Nito no Taidana Isekai Shoukougun Novel Bahasa Indonesia Chapter 119

Sisi Seorang Saeki

Nito no Taidana Isekai Shoukougun

TL: lightnovelku.my.id

▽▽▽

Koizumi mengarahkan tangannya pada Saeki.

“[Dark Ball]! ”

dukung klik iklan

Sebuah bola ungu dilepaskan dari telapak tangan Koizumi.

“Keh!”

Tapi Saeki secara refleks menghindarinya, lagi-lagi ini juga berkat Joanna. Sebelumnya Saeki tak memiliki skill untuk melihat mantra lawan. Dan bukan hanya itu saja yang dipelajari Saeki.

Dalam pertarungan Mage, penting untuk bisa bertarung tanpa menghabiskan mana saat berhadapan dengan orang yang levelnya sama. Itu bisa berarti perbedaan antara kemenangan dan kekalahan. Dan kata Joanna, itulah hal yang paling penting.

“[Fire]!”

Saeki menembakkan tiga api sekaligus.

Itu sihir yang awalnya hanya terbatas pada satu api, tapi berkat Joanna, Saeki mampu melakukannya.

Tapi Koizumi juga tak bisa dikalahkan begitu saja. Dia menghindari tiga tembakan api itu.

“Sungguh seorang Sage! Luar biasa! Kau bisa mengeluarkan tiga api sekaligus!”

Saeki tak membalas kata-katanya.

“Kau mengabaikanku?!”

Koizumi marah besar, tapi itu hanyalah sebuah gertakan. Sebenarnya Koizumi sangat tenang.

“Kami para Mage pemula tak memiliki semacam kartu as. Kenapa kau tak berhenti menghemat dan cepat gunakan saja sihirmu itu?”

Saeki mencabut pedangnya, dan Koizumi pun menanggapi ucapan “menghemat” Saeki.

“Hmm… Kalau begitu biar aku tunjukkan.”

Lalu Koizumi mengeluarkan kacang kecil dari sakunya dengan satu tangan penuh, kemudian melemparkannya ke lapangan.

Kacang pun tersebar di seluruh area.

“Saeki? Akan kutunjukkan padamu caraku bertarung.”

Kemudian Koizumi menyentuh tanah.

“Growth Promotion [Bakuzo Worm]!”

Kemudian, kacang yang tersebar di lapangan membesar dan isinya mencuat keluar.

“Masih belum. [Dark Grass (Gathering)]!”

Dan saat itulah Koizumi selesai mengucapkan mantra untuk kedua kalinya. Dari kacang yang tersebar, tanaman merambat mulai tumbuh dengan momentum yang luar biasa.

Koizumi berdiri dan tersenyum seolah dia bangga pada dirinya sendiri.

Tanaman merambat tumbuh satu demi satu, yang akhirnya memenuhi lapangan. Dan begitu diperhatikan, sesuatu seperti gym hutan yang terbuat dari tanaman hijau merambat pun terbentuk.

Kedua pria itu saling menatap melalui celah pada tanaman hijau yang tak terhitung jumlahnya.

“Bagaimana, Saeki? Inilah sihir dari Mage tingkat lanjut.”

Mage tingkat lanjut. Itu adalah profesi yang mengkhususkan diri terutama dalam sihir atribut kegelapan, jadi Koizumi juga pasti menggunakan atribut kegelapan.

“Ayo, serang!” Koizumi berteriak lantang.

Kemudian, tanaman itu tumbuh menjulur dari sisi tanaman yang lain dan mendekati Saeki. Saeki menyiapkan pedangnya dan satu per satu menebas tanaman merambat yang menyerangnya.

“Sihir ini membutuhkan katalis. Aku bisa membuatnya sambil makan kacang!”

(TL/note: katalis – zat yg bisa mempercepat atau memperlambat reaksi yg pd akhirnya dilepaskan kembali dlm bentuk semula).

Koizumi dengan bangganya membual. Ada maksud dalam ekspresinya, tapi Saeki tak bisa mengartikannya.

“Kalau kau frustrasi, coba saja ke sini? Aku akan bermain-main dengannu dengan cara yang berbeda.”

Saeki memotong tanaman merambat itu dengan teknik pedang yang dia pelajari dari Joanna. Tidak ada waktu untuk bersantai. Dia memikirkan untuk mencari waktu yang tepat dan menjaga jarak, lalu meneriakkan sihirnya.

“[Flame Shield]!”

Lingkaran sihir muncul di kaki Saeki dan sebuah perisai api muncul di depannya.

“Kenapa, Saeki? Cuma sihir sebesar itu saja kau sampai butuh lingkaran sihir? Apa kau ini benar-benar seorang Sage?” Koizumi mengejeknya.

Pada dasarnya, lingkaran sihir digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan stabilitas kekuatan sihir itu sendiri.

“Sekarang aku hanya tahu satu hal. Sihir juga memiliki rasa. Tak peduli seberapa banyak efek atau keuntungan yang kau dapatkan, orang yang tak bisa merasakan sihir sepertimu tidak akan bisa memahami tekniknya. Dengan kata lain, sejak awal kau tidak cocok untuk jadi seorang Mage!”

Pada saat itu, tanaman merambat di lapangan mulai berkonsentrasi pada satu titik begitu Koizumi menggerakkan tangannya. Dan tanaman itu menjadi seperti pohon besar dengan ujung yang tajam dan mendekati Saeki.

Saeki mengangkat perisai api dan menghindarinya ke samping. Saat massa tanaman itu bertambah, pergerakannya pun jadi melambat, dan itu memungkinkannya untuk menghindarinya.

Dan pada saat itu, Koizumi memiliki celah.

―Saeki pun tidak melewatkan kesempatan itu.

“[Fire]!”

Jangan lupa terus kunjungi dan baca lagi hanya di lightnovelku.my.id

Berkat hilangnya “Gym Hutan”, Koizumi sekarang terlihat jelas. Saeki segera membakarnya, kali ini dia melakukan empat kali tembakan bola api.

“Ugh! Uwaahh!!”

Koizumi mencoba mencegah bola api dengan mengembalikan tanaman merambatnya ke bentuk semula sambil menghindari bola api yang tiba-tiba mendekat.

Satu … dua … tiga, bola api menghilang begitu mengenai tanamannya.

Tapi Koizumi melewatkan yang keempat.

“Ugh! Aagggghhh!”

Pada saat itu, ledakan ringan dan teriakan pun terdengar, dan asap mengepul di lapangan. Dan ketika asapnya hilang, tampaklah Koizumi yang terluka dengan luka bakar di lengan kirinya.

Namun, Saeki tak tersenyum begitu melihatnya. Dia masih tetap waspada.

“Kebiasaan kau, Saeki! Apa-apaan sikapmu itu?! Kau sama bersalahnya dengan kami semua!”

Tempat latihan menjadi tenang karena teriakan Koizumi. Para penonton pun menatap keduanya sambil memiringkan kepala mereka dan berkata, “Huh?”

Ekspresi Koizumi jelas menunjukkan kekesalan.

“Kita pembunuh! Apa kau tahu itu?!”

Koizumi berteriak sambil menahan lengan kirinya. Dan dia kehilangan ketenangannya.

“Kau tahu itu faktanya! Tapi kau membodohiku dengan mengucapkan alasan egois seperti ingin maju dan lebih kuat?!”

Sorot mata Koizumi menjadi merah padam dan sangat marah. Kemudian Saeki melihat Joanna dan teman-temannya di antara para penonton untuk sesaat, dan segera mengalihkan pandangannya lagi pada Koizumi.

“Koizumi? …Aku akan memberitahumu satu hal.” Akhirnya Saeki membuka mulutnya.

“Hah?” Koizumi membelalakkan matanya dan menatapnya, namun ekspresinya masih menunjukkan kekesalan.

“Sejak awal aku tak peduli soal itu,” kata Saeki dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Koizumi.

“Apa?”

“Kau ini bodoh, ya? Sejak awal dia yang bunuh diri, kan? Intinya sejak awal dia sudah mati! Kalau dia mati lagi kenapa aku harus merasa bersalah atas kematiannya?”

“…Kau!”

Koizumi kehilangan kata-kata. Dia bahkan tak bisa tersenyum sekarang. Dan itu membuatnya seolah dia merasa benar-benar bodoh.

Koizumi mengira Saeki sama menderitanya dengan dirinya. Saeki tak menunjukkannya di depannya, tapi dia pikir itu adalah hal yang sulit baginya. Itu sebabnya Saeki tak berbicara dengan siapa pun, atau begitulah pikirnya.

“Apa? Apa mereka mengatakan sesuatu padamu? Jadi itu sebabnya kau merasa bersalah? Itu sebabnya aku benci orang lemah! Pertumbuhan yang aku bicarakan hanyalah tentang sihir! Itu saja!”

Koizumi menyadari bahwa dia benar-benar salah paham. Dan Koizumi yang sangat marah karena merasa dibodohi, menggigit bibirnya berkali-kali. “Bukan! Dia orang yang berbeda, sejak awal dia memang orang yang brengsek!” pikirnya.

“Sejak awal aku tak ingin bicara omong kosong denganmu. Lemah tetaplah lemah, tidak ada gunanya bergaul dengan babi dan burdock!”

Koizumi membeku.

Sampai sekarang, Saeki berusaha untuk tidak berbicara pada Koizumi, bahkan di Greyberg. Aries ada di sana saat itu, dan Saeki sangat membutuhkan Aries. Tapi, Aries sudah tidak ada lagi. Dan Saeki, yang telah memutuskan untuk menempatkan dirinya di lingkungan yang tidak ada kaitannya lagi dengan Aries yang disebut Fishanatica, mengatakan bahwa dirinya bodoh karena meminta tempat pada Aries…

Meskipun meminta tempat, jika orang itu mati, semuanya sia-sia. Itulah yang Koizumi mengerti.

“Sejak awal… aku memang tak peduli.”

Namun pada akhirnya, Saeki hanya ingin berpikir bahwa dirinya bodoh. Tak peduli seberapa banyak dia memikirkannya, Arieslah yang muncul di pikirannya.

“Aku… aku harus membunuh mereka…”

Saeki tak lagi menatap Koizumi. Sesuatu yang lain tercermin di matanya.

“Mereka? …Siapa yang kau maksud?” tanya Koizumi.

“…Itu tidak ada hubungannya denganmu.” Saeki sepertinya melupakannya sejenak.

Kemudian Koizumi memperhatikan dari raut wajahnya. Dia menyadari bahwa Saeki tidak menatapnya.

“Dasar bodoh…” Koizumi menggertakkan giginya.

“Aku akan terus maju untuk jadi lebih kuat. Dan kau tetaplah “di tempatmu” sampai kau puas,” kata Saeki.

Lalu, Koizumi mengelompokkan tanaman merambat menjadi tiga bagian di lapangan. Dengan begini, dia bisa mengurangi massa dan meringankan pergerakan tanaman sambil mempertahankan kekuatannya.

“Sudah cukup dengan ocehanmu. Bagaimanapun juga, kau tidak akan bisa melampauiku!”

Koizumi tak mampu lagi untuk memperbaiki keadaan. Pada saat itu, tiga benda tajam menyerang Saeki.

“Tusuk dia!” teriak Koizumi. Dia tampak kesal karena merasa dipermalukan.

Kemudian Saeki menarik pedangnya dan maju ke depan. Pertama-tama, dia menghindari sulur tanaman yang pertama, lalu memotong yang kedua dengan pedangnya. Dan saat tanaman terakhir sudah dekat, Saeki menebas tanaman itu di menit terakhir dan potongannya terbang tepat sebelum bisa mengenainya. Lalu, tanaman itu jatuh di kaki Saeki.

Dan tanaman itu berlanjut dari yang awalnya hanya tergeletak di kaki Koizumi, sekarang telah berubah dalam bentuk busur.

“[Flame Spear]!”

Saeki memasukkan pedangnya dan membuat tombak api yang muncul di tangan kanannya. Lalu, dia langsung berlari ke arah Koizumi di sepanjang sulur di kakinya.

―Dalam sekejap, jarak di antara mereka pun menyempit.

“Selesai sudah—”

Saeki, yang terbang ke langit, mengayunkan tombaknya ke arah Koizumi dengan tangan kanannya, dan melemparkannya dengan kuat.

“Aaaagghhhh!!”

Tombak api menembus jantung Koizumi. Pada saat itu, sistem perlindungan tempat latihan diaktifkan, dan tombak yang menancap di tubuh Koizumi pun menghilang. Setelah itu, gelombang hijau melilit tubuh Koizumi dan memberikan penyembuhan dengan cepat.

Pada saat itu, sorakan besar dari para penonton pun terdengar.

―”Wohoo! Woohhoooo! Wooohhooooo!”

Koizumi pingsan di tempat.

―”Pemenangnya, Kenta Saeki!'”

Dengan kemenangan Saeki, sorakan terdengar lebih riuh. Kemenangan yang luar biasa. Saeki mengalahkan Koizumi tanpa terluka.

Dan tim medis bergegas menghampiri Koizumi yang terbaring pingsan.

Setelah itu, Saeki meninggalkan lapangan.

▽ ▽ ▽

Koizumi membuka matanya, kemudian melihat langit-langit. Itu adalah langit-langit ruang kesehatan. Koizumi dibawa ke rumah sakit setelah pertarungannya dan tertidur untuk beberapa saat.

Untuk sejenak Koizumi menatap langit-langit itu. Dia tak ingin memikirkan apapun sekarang.

Kemudian, Takeshi, yang lebih kurus dari sebelumnya tapi masih gemuk pun masuk. Lalu disusul dengan Teppei yang kurus seperti tongkat.

“Koizumi, apa kau baik-baik saja?” kata Takeshi khawatir, namun Koizumi tak berbicara apa-apa.

Teppei juga ingin menyapanya, tapi dia menutup mulutnya kembali.

Saat mereka datang ke ruangan Koizumi, mereka menatap ekspresi wajah Koizumi, menggaruk-garuk kepala, dan membuat gerakan ekstra untuk menetralisir suasana canggung ini. Tapi tetap saja, Koizumi masih menatap langit-langit. Dan butuh beberapa saat bagi Koizumi untuk membuka mulutnya.

“Kurasa aku tidak cukup kuat.” Koizumi membuka mulutnya dan mengatakannya lebih dulu.

Keduanya diam-diam setuju, “Ya.” Tentu saja, Koizumi tahu bahwa itu adalah kata-kata yang penuh arti.

“Aku tak menyangka dia begitu licik dan rakus akan kemenangan. Kupikir dia sama cerobohnya denganku…”

“Mau bagaimana lagi… Saeki itu seorang Sage. Itu sebabnya dia memiliki kekuatan sihir yang lebih baik,” kata Teppei.

“Mungkin ada perbedaan level, kan? Tapi penyebab kekalahanku adalah kecerobohanku sendiri. Selama itu aku ceroboh. Seharusnya aku lebih bisa berpikir. Aku tahu kalau sihir spesialnya adalah atribut api, dan seharusnya aku menyiapkan atribut air…”

“…Maaf, Koizumi.”

Takeshi meminta maaf.

“Aku tak berpikir kalau Koizumi seserius itu. Seharusnya aku lebih banyak membantumu. Dengan begitu levelmu akan naik dan kau bisa membuat rencana lain untuk meningkatkan peluang kemenangan…”

“Apa bisa begitu…?”

“…Aku pikir begitu.”

“…Kurasa tidak. Bagaimanapun juga, aku kalah. Sepertinya Saeki masih menyembunyikan kekuatannya, dan dia tidak menggunakan sihir tingkat lanjut… Bagaimanapun juga, aku kalah. Dan bukannya aku ingin menang, aku hanya ingin mempermalukannya. Tapi … itu kesalahanku sejak awal. Sejak awal dia memang berpikir untuk menang. Dan karena itu, akulah yang dipermalukan. Aku yang salah sejak awal…”

Kemudian pintu rumah sakit terbuka perlahan. Koizumi menatap langit-langit dan keduanya melihat ke arah pintu.

“Koizumi, kau baik-baik saja? Bagaimana kabarmu?”

—Kawachi Saori.

Sosoknya muncul di sana.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset