Nito no Taidana Isekai Shoukougun Novel Bahasa Indonesia Chapter 123

Pangeran Harem

Nito no Taidana Isekai Shoukougun

TL: lightnovelku.my.id

⋇⋆✦⋆⋇

Gadis itu membuka matanya dan memanggil Sarah seorang putri.

“Ngg, bukannya Sarah itu roh terhebat?”

dukung klik iklan

Biasanya, yang terhebat itu adalah raja atau ratu.

“Hum yaa, aku seorang putri.”

“Kok jadi putri?”

“Soalnya ratu pendahulunya masih hidup. Beliau tak menanggapi pemanggilan, jadi beliau cuma menghabiskan sisa hidupnya di dunia roh.”

“Hee~…”

Aku pernah mendengarnya, tapi itu tak jadi masalah.

“Eh, tunggu, tunggu! Jangan abaikan aku, dong! Kenapa sang putri ada di tempat seperti ini?”

Dibandingkan dengan Sarah, dia ini roh yang berisik. Yah, syukurlah dia bukan roh yang aku kontrak.

“Patrick, ulurkan jarimu,” kata Sarah, dan mengabaikan roh yang baru saja muncul.

Seperti yang diperintahkan, Patrick kemudian menyayat jari telunjuk tangan kanannya dengan pisau dan mengacungkannya ke depan.

“Pertama-tama, aku—”

Kemudian Sarah menjilati jari Patrick dengan lembut.

Aku pernah melihat ini sebelumnya. Ini adalah ritual kontrak roh. Yah… Sarah memaksaku untuk melakukannya waktu itu …

Setelah itu, tubuh Sarah terbungkus api yang bertebaran di langit.

“Sudah cukup.”

“U-uhm.”

Aku tak yakin, tapi sepertinya kontraknya sudah selesai. Sarah melepaskan tanganku. Eh? Apa maksudnya? Sarah menjilati darah Patrick. Jadi… apa maksudnya?

“Sekarang giliranmu, Yui.”

Kemudian Sarah menatap roh bernama Yui.

“Eh? … Aku katamu?” kata Yui sambil menatap Sarah dengan mata seperti anak nakal.

“Yui, kau telah dipanggil oleh Patrick. Dan Patrick ingin membuat kontrak roh denganmu.”

“Iya, iya.”

“Patrick, dia Yui. Aku yakin kau bisa bekerja sama dengannya.”

“…Aku mengerti. Kalau Sarah yang bilang begitu, aku akan melakukannya.”

Apa yang terjadi selama aku di dungeon? Kenapa mereka bisa saling mempercayai sampai sejauh ini?

“Ayo, Yui. Jilat darah Patrick. Aku juga menjilatinya barusan, kau bisa melakukannya, kan?”

“Baiklah! Jika sang putri sudah bilang begitu, aku juga akan menjilatnya! —Chup!”

Lalu, tanpa ragu Yui menggigit jari Patrick.

“Aduh!”

Patrick meringis perih. Rupanya gigi Yui mengenai jarinya.

“Hei, Yui, kau seharusnya tak menekannya dengan gigimu, kan? Jilat lebih lembut.”

…Apa yang kulihat sekarang?

Kalau bisa aku ingin mereka melakukan interaksi semacam itu setelah mematikan lampu di kamar.

Melihat toa di samping, sepertinya dia tak memikirkan apa pun, tapi Sufilia tampak tertawa kecil. Baginya yang mantan seorang putri, Patrick pria yang tidak murni. Tapi dalam kasus Sufilia, ini murni.

Lalu, api melilit tubuh Yui, dan pada saat itu apinya menyebar di langit.

“Selesai.”

Sarah tersenyum pada Patrick dan mendesah lega.

“Ah, terima kasih atas bantuanmu.”

“Ngg, aku nggak benar-benar ngerti, tapi bisa tolong jelaskan padaku apa maksudnya ini?” tanyaku meminta jawaban.

Bagaimana tidak bingung, saat dia memintaku mengulurkan tangan, hal berikutnya yang dia katakan adalah, “Selesai!”. Dan saat aku perhatikan, seorang gadis berisik muncul dan kontraknya telah berakhir.

一Apa-apaan itu?

“Singkatnya, Yui menandatangani kontrak baru dengan Patrick dan aku juga kembali menandatangani kontrak dengan Patrick.”

“…Apa? Itu berarti Patrick memiliki kontrak dengan dua roh sekarang?!”

“Ya begitulah.”

Apa-apaan itu. Ini sih cheat namanya.

“Sepertinya ini akan memungkinkanku untuk menggunakan sihir roh yang stabil,” kata Patrick dengan tenang.

Benar sekali. Dia membangun harem dengan dua roh cantik! Harem yang mantap!

Apa pria ini benar-benar ingat dengan pertandingan antar sekolah?

Kurasa… bukan karena itu yang membuatnya tiba-tiba jadi berteman dengan Sarah.

“Kau jadi jauh lebih tenang, ya?”

Tiba-tiba Sarah menatapku dan berkata begitu.

“Tenang?”

Aku teringat bahwa Bel telah mengeluarkan “zat” ku. “Memang banyak yang berubah ya dariku?”

“Ya. Kau seperti orang yang berbeda. Tapi … itu jelas sekali, kau sedikit takut waktu itu. Jangan tertelan oleh abyss lagi, oke?”

“Abyss? Maksudnya fool of the abyss?!” Yui menyela pembicaraan kami.

“Seperti katamu, itu benar.”

“Wah! Begitu ya..”

Yui menunjukkan reaksi yang tidak jelas.

“Kalau begitu Sarah masih roh Patrick, kan?” tanya Toa.

“Iya, aku memutuskan untuk tinggal bersamanya karena aku ingin lebih menikmati dunia ini.”

Di sebelah, Yui dan Nem berjabat tangan. Sungguh, Nem bisa cepat berteman dengan siapa saja.

“Kalau begitu, gimana kalau latihan sihir roh? Aku juga akan berlatih denganmu.”

“Tidak usah, karena mulai sekarang aku dan Yui yang akan melatihnya,” sahut Sarah.

Entah kenapa aku ditolak. Patrick juga tak mengatakan apa-apa. Apa itu berarti dia tak ingin aku menghalangi jalan haremnya? Sesukamu sajalah…..

“…Ya sudah. Aku mengerti.”

Kasihan sekali aku yang tiba-tiba ditolak begini. Yah, kalau aku tidak dibutuhkan, aku lakukan hal lain saja sendiri.

“Kalian bertiga, apa yang ingin kalian lakukan?”

“Nem mau berlatih sihir!”

“Aku juga akan latihan lagi dengan Nem, karena aku ingin ikut dalam pertandingan antar sekolah.”

“Benarkah?”

“Iya! Nem juga akan berpartisipasi dalam pertandingan!”

“Bagaimana dengan Sufilia? Kau mau berpartisipasi?”

“Tidak, aku menonton pertandingannya saja, karena itu bukan hobiku.”

Benar. Hobinya adalah membunuh yang lemah secara sepihak.

“Kalau begitu aku akan menyelesaikan urusanku, tidak apa-apa kan kutinggal?”

Jangan lupa kunjungi dan baca lagi hanya di lightnovelku.my.id

“Iya, aku tidak apa-apa.”

Kalau begitu, aku akan pergi.

—Lalu aku ingat satu hal yang lupa aku katakan.

“Ngomong-ngomong, Sufilia belum mendaftar, kan? Aku akan mengurusnya, tapi namamu Sufilia saja tak masalah, kan?”

“Iya, tak masalah. Kalau bisa aku ingin memakai nama keluarga Nito-sama…”

“Aku nggak punya nama keluarga. Sampai jumpa.”

“Iya, mohon bantuannya.”

Aku pun meninggalkan tempat itu.

⋇⋆✦⋆⋇

Aku mengetuk pintu ruangan kepala sekolah, lalu aku mendengar suara dari dalam.

“Permisi.”

Begitu masuk, ada sosok Kepala Sekolah Sabrina di sana.

“Oh, kupikir siapa yang datang, ternyata sang pahlawan rupanya. Atau haruskah aku memanggilmu penakluk dungeon?”

“Tak masalah kalau itu memang hal yang normal. Aku datang ke sini untuk mengurus pendaftaran, tapi apa anda sedang sibuk sekarang?”

Sebenarnya aku pernah datang ke sini sekali sebelum berangkat ke dungeon. Tapi saat itu pendaftaran Sufilia ditunda karena kepala sekolah bilang tidak apa-apa untuk menyelesaikannya setelah kembali dari dungeon.

“Tidak, aku tidak sibuk. Pendaftaran Sufilia, kan?”

“Iya, benar.”

“Tapi namanya seperti tak asing, ya kan? Seperti nama seorang putri dari suatu negara.”

“Haha! Anda terlalu banyak memuji!”

Itu bukan firasatnya lagi, tapi reaksi seseorang yang memang mengetahuinya.

Lalu kepala sekolah mempersilakanku duduk.

“Jadi, bagaimana dungeon-nya?”

Sudah kuduga dia akan bertanya begitu. Tapi saat aku mencoba menjawab, kepala sekolah menyela kembali kata-kataku.

“Tidak apa-apa, jawab saja seperti kau menjawab Magical Communication.”

“Bayangkan saja dengan imajinasimu.”

“Yah, kau memang seperti itu. Tapi aku ingin kau memberitahuku tentang itu, apa dungeon itu adalah tempat seperti yang dikatakan oleh banyak orang?Atau…?”

Akan lebih baik kalau memang benar begitu. Aku tidak bisa memberitahunya, atau orang ini akan membicarakannya dengan orang lain lagi.

“Tidak, itu tempat yang berbeda.”

Kemudian, kepala sekolah yang cantik dan ramping itu mencondongkan tubuhnya ke depan dengan payudaranya yang seolah-olah mau meledak dan mendekatiku dari jarak dekat.

“Seberapa berbeda? Sangat berbeda? Atau hanya sedikit berbeda?”

Ekspresinya sangat tajam. Aku menjawab dengan serius tanpa senyum pahit, karena mata kepala sekolah memang seperti itu.

“Semuanya berbeda. Semua yang dikatakan orang-orang di dunia ini tentang dungeon itu melenceng.”

Lalu mata kepala sekolah berbinar. “Begitu ya. Berarti ada yang ‘cocok’, kan?”

Ternyata artikel liputanku sudah diterbitkan.

Yah… itu salah satu perbedaan besarnya. Dungeon bukanlah sesuatu yang harus ditaklukkan. Itu adalah tempat di mana seseorang yang tepat untuk kembali.

“Ya, karena hanya aku yang diterima oleh dungeon itu.”

“Dungeon itu … apa maksudnya? Itu ungkapan yang menarik. Seolah-olah dungeon memiliki kecocokannya sendiri…”

Sepertinya aku tak mengatakan sesuatu tentang dungeon dalam artian tertentu, tapi dia terus memberondongku dengan pertanyaan. Mungkin wanita ini bisa melihat substansi dungeon sampai batas tertentu. Jika tidak, maka tidak ada pertanyaan yang akan dia lontarkan. Kurasa dia merasa tertarik dengan kata-kata sepele seperti “dungeon itu”.

“Itu tak memiliki arti khusus, kok……”

Lalu kepala sekolah mundur dan duduk perlahan dengan tenang.

“Baiklah … kau tidak bisa memberitahuku lagi, kan?”

“Maaf.”

“Tidak, itu sudah cukup.” Kemudian kepala sekolah mengeluarkan sebuah buku. “Apa kau tahu kenapa aku ingin tahu banyak tentang dungeon?”

Aku sama sekali tidak tahu. Terlebih lagi, aku tidak pernah berbicara dengan kepala sekolah.

“Aku tidak tahu. Apa itu berbeda dengan rasa ingin tahu?”

“Aku penasaran, tapi ada sesuatu yang lebih penting dari itu.”

“Lebih penting?”

“Ya, karena aku adalah kepala sekolah Heil Kuwait.”

“……Oh.”

Aku tidak tahu sama sekali. Kemudian, aku memperhatikan buku di tangan kepala sekolah. Itu adalah buku dengan sampul yang tampak dicat hitam dengan krayon.

“Buku ini berisi tentang kebenaran berdirinya Heil Kuwait.”

“Ngg, aku ingin mengurus prosedur pendaftarannya dulu…?”

“Kau sudah menyelesaikan prosedurnya, dan sebaliknya, kau berkewajiban untuk mendengarkanku.”

“Kewajiban? …Apa maksudnya?”

Apa yang kukatakan sebelumnya seperti hanya angin lewat. Kepala sekolah membuka buku itu. Aku bisa melihat huruf-huruf yang tercetak dan tertulis di atasnya.

Tapi buku itu terlalu jauh untuk kulihat. Saat aku mencondongkan tubuhku ke depan dan berpikir bahwa aku akan segera bisa melihatnya, kepala sekolah menutup buku itu dan dia menatapku.

“Eh…?”

“Sekolah ini dibangun untuk menindak sesuatu dan mengendalikannya. Dengan kata lain, pengawasan.”

“Itu cerita yang penuh gejolak.”

“Nama pendirinya adalah Marcellus Heilkuwait—salah satu murid Adams.”

Kepala sekolah tiba-tiba memperkenalkan nama seseorang, namun aku merasa seperti telah memahami arti kata-kata Kalifa waktu itu. Sekolah ini didasarkan dengan Kitab Kejadian. Dengan kata lain, jika Adams memiliki tongkat yang bisa berbicara, dia berada di abyss.

Mungkin inilah “Keberuntungan” yang dikatakan oleh Kalifa.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset