Sierra lekas mundur. Seperti yang kuharapkan.

“<<Lightning>>!”

Toa menembakkan serangan petir. Petir menyerang dari lingkaran sihir yang muncul di atas Noot Crane. Tapi entah bagaimana sihirnya terhapus.

“Masamune, sihirku juga tidak berhasil!”

“Aku pernah dengar bahwa Noot Crane memanipulasi sihir dengan tanduknya. Mari kita hancurkan tanduk itu terlebih dahulu,” saran Sierra.

Partikel-partikel cahaya yang melayang-layang mulai berkumpul di tanduk Noot Crane.

Mungkinkah…

“Dia seperti sedang melakukan sesuatu!” Aku merasa sesak napas.

Benar saja, Noot Crane meraung.

Sierra berhasil menghindar, dan Toa juga tidak berada di sana.

”Masamune, giliranku!”

Sebuah lingkaran sihir muncul di kaki Toa.

“<<Lightning Roar Lightning Breath>>!”

Dua lingkaran sihir seolah-olah berdiri saling berhadapan. Petir intens dipancarkan dengan suara bergemuruh. Blitz! Sengatan petir langsung dilancarkan dan mengenai tanduk Noot Crane secara langsung.

“Seperti yang diharapkan dari seorang Paladin.”

Toa agak malu-malu. Tapi tiba-tiba, serangan petirnya terhapus.

“Apa ini masih tidak berguna?”

“Mungkin jenis sihirnya adalah peluru.”

Sierra kasar sekali.

“Saat aku menyerang, aku melihat cahaya yang menutupi tubuhnya menghilang sejenak. Mungkin kau bisa pakai kesempatan untuk mendapatkan celah itu.”

“Apa aku bisa memberinya kerusakan?” ucap Sierra.

“Mungkin.”

Mungkin saja untuk membidik momen itu. Tapi apa Sierra baik-baik saja? Mungkin karena suara yang aneh itu terlihat sangat menyakitkan. Kami memilih cara teraman di sini.

“Akan kulakukan,” Toa memberi isyarat melalui matanya.

“…Aku mengerti,” jawab Sierra setelah jeda sesaat. “Setidaknya tolong aku.”

“Tidak, tidak apa-apa. Ini akan segera berakhir.”

***

“<<Teknik Penghancuran Jiwa>>!”

Masamune merasakan ada sesuatu yang pecah. Dia tersenyum seperti yang terlihat. Ternyata itu termasuk metode operasi. Dia menyadari bahwa monster juga memiliki sihir.

Cahaya yang mengelilingi Noot Crane menghilang seolah lenyap begitu saja.

“Sekarang, apa sihirnya…?”

Noot Crane ditelanjangi.

Sierra yang berada di posisi jauh, tidak tahu apa yang Masamune lakukan. Hal yang sama berlaku untuk Toa.

Masamune meraih tanduk kiri Noot Crane dan mematahkannya. Noot Crane mulai mengamuk, dan Masamune juga mematahkan tanduk kanan monster itu.

“Baiklah, sudah cukup…”

Sekali lagi, God Speed digunakan untuk menjaga jarak di antara mereka.

“Seharusnya ada sihir di tanduk ini.”

“Tidak mungkin…,” kata Sierra.

Tapi Masamune punya hal lain untuk dicoba. Ini didasarkan pada kasus di desa Tanya. Saat itulah sebuah pisau ditusukkan

ke leher Oliver Joe.

Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: E~to, onii-sama, jangan di-copy ya !!

Options

not work with dark mode
Reset