Nito no Taidana Isekai Shoukougun Novel Bahasa Indonesia Chapter 118

Dua Orang yang Ditakdirkan

Nito no Taidana Isekai Shoukougun

TL: lightnovelku.my.id

▽▽▽

―Sekolah Sihir Fishanatica.

Ada sosok Saeki di sana. Di sampingnya adalah David dan Joanna. Ketiganya berjalan di koridor. Mereka sedang menuju ke kantin untuk makan siang.

dukung klik iklan

“Kau berhasil, Saeki! Selanjutnya kau akan melewati kualifikasi blok!”

Di Fishanatica, pertandingan penentuan perwakilan untuk turnamen telah dimulai, namun terdapat kualifikasi blok mengingat banyaknya peserta yang berpartisipasi. Dan kontestan tahun ini lebih banyak dari tahun lalu. Yang pasti, hal itu tidak ada hubungannya dengan ikut sertanya para pahlawan. Mereka tidak tahu apa penyebabnya, tapi untuk saat ini, ada banyak murid yang berpartisipasi tahun ini. Dan Saeki berhak untuk mengikuti turnamen dengan satu kemenangan lagi.

“Ini juga berkatku, kan? Saeki-sama?” kata Joanna dengan sikapnya yang sedikit angkuh.

“Yah, terima kasih, ya. Tanpa Joanna, mungkin aku tidak akan bisa mengatasi sihir dasar dengan baik sekarang.”

Lalu, sambil memelintir rambutnya dengan jari telunjuknya, Joanna tersipu malu. “Kau mengerti juga rupanya… baru tahu, ya.”

Saeki tersenyum tipis. Hubungan mereka bertiga cukup dalam. Sejak saat itu, Saeki secara aktif belajar sihir, dan dengan kerja sama keduanya, dia menjadi kuat. Namun, dia masih bukan tandingan Joanna. Tetap saja, itu perkembangan yang cukup besar jika dibandingkan dari saat dia datang ke sekolah ini.

“Saeki!”

Lalu, ada seseorang yang tak asing yang memanggil Saeki dari belakang.

“Hmm? Ada apa, Kida?”

Kida, sahabat baik dan salah satu pahlawan yang sama seperti Saeki.

“Selamat, Saeki! Kalau kau menang lagi, kau akan masuk ke turnamen, kan?”

“Yah, aku akan menang.”

“Kida pasti kecewa karena kalah?” kata David.

“Tidak, aku sudah tahu kalau aku akan kalah. Itulah batas kemampuan pedangku.”

Kida tersingkir di babak pertama kualifikasi blok karena ilmu pedangnya yang masih belum matang. Tentu saja, dengan manfaat pemanggilan pahlawan, dia bisa menutupi beberapa kelemahannya dengan sihir. Namun, lawannya mampu mengalahkannya. Lawan yang mengalahkan Kida kemudian lolos kualifikasi blok. Hanya satu orang yang dapat maju ke turnamen untuk setiap blok. Tentu saja mereka juga akan berpartisipasi dalam turnamen.

“Yah, aku akan menyerahkan sisanya pada Saeki.”

“Pasti, aku pasti akan mengalahkan lawanmu.”

“Sebagian besar mungkin berkatku!”

Kemudian Joanna menjulurkan dadanya yang montok dan berkata begitu. Tiga temannya yang lain hanya tersenyum kecil.

“Ngomong-ngomong, apa kau sudah tahu siapa lawanmu berikutnya?” tanya David.

Lalu, secara kebetulan sekelompok trio mendekat dan menatap mereka. Ketiganya juga menatap Saeki. Tidak, itu bukan kebetulan.

“Dia,” kata Saeki.

“Wah, wah? Kalau dipikir-pikir, bukannya orang yang akan kalah dariku selanjutnya adalah Saeki, ya?”

Seperti biasa, Koizumi pun muncul dengan nada merendahkannya. Ada juga anggota gengnya yang berdiri di kedua sisinya.

“Hei, Koizumi, kau tidak boleh tiba-tiba mengungkapkan fakta seperti itu,” kata Takeshi Tachibana dengan nada penuh kebencian.

“Yah, mau bagaimana lagi, mungkin Koizumilah yang akan menang…,” kata Tadokoro Teppei dengan mantap.

“Fakta?! Kau bilang itu fakta?!” seru Joanna jengkel.

“Hm? Tentu saja,” jawab Takeshi sambil mengernyitkan alisnya.

“Kalau begitu, kau harus belajar memeriksa arti kata-kata itu lagi. Saeki-sama lah yang akan menang. Kau bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengannya!”

“Apa ini, Saeki? Saat aku belajar sihir dengan serius, kau malah asyik bermain dengan seorang wanita?Maaf saja ya, karena Aries sudah tewas, kau jadi beralih ke “lubang” yang lain? Tidak, tapi lubang pengganti?”

Koizumi menyeringai dan memprovokasi Saeki dengan senyum tak kenal takut. Wajah Joanna pun tampak merah padam dan dia ingin bergegas menunjukkan kemarahannya pada Koizumi.

Namun, Saeki menghalanginya dengan tangannya. “Tunggu, Joanna…”

Joanna berhenti bergerak, dan saat menatap Saeki, dia menahan amarahnya.

“Apa? Apa kau sudah terlatih? Apa kau seorang Sage? Bukannya itu berbeda dari profesimu?”

“Koizumi, ini pertandingan.”

“Apa?”

“Hasil pertandinganlah yang akan menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.”

“Apa maksudmu? Kau pikir kau yang benar? Memang seperti itulah dirimu, kau bukan tipe orang yang bisa berteman. Kau tahu itu, kan? Kau hanya seorang pembunuh.”

Lalu, David dan Joanna menatap Saeki dengan pandangan penuh tanya.

“Oh? Ada Kida juga?” Kemudian Koizumi memperhatikan Kida. “Kau juga sama, kan? Kau juga pembunuh seperti Saeki, jangan lupakan itu.”

Kida tak mengatakan apa-apa dan menatap ke bawah.

“Hanya itu yang ingin kau katakan?”

“Kenapa? Apa aku masih boleh mengatakannya lebih banyak lagi?”

“Saeki-sama, ayo kita pergi,” kata Joanna. Dia memutuskan bahwa tidak ada alasan lagi untuk berbicara dengan pria ini.

Lalu Koizumi mengalihkan pandangannya pada Joanna yang seolah tampak menjilati seluruh tubuhnya, dan kemudian menatap ke arah Saeki.

“Aku iri padamu, Saeki. Selalu ada wanita baru di sampingmu. Kami selalu bertiga. Bagaimana bisa mereka begitu menyukai orang sepertimu?”

Jangan lupa terus kunjungi dan baca lagi dan lagi hanya di web lightnovelku.my.id

“Itu karena kau tidak pernah berubah,” gumam Saeki.

“Hah?”

Ekspresi Koizumi berubah total. Pembuluh darahnya seolah terangkat ke dahi.

“Menurutmu sudah berapa lama sejak saat itu terjadi? Semua orang saling berkumpul dan mulai mengambil langkah. Aku hanya memutuskan hal yang sama.”

“Hah? Langkah apa maksudmu? Kau bilang begitu setelah merampas masa depan orang lain? Apa karena ada wanita?! Karena ada wanita, kau jadi sok pintar?!”

“Tidak, itu benar. Aku mengatakan yang sebenarnya, tak ada alasan bagiku untuk menunjukkannya. Kau juga sama denganku, kan?”

Wajah Saeki tanpa ekspresi.

“Aku sama denganmu? Hah… jangan bercanda.”

“Kau juga membully-nya, kan? Kau tahu itu.”

“Apa maksudmu?”

“Mau berlagak bodoh? Semua orang juga tahu. Hanya karena kau tak menyadarinya, bukan berarti tidak ada seorang pun yang melihat.”

“Hmm… mungkin.”

Kemudian Koizumi tersenyum mendengar ucapan Saeki.

“Oh, kau mengerti sekarang? Kita semua tahu kalau kau itu tidak ada apa-apanya, licik, dan pengecut. Yah, yang paling penting! Tidak ada yang mendukungmu sekarang? Kau tahu itu, kan?”

Kemudian David menarik lengan Saeki. Setelah itu, Joanna dan Kida juga menjauh darinya.

“Apa? Aku belum selesai ngomong!”

“Sudah selesai!” Joanna meninggikan suaranya.

“Inilah sebabnya aku tidak suka kalau kau bersama wanita!”

Tanpa rasa takut Koizumi merentangkan tangannya dan mengejek mereka bertiga yang berjalan menjauh.

Dan ketiga orang itu pergi dari sana.

“Koizumi? Kau akan masuk kualifikasi berikutnya, kan?” tanya Takeshi.

“Hmm? Oh, tentu saja, pertandingan itu akan jadi milikku.”

“Tapi lawanmu Saeki, lho? Yang seorang sage.”

“Terus kau mau menyuruhku untuk mundur? Kau bercanda, ya? Tenang saja, aku juga tidak akan main-main di pertandingan nanti.”

Kemudian, Koizumi menyeringai.

“Aku pasti akan menang.”

Keduanya dengan cemas menatap Koizumi.

▽▽▽

Joanna sangat marah, dan bukan hanya Joanna, David yang biasanya ceria juga dalam suasana hati yang buruk jika dilihat dari ekspresi wajahnya. Ketika mereka sampai di meja kafetaria, tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Kida pun hanya tersenyum kecil dan menatap setiap ekspresi mereka dengan canggung.

“Kalian berdua… maaf, ya,” gumam Saeki.

Kemudian mereka menatap Saeki.

“Kenapa kau minta maaf, Saeki?” tanya David.

“Itu benar! Saeki-sama tak perlu meminta maaf. Aku memang tak mengerti, tapi setiap orang punya masa lalu.”

“Ya… kau benar.”

Saeki hanya menyetujui ucapan Joanna dan menolak untuk berbicara. Kida juga tak mencoba untuk membicarakan tentang apa pun. Ada keheningan untuk sementara waktu.

Kida adalah pelaku utama yang menindas Masamune bersama Saeki. Namun, ada satu perbedaan dari dirinya dengan Saeki. Kida tak terlalu parah menindasnya. Saekilah yang menikmati penindasan terhadap Masamune, dan dia menjadikannya rutinitas sehari-hari untuk menghilangkan stres sehari-harinya.

Tapi Kida tak begitu. Namun, entah bagaimana dia menjadikan Masamune sebagai pelayan Saeki, dan tidak terlibat dalam masalah lain. Masih ada orang lain yang sebagian besar bersama Saeki yang menyebabkannya terluka secara fisik. Tapi yang lain itu tidak termasuk dalam pemanggilan pahlawan oleh Greyberg.

“Saeki-sama?”

“Hm?”

Joanna membuka mulutnya. “Ada hal-hal yang tidak ingin orang ceritakan pada orang lain, tapi kupikir tidak apa-apa. Orang-orang akan menyesali dan mengoreksi diri mereka sendiri, dan begitulah cara mereka tumbuh … kupikir seperti itu.”

“…”

Saeki terdiam mendengarkan Joanna.

“Tolong menanglah! Saeki-sama!”

“…Ya, aku pasti akan menang.”

“Ayo menang dan singkirkan pikiran ini! Walau ini mudah bagiku, tapi Saeki-sama yang harus menang. Menangkan pertandingannya dan buat orang itu sampai tak bisa berkata apa-apa lagi!”

“Yah… benar juga. Terima kasih, Joanna.”

“Apa ini? Saeki hari ini jadi kalem, ya?” kata David, yang telah mendapatkan kembali senyumnya.

“David jahat. Dia pasti akan menang, jadi bersabarlah dulu sekarang.”

“Oh, tidak apa-apa, karena aku tipe orang yang tak peduli.”

Keempatnya tertawa. Kemudian, mereka memeriksa ekspresi wajah satu sama lain dan tertawa lagi. Dia bisa melakukannya seperti biasa. Saeki berpikir begitu dalam hatinya dan berpikir kembali untuk menuju final kualifikasi blok yang akan datang. Dan dia memutuskan dalam pikirannya,

—Kupastikan untuk mengalahkan Koizumi.

▽▽▽

Dan hari itu pun tiba.

―Ini adalah tempat latihan.

Kursi penonton dipenuhi banyak orang. Di antara mereka, kau dapat melihat para pahlawan kecuali Saeki. Beberapa dari para penonton pergi lagi saat mereka merasa tak tertarik dengan pertandingannya. Dan tentu saja, ada David dan Joanna juga di sana. Kida duduk di sampingnya. Mereka menekan detak jantung mereka dan bersiap untuk menonton pertempuran sengit yang akan segera dimulai.

Lalu Saeki dan Koizumi, yang merupakan karakter utama, saling berhadapan di tengah lapangan.

“Kau sedang menunggu saat ini kan, Saeki?”

Saeki tak mengatakan apa-apa lagi, pengumuman pun terdengar.

――”Akan kujelaskan. Salah satu orang yang tetap bisa berdiri akan menjadi pemenangnya. Hal yang sama berlaku jika salah satu dari mereka mengakui untuk menyerah. Tidak ada batasan untuk waktu. Pertandingan akan terus berlanjut sampai salah satu di antara mereka tidak bisa bertarung lagi. Namun, harap diingat bahwa pertandingan dapat dihentikan dari sini tergantung pada situasinya. Baiklah——mulai!”

Gong pertandingan berbunyi dengan penjelasan yang sangat sederhana. Pada saat itu, sorakan terjadi. Dan ketika sorak-sorai itu berangsur-angsur mereda, “pertempuran” pun dimulai.

―Koizumi, tanpa ragu, mengarahkan tangannya pada Saeki.

“[Dark Ball]!“

Sebuah bola ungu dilepaskan dari telapak tangan Koizumi.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset