Nito no Taidana Isekai Shoukougun Novel Bahasa Indonesia Chapter 116

[Dungeon]: Perjalanan

Nito no Taidana Isekai Shoukogun

TL: lightnovelku.my.id

🌻🌻🌻

Setelah itu, Francesca pergi bersama Dolly tanpa mendengar jawabanku. Dia seorang wanita yang mengerikan. Antara Ichijo atau Hidaka. Apa sudah diputuskan bahwa salah satu kandidatnya adalah aku? Apa yang dia pikirkan?

Aku sudah sampai sejauh ini, tapi aku tidak bisa membuat keputusan akhirnya. Tapi Francesca juga tidak bodoh, aku yakin dia tidak akan mengubahku menjadi musuhnya.

dukung klik iklan

Francesca memberiku informasi yang lebih cepat dan lebih dapat diandalkan daripada di tempat lain. Tak semua informasi yang diberikannya buruk, dan kami pun masih menjalin hubungan yang menguntungkan. Aku ingin melanjutkan komunikasi ini sampai di menit-menit terakhir, kecuali aku dalam posisi yang kurang menguntungkan.

Setelah itu, kami dikelilingi oleh kerumunan di belakang kami yang mengatakan bahwa mereka sedang menunggu. Dan aku kerepotan karena mereka ingin “Berjabat tangan” dan “Minta tanda tangan”.

Toa yang sudah di ambang ledakan kemarahan pun menyebarkan lingkaran sihir di kakinya, dan Sufilia juga berkata, “Aku akan melakukan apa yang tidak bisa kulakukan di Artemias,” lalu berbisik di telingaku, “Boleh aku bakar kerumunan ini?” tanyanya sambil menunjukkan sebuah senyuman yang tak kenal takut.

Tidak ada alasan untuk melakukannya. Jika kita melakukan itu, kita akan berubah dari yang tadinya seorang pahlawan menjadi penjahat. Nem menggenggam tanganku dan ketakutan melihat pemandangan itu.

Aku tak punya pilihan selain membawa mereka bertiga meninggalkan tempat itu dengan [God Speed]. Meskipun aku meladeni mereka semua, aku tidak akan tahu kapan mereka akan melepaskan kami.

Kami pun langsung menuju penginapan.

Dan di sinilah kami berada.

“Ternyata gerombolan orang-orang itu lebih merepotkan daripada dungeon, ya?” kata Toa dengan memegang jus di tangannya.

Itu memang bentuk suatu kehormatan, tapi kami tak terlalu suka dikelilingi.

“Kau benar…”

Tapi kau tidak melakukan apa-apa di dungeon, katamu? __Aku tak pernah bilang begitu.

“Yah, di sini aman. Aku mengancam petugas yang ada di depan untuk tidak memberitahu mereka kalau kita ada di sini.”

“Yah, kalau begitu kita aman.” Sufilia tersenyum dengan segelas anggur di tangannya.

“Ngomong-ngomong, kalau kau suka anggur, apa kau mau minum ini?”

Aku mengeluarkan “Old Gerd” dari storageku dan menyerahkannya pada Sufilia.

“Oh! … Ini!”

“Old Gerd. Bukannya ini wine langka?”

Kemudian Sufilia membelalakkan matanya, menuangkan anggur ke dalam gelas, dan menyesapnya dengan senyumannya yang alami. Dan seolah terkesan dengan rasa anggur itu, air mata pun mengalir di pipinya.

“Bukannya kau ini terlalu berlebihan? Anggurnya masih ada, kok. Jadi kau bisa minum semuanya.”

“Semuanya?! Apa maksudmu! Apa Nito tahu nilai anggur ini?”

“Tidak, tapi setahuku itu adalah anggur yang sudah tidak diproduksi lagi, kan?”

“Itu benar! Anggur ini adalah anggur hantu yang konon sudah tidak ada lagi di dunia, apalagi di pasaran.”

“Ya kalau begitu jangan dihabiskan, simpan saja sisanya.”

Sungguh gadis yang merepotkan, tapi aku tak pernah mengira kalau Sufilia akan sebegitu emosionalnya.

“Ngomong-ngomong, aku ingat sekarang. Soal anggur itu, aku menemukannya di dungeon tempatku berada sebelumnya.”

“Benar juga, kau memang pernah bilang begitu, kan?” Saat Toa mengingat kata-kataku, dia pun sependapat.

“Benar. Lalu Kalifa juga bilang, kan? Kalau Zephyr membeli banyak Old Gerd di negeri anggur Rouge Gerd.”

“Kalau dipikir-pikir… dia memang bilang begitu, ya? Aku juga ingat.”

“Yah begitulah.”

Sangat mudah untuk mengingat hal apa yang membuatku tertarik meskipun sudah lama.

“Jadi, bisa beri tahu aku apa yang terjadi dengan anggur yang dia beli dalam jumlah banyak itu? Kupikir anggur itu bukan anggur yang ini.”

Dengan kata lain, Zephyr membeli banyak anggur dan keju di dungeon itu. Aku juga penasaran. Saat aku memikirkannya, beberapa pertanyaan muncul dalam benakku. Namun, jika ingatan akan hal itu kembali muncul, maka anggur ini juga merupakan produk dari ingatan seseorang…

Toa pun tampak bingung.

“Sejak mengobrol dengan Bel, aku sebenarnya sudah bertanya-tanya, ke dalam dungeon siapa Aries mengirimku?”

Ya, meskipun itu hanya kebetulan bahwa aku diteleportasi ke dungeon itu.

“Apa maksudmu?”

Toa sepertinya tak mengerti maksudku.

“Soal dungeon itu, Kalifa sepertinya menghindari sesuatu saat membicarakannya, dan itu membuatku berpikir, mungkin dungeon itu adalah dungeon Zephyr.”

“Zephyr… Zephyr yang memberi Nito skill?”

“Ya, benar. Kalau dipikir-pikir, ada beberapa hal yang cocok jika dihubungkan.”

“Cocok?”

“Ya, tentang Shaon.”

Toa mendengarkanku sambil mengingat cerita Kalifa sedikit demi sedikit.

Bisa kubilang bahwa petualanganku dimulai setelah pertemuanku dengan Shaon. Dan pertanyaan utamanya adalah kenapa Shaon ada di dungeon itu?

“Seperti kata Bel, hanya pemilik dungeon yang bebas keluar masuk. Caranya adalah dengan transfer, dan terserah sang pemilik apakah dia mau membawa teman-temannya untuk masuk atau tidak.”

“Maksudmu, kau ingin bilang kalau Zephyr yang membawa Shaon ke dungeon itu?”

“Ya, benar.”

Sungguh mengejutkan bahwa Toa mampu memahaminya dengan baik.

“Kalau dipikir-pikir, Zephyr adalah calon raja yang sama denganku…”

Entah kenapa tiba-tiba aku menguap. Mungkin aku mulai kelelahan dan merasa mengantuk.

“Yah, mari kita pikirkan setelah bertemu dengan Kalifa nanti. Hari ini aku lelah.”

“Ya, kau benar. Ayo kita istirahat.”

“Kalau begitu, aku tidur dulu.”

Malam ini aku cukup lelah, sebagian besar lelah secara mental, mungkin karena aku dipaksa untuk mengingat masa lalu. Tapi dungeon adalah tempat yang seperti itu, tempat di mana seorang calon didesak untuk tak meragukan abyss? Ya, mungkin bisa dibilang begitu.

Tapi bukan itu yang paling aku khawatirkan. Setiap kali aku mendengar cerita Bel, peringatan Adams muncul di kepalaku, dan saat Bel bilang itu adalah suatu black propaganda, aku lebih khawatir lagi. Jadi kenapa Adams meninggalkan legenda seperti itu?

Ketiga peringatan itu bermakna negatif. Kehilangan hidup, kekasih, dan kebebasan…

Tentu saja, sulit bagiku untuk mengerti akan hal itu. Tidak tahu siapa dan ada di mana, tapi dia masih seorang penyihir, yang mungkin telah mengetahui abyss lebih dulu daripada aku. Dan aku, sepertinya aku memang tidak bisa mengabaikan peringatan itu.

Adams tahu sesuatu yang penting yang tidak aku ketahui.

__Mereka yang tercelup ke dalam abyss akan kehilangan hidup mereka.

Intinya adalah ini. Aku khawatir tentang hal ini.

Saat dihipotesiskan bahwa Zephyr adalah calon raja, aku merasa ada titik-titik jawaban yang saling terhubung, tapi masih ambigu.

Jadi, kenapa Zephyr masih bisa hidup setelah kehilangan tubuhnya? Dan aku pikir itu mungkin adalah sesuatu yang tersembunyi dalam peringatan itu. Tapi Zephyr belum kehilangan nyawanya. Sebaliknya, dia masih hidup setelah dia mati. Tapi aku merasa seperti kata “hidup” terhubung di suatu tempat.

Ngomong-ngomong, apa artinya “tercelup”? Kalau arti “tertelan” aku masih bisa mengerti. Aku juga mengerti akan makna yang tertuju pada “kehilangan kekasih”. Tapi yang masih belum aku mengerti adalah “tercelup” dan “terjatuh” itu. Aku tidak mengerti sama sekali.

Saat aku bertemu dengan Bel, kupikir dia akan memberitahuku tentang hal itu. Tapi aku tak bisa memahaminya. Semakin aku berharap, aku semakin stres.

Apa aku tanyakan saja hal ini pada Kalifa? Andai bisa bertanya pada Zephyr, mungkin aku bisa mengerti, tapi Kalifa tidak akan memberitahuku sesuatu yang penting.

Sudahlah, mari tidur saja untuk malam ini.

Begitu bangun besok… dan sudah waktunya untuk pergi,

maka… aku akan melaporkannya pada Kalifa….

Lalu, akupun tertidur.

🌻 🌻 🌻

Keesokan harinya, kami berempat menyelesaikan sarapan dan meninggalkan penginapan. Begitu kami keluar, “kota” yang sampai kemarin masih ramai, sekarang dalam keadaan sepi di sejauh mata kami memandang.

Jangan lupa kunjungi dan baca lagi hanya di lightnovelku.my.id

Tempat ini seperti kehilangan kehidupannya dan beberapa kios pun sudah tidak ada lagi. Yah, begitulah jika “Festival”nya sudah selesai.

Kamipun meninggalkan tempat itu.

Kemudian, kami berjalan sebentar menuju gerbang keluar kota dan terlihat seorang pria yang tak asing berdiri di sana.

“Aku sudah menunggumu. Nito.”

“…Kau kan… Remond…”

“Aku Leonardo! Darms Ardan…”

Ups, aku tak sengaja salah menyebutkan namanya.

“Kau pasti orang yang berbicara dengan kami sebelum tantangan, kan?” tanya Toa tanpa niat jahat.

Kemudian, Leonardo tampak menyesal__

“Maafkan aku karena telah mengatakan hal yang kasar waktu itu.”

“Yah, tidak apa-apa. Kau sendirian? Sepertinya kau pernah membawa seseorang…?” tanyaku sambil mengingat sesuatu kembali.

“Dia sekarat … tapi sudah terlambat. Saat itu dia memang hampir tak bernapas, tapi setelah itu…”

Begitu ya, apa dia sudah meninggal?

“Yah, aku minta maaf soal itu … Jadi? Apa maumu sekarang? Kau mencegatku, ada perlu denganku?” tanyaku lagi.

“…Aku akan langsung saja ke intinya. Aku ingin Nito datang ke Darms Ardan.”

“Apa? Aku? Kenapa aku?”

“Soal itu… seperti yang kau tahu tentang Darms Ardan__

__Tidak, aku tidak tahu. Aku belum pernah dengar negara dengan nama itu.”

“Nito-sama, Darms Ardan itu…”

Sufilia mencoba menjawab pertanyaanku, tapi Leonardo menyela kata-katanya.

“Akan kujelaskan.”

Rupanya, pria ini sendiri yang akan menjelaskannya.

“Darms Ardan, bisa dikatakan adalah cabang dari Kekaisaran Darms Kale. Awalnya itu adalah satu negara, tapi dihilangkan karena rekonstruksi kekaisaran yang didirikan oleh mereka.”

“Hmm… yah, aku mengerti. Anggap saja aku mengerti. Jadi?”

“Dan ini poin pentingnya, Darms Ardan memutuskan untuk menghancurkan Darms Kale.”

“Ya, ya… Eh?”

“Karena itulah, aku ingin Nito membantuku kalau kau tak keberatan!”

“Tunggu dulu! Apa kau akan menghancurkan kekaisaran? Apa kau waras?”

“…Aku serius.”

Aku tak melihat kebohongan di mata Leonardo.

“Meski begitu, kau tak seharusnya memberitahuku, yang seorang petualang ini, tentang sesuatu yang serius itu, kan?”

“Negara kami tak mampu menandinginya, dan saat informasi ini sampai di kekaisaran pun mereka tidak akan melakukan apa-apa. Karena dari sudut pandang mereka, kami ini tidak ada apa-apanya bagi mereka…”

Rupanya Darms Ardan memiliki tujuan untuk mengerahkan kekuatannya.

“Kalau begitu, apa kau bisa membantu Razhausen?”

“Tentu saja, aku akan mengirim dokumen ke ibukota kerajaan, Razhausen, tapi aku tidak bisa membantu kecuali aku dalam kondisi sempurna.”

“Kau itu terlalu banyak bicara, ya? Seperti Sierra saja.”

“…Sierra?” Ekspresi Leonardo berubah.

“Hm? Oh, dia temanku. Dia tidak ada di sini sekarang. Dan baik buruknya aku masih belum bisa memutuskan. Aku belum pernah ke Darms Ardan, dan aku juga belum pernah ke kekaisaran. Aku sih tak keberatan menghancurkannya, tapi sejujurnya aku ingin jalan-jalan dulu sebentar. Bagaimana kalau kita hancurkan setelah jalan-jalan?”

“Ja… jalan-jalan…?” Leonardo terdiam. “Jalan-jalan di negara itu?”

“Yah, bukan apa-apa, sih, aku cuma ingin melihat-lihat saja, kok. Menghancurkan negara itu sangat mudah. Aku cuma ingin melakukan apapun yang kumau sebelum menghancurkannya.”

“Mudah……?”

Rupanya ada perbedaan akal sehat antara aku dan pria ini. Meskipun bagiku itu mudah, itu tidak masuk akal baginya.

“Untuk saat ini kami akan pergi ke Biyomento dulu.”

“Y-yah, ayo aku antar! Sepertinya kalian tak punya kereta.”

Ada sebuah kereta yang terparkir di tempat yang Leonardo tunjuk. Oh, ide yang bagus. Kami bisa menggunakan kereta itu daripada harus berjalan kaki sejauh itu. Terutama untuk mereka bertiga…

“Nah, ayo kita naik ke kereta Leonardo?”

Untuk jaga-jaga aku meminta persetujuan mereka bertiga. Mereka tampak lega dan tak keberatan sama sekali.

“Nah, semuanya! Silakan naik ke kereta!”

Leonardo merentangkan tangannya dan membawa kami ke keretanya.

“Aku terselamatkan. Um… Leonardo?”

“Tak masalah.”

“Terima kasih!” kata Toa canggung.

Nem bergegas sebelum Leonardo mengucapkan sesuatu lagi. “Terima kasih ya, Tuan Leonardo.”

“Tidak, tak masalah, kok… Eh? Apa kau Putri Sufilia?” Kemudian Leonardo memperhatikan Sufilia. “Tidak, tak salah lagi. Kau Putri Artemias, Putri Sufilia!”

“Sufilia?” …… Siapa itu? Aku juga tidak tahu Artemias,” kata Sufilia dengan senyuman di wajahnya. Dia menatap mata Leonardo dan memberikan tekanan padanya.

Leonardo tertawa canggung, “Maaf.”

Ternyata, wajah Sufilia sudah sangat dikenal luas.

“Nah, Nito juga naiklah.”

“Terima kasih, tapi maaf ya, boleh aku minta sesuatu? Jangan ceritakan apa-apa tentang kami pada siapapun.”

“Tentu saja. Aku akan melupakan apa yang telah kulihat.”

“Hmm… kau cepat mengerti, ya. Itu sangat membantu.”

Leonardo kembali tersenyum.

Dan saat kami semua masuk ke kereta, kami berangkat menuju Biyomento lagi.

__Kembali ke menara yang hilang.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset