Nito no Taidana Isekai Shoukougun Novel Bahasa Indonesia Chapter 120

17 Tahun yang Normal

Nito no Taidana Isekai Shoukougun

TL: lightnovelku.my.id

»»——⍟——««

Ketika Kawachi memasuki ruangan, dia berusaha menyapa Koizumi, namun Koizumi mengabaikannya. Dan melihat yang lain tersenyum canggung, Kawachi pun menghela napas.

“Apa kau datang untuk menertawakanku? Maaf, bisa kau pergi saja?”

dukung klik iklan

Koizumi menunjukkan penolakan atas kedatangan Kawachi.

“Mendengarmu bisa bicara begini berarti kau baik-baik saja, kan?” kata Kawachi pantang mundur.

“Kau dengar apa kataku? Sudah kubilang, pergi sana.”

“Aku ingin bicara denganmu.”

“Oh ya? Tak ada yang perlu dibicarakan. Saat aku bicara dengan kalian, apa kalian akan bilang kalau “Aku membunuh Hidaka”, atau aku yang memaksanya untuk bunuh diri? Sejujurnya, itu… menjengkelkan.”

Hari itu, Masamune berkata, “Aku dipanggil ke sini setelah bunuh diri.” Kenyataan itu sangat berdampak bagi siswa yang lain. Tapi tetap saja, Saeki mengumpat padanya. Jika diperhatikan, Aries pun memberikan pendapat negatif. Karena situasi yang seperti itu, beberapa siswa bersimpati padanya, namun mereka menyembunyikannya.

Tentu saja, beberapa dari mereka juga ada yang tidak memikirkannya. Namun, meskipun mereka memikirkannya sekali pun, Masamune sudah tidak ada lagi karena dia dikirim oleh sihir transfer.

Itu sebabnya mereka memutuskan untuk melupakannya. Dan Aries, dia memberikan sedikit tekanan pada para pahlawan yang lemah, sehingga mereka bisa menyibukkan diri mereka sendiri dan bisa sepenuhnya melupakannya.

Namun, semua itu berubah saat mereka menapaki sekolah Fishanatica yang damai, dan perasaan bersalah yang mereka miliki mulai muncul ke permukaan. Pada saat itu, mereka ingat dan mulai berpikir.

―Bahwa mereka meninggalkan Hidaka.

Salah satu di antaranya adalah Saijo Kotori, yang akhirnya sependapat dengan Ichijo. Namun, Hidaka sudah tidak ada lagi bersama mereka. Dan itu menjadikan fakta bahwa Hidaka telah meninggal jadi lebih kuat. Mereka mencoba menganggap bahwa Hidaka mungkin masih hidup. Tapi itu tidak mungkin.

Sedikit demi sedikit di lingkungan sekolah, mereka diajarkan tentang sihir, monster, dan tentang dunia ini. Sementara Masamune yang tanpa melakukan apa-apa dilemparkan ke suatu tempat dengan profesi Healer terlemah. Itu membuat mereka semakin yakin bahwa tidak mungkin Hidaka Masamune masih hidup.

Mereka merasa bersalah karena tak berpikir untuk mengulurkan tangan mereka untuk membantunya dan tidak mengatakan apa-apa saat itu. Dan beberapa dari mereka mulai tak tahan lagi dan beralih mengutuk Koizumi.

―Itu semua salahmu.

Tentu saja, Saeki dan Arieslah yang harus disalahkan. Dan juga negara itu. Mereka juga tahu itu. Tapi kelas sihir tingkat lanjut berada di gedung yang berbeda dengan mereka, dan mereka jarang memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Saeki. Jadi, karena Koizumi yang lebih dekat dengannya dan agar lebih mudah, mereka mengutuk Koizumi.

“Kami merasa… kami juga bersalah.”

“Ha? … Apa-apaan itu? Apa itu jebakan licikmu atau semacamnya? Pergi saja sana.”

“Semua orang sedang berkumpul… jadi, aku ingin kau datang, Koizumi.”

Koizumi tak mengerti apa yang dikatakan Kawachi, tapi entah bagaimana dia mengerti apa yang dimaksud Kawachi.

“…Apa kau bercanda? Kau mau aku terjebak dalam perangkapmu dan memberitahu mereka untuk mengutukku? Maaf saja! Aku lelah setelah pertandingan!” kata Koizumi dengan begitu emosional.

“Mereka semua… mereka bilang ingin minta maaf padamu, Koizumi.”

“…”

“Mereka bilang … mereka salah. Dan aku juga.”

“Kau tidak perlu meminta maaf, karena akulah yang membunuhnya.”

Koizumi dengan ironisnya mengatakan demikian.

Kawachi kemudian ingin mengatakan sesuatu, tapi dia menutup mulutnya kembali dan berjalan memunggungi Koizumi. Dan saat dia sampai di depan pintu, dia berhenti.

“Di ruang serbaguna B, kami semua menunggumu di sana…”

Kawachi meninggalkan tempat itu setelah mengatakannya.

Sekarang yang tersisa hanyalah suasana canggung yang menghinggapi mereka bertiga.

“Mereka benar-benar tenang, ya kan? Kalau kutukan dianggap tidak baik, maka mereka mencoba membuat segalanya jadi lebih mudah dengan cara meminta maaf. Intinya, mereka cuma ingin dimaafkan. Mereka tak merasa bersalah. Mereka tak benar-benar merenungkannya. Mereka hanya ingin kita berpikir kalau mereka masih polos dan tak bersalah,” kata Koizumi sambil berbaring.

“Tapi…,” kata Teppei. “Kurasa kita harus ke sana. Sekarang mungkin mereka memang egois, tapi mau gimana lagi. Kita masih murid SMA…”

“Sama saja saat kau tumbuh dewasa. Tidak, kupikir akan lebih buruk saat kau tumbuh dewasa, iya kan?” kata Koizumi.

Entah apa yang terjadi padanya, namun, tak dipungkiri bahwa dia adalah salah satu yang terperanjat melihat sisi kotor makhluk “dewasa” itu.

“Mungkin begitu, tapi… tapi ini adalah dunia yang berbeda dan hanya kita-kita ini saja yang kita kenal!Sekarang kesempatan, kan? Kita bisa saling bekerja sama. Tapi kalau kita melewatkan ini, kita harus menjalani hidup kita sendiri dengan menjadi “orang asing di dunia lain”. Kita akan sama-sama hidup sendiri dan tidak bisa kembali ke kampung halaman kita!”

“Teppei… Apa kau kau ingin mencari kekuatan dengan bergabung bersama mereka?”

“Bukan begitu! Tapi… Koizumi juga bilang, kan? Setelah lulus dari sini, kita harus hidup sendiri?”

“Hm… apa aku mengatakan itu?”

“Kau bilang bukannya akan lebih baik kalau kita bisa memiliki teman yang bisa berbagi kenangan tentang dunia yang sama? Aku yakin kita tidak akan bisa tahan dengan hidup sendiri, kan?”

“Masih ada kita bertiga…”

“Kita lemah. Tiga orang saja masih belum cukup untuk membuat kita bisa bertahan hidup.”

Koizumi juga tahu itu. Ini adalah dunia yang berbeda, dan bukan seperti Jepang, tidak ada rel tertentu di sini.

“Kebebasan” Raja Arthur berarti bahwa kita harus hidup dengan kekuatan kita sendiri. Itu sebabnya kita harus belajar keras di sekolah … begitulah katanya. Dan itulah inti dari ucapan yang ditujukan pada mereka, 2-3 pahlawan. Singkatnya, penduduk dunia ini belum menyadari bahwa mereka adalah anak-anak yang rata-rata berusia 17 tahun.

Berbicara tentang usia 17 tahun di dunia ini, mereka dibilang sudah dewasa. Beberapa orang bahkan bisa memegang pipa (rokok) dan boleh minum alkohol. Mereka bisa menikah tanpa memandang jenis kelamin karena sejak awal tidak ada hukum di benua itu sendiri. Itu sebabnya Arthur mengatakan tentang kebebasan itu. Dan bahkan jika orang itu bukan Arthur, keadannya akan tetap seperti itu.

“Apa kita bisa hidup? Apa kita bisa lulus dari sini dan kemudian bertahan hidup hanya dengan kita bertiga? Apa kita petualang? Apa kau berpikir untuk menjadi petualang?”

“Mungkin itu bagus juga…”

“Aku tidak bisa… aku tidak bisa melakukannya selamanya. Musuh bukan hanya monster, tapi juga manusia. Dan di dunia ini, ada beastmen, naga, dan elf, kan? Dan ada juga mereka, yang secara fisik lebih pendek, yang disebut dwarf. Apa kau pikir kita bisa mengalahkan sekelompok dari mereka begitu saja?”

“Kita punya sihir, kan?”

“Kita tidak mungkin bisa menang! Kita bertiga akan terbunuh suatu hari nanti! Koizumi mungkin berpikir bahwa tak masalah kita bisa hidup sampai batas tertentu, tapi tidak denganku. Aku ingin menjadi tua dan mati secara normal!”

Seharusnya dia tak perlu sekhawatir itu, karena mereka lebih memiliki keuntungan dan tumbuh jauh lebih cepat daripada yang lain. Jumlah sihir yang bisa mereka gunakan juga beragam sejak awal. Semakin banyak mereka belajar, maka mereka akan menjadi semakin kuat. Bahkan menjadi penyihir istana bukanlah mimpi.

Tapi dia khawatir. Kecemasannya lebih besar dari apapun. Setelah itu, Teppei terus memohon pada Koizumi.

Sampai Koizumi menyerah…

»»——⍟——««

Jangan lupa kunjungi dan baca lagi hanya di lightnovelku.my.id

Ini adalah ruang serbaguna.

Dan ada beberapa pahlawan di sana.

“Kurasa dia akan segera datang…”

―Kawachi Saori.

Seorang gadis yang sering sok peduli pada Masamune, seperti Ichijo.

“Tapi, itu Koizumi, lho? Apa dia benar-benar akan datang?”

―Mashima Kyouka.

Seorang yang berpaling dari Ichijo kepada Saeki, tapi setelah itu, dia juga meninggalkan Saeki.

“Kurasa dia tidak akan datang. Dia bukan tipe orang yang seperti itu.”

—Kihara Madoka.

Demikian pula, dia sering bersama Mashima sekarang.

“Kupikir… kita harus minta maaf dengan benar.”

―Kanoi Emi.

Dia juga merasa bersalah karena tak melakukan apa-apa waktu itu. Di sampingnya, ada juga seorang gadis yang tetap diam.

—Mitarai Chiharu.

Dalam kasusnya, rasanya seperti dia sependapat dengan Kanoi, tapi dia tetap diam.

Dan di sampingnya lagi, yang duduk dengan cara yang sama—Saijo Kotori. Teman masa kecil Masamune. Dia menyesal menolak undangan Ichijo hari itu.

“Yah, kita telah melakukan sesuatu yang pengecut. Kalau Koizumi tak datang juga, aku akan menemuinya sekarang.”

―Iida Shogo.

Mantan kapten klub sepak bola.

Meskipun dia adalah pria yang penuh semangat dengan kepemimpinannya, mentalnya melemah karena menghabiskan waktu di negeri asing dan merasa bersalah karena meninggalkan teman-teman sekelasnya, dan malah ikut-ikutan mengutuk Koizumi.

“Itu benar … hanya kita satu-satunya di sini. Kurasa kita semua harus bekerja sama.”

―Satou Gen.

Dia tergabung dalam klub sepak bola yang sama dengan Iida. Dan seperti Iida, dia menyalahkan Koizumi, Takeshi, dan Teppei.

Delapan siswa tersebut berkumpul di ruangan ini dan sedang menunggu Koizumi dan yang lainnya.

Kemudian, pintu ruangan perlahan terbuka. Semua orang tampak tegang. Takeshi-lah yang pertama kali muncul. Berikutnya Teppei. Dan yang terakhir Koizumi.

Koizumi berhasil dibujuk oleh Teppei dan memutuskan untuk bekerja sama. Koizumi seperti ini karena dia berpikir bahwa mereka berdua adalah teman baik. Itu sebabnya dia tidak bisa mengabaikannya.

“Terima kasih sudah datang…” kata Kawachi dengan tegas.

“…Ya,” jawab Koizumi.

Dan mereka bertiga duduk di kursi kosong. Kemudian Kawachi mulai berbicara.

“Aku benar-benar minta maaf. Aku telah melakukan sesuatu yang salah waktu itu.” Kawachi menundukkan kepalanya.

“Aku juga minta maaf. Maafkan aku…”

Kemudian, Iida yang pernah menyandang sebagai kapten klub sepak bola itu juga meminta maaf. Setelah itu, yang lain juga meminta maaf pada Koizumi, Takeshi, dan Teppei secara bergantian.

“Tidak apa-apa. Aku nggak peduli lagi.”

Koizumi mengatakannya dengan nada yang sama, tapi tak terlalu sinis. Koizumi memang sudah berbicara seperti ini sejak awal.

“Jadi? Kenapa kalian repot-repot berkumpul? Apa ada alasan lain?”

Lalu, Kawachi menjawab pertanyaan Koizumi. “Kami pikir kita harus bekerja sama.”

Anehnya, itu sama seperti yang dikatakan Teppei tadi.

“Siswa lain punya rumah dan kampung halaman. Tapi kita tidak. Kita harus hidup sendiri. Sekarang memang tak masalah karena sekolah ini sudah seperti rumah. Tapi kita tidak tahu kapan kita akan lulus. Kita tidak bisa tinggal di sini, dan Raja Greyberg tidak akan selalu membantu kita. Ke mana kita harus pergi jika kita sudah lulus nanti? …Itulah yang kupikirkan.”

Setiap orang sama-sama mencemaskan tentang masa depan mereka.

“Jadi? Apa tepatnya yang kau pikirkan?”

“Petualang.”

“…Oh.”

Koizumi tersenyum pahit. Dia pikir itu terlalu dangkal. Entah, dia hanya ingin mengatakan kalau pekerjaan itu adalah sesuatu yang menyangkut dengan hidup dan mati mereka, dan mereka tidak tahu kapan mereka akan mati.

“Aku sudah memeriksanya, tapi sepertinya tidak ada batasan dalam jumlah party petualang. Jadi, kami mengumpulkan orang sebanyak mungkin, membuat satu party besar, dan menerima quest seaman mungkin. Maka dengan begitu, tidak akan ada yang mati. Dan kupikir kita bisa melakukannya untuk waktu yang lama…..”

Kawachi berbicara sambil melihat ekspresi Koizumi. Dan dia berhenti berbicara di tengah ucapannya karena Koizumi mengalihkan tatapan kecewanya.

“…Apa itu kesimpulan yang dipikirkan semua orang di sini?” tanya Koizumi, seolah dia kagum.

“Tidak untuk sekarang, pelajari saja apa yang bisa kita pelajari di sini. Mungkin kita bisa menemukan jalan lain, tapi untuk saat ini, ingatlah bahwa kita akan bekerja sama.”

“…Begitu. Aku mengerti maksudmu.”

Bagi Koizumi, itu adalah ide yang ceroboh. Tapi untuk saat ini, dia memutuskan untuk menghormati pemikiran mereka.

“Setelah ini, aku akan coba bicara dengan Saeki dan Kida…”

“—Jangan bilang apa-apa pada mereka,” sahut Koizumi memotong ucapan Kawachi.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset