Nito no Taidana Isekai Shoukougun Novel Bahasa Indonesia Chapter 115

[Dungeon]: Penangkap Dungeon

Nito no Taidana Isekai Shoukogun

TL: lightnovelku.my.id

♥ ♥ ♥

―Sebulan telah berlalu sejak dungeon muncul.

Menara hitam legam berdiri dengan gagahnya di tengah gurun. Menara itu berubah menjadi partikel cahaya dan tiba-tiba menghilang. Pedagang yang mendirikan warung dan toko di sekitar area dan bekerja keras siang dan malam, serta para pelancong dan turis yang berkunjung karena hal-hal yang tidak biasa mereka lihat, juga para penantang yang kehilangan impiannya akan dungeon dan kembali sebagai orang bodoh (the fool), mereka  melihat ke arah menara dengan tatapan tertegun.

dukung klik iklan

—Lebih tepatnya melihat ke atas pada partikel cahaya.

“Hei! Semuanya! Cepat keluar!”

Penantang yang kembali setelah menerima perawatan medis―yang berada di depan tenda, yaitu seorang pria bertubuh besar yang sebelumnya, berteriak pada orang-orang yang juga adalah pasien. Mendengar suara itu, mantan penantang keluar satu per satu dari klinik.

Dan begitu mereka melihatnya, mereka tercengang.

“Hei … ini bohong, kan…”

Mantan penantang yang muncul satu per satu, mereka semua ternganga kehilangan kata-kata saat melihat pemandangan itu.

“Dan … geon … telah ditaklukkan…”

Saat seseorang berkata demikian, terdengar sorak-sorai yang luar biasa. Dan ada juga seseorang yang datang terlambat, yaitu Ksatria Derms Ardan, Leonardo Astar. Leonardo ini adalah orang yang menyerukan Masamune dan party-nya untuk menghentikan tantangannya tepat sebelum mereka memasuki dungeon. Tapi sebuah senyuman langsung terukir di wajahnya. Kenapa begitu? Karena dia tahu…

―Siapa yang merebut dungeon itu.

Itu sudah pasti, karena ketika Masamune dan yang lainnya memasuki dungeon, tidak ada orang yang mengejarnya. Semua orang ketakutan begitu melihat para penantang yang terbaring di alun-alun di depan dungeon. Dan sebagian besar pengunjung yang datang ke tempat ini untuk menerima tantangan, langsung menghentikan niatnya dan pergi jalan-jalan.

Sebenarnya, sebelum berangkat ada banyak orang yang melihat Masamune sedang diwawancarai oleh Magical Communication, hanya saja Masamune sendiri tidak mengetahui bahwa dirinya sedang diperhatikan. Kebanyakan dari mereka sebagian besar adalah pedagang kaki lima. Para pedagang segera saling berbagi informasi, mungkin karena itu sudah menjadi adat istiadat mereka.

―”Tampaknya, Pahlawan Razhausen, Nito, menantang dungeon itu.”

Rumor itu menyebar dalam sekejap. Namun, kesan mereka yang mengetahuinya jelas terlihat. Mereka tak memimpikan dungeon seperti para penantang dan petualang. Mereka hanya tertarik untuk menghasilkan uang, jadi tak masalah jika petualang Nito tewas di dungeon. Mereka berbicara dan membagikan informasi itu hanya untuk menghabiskan waktu.

Namun, ketika dungeon berubah menjadi partikel cahaya, menara hitam menghilang dari tengah gurun, dan bayangan empat orang yang turun dari langit terlihat, para pedagang pun tampak bersemangat hingga melupakan urusan mereka. Lalu riuhnya sorak sorai pun terdengar.

Dungeon dikatakan muncul setiap 100 tahun sekali dan penangkapannya dilakukan setiap 1000 tahun sekali. Penangkapan dungeon merupakan prestasi besar dan hal yang langka.

Banyak orang yang berkumpul di sana berlarian ke lokasi dungeon. Di antaranya adalah Francesca dan Dolly dari Magical Communication.

“Dolly! Kita harus cepat! Aku yakin itu Nito.”

“Aku tahu, tapi jangan buru-buru begitu!”

Keduanya berlari dengan senyuman di wajah mereka.

Dan empat penantang yang perlahan muncul dari langit mendarat di tanah.

x x x

Kami merebut dungeon.  Namun, itu bukanlah tangkapan yang sebenarnya. Itu hanyalah sebuah tempat yang mau tak mau harus aku kunjungi. Tapi sekarang, semua orang yang berkerumun di depan kami akan memanggil kami seperti itu.

—Penangkap Dungeon.

Tiga orang di sampingku begitu gugup sebelum kami menantang dungeon, tapi sekarang mereka bilang mereka baik-baik saja? Berbeda saat menjalankan tantangan, ekspresi wajah kelelahan mereka jelas terlihat. Mungkin karena aku terlalu lama bicara dengan Bel. Selama itu, mereka bertiga sepertinya menghabiskan waktu mereka sendiri, tapi aku juga berpikir kalau mereka mungkin juga lelah.

Novel ini diterjemahkan langsung oleh lightnovelku.my.id

“Hmm … akhirnya kita kembali….” Toa tampak frustrasi dengan para penjudi di depannya.

“Yah, mau bagaimana lagi. Secara publik, kita adalah penangkap dungeon. Kita melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain, jadi wajar mereka berjudi.”

“Ya, tapi… aku kan tidak melakukan apa-apa.”

“Aku juga.”

Sufilia tertawa lepas yang mana itu belum pernah terjadi sebelumnya. Mungkin Sufilia juga lelah. Nem mengantuk di sampingku sambil memegangi tanganku.

“Permisi! Tolong biarkan kami lewat!” Lalu, Francesca dan Dolly muncul dari kerumunan. “Selamat! Tuan Nito!”

Francesca berlari dan mengucapkan selamat padaku. Dan di sampingnya, Dolly mengarahkan kameranya dan tanpa henti memotret wajahku. Syukurlah aku mengenakan topeng.

“Terima kasih.” Aku menjawab dengan senyuman pahit.

“Tolong beritahu kami bagaimana perasaanmu sekarang setelah kau berhasil merebut dungeon itu.”

Yah, sebelumnya aku mengatakan bersedia diwawancarai setelah kembali dari dungeon, jadi apa boleh buat … Di sampingku, Toa juga terlihat kesal.

“Yaahh … aku senang karena kami bisa menaklukkannya tanpa suatu insiden apapun.”

Sejujurnya, ada banyak hal yang terjadi. Namun, aku tak bisa mengatakan semuanya, tapi aku juga harus menjawab sesi wawancara itu. Yah, tak masalah kalau aku ingin mengatakan yang sebenarnya … Ah tidak, apa lebih baik kalau kuceritakan saja yang sebenarnya di sini? Dengan begitu, mungkin itu bisa mengurangi suatu insiden jika dungeon itu muncul lagi di masa mendatang? Nah, kalau kupikirkan lagi, itu tak masalah buatku.

“Tolong beritahu kami tentang situasi di dungeon.”

“Seperti yang diketahui para penantang lainnya, itu adalah tempat aneh yang dikelilingi oleh gedung-gedung yang tidak biasa dengan matahari terbenam.”

“Jadi begitu … Ada beberapa penantang yang belum kembali. Bagaimana pendapatmu tentang itu, Tuan Nito?” Francesca mengubah arah pertanyaannya.

“Ah… yah. Dungeon itu dipenuhi oleh mayat. Mungkin itu mayat para penantang, jadi tidak mungkin ada yang bisa kembali. Aku belum pernah bertemu dengan penantang yang selamat.”

Dan kemudian, “Ini pertanyaan yang terakhir,” kata Francesca. “Lalu, apa ada pesan yang ingin kau sampaikan pada semua orang di dunia yang telah menunggu hasil penangkapan Nito?”

Aku berpikir. Bagaimana aku akan menjawab pertanyaan ini? Apa dengan jawabanku saat sebelum memulai tantangan, yaitu “Kalian seharusnya tidak bermimpi lagi”? Jika aku mengatakan hal seperti itu, itu sama saja dengan menghalangi penantang ke depannya. Tapi sekarang aku tak berpikir begitu.

“Sebuah dungeon bukanlah kuburan bagi orang bodoh yang bermimpi. Itu adalah tempat di mana segelintir pemimpi menemukan kebenaran di luar mimpi mereka. Jika kalian ingin mencapai kebenaran di luar mimpimu, tantanglah dungeon itu. Namun, bagi mereka yang tak memiliki tekad, sebaiknya tak usah bermimpi.”

Lalu, Toa menyodok pinggangku.

“Apa?”

“Matamu merah,” bisik Toa. (coba pakein inst0)

Aku menutup salah satu mataku.

“Maaf,” jawabku dengan berbisik.

“Baiklah! Itu saja wawancaranya. Terima kasih, Tuan Nito.”

Kemudian Dolly menurunkan kameranya.

“Terima kasih atas kerja kerasmu, Tuan Nito. Aku tak pernah menduga bahwa kau akan benar-benar menangkap dungeon,” kata Francesca lagi.

“Itu lebih sulit dari yang aku bayangkan. Dan kurasa kalian tidak pergi ke berbagai tempat selain di sini, tapi apa kalian harus merekamku?”

Aku  ingin tahu tentang cara wawancara dalam gaya pers ini.

“Oh, ini untuk jaga-jaga. Terkadang aku menulis artikel yang uncute interview, dan aku berpikir untuk menyimpannya sebagai dokumen, jadi aku membuatnya seperti itu.”

Yah, aku tak terlalu tertarik, sih.

“Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kami berada di dungeon?”

“Sekitar satu hari, kan?”

“Satu hari? … Apa ada informasi selama kami di dungeon?”

Aku mengkhawatirkan Sierra. Rupanya Francesca mengerti maksud pertanyaanku.

“Tidak, tidak ada informasi apapun tentang Razhausen.”

“…Begitu ya.”

Apa itu berarti perang belum dimulai? Yah, kalau dipikir secara normalnya, bukankah itu sesuatu yang harusnya akan segera dimulai?

“Kalau ada sesuatu yang terjadi lagi, bisakah kau memberitahuku nanti?”

“Tak masalah. Sebagai gantinya, apa kau bisa memberitahuku seperti apa sebenarnya dungeon itu? Tentu saja, ini adalah pekerjaanku.”

Rupanya Francesca menyadari kebohonganku tentang dungeon. Bagaimana menjelaskannya, ya. Itu karena aku tak bisa banyak bicara.

“Yah, sejujurnya, kupikir akan lebih baik untuk tidak menantang apa pun lagi.”

“…Apa maksudmu?”

“Hmm… Maksudku, rasanya percuma saja kalau hanya menantang, kan? Yah, berani kukatakan kalau dungeon itu memiliki sesuatu yang sesuai, sehingga kebanyakan orang tidak bisa menaklukkannya terlepas dari kemampuan mereka.”

Francesca bertanya-tanya. Ah, apa dia tak mengerti hanya dari mendengar penjelasanku ini? Tapi aku tidak bisa bicara lagi.

“Ngomong-ngomong, tidak apa-apa kalau kau ingin memposting apa yang baru saja aku katakan.”

Kemudian mata Francesca bersinar. “Benarkah?!”

“Ya, tidak apa-apa.”

Percakapan ini terjalin karena dia seorang wanita yang memiliki banyak intuisi. Dia selalu sadar jika aku berbicara sambil menyembunyikan sesuatu. Dengan kata lain, “tidak apa-apa” yang berarti tak masalah untuk mempublikasikannya. Dengan kata lain, “Tulis saja semaumu apa yang mau kau tulis.” Lalu, dia pun menegaskan, “Benarkah?!”

“Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Apa kau akan kembali ke akademi?”

“Yah … aku masih punya sedikit urusan, jadi aku akan kembali setelah menyelesaikan urusanku.”

“Oh begitu, kalau begitu kami akan pergi ke akademi lebih dulu.”

“Eh? Kalian mau ke akademi lagi?”

Apa itu untuk pekerjaan? Kalau begitu, apa yang ingin mereka lakukan di akademi…?

“Kualifikasi untuk pertandingan antar sekolah akan segera dimulai, jadi aku ingin mewawancarai kandidatnya terlebih dahulu.”

Kalau dipikir-pikir benar juga. Apa mungkin… itu Fishanatica? Ada sekolah dengan nama seperti itu. Apa Patrick baik-baik saja, ya? Apa dia baik-baik saja dengan roh yang waktu itu?

“Ngomong-ngomong, apa Tuan Nito berpartisipasi dalam kompetisi antar sekolah?”

“Hmm… bagaimana ya? Aku belum memutuskan, tapi akan kupikirkan.”

“Oh, begitu. Ngomong-ngomong, Tuan Nito tahu nama Sekolah Sihir Fishanatica, kan?”

“Tentu saja, mereka adalah lawan Heil Kuwait, kan?”

Francesca kemudian tersenyum.

Apa-apaan senyumannya itu?

“Jadi, apa kau tahu bahwa ada 19 pahlawan Greyberg di Fischanatica itu?”

……Apa?

“…19 pahlawan?”

“Ya. Sebelumnya aku sudah memberitahumu, kan? Greyberg memanggil pahlawan.”

“Iya……”

Francesca bicara dengan penuh kemenangan. “Dan dua lagi dari mereka menghilang__

“Ya, aku ingat.”

“Ada 19 pahlawan yang tersisa. Raja Greyberg yang baru, Arthur, mengirim mereka di Sekolah Sihir Fishanatica untuk ke depannya.”

“…Mengirim?”

“Ya, dalam serangan Dragon Heart, Greyberg kehilangan sejumlah guru yang menyebabkan sekolah tak berfungsi dengan baik, dan Raja Arthur memutuskan untuk mengirim mereka ke Fishanatica.”

“Dengan kata lain… mereka disiapkan untuk pertandingan antar sekolah ini?”

“Benar, 19 pahlawan itu juga akan berpartisipasi,” kata Francesca dengan senyum tipis seolah-olah dia mengetahui apa yang kupikirkan.

Dengan kata lain, Heil Kuwait dan Fishanatica… Pertandingan antara dua sekolah ini bukan hanya sekedar pertandingan antar sekolah biasa, tapi bisa diibaratkan seperti Heil Kuwait vs 2-3 pahlawan…

“Tuan Nito?”

“……Ya?”

“Jika kau ingin berpartisipasi, silakan datang dan bergabunglah dengan kami! Terima kasih atas wawancaranya, ya.”

Francesca seolah menekankan kalimat itu. Sungguh wanita yang menakutkan… Seberapa jauh wanita ini bisa memahamiku…


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset