Nito no Taidana Isekai Shoukougun Novel Bahasa Indonesia Chapter 117

Tak Terpecahkan

Nito no Taidana Isekai Shoukogun

TL: lightnovelku.my.id

🌻🌻🌻

Kami berada di rumah Kalifa. Berkat Leonard yang mengantar kami dengan keretanya, kami jadi bisa tiba lebih awal dari yang kami rencanakan.

Leonard tak banyak bicara selama di dalam kereta. Kupikir dia akan memberitahuku tentang kekaisaran atau negaranya, tapi tak banyak informasi baru yang kudapatkan. Leonard bilang bahwa dia tahu banyak tentang Rage, orang yang bertengkar denganku di depan dungeon waktu itu. Dan dia bahkan tidak tahu kenapa kekaisaran menyerang Razhausen.

dukung klik iklan

―“Lalu apa dong yang kau tahu?”

Saat kutanya begitu, dia pun berkata aneh, “Meskipun tidak ada pergerakan, tapi kekuatannya meningkat.” Dan sepertinya itu telah menjadi kisah selama 20 tahun terakhir.

Aku tak begitu mengerti tentang sebuah negara, tapi apa 20 tahun itu waktu yang lama? Atau singkat? Tentu saja, bagiku pribadi, 20 tahun itu waktu yang lama. Kurasa di waktu itu mungkin aku sedikit lebih tinggi dari yang sekarang, dan kurasa aku juga bakal punya kerutan di wajahku.

…..Ah, entahlah.

Aku memberitahu Leonard untuk pergi menghabiskan waktunya karena mungkin urusanku akan sedikit lebih lama. Aku tak mengajaknya ke rumah Kalifa karena aku tidak ingin dia mendengar pembicaraan kami. Hanya kami berempat dan Kalifa saja yang ada di sini sekarang.

Setelah beberapa saat, Kalifa membawakan kami minuman dan meletakkan cangkirnya di depan kami, kemudian ikut duduk.

“Jadi? Bagaimana dungeon itu? Apa itu tempat yang menyenangkan?” tanyanya.

“Sejujurnya, aku kecewa. Kukira dungeon itu lebih seperti gunung harta karun, tapi itu hanya “rumah”.”

“Ya… itu artinya kau juga seorang kandidat.” kata Kalifa seolah dia mengetahuinya sejak awal.

“Bagaimana kau bisa tahu kalau aku pengguna abyss?”

“Yah, itu karena ituisiku yang kuat.”

“Intuisi?”

“Ya, sepertinya kau orang yang normal, dan aku tak berpikir kalau anak seusiamu bisa mengatasi rank S pada saat yang bersamaan. Tapi kau benar-benar melakukannya di Razhausen, kan?”

“Yah, begitulah.”

Tapi aku tak menggunakan sihirku waktu itu.

“Kalau begitu, hanya ada satu hal yang bisa kupikirkan. Kekuatan sihir luar biasa yang aku rasakan saat itu, wajar saja kalau aku berpikir bahwa abyss juga terlibat. Tapi sekarang aku bahkan tak merasakan kekuatan sihirmu lagi…”

Rupanya aku telah melampaui level Kalifa. Ya, Lv: 2009, bukankah itu tak masuk akal?

“Bisa beri tahu aku apa yang kau lihat di dungeon, Kalifa?”

“…Boleh saja. Tapi mungkin kau sudah mengetahuinya, lho. Kau bisa membayangkannya, kan?”

“Sepertinya begitu.”

“Zephyr … dia seorang kandidat.”

“Berarti dungeon itu milik Zephyr, kan?”

“Seperti katamu, itu memang benar. Ada Old Gert juga di sana,” kata Kalifa perlahan.

Jadi, seperti yang kuduga, anggur itu adalah pembelian Zephyr di Rouge Gert.

▽▽▽

―Sekitar ratusan tahun yang lalu.

Dulu ada lima petualang yang disebut pahlawan, dan mereka bernama Dragon Heart. Sudah lima tahun sejak berakhirnya perang yang melibatkan seluruh benua Banome. Suatu hari, sebuah dungeon muncul di tengah benua Banome. Dragon Heart menjadi penantang dan masuk jauh ke dalamnya.

―Di dungeon.

Ada sebuah bukit kecil seperti yang pernah kulihat di suatu tempat.

“Tempat ini…” kata Kalifa bingung.

Ada mereka berlima yang berjalan di tempat seperti reruntuhan yang redup sampai beberapa waktu yang lalu. Dan sebuah pintu kayu tua muncul di depanku. Aku bisa melihat beberapa bagian yang busuk di sana-sini. Zephyr tanpa ragu meraih gagang pintu. Pada saat itulah pemandangan berubah.

一Pemandangan menjadi lebih jelas dalam sekejap, dan sebuah bukit muncul di depanku.

“Tak salah lagi. Ini bukit Biyomento.”

Bagi Zephyr… Tidak, bagi mereka berempat selain Shaon, di sinilah mereka menghabiskan masa kecilnya. Dan bagi Shaon, ini adalah tempat dimana dia bisa menyaksikan sebuah kota yang berangsur-angsur pulih. Perang telah menghancurkan kota dan membunuh penduduknya. Tapi hanya bukit ini yang masih tersisa.

Kemudian sebuah tongkat bercahaya muncul di depan mereka.

“Kau ini… apa?” Zephyr dan teman-temannya yang lain pun heran.

Sebuah ukiran patung seperti seorang saint terletak di ujung tongkatnya, namun matanya merah. Segera setelah dia muncul, matanya langsung menatap sosok Zephyr dan kemudian berbicara.

“Aku Maxwell, setengah tubuhmu yang lain.”

Zephyr segera waspada dengan tatapan aneh itu.

“Aku sudah menunggumu, wahai diriku yang lain…”

Anehnya, tongkat itu menyebut dirinya Maxwell, menyebut Zephyr “diriku”, dan menunjukkan rasa hormatnya. Zephyr pun tidak tahu benda apa itu.

Maxwell kemudian menjelaskan beberapa hal pada Zephyr. Awalnya Zephyr tak mengerti apa yang dia katakan, namun secara bertahap dia bisa mencernanya dan memahaminya.

“Abyss? Apa itu?”

“Sihirmu sendiri adalah sihir abyss.”

Zephyr tahu tentang abyss, dan itu tertulis di dalam buku sihir. Tapi, apa itu abyss dan siapa Maxwell itu?

“Ngg … apa maksudmu…”

“Kalau kau tak ingin mempercayaiku, kau bisa melupakannya.”

Maxwell menatap Zephyr dengan mata merahnya. Rasa dingin tiba-tiba menjalari punggung Zephyr. Zephyr mengerti apa yang tongkat itu katakan barusan, dan dia pun berpikir.

Bagaimana dia bisa tahu soal abyss?

Maxwell kemudian menjawab seolah dia telah membaca pikiran Zephyr. “Tentu saja, karena aku setengah tubuhmu.”

Kata-kata Maxwell sulit dimengerti. Zephyr sendiri saja tak mengerti, apalagi empat temannya yang lain. Maxwell bisa menjawab pertanyaan Zephyr meskipun hanya diam, yang seolah dia memang membaca pikiran Zephyr…

Dan sesaat suasana menjadi hening. Lalu setelah beberapa saat,

―Maxwell mengatakan satu hal yang aneh.

“Aku tidak akan memberikan nasehat apapun pada siapapun selain diriku sendiri. Aku hanya akan terus menunggu saat aku akan menjadi raja.” Maxwell tak menatap Zephyr, dia hanya menatap tanah. Dan dia berkata lagi,” ―Jangan tertelan oleh abyss.”

Setelah itu, dia tak mengatakan apa-apa lagi. Baik Zephyr maupun keempat temannya yang lain juga tak mengerti maksud kata-katanya itu. Namun, Zephyr tak peduli karena ada banyak hal yang aneh dalam diri Maxwell sendiri. Dia pikir ini mungkin adalah lelucon.

“Wahai diriku sendiri, mulai sekarang ini adalah rumahmu. Gunakan sesukamu dan terimalah abyss.” Kemudian Maxwell menatap Zephyr. “Diriku, jangan meragukan abyss—”

Namun, pada saat ini, Zephyr masih belum mengerti artinya. Zephyr baru menyadarinya setelah beberapa saat kemudian. Dan untuk pertama kalinya, mereka berlima mengetahui tentang abyss.

▽▽▽

Jangan lupa kunjungi dan baca lagi, lagi, dan lagi hanya di lightnovelku.my.id

―Dan waktu kembali ke masa sekarang.

Aku tahu seluruh kejadian yang mereka lihat di dungeon.

“Ngomong-ngomong, sebelumnya kau pernah bilang kalau ada patung adams di Negeri Dewa, kan?” tanyaku.

“Ya, tapi itu tak terlalu penting. Ada tongkat di tangan kanan Adams, tongkat yang aneh.”

“Tongkat yang aneh?”

“Ya, kami langsung tahu begitu Guinevere memberitahu kami kalau itu adalah tongkat yang bisa berbicara’.”

“Apa maksudnya? Apa Adams juga seorang kandidat?”

“Sepertinya begitu.”

Seperti yang diharapkan Bel.

“Kalifa, seberapa banyak… yang kau ketahui tentang calon raja?”

Kemudian Kalifa menghela napas. Sepertinya itu pertanyaan yang tidak ingin dia dengar.

“Kalifa?”

“Ah, maaf. Aku tak begitu akrab dengan abyss, karena itu berada di bawah yurisdiksi Zephyr.”

“Yurisdiksi?”

“Aku harus bilang apa… kau tahu, ingatan Maxwell itu sangat kabur dan kurang.”

Sama seperti Bel. Aku hanya mencoba membuat Kalifa menjawabnya…

“Mungkin apa yang aku ketahui tak sebanyak yang kau ketahui,” kata Kalifa lagi.

“Kalau begitu, bagaimana dengan peringatan Adams?”

Aku hanya ingin tahu soal itu. Jika itu bisa menimbulkan risiko, sebisa mungkin aku pasti ingin menghindarinya.

“Maaf, tapi aku juga tidak tahu soal itu. Selain kata “tertelan”, itu mungkin Adams sendiri yang tahu apa artinya…”

“Bukannya itu tertulis di dalam buku sihir itu?”

“Buku sihir tak mengatakan apa-apa tentang abyss. Itu cuma berisi tentang mantra sihir dan peringatan yang barusan kau sebutkan.”

Dengan kata lain, aku tidak bisa memecahkan misteri apa pun…

“Mungkin Zephyr tahu sesuatu.”

“Mungkinkah ada ingatanmu yang masih belum pulih?”

Berarti itu adalah kisah kenangan Kalifa.

“Aku tidak tahu…”

Yah, kalau benar begitu, dia juga tidak akan tahu.

Saat Kalifa berbicara lagi, ekspresinya tampak sedikit khawatir. “Tapi Zephyr sepertinya melakukan banyak penelitian. Aku tahu Adams punya dua murid, dan Zephyr mencari buku-buku yang mereka tinggalkan. Aku tidak tahu apa dia sudah menemukannya atau belum setelah itu.”

Murid Adams…?

“Apa yang ingin Zephyr ketahui dengan melihat buku-buku itu…?”

Kalifa bergumam. Lagi-lagi sepertinya dia juga tidak tahu.

Tiba-tiba aku merasa lelah lagi. Aku tak bisa memecahkan misteri yang kupikir bisa aku pecahkan. Dan hasilnya, meskipun aku pergi ke dungeon, aku tak mendapatkan jawaban atas semua pertanyaanku.

“Yah, mau bagaimana lagi kalau kau memang tidak tahu.”

“Maaf……”

“Tidak, tidak apa-apa, aku akan cari tahu sendiri. Bisa bahas lebih banyak tentang objek?”

“Oh, iya. Soal Desa Tanya, kan?”

“Ya, ada mayat Oliver Joe di sana. Mungkin sudah busuk, tapi Zephyr tak mengatakan apa-apa soal itu.”

“Begitu ya, jadi apa yang akan kau lakukan?”

“Aku sudah memikirkan hal ini cukup lama, apa tidak apa-apa kalau kukatakan?”

“Tentu saja. Katakan saja padaku.”

Aku mengatakan tentang apa yang kupikirkan sebelumnya. “Aku ingin Kalifa mengambil kepompong Oliver. Beri tahu namaku pada penduduk desa, mungkin mereka akan memberitahumu dimana tempatnya.”

Aku juga bilang begitu dulu.

“Baiklah, lalu?”

“Aku akan pergi ke dunia bawah. Aku tidak tahu cara memulihkan kepompongnya, jadi aku akan membawa seluruh tubuhnya. Apa tidak apa-apa?”

“Ya, tak masalah. Aku tidak tahu persis bagian mana yang kau butuhkan, dan tak masalah kalau kau mau membawa seluruh tubuhnya.”

Sejujurnya, itu hanya merepotkan untukku kembali ke desa Tanya tempatku dulu pernah singgah. Tapi berkat kerja sama ini, tak masalah kalau aku sedikit memprioritaskan kenyamananku.

“Ngomong-ngomong, bagaimana cara memulihkan kepompongnya, ya?”

Lalu Kalifa mengeluarkan buku sihir itu.

“Ada sihir [Isolation] yang dijelaskan dalam buku sihir ini. Itu bisa mengorek informasi kehidupan dari mayatnya.”

Rupanya, buku sihir ini mengatakan bahwa itu terkait dengan objek.

“……Begitu rupanya.”

Maka tidak ada yang mungkin bisa aku lakukan.

“Kalau begitu… apa tidak apa-apa kalau kau melakukannya saat ini?”

“Ya, tak masalah,” ucap Kalifa yakin. “Maaf untuk semuanya, karena permintaan Zephyr…”

“Jangan khawatirkan soal itu. Ini kesempatanku untuk pergi ke dunia bawah, dan kebetulan ada sesuatu yang ingin aku tanyakan juga pada Zephyr.”

Aku pun bangkit berdiri.

“Oh? Kalian sudah mau pergi?”

“Ya. Sebenarnya kami adalah siswa Heil Kuwait. Dan kualifikasi untuk pertandingan antar sekolah juga akan segera dimulai, jadi aku ingin kembali ke akademi secepatnya.”

Lalu Kalifa menyentuh bibirnya dengan jarinya, sepertinya itu sudah jadi kebiasaannya saat dia sedang berpikir.

“Dalam pertandingan antar sekolah, lawanmu adalah Fishanatica, kan?”

“Iya … kau tahu sekolah itu?”

“Yah … cukup tahu, sih.” Kemudian Kalifa tersenyum kecil.

Ada apa sebenarnya?

“Selain abyss, mungkin kau juga memiliki keberuntungan.”

“Keberuntungan…?”

Meskipun sepertinya dia tahu sesuatu, dia tidak akan memberitahuku apa pun. Sama seperti sebelum aku memasuki dungeon.

“Terima kasih atas minumannya.” Toa mengembalikan cangkir minumannya pada Kalifa.

“Lain kali saat kita bertemu, itu adalah waktuku untuk mengambil mayat Zephyr. Tapi jika terjadi sesuatu, tanyakan saja pada akademi atau seorang wanita yang bernama Francesca dari Magical Communication.”

“Magical Communication?”

“Iya.”

Kalifa tersenyum. “Baiklah, aku mengerti.”

“Kalau begitu, kami pamit dulu.” Aku menundukkan kepalaku.

“Nito?” Lalu Kalifa memanggilku, dan aku pun bertanya-tanya. “Aku masih bisa menunggu, jadi prioritaskan saja perjalananmu. Ini tidak akan terlambat.”

Seperti yang kualami, sepertinya Kalifa memahami pentingnya petualangan.

“…Aku mengerti. Aku akan melakukannya.”

Aku memang berniat melakukannya sejak awal. Ini bukan perjalanan untuk membantu Zephyr. Ya … ini perjalanan kami, aku tak menerima instruksi dari siapapun dan hanya berpetualang atas kemauanku sendiri.

Aku hanya berpikir aku bisa memilih jalanku sendiri dan melakukannya sendiri.

▽ ▽ ▽

Kami berpisah dengan Kalifa.

Aku menuju ke tempat dimana kereta terparkir di luaran kota. Leonard menyuruhku bertemu di sana setelah aku selesai. Lalu aku melihatnya melambaikan tangan begitu aku melihatnya dari kejauhan.

“Sudah selesai?” tanya Leonard.

“Yap. Aku punya permintaan untukmu, apa kau keberatan?”

“Tentu saja tidak. Ada apa?”

Leonard tak menolak permintaanku untuk bekerja sama. Aku menceritakan pembicaraanku dengan Kalifa padanya. Intinya, apa dia bisa mengantarnya pulang pergi ke desa Tanya?

“Jadi, kau ingin aku mengantar Kalifa ke desa Tanya, lalu mengantarnya pulang lagi ke Biyomento?”

“Benar. Dan aku akan memberitahumu satu hal, aku belum memutuskan untuk bekerja sama dengan Darms Ardan.”

Ekspresi Leonard tak berubah meskipun aku mengatakan itu.

“Yah, akan aku putuskan setelah jalan-jalan.”

“Kalau begitu! Mulai sekarang kita―”

“Bukan sekarang, lho.”

Leonard tampak bersemangat.

“Ada hal yang harus aku selesaikan, karena Razhausen terlibat, aku ingin memberimu prioritas. Tapi perjalananku juga adalah prioritasku. Aku akan mampir lagi selama perjalanan. Lagipula perang belum dimulai, kan?”

“Yah… Mungkin perang tidak akan dimulai kecuali setiap negara menanggapi permintaan Razhausen.”

“Ya, kan? Kalau begitu aku akan menundanya.”

Leonard kemudian meyakinkanku dengan tatapan bermartabat seolah mempertimbangkan ucapanku. “Aku mengerti. Kalau begitu, aku akan mengantarmu.”

“Eh? Tak usah, kami bisa jalan kaki dari sini.”

Saat aku mengatakan itu, Toa langsung terlihat kesal.

“Tidak, tolong biarkan aku mengantarmu.”

“Tapi, kalau begitu kau harus kembali lagi ke sini, lho?”

“Tidak apa-apa, perjalanannya juga nggak jauh.”

Aku berbalik dan melihat wajah ketiganya. Toa tak mengatakan apa-apa. Sufilia menatapku dengan senyum palsu. Dan Nem? …Dia tampak seperti tak peduli.

“Baiklah kalau begitu … tolong antar kami.”

Leonard tersenyum. “Silakan naik.”

Kami masuk ke kereta seperti yang diperintahkan.

“Ayo kita berangkat.”

Setelah memastikan bahwa semua orang telah masuk ke dalam kereta, keretanya mulai bergerak sesuai dengan teriakan Leonard.

Kota abadi Biyomento dan dungeon. Aku merasa ada yang sedikit berubah dalam beberapa hari terakhir. Bukan tentang pengetahuan yang aku dapatkan, tapi sesuatu yang lain.

“Master, ada apa?” Nem menatapku bingung.

“Tidak … tidak apa-apa.”

Aku melihat Biyomento yang menjauh seolah mengucapkan selamat tinggal “selamanya”.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset