Nito no Taidana Isekai Shoukougun Novel Bahasa Indonesia Chapter 31.2-114

[Dungeon]: Tongkat Berbicara dan Petualang

Nito no Taidana Isekai Shoukogun

TL: lightnovelku.my.id

♥ ♥ ♥

Beberapa saat kemudian, Nem kembali dari kamar mandi. Telinga dan rambut kucing putihnya basah.

Lalu, Toa mengusap kepala Nem dengan handuk dan berkata, “Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan, kan.”

dukung klik iklan

“Nito-sama? Apa dungeon-nya sudah berakhir?” tanya Sufilia dengan segelas wine di tangannya.

“Yah, benar. Sepertinya tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.”

“Benarkah…?”

Kemudian, Sufilia meneguk anggurnya.

“Kenapa, Master? Anda mau pergi?”

Lalu, Bel berubah dalam keadaan tongkat.

“Iya, kapan-kapan boleh aku datang lagi?”

“Yah, boleh dong. Dungeon ini sudah menjadi milik master. Anda bisa keluar-masuk kapan saja.”

Dungeon yang cukup berguna. Dengan kata lain, aku juga bisa menggunakan dungeon ini sebagai basis.

Kalau dipikir-pikir, dungeon yang pertama kali aku kunjungi dulu, itu dungeon siapa?

Yah, menurut cerita Khalifa, tak salah lagi itu pasti dungeon milik salah satu dari lima orang itu.

“Ini tongkat sihir yang lucu!” seru Nem saat melihat tongkat hitam itu.

“Aku? ……Lucu?”

“Iya!”

Apanya yang lucu? Apa karena dia tongkat yang bisa berbicara? Tidak, dia sama sekali nggak ada lucu-lucunya, ya kan?

“Ngomong-ngomong, boleh aku memberitahumu sesuatu, Bel?”

“Hm?”

“Kurasa aku tidak akan membawamu.”

Kemudian, patung di ujung tongkat itu tampak seperti syok.

“K-kenapa?!”

“Kau tahu? Aku akan mendapat banyak perhatian karena aku telah menguasai dungeon. Terlebih lagi, kalau aku mengeluarkan “tongkat yang bisa bicara” yang seharusnya cuma ada di dunia dongeng, berapa banyak perhatian yang akan aku dapatkan nantinya? Kalau itu sampai terjadi… selain ketenaran, itu juga bisa menarik hal-hal lain yang lebih ekstra dan berbahaya.”

“Hmm … pastinya.”

Kemudian, saat Bel merasa yakin, dia kembali ke wujud iblis aslinya.

“Ihh! Pria kotor lagi.”

Ekspresi Nem berubah total.

“Hei, gadis kucing? Aku tak sekotor manusia—”

“—Yah, kalian semua sama saja,” kataku dengan menyisipkan tsukkomi.

“Kalian semua? Maksudmu aku juga kotor?”

“Hm? …Yah, benar…”

Entah kenapa Bel menyeringai.

“Bisa nggak berhenti menyeringai begitu seolah kau tahu sesuatu? Apa kau mau mengatakan sesuatu yang tanpa arti lagi?”

Lalu Bel membuka birnya dengan sikap tegas dan membasahi tenggorokannya.

“Baiklah, kita pergi sekarang?” Sufilia berdiri untuk menanggapiku.

“Jadi? Bagaimana caranya kita bisa kembali? Aku bahkan tidak tahu di mana pintu masuknya,” tanya Toa, yang telah selesai menyeka kepala Nem.

“Oh, jangan khawatir. Aku akan membimbing kalian keluar.”

“Oh, baiklah.”

Toa percaya.

“Pada akhirnya, apa itu dungeon? Sepertinya itu sangat berbeda dari yang aku tahu.”

Sufilia pun bertanya-tanya.

“Yah, anggap saja ini rumah Master,” jawab Bel dengan tegas.

“Yah, meringkas cerita yang kudengar mungkin memang begitu.”

“Master? Aku ingin menunjukkan sesuatu sebelum anda pulang, boleh kan?”

“Hm? Yah, aku juga nggak lagi terburu-buru, jadi boleh saja.”

Kemudian, segera setelah aku menyetujuinya, pemandangan di sekitarku berubah total.

Mereka bertiga memperhatikan tempat dimana mereka berada. Dan Bel sudah berubah menjadi tongkat lagi.

Dan, apa yang Nem perhatikan?

“Di mana ini?” tanya Toa.

“Ini atap sekolah…”

Benar.

Di sinilah pertama kalinya aku “mati”.

Lalu Bel menjawab, membaca hatiku. “Ya … di sinilah Master meninggal. Tapi apa anda tahu kenapa status Master adalah ‘Reinkarnasi’?” tanya Bel.

“Itu…”

Kalau ditanya kenapa, aku juga tidak tahu. Reinkarnasi ya reinkarnasi. Namun anehnya tubuhku tetap sama dan tak terlahir kembali dari awal. Aku dipanggil saat aku jatuh, dan bahkan aku sendiri pun bertanya-tanya, apakah aku sudah mati atau belum.

“Itu karena statusnya yang menentukan begitu.”

“Statusnya yang menentukan?”

“Benar. Status, pada dasarnya adalah data yang di dalamnya berisi nilai numerik atau angka yang tak terhitung jumlahnya. Dengan kata lain, itu semacam sistem.”

“Sistem? Apa maksudmu?”

Aku tak bisa mencerna cara bicara Bel yang berputar-putar.

“Intinya, dari data-data setelah pemanggilan, aku salah menafsirkan Master sebagai reinkarnan. Karena pada kenyataannya, Master tidak mati.”

“Hei, memangnya Nito sudah mati? Dia masih hidup, kan?” tanya Toa bingung.

Sejujurnya, aku benar-benar tidak ingin membicarakannya…

Yah, kurasa mereka bertiga menyadarinya. Tapi tidak tahu kalau Nem.

“Aku melompat dari sini—”

Lalu, Sufilia tersenyum seolah dia mengerti.

“Kau melompat ke bawah sana…?”

Rupanya Toa tak menyadarinya. Benar juga. Tidak semua orang tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Aku bunuh diri. Aku mengalami kesulitan untuk bertahan hidup dan kabur. Segera setelah itu, aku dipanggil ke dunia ini. Dalam pemanggilan pahlawan.”

“Master menyadari kalau dia sudah mati waktu itu, jadi datanya berfluktuasi, tapi tubuhnya masih tetap utuh, karena dia tidak mati.”

“Maksudmu, aku dijadikan reinkarnan dengan tubuh yang sama?”

“Begitulah.”

Begitu rupanya … Aku memang tak terlalu mempedulikannya, tapi apa benar begitu? Apa yang ingin Bel katakan padaku tentang itu?

“Yah, anda mungkin tak memahaminya sekarang, tapi ada baiknya kalau anda mengetahui hal ini. Mungkin ini sesuatu yang berguna.”

“‘hal ini”…? Apa sih maksudmu…?”

“Intinya, masalah mental adalah hal yang tidak bisa dihindari.”

“Masalah mental?”

“Yah. Tentunya ada sihir yang menarik bagi roh, tapi itu hal yang semu. Awalnya, aku menggenggamnya, tapi aku tidak bisa menahannya karena sihir juga memiliki batasan. Apa anda mengerti apa yang kukatakan sejauh ini?

“…Begitu, ya. Hanya roh yang tidak berubah meskipun aku menaikkan level…”

“Lihat, kan? Status mewakili keadaan orang tersebut sehingga ia bereaksi terhadap fluktuasi angka. Tapi, misalkan begini, jika ada seseorang yang menyukai hal-hal yang biasanya tidak dia sukai, apa Master akan menganggap kalau dia memiliki penyakit (kelainan)?”

“Yah, tergantung dari apa dulu. Apa mungkin… watak kepribadian? Bukannya itu berbeda dengan penyakit?”

“Itu dia, tapi menurutku statusnya tidak begitu. Jika jumlahnya berfluktuasi dan melebihi level tertentu, statusnya akan ditampilkan. Dengan kata lain, status itu akan dikenali sebagai abnormal.”

Akupun berpikir. Kenapa Bel datang ke sini dan memberitahuku tentang hal itu?

“Nah, tidak usah dipikirkan kalau anda memang tidak tahu. Ketika saatnya tiba, anda harus bergaul dengan baik dengan sistem. Lagipula Master kan salah satu kandidat yang aku kenal. Benar, kan? Hahahaha!”

Setelah bicara sendiri, Bel membuka mulutnya lebar-lebar dan tertawa seolah dia yakin akan sesuatu.

“Nah, aku akan membawamu kembali ke depan dungeon. Kalian siap?”

Lalu Bel bertanya pada kami, dan kami berempat berkumpul di satu titik tempat.

“Baiklah Master, kalau terjadi sesuatu lagi, panggil saja aku seperti biasanya.”

“Baiklah.”

“Kalian juga, jagalah Master.”

“Iya, serahkan padaku.”

“Akan Nem lindungi!”

Sufilia hanya tersenyum.

“Yang terakhir… jangan ragukan abyss lagi, oke?”

Pada akhirnya, Bel menasihatiku lagi.

“…Yah. Aku tidak akan ragu lagi.”

Kemudian Bel menyeringai dan tersenyum.

Saat itu, pandangan mataku memutih.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset