Isekai Konbini One Operation Novel Bahasa Indonesia Chapter 5

Apa Kau Punya Kartu Poin? (Aku Takut Jika Kau Punya)

Isekai Konbini One Operation

TL: lightnovelku.my.id

x x x

Ada terminal bernama DOT (Dynamic Order Terminal) yang digunakan untuk memesan produk yang terjual di toserba.

Ini adalah jenis tablet dan memiliki sistem

dukung klik iklan

panel sentuh. Saat aku dengan santainya memainkannya di ruang belakang, ada produk yang tidak aku kenal.

 

[Low Heal Potion 0/99]

[Normal Heal Potion 0/99]

[High Heal Potion 0/99]

 

[Low Cure Potion 0/99]

[Normal Cure Potion 0/99]

[High Cure Potion 0/99]

 

“Ini…?!”

Bukankah ini barang yang ditanyakan oleh ketiga orang tempo hari? Ini ramuan pemulihan, kan?

Apa aku bisa memesannya? Menurut tablet ini, jumlah pesanan maksimumnya adalah 99.

Tapi apa itu “Heal” dan “Cure”?

DOT memiliki tombol yang disebut Detail Produk. Aku pun menekannya.

 

☆Low Heal Potion

Pemulihan fisik / tingkat-Rendah.

☆Low Cure Potion

Pengobatan racun / tingkat-Rendah.

 

Kulihat disini bahwa jenis ramuannya berbeda. Aku memasukkan jumlah pesanan dan mencoba untuk mengatur semuanya ke jumlah maksimum 99.

Setelah menyelesaikan input, aku mengembalikan layar DOT ke menu utama. Lalu, aku mencolokkannya ke dudukan pengisi daya yang terhubung ke komputer toko. Ini akan mengirimkan informasi dari DOT ke komputer toko.

Monitor komputer toko tak terlihat seperti biasanya. Ada banyak sekali karakter yang kacau dan hampir tidak ada yang bisa kubaca.

Setelah melihat monitor sebentar, hanya tombol untuk mengirimkan pesanan yang dapat dibaca dan diaktifkan.

Tekan. Pesan, kirim, konfirmasi.

—Mengirim.

Jangan lupa terus kunjungi dan baca lagi dan lagi hanya di web lightnovelku.my.id

Di mana tepatnya komputer ini mengirimkan informasi?

Akhirnya, transmisi selesai dan pesanan selesai.


“Tidak mungkin.”

Aku tak berpikir itu mungkin. Aku tak berpikir ini dikirim dari dunia asliku. Selain itu, produknya juga bukan dari duniaku.

Produk di duniaku sejauh ini juga ditampilkan di DOT, tapi diberi kode warna dengan warna abu-abu dan aku tidak bisa memasukkan jumlah pesanan.

“Aku akan tertawa kalau ramuannya benar-benar datang.”

Kuharap aku bisa memesan kebutuhan sehari-hari juga. Aku sudah mengumpulkan barang-barang yang menurutku akan aku butuhkan di toko.

Pembalut wanita, tisu toilet, pakaian dalam, dan semua kebutuhan sehari-hari. Bahan habis pakai juga akan segera habis. Aku harus memikirkan apa yang harus kulakukan setelah itu.

“Aku perlu mandi.”

Air panas tersedia di dapur. Tapi tidak ada tempat untuk menampung air panas. Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah dengan merendam handuk tangan yang dijual ke dalam air panas, dan menggunakannya untuk menyeka tubuhku.

Melakukan hal seperti itu sendirian di ruang belakang dengan pakaian dalam untuk menyeka tubuhku adalah sesuatu yang tidak bisa aku gambarkan. Fakta bahwa ada juga kamera keamanan yang dipasang di ruang belakang, itu berarti aku bisa muncul di layar monitor keamanan.

Camera feeds juga merekam. Baguslah karena hanya aku yang melihat video ini, tapi tidak enak kalau kameranya diarahkan padaku. Nanti, aku akan menggunakan tripod agar kameranya menghadap ke arah lain.

Monitor kamera keamanan membagi gambar semua kamera dan memutarnya kembali secara bersamaan.

Randolph muncul di salah satunya, kamera yang menunjukkan area di dekat pintu toko.

“Sudah waktunya.”

Sebuah lonceng akan berbunyi untuk memberitahuku jika ada seseorang yang memasuki toko. Aku pergi ke konter dan menyambut Randolph.

“Selamat datang. Selamat malam, Randolph.”

“Hai, Saori. Apa terjadi sesuatu hari ini?”

Aku memberi tahu Randolph tentang ramuan itu.

“Jadi, apa ramuannya akan datang?”

“Aku tidak tahu. Kurasa tidak, tapi fakta kalau ramuan itu diperlihatkan, itu membuatku setengah percaya.”

“Kalau ramuannya datang, apa kau akan mengutamakan untuk menjualnya? Ibukota kerajaan sedang kehabisan ramuan sekarang.”

“Benarkah? Tentu saja, tak masalah. Nanti kalau barangnya datang, ya.”

Pada pandangan pertama, kami melakukan percakapan yang ramah, tapi aku dan Randolph terbatasi meja konter. Dan aku memakai seragam toko.

‘Ini toko tempatku bekerja.’ Kesadaran ini tidak memungkinkanku untuk merasa bahwa ini adalah waktu pribadiku. Sungguh keterlaluan menggoda seseorang di toko.

“Apa kau makan dengan benar, Saori?”

“Ya, aku sudah makan, tapi makanan berminyak. Oh ya, Randolph, kenapa kau tak mencoba Kaarage (Fried Chicken Jepang)?”

Aku mengeluarkan kantong ayam goreng dari freezer dan menaruh lima ayam di penggorengan.

Mode B, tombol kedua. Lima menit.

Kemudian aku merakit kotak kertas khusus. Dengan melipatnya, itu akan menjadi kotak origami untuk wadah ayam goreng. Aku membuka lipatan bawah, membuat empat lipatan di bagian depan dan belakang untuk membuat bentuk tiga dimensi, membuka bagian dengan tusuk gigi, dan membuat lipatan pada bagian yang akan menjadi tutupnya.

Sebagai seorang veteran, proses ini bisa kulakukan dengan lancar dan cepat.

Aku bertanya-tanya, berapa lama penggorengan ini bisa digunakan? Saat minyaknya habis, berakhir sudah.

“Terima kasih sudah menunggu. Tusuk dengan tusuk gigi itu dan makanlah.”

Randolph mengambilnya, menusukkan tusuk gigi ke ayam goreng, dan memasukkannya ke mulutnya.

“Panas.”

“Baru digoreng. Hati-hati.”

“Tapi enak, bumbunya enak.”

“Apa pun yang baru digoreng pasti enak.”

Kemudian Randolph mengeluarkan koin dari dadanya.

“Apa ini cukup?”

“…”

Aku menawarinya dengan maksud untuk memberikannya secara gratis. Tapi saat aku melihat Randolph mencoba membayarku, aku membeku.

Aku benar-benar tak membutuhkan uang, tapi aku merasa bahwa pertukaran dan tindakan itu sangat penting bagiku.

Itu adalah sesuatu yang tertanam dalam tubuhku, dan aku bertanya-tanya seberapa banyak itu akan menenangkanku. Seberapa jauh lebih nyaman yang akan aku rasakan?

Aku menyentuh panel sentuh mesin kasir dan menekan jumlah lima ayam goreng.

“Totalnya 216 yen, Tuan Pelanggan.”

“Nah, ini uangnya.”

Saat menerima uang dan melemparkannya ke mesin kasir—

“Apa kau punya kartu hadiah?”

—Aku bertanya pada Randolph, tapi dia hanya memiringkan kepalanya. Tentu saja dia akan merespon seperti itu.

Aku memegang tanda terima di tanganku setelah register mencetaknya dan menunjukkannya pada pelanggan. Melihat fakta bahwa tidak ada perubahan, sepertinya mesin kasir ini menilai uang yang diterimanya sama dengan nilai ayam.

“Kau memberiku 216 yen. Ini adalah pengembalian tanda terimamu. Terima kasih banyak.”

“Oh, sama-sama.”

“Silahkan datang lagi.”

Aku menyatukan kedua tanganku dan membungkuk dengan tenang dan sopan. Aku telah melakukan serangkaian tindakan ini dengan sepenuh hati.

Itu adalah rutinitas harianku yang tidak ada di dunia lain ini.

Mungkin ada banyak sekali toko, bahkan di dunia lain, dan tentu saja mereka memiliki cara mereka sendiri untuk jual beli. Namun di toko ini, memakai seragam ini, dan melakukan salam dengan mengikuti SOP (Standard Operating Procedure) ini, menjadikan ini toko yang unik.

Aku mungkin akan memberikan produk yang berbeda pada pelanggan yang berbeda lagi di masa mendatang. Tapi kupikir itu akan mengikuti cara yang dilakukan di dunia ini.

Aku tidak akan pernah meminta kartu poin lagi. Aku tidak akan pernah memberi mereka tanda terima. Jadi sekarang, tindakan yang aku lakukan pada Randolph ini mungkin merupakan tindakan layanan pelanggan terakhirku yang telah mendarah daging.

“Terima kasih banyak, Tuan Pelanggan … Randolph.”

Mataku mulai berlinang air mata dan dengan sepenuh hati … aku berterima kasih padanya dari lubuk hatiku.


Mohon dukungannya, jika berkenan donasi untuk keberlangsungan web, silakan send mail ke lightnovelku@gmail.com

Komentar

error: Mohon hati nuraninya, bermain bersihlah. Tuhan Maha Tahu. Saya yakin Kamu bisa membuat konten sendiri yg lebih baik.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset