Nito no Taidana Isekai Shoukougun: Sai Jakushoku “Healer” nano ni Saikyou wa desu ka? Chapter 23 (2)

Chapter 23.2 - Komplotan

Komplotan (2)

Ini merupakan pesta makan malam.

merry christmas

“Senang bertemu denganmu, aku Maria, mama Sierra.”

Dan yang sedang duduk di ujung meja adalah Tuan Brown, ayah Sierra.

“Oh, aku tak menduga bisa bertemu denganmu secepat ini. Sierra menceritakan padaku tentang Masamune semalam. Dan kupikir aku ingin bertemu denganmu sesekali.”

Rupanya sang ayah telah mengenaliku. Sepertinya Sierra telah bicara banyak dengannya semalam.

Lalu pintu ruangan terbuka, dan seorang gadis lain muncul dari sana.

“Oh, Hilda-chan. Selamat datang kembali. Bagaimana hari ini, baik-baik saja, kan?”

“Aku pulang…,” dia melihatku. “Selamat datang.”

“Maaf mengganggu.”

Itu kakak perempuan Sierra. Jadi dia punya saudara perempuan, ya. Aku juga punya saudara perempuan.

“Hilda-chan. Ini Masamune-kun dan Toa-chan.”

”Senang bertemu kalian. Namaku Hilda, kakak Sierra.”

Hilda kemudian ikut duduk dan mulai membicarakan tentang kasus di Desa Tanya. Ternyata cerita tentang insiden di desa itu sudah tidak bisa disembunyikan lagi.

“Terima kasih telah membantu Sierra.”

Hilda memiliki rambut perak yang sama dengan Sierra. Sepertinya itu faktor keturunan, karena Maria juga memiliki rambut berwarna perak.

“Tapi, sepertinya Masamune juga telah membantu Sierra hari ini.”

Oh, itu pasti soal Kerane.

Eh? Bagaimana dia bisa tahu soal itu?

“Masamune, kakakku adalah seorang Ksatria Putih, sama denganku, ” kata Sierra. Sepertinya informasi tentangku telah bocor di keluarga ini.

“Dengan kata lain kami kakak beradik yang melayani negara, dan yang merupakan ksatria putih tertinggi. Cuma itu saja.”

Hilda sungguh rendah hati. Tampaknya mereka berdua telah diajari permainan pedang saat mereka masih kecil, dan terus bergelut dengan pedang sejak saat itu. Hilda menjadi seorang Ksatria Kerajaan yang kemampuannya diakui, dan pada saat Hilda terpilih sebagai Ksatria Putih Kerajaan, Sierra juga menjadi Ksatria Kerajaan. Dan dua tahun lalu, tampaknya Sierra juga terpilih sebagai Ksatria Putih Kerajaan.

“Jadi begitu. Kalian berdua jenius.”

“Tidak, kami jauh dari kata jenius. Justru Reinhard lah yang jenius,” kata Hilda. “Karena dia benar-benar jenius, dia terpilih sebagai Ksatria Putih saat usianya masih 12 tahun.”

“Ceritanya berbeda jika dibandingkan dengan Masamune-,” Sierra menambahkan.

Hilda menatapku dengan mata membulat. Apa dia tahu tentang satu kawah yang tercipta di Kota Tua itu? Tidak, tidak ada alasan bagi seorang Ksatria Putih untuk mengetahuinya.

“Kakak, tolong jangan lihat Masamune seperti itu,” ujar Sierra. “Hati-hati ya, Masamune. Kalau kakakku menyukai seorang pria, dia akan seperti ular yang tidak akan pernah melewatkan mangsanya.”

Aku juga biasa mengatakan itu pada saudara perempuanku sendiri. Sepertinya hubungan mereka sangat baik.

“Bercanda, kok. Bercanda. Aku cuma memainkan peran sebagai kakak yang ideal. Jadi, tidak ada salahnya kalau kau beri aku sedikit penilaian.”

“Tidak baik untuk Masamune. Dia ini tamu. Tidak ada gunanya memainkan lelucon seperti itu.”

“Oh, tamu ya. Bukannya dia pacarmu, Sierra?”

“Dia bukan pacarku atau semacamnya, kok.”

“Sudah kuduga. Nah, mari kita tanyakan langsung padanya. Masamune-kun, apa pendapatmu tentang Sierra?”

Entah kenapa Hilda menatapku sambil menyeringai. Di sisi lain, Sierra memalingkan wajahnya yang memerah. Diam-diam Hilda tertawa sambil memperhatikan situasi di depannya.

“Kakak, kau ini ngomong apa, sih?”

“Tidak ada salahnya, kan? Kita bisa tanyakan langsung padanya soal ini.”

“Kenapa juga kita harus tanyakan itu.”

“Berisik, weeh!” Toa tiba-tiba berteriak.

Toa memegang segelas anggur di tangan kirinya, dan satu botol kosong di depannya.

“Toa, kau benar-benar meminum semua ini?”

Maria membungkuk, “Maafkan aku.”

“Jangan khawatir. Sudah lama sejak aku melihat Sierra terlihat sangat bahagia, jadi ini juga menyenangkan bagi kami.”

“Masih ada banyak anggur, jadi minumlah sesukamu.”

Tuan Brown membawakan kami sebotol anggur lagi. Sungguh dermawan sekali!

“Kali ini … aku akan memberi tahu Sierra … kalau Masamune itu … adalah … milikku…”

“Toa, itu berbahaya, duduklah.”

Dan Toa menatapku.

“Oke.” Toa langsung menurut dan duduk kembali di kursinya.

“…Toa?”

Saat dia duduk, kepalanya bersandar di bahuku. Rupanya dia tertidur.

“Sepertinya Sierra punya saingan.”

“Kakak, jangan katakan hal bodoh seperti itu.”

“Aku mau tidur. Kalau begitu, selamat malam.”

Hilda meninggalkan ruang makan. Sepertinya dia hanya ingin menggoda Sierra.

“Maafkan aku.”

“Tidak, jangan khawatir… Hilda orang yang menyenangkan, kok.”

“Jangan tertipu. Itu strategi kakakku.”

“Akan aku ingat, tapi aku harus membaringkan Toa di tempat tidur. Di mana aku harus membawanya?”

“Oh maaf, akan kutunjukkan kamarnya.”

***

Aku membaringkan Toa ke tempat tidur.

“Ngomong-ngomong, saat pertama kali bertemu Toa, kenapa Toa cuma terbuka pada Masamune saja?”

“Aku belum menanyakannya. Lain kali akan kutanyakan padanya.”

“Nanti beri tahu aku, ya.”

“Iya.”

Aku menyelimuti Toa dan keluar dari kamarnya. Setelah itu, Sierra mengantarku ke kamarku.

“Masamune, uhm… apa kau punya waktu luang besok?”

“Yah, kurasa aku akan pergi untuk mendapatkan permintaan besok. Ada apa?”

“Ah, tidak. Kupikir aku bisa mengajarimu pedang besok.”

Oh, iya. Ngomong-ngomong, dia memang membuat janji seperti itu di kereta.

“Baiklah. Kalau begitu sampai jumpa besok, ya.”

“Iya,” jawabnya senang. “Selamat malam.”

Setelah mengucapkan selamat malam, Sierra berjalan ke kamarnya dengan ekspresi wajahnya yang begitu bahagia.

“Sierra juga bisa punya ekspresi seperti itu, ya.”

“Tidak terduga, kan?”

Tiba-tiba Hilda muncul.

“Eh, kenapa ada di sini?”

“Aku cuma sekedar lewat. Apa benar kau berhasil mengalahkan Raid?”

“…yah, begitulah.”

“Kalau Toa-chan?”

“…” Apa yang ingin dia katakan?

“Aku sudah dengar sebagian besar ceritanya, tapi aku belum pernah dengar tentang hubunganmu dengan Toa. Tapi aku tahu kalau Toa menyukaimu, dan kau juga menyukai Toa.”

“Soal itu…”

“Bisa aku tambahkan Sierra juga? Di dalamnya? Di dalam hatimu.”

“Eh?”

“Ini pertama kalinya dia tertarik pada seorang pria. Dulu dia cuma punya pedang. Kau kenalan pria pertama yang dia bawa ke rumah.”

Masa kecil macam apa yang Sierra miliki dulu?

“Jadi, kalau kau meninggalkan negara ini, aku ingin kau ajak Sierra bersamamu. Sierra cuma tahu pedang. Dan menjadi seorang Ksatria Kerajaan telah melekat di hatinya. Dengan begitu, kau akan tahu lebih banyak tentang pedang.”

“Aku sih tidak keberatan… Lalu, apa kata Sierra?”

“Kau tidak harus menjawabnya sekarang. Nanti saja. Sekarang kau nikmati saja dulu hidupmu di negara ini.”

Usai mengatakan itu, Hilda pergi ke suatu tempat.

Apa yang Hilda pikirkan?

Ah, aku lelah sekali hari ini.

Aku naik ke tempat tidur dan mengingat kembali pada hari itu.

Lalu aku pun tertidur.

.

Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: E~to, onii-sama, jangan di-copy ya !!

Options

not work with dark mode
Reset